Studi S1 di Kyoto University, Jepang: Ilmu tak sebatas text book

1
124

Dalam beberapa tahun terakhir, melanjutkan studi di luar negeri bukan lagi suatu kemewahan untuk satu dua orang saja. Makin banyaknya lembaga beasiswa dan variasi program beasiswa, serta pesatnya persebaran informasi di era global menjadi sebab utama meningkatnya fenomena diaspora. Selain dua hal tadi, banyaknya program kelas-kelas internasional dengan pengantar bahasa Inggris di banyak negara juga menjadi motornya. Sebagai contohnya program sarjana S1 di Kyoto University, Jepang yang tengah saya tempuh saat ini.

IMG_5064

Menjadikan Jepang sebagai negara tujuan untuk melanjutkan studi S1 mungkin cukup familiar bagi beberapa siswa karena adanya program beasiswa dari pemerintah jepang yang sudah berjalan cukup lama, biasa dikenal sebagai beasiswa monbukagakusho. Keinginan melanjutkan studi di bidang teknik ketika di sekolah menengah menjadikan Jepang sebagai salah satu negara tujuan saya melanjutkan studi. Namun, ketertarikan saya hilang saat tahu program beasiswa ini mewajibkan mahasiswanya menggunakan bahasa pengantar Jepang di perkuliahan. Kewajiban mempelajari bahasa non-inggris untuk menjadi bahasa pengantar kuliah kadang menjadi momok dan pertimbangan bagi beberapa orang termasuk saya. Sekitar lima tahun yang lalu, beberapa universitas negeri di Jepang mulai membuka program kelas internasional untuk menggaet mahasiswa asing. Salah satunya adalah program yang kini saya ikuti, yaitu Undergraduate International Course Program of Civil Engineering dari Kyoto University.

Kehidupan Akademik
Program dari Kyoto University ini menawarkan kesatuan program sarjana teknik sipil selama empat tahun dengan bahasa pengantar inggris. Program ini mewajibkan mahasiswanya mengambil 144 kredit dan menulis undergraduate thesis sebagai syarat kelulusan. Kewajiban kredit tersebut harus kita selesaikan dalam tiga tahun pertama sebelum masuk ke laboratorium untuk menulis tesis di tahun terakhir kuliah. Selain itu, di tahun ketiga program ini juga memberikan kesempatan internship di perusahaan jepang bagi mahasiswanya.

Tidak hanya belajar mata kuliah wajib berbau teknik seperti kalkulus atau fisika dasar, pada tahun pertama kuliah kita juga harus mengambil kelas-kelas lain dari kelompak sosial dan humaniora, kelompok bahasa, dan beberapa kelompok lainnya dari Faculty of Liberal Arts. Menariknya, kelas-kelas ini memberikan banyak inspirasi dan insight bagi saya pribadi. Dari mulai belajar sistem pendidikan di Finlandia di mata kuliah Introduction to Educational Studies, belajar tentang carbon footprint yang saya hasilkan perharinya dari kelas Introduction to Sustainable Development, sampai belajar mengenai sejarah politik ‘65 di Indonesia lewat kelas States Politics in Southeast Asia.

IMG_6395

Selain beberapa kelas yang saya sebutkan diatas, kelas-kelas scientific english juga sangat membantu kehidupan akademik saya. Saya banyak belajar bagaimana caranya membaca jurnal ilmiah, bagaimana menulis bagian-bagian dari sebuah karya ilmiah. Kelas-kelas scientific english juga menyertakan kelas presentasi dengan konten yang sangat praktikal tentang bagaimana cara kita menyampaikan ide, serta kelas debat ilmiah terkait isu-isu pembangunan yang erat kaitannya dengan hal-hal yang kita pelajari di kelas.

Kelebihan utama yang saya rasakan dari program internasional ini salah satunya adalah variase ide dan inovasi yang dihasilkan dari diskusi antar individu dengan berbagai latar belakang sosial dan budaya. Contohnya, masih lekat di ingatan saya diskusi pertama dengan teman sekelompok saya yang beranggotakan teman saya dari Mesir, Cina, dan Jepang mengenai urbanisasi. Ketika itu saya terkaget-kaget mengetahui jumlah jalur kereta bawah tanah di Tokyo yang mencapai belasan, sementara teman Jepang saya keheranan dengan dampak slum dan squatter yang mungkin dihasilkan dari fenomena urbanisasi di negara-negara yang tengah berkembang seperti Indonesia. Diskusi-diskusi yang eye-opening ini tambah terasa atmosfernya dengan kehadiran profesor-profesor dari banyak belahan dunia. Dari diskusi-diskusi ini saya mendapatkan pembuktian dari testimoni banyak orang bahwa studi di luar negeri dapat memperluas pandangan kita.

Kehidupan Sosial dan Organisasi

14409667_1640278592969036_4248007020592064863_o

Membuka wawasan dan pandangan baru ini tidak hanya terjadi ketika berdiskusi dengan profesor atau teman dari negara berbeda. Diskusi dan obrolan yang membuka cakrawala tentu banyak juga terjadi ketika dilakukan dengan teman senasib seperantauan alias mahasiswa Indonesia lainnya. Apalagi ketika banyaknya mahasiswa Indonesia di Kyoto memilki latar belakang studi dan latar belakang sosial yang beragam. Di sisi lain, menyaksikan secara langsung anak-anak bangsa yang berprestasi di negeri orang memotivasi diri saya sendiri untuk tidak cepat puas dalam berkarya. Motivasi lain yang saya dapat adalah semangat berkarya ini tidak lupa ditujukan untuk Tanah Air tercinta, yang awalnya saya kira hanya romantisasi belaka. Dari diskusi ilmiah atau seminar yang diwadahi oleh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), saya belajar bahwa banyak sekali riset pelajar Indonesia yang sangat aplikatif dan tentunya bermanfaat untuk Indonesia. Dari wadah ini juga saya belajar berorganisasi dan membangun network.

Epilog: Pengalaman hidup

Kehidupan di Jepang secara umum membuat saya bukan hanya belajar tentang ilmu teknik sipil atau ilmu organisasi yang sebenarnya bisa juga saya dapatkan di negeri sendiri. Berjuang hiup di negeri orang pun bukan hanya tentang eksistensi diri di media sosial atau pengalaman yang bisa didapat dari plesir sana sini. Di sini, saya belajar kehidupan. Studi di luar negeri tidak melulu terasa manis. Dari mulai keterbatasan kemampuan bahasa, jarak yang jauh dari kampung halaman, saldo di rekening yang harus di hemat-hemat saat beasiswa belum turun, fisik yang lelah setelah kerja sambilan, sampai beban akademik yang tentunya tidak ringan. Ini semua karena nothing worth comes easy.  Pengalaman ini menguji limit serta kapasitas diri, yang harapannya dapat menjadikan saya pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

img_4873

Foto: koleksi pribadi penulis.

  • Inas Fadhilah

    wah… masya Allah keren bangett.. disana ada ga orang asing yang kuliahnya bukan di kelas internasional, tapi dikelas yang bareng orang jepang?? terus kelas internasional ada di semua fakultas apa bbrp doang?