PPI sebagai Ekstrakurikuler Alternatif ketika Studi di Luar Negeri

Going to university abroad is not only about studying and doing assignments for the sake of grades, but also about experiencing different things and forming networks. Read Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) from Alanda Kariza’s point of view and why she chose it as her extracurricular activity during her studies in the University of Warwick, United Kingdom! 

Kuliah – apalagi di luar kota maupun negeri dari mana kita berasal – tidak hanya soal mengumpulkan nilai dan menuntut ilmu pengetahuan. Kuliah juga tentang menambah pengalaman dan berlatih membangun jejaring, dua hal yang bisa dicapai melalui beberapa aktivitas. Salah satu aktivitas yang bisa dipilih untuk melakukan hal ini adalah terlibat di perhimpunan pelajar Indonesia setempat.

Pada saat artikel ini ditulis, ada sekitar 51 perhimpunan pelajar Indonesia (yang umumnya disingkat PPI, meski di sejumlah negara ada yang menggunakan singkatan/akronim lain seperti PERMIAS di Amerika Serikat) tingkat negara yang tersebar di seluruh dunia, terbagi ke dalam tiga area, yakni Amerika-Eropa, Asia & Oseania, serta Timur Tengah & Afrika. Selain PPI tingkat negara, seringkali terdapat PPI tingkat kota atau bahkan universitas, terutama di temapt-tempat yang memiliki banyak mahasiswa Indonesia seperti Australia. Saya sendiri saat ini sedang menjabat sebagai Ketua PPI United Kingdom (PPI UK).

Berdasarkan pengalaman saya menghabiskan waktu beberapa bulan dengan berorganisasi di PPI UK, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dengan bergabung ke organisasi/komunitas serupa. Pertama, kita bisa saling mengenal dengan sesama orang Indonesia yang sedang berkuliah di negara yang sama. Kita memang tidak boleh menjadi ‘katak dalam tempurung’ dengan hanya bergaul dengan sesama orang Indonesia. Namun, tidak bisa dipungkiri, ketika kita membutuhkan bantuan, seringkali jauh lebih nyaman rasanya untuk bisa meminta pertolongan kepada orang-orang yang latar belakangnya mirip dengan kita. Kedua, berada di PPI juga memberi kesempatan bagi kita untuk berorganisasi dan menyelenggarakan sejumlah program, misalnya kompetisi olahraga, seminar, dan lain-lain sebagainya. Saya sendiri di PPI UK berkesempatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Simposium Internasional PPI Dunia yang akan diselenggarakan dalam rangkaian yang sama dengan Indonesian Scholars International Conference (ISIC) pada tanggal 24 – 27 Juli mendatang di University of Warwick, Coventry, Inggris. Ketiga, berada di PPI mengekspos kita dengan kesempatan untuk berkenalan dengan pejabat-pejabat Indonesia yang sedang bertugas di luar negeri, misalnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia maupun organisasi lainnya seperti BKPM, Bank Indonesia, atau Garuda Indonesia.

Foto PPI UK, Alanda Kariza, Ekstrakurikuler, Inggris, Kedutaan Besar Republik Indonesia

Untuk bisa menjadi Ketua PPI UK, saya harus melalui sejumlah tahap pada bulan September lalu, yakni pendaftaran tertulis, kampanye, dan pemilihan di acara musyawarah besar tahunan PPI UK. Kendati awalnya ragu-ragu, akhirnya saya mendaftarkan diri untuk menjadi Ketua PPI UK ketika menyadari bahwa belum pernah ada Ketua PPI UK perempuan – paling tidak untuk periode 10 tahun ke belakang yang berhasil saya trace. Lalu, saya harus melalui masa kampanye selama dua minggu, termasuk di antaranya menjabarkan visi, misi, dan program serta mengikuti debat kandidat. Hal ini juga memberi saya kesempatan untuk mengetahui bahwa dari 36 cabang PPI (tingkat kota) yang ada di UK, hanya 4 cabang yang dipimpin oleh perempuan. Proses ini membuat saya belajar bahwa masih sedikit sekali perempuan yang berani mengajukan diri untuk menjadi pemimpin, terutama yang posisinya harus diraih melalui proses politik tertentu, padahal saya percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan itu. Proses pencalonan diri menjadi Ketua PPI UK ini juga merupakan kali pertama saya berkampanye untuk mencapai posisi kepemimpinan tertentu, yang memberi saya banyak pelajaran soal politik, kampanye, elektabilitas, dan tentunya berbagai macam tipe kepemimpinan dan komunikasi orang lain.

Saya belajar banyak hal dengan berorganisasi di PPI. Kendati sebelumnya sudah pernah berorganisasi, PPI adalah organisasi yang sistemnya snagat berbeda dengan organisasi yang pernah saya ikuti sebelumnya. Pengurus, anggota, dan konstituennya pun berasal dari latar belakang yang beragam. Saya tidak hanya harus bisa memimpin tim saya di PPI UK – yang sebagian besar pun lebih senior daripada saya, tetapi juga harus mampu bersinergi dengan ketua dan pengurus 36 PPI cabang (tingkat kota) – yang semuanya memiliki kepentingan berbeda-beda. Selain itu, sebagai bagian dari PPI Dunia, saya juga harus menyediakan waktu untuk berkenalan dan berkoordinasi dengan teman-teman dari PPI Negara lain, yang memberi saya banyak ilmu dan jejaring baru.

Singkat kata, menurut saya, bergabung di perhimpunan pelajar Indonesia setempat bisa menjadi pilihan bagi teman-teman yang sedang merencanakan untuk berangkat studi ke luar negeri. Tidak hanya menjadi pengurus, tetapi juga menjadi pemimpin di perhimpunan tersebut. Pengalaman ini tidak hanya bisa membuat kita mengenal satu sama lain di negara yang sama, tetapi juga memberikan banyak ilmu dan pengetahuan yang baru soal kepemimpinan, berorganisasi, dan tentunya mencari cara untuk bisa bersama-sama berkontribusi untuk Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk tahu lebih banyak soal PPI UK dan program-programnya, silakan akses situs kami di www.ppiuk.org dan jangan lupa datang ke acara ISIC-SI 2017 tanggal 24 – 27 Juli mendatang!

 

Photo provided by author. 




===========================================
Alanda Kariza sedang kuliah di program MSc in Behavioural and Economic Science di The University of Warwick, Inggris, dengan beasiswa Chevening.
Posts | Twitter | LinkedIn