Menuntut Ilmu di Wellington, Ibu Kota Kecil paling keren di Dunia

6
115
Dwi Wahyuningtyas, mahasiswa S2 di Victoria University of Wellington

New Zealand mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang, termasuk bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri. Berikut adalah cerita Dwi Wahyuningtyas mengenai pengalamannya berkuliah di Wellington, Ibu Kota dari New Zealand dan alasannya memilih negara tersebut.

Nama Wellington mungkin masih terdengar agak asing di telinga sebagian besar orang, terlepas dari keberadaannya sebagai ibu kota Selandia Baru atau New Zealand. Lokasinya yang terbilang cukup jauh dan juga kondisinya yang terbilang sebagai kota yang relatif sepi dibandingkan kota Auckland yang merupakan pusat bisnis di New Zealand, juga menjadi faktor mengapa Welington kurang dilirik para pemburu kuliah dan beasiswa luar negeri. Namun jika ditelisik lebih jauh, kota yang juga dijuluki “the coolest little capital in the world” atau Ibu Kota kecil paling keren di dunia ini sebenarnya memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya keistimewaan Wellington adalah kualitas pendidikannya, di mana universitas terbesarnya adalah Victoria University of Wellington dan Massey University memiliki beberapa jurusan unggulan. Untuk kamu yang ingin belajar bahasa, meskipun Australia dan Amerika Serikat adalah kiblat jurusan bahasa seperti English Literature, jurusan Applied Linguistics di Victoria University of Wellington termasuk dalam peringkat 100 besar dunia dimana banyak profesor dan para ahli di bidang Applied Linguistics yang merupakan lulusan maupun tenaga pengajar di kampus tersebut. Mengingat Wellington adalah ibu kota New Zealand dan dekat dengan pusat pemerintahan, tidak heran apabila jurusan seperti Public Policy dan Law juga merupakan jurusan yang banyak diminati. Untuk kamu yang ingin mengejar mimpi menjadi pilot handal dan menekuni dunia penerbangan, School of Aviation di Massey University nampaknya bisa menjadi pilihanmu. Atau bagi kamu yang ingin berkecimpung di dunia permusikan, kamu bisa memilih untuk berkuliah di New Zealand School of Music yang menjadi bagian dari Victoria University of Wellington. Selain Victoria University of Wellington dan Massey University, juga ada Wellington Institute of Technology, Whitireia New Zealand dan institusi pendidikan lainnya.

Sistem pendidikan universitas di New Zealand mirip seperti universitas di Inggris dan Australia, mengingat seperti halnya Australia, New Zealand merupakan negara persemakmuran Inggris. Waktu yang cukup singkat untuk menempuh studi nampaknya juga menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, Bachelor Degree yang setingkat dengan S1 di Indonesia bisa ditempuh hanya selama 3 tahun, 1 tahun lebih awal dibandingkan dengan waktu normal yang diperlukan oleh mahasiswa S1 di Indonesia. Bagi mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya dirasa kurang mencukupi, tersedia Foundation Studies di mana calon mahasiswa bisa memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya dengan waktu tempuh kurang lebih selama setahun sebelum melanjutkan ke jenjang universitas. Hanya saja biasanya program Foundation Studies dibiayai secara pribadi meskipun ada beberapa institusi yang menawarkan beasiswa. Selepas Bachelor degree ada beberapa pilihan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu program Honours, Postgraduate Diploma, dan Postgraduate. Bagi lulusan Bachelor Degree yang memiliki rata-rata nilai B+ ke atas, banyak yang memilih melanjutkan dengan program Honours dengan durasi waktu studi kurang lebih setahun. Untuk program master sendiri bisa ditempuh selama 1-2 tahun untuk mahasiswa yang mengambil program penuh dan dua kali lebih lama dari itu jika belajar sebagai mahasiswa dengan program paruh waktu. Uniknya, beberapa universitas memiliki kalender akademik yang agak berbeda. Victoria University of Wellington menganut sistem trimester sedangkan banyak universitas lain di Wellington yang menggunakan sistem semester. Untuk biaya kuliahnya, mahasiswa internasional biasanya harus membayar tiga kali lipat lebih mahal dari jumlah yang dibayarkan oleh mahasiswa domestik. Namun sebenarnya hal tersebut cukup wajar dikarenakan banyak program yang memang dikhususkan untuk mahasiswa internasional agar dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar di universitas.

Mengunjungi Parlemen New Zealand menjadi satu cara untuk mempelajari negara tersebut secara lebih dalam
Mengunjungi Parlemen New Zealand menjadi satu cara untuk mempelajari negara tersebut

Untuk biaya hidup, NZD (New Zealand Dollar, mata uang yang berlaku di New Zealand) 1 setara nilainya dengan kurang lebih Rp9.500. Untuk keperluan internet menghabiskan sekitar NZD 20 per bulan dan transportasi sekitar NZD 30. Biaya lainnya seperti penunjang studi dapat mencapai NZD 50 per bulan. Jumlah tersebut dapat berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mahasiswa yang bersangkutan. Untuk biaya hiburan seperti tiket bioskop, sekitar NZD 15 untuk sekali nonton, atau 4 kali lipat lebih mahal daripada tiket bioskop di Indonesia. Untuk berhemat, biasanya mahasiswa lebih senang memasak sendiri yang jika dirata-rata biaya belanja per minggu dapat mencapai sekitar NZD 30 – 40. Namun tidak ada salahnya untuk sesekali mencoba kuliner khas lokal. Untuk sekali makan di luar dapat menghabiskan sekitar NZD 8-15. Kafe-kafe di kampus biasanya menyediakan makanan dengan harga yang lebih murah mulai dari NZD 5-10, tentu karena menyesuaikan dengan kantong mahasiswa. Untuk opsi makanan halal, tergantung dengan pihak restoran. Ada restoran yang menyediakan opsi halal, ada pula yang tidak.

Untuk mahasiswa yang ingin berkuliah di Wellington, ada beberapa pilihan yaitu akomodasi khusus mahasiswa, homestay, dan flatting. Untuk kisaran harga, akomodasi khsus mahasiswa memang lebih mahal yaitu sekitar NZD 240 per week untuk ruangan sendiri dan sekitar NZD 190 untuk ruangan yang berbagi dengan penghuni lain. Untuk jenis studio bisa mencapai NZD 300 per week. Selain itu, akomodasi mahasiswa yang dilengkapi dengan ruang makan dimana disediakan makan tiga kali sehari harganya akan menjadi lebih mahal mencapai NZD 350 per week. Keunggulan jika tinggal di akomodasi jenis tersebut adalah kesempatan bergaul dengan mahasiswa internasional lain melalui kegiatan ramah tamah yang secara rutin diadakan oleh pihak pengurus akomodasi. Selain itu, keamanannya pun terjaga, kamar telah dilengkapi dengan furnitur dan harga sewa biasanya sudah termasuk dengan listrik dan internet. Opsi lainnya, homestay, mematok tarif sekitar NZD 1000 per bulan yang telah termasuk dengan makan tiga kali sehari. Namun hal tersebut kembali kepada kebijakan tuan rumah yang bersangkutan. Kelebihan dari tinggal di homestay adalah tuan rumah tidak segan untuk membantu mahasiswa untuk beradaptasi terutama yang berkaitan dengan kesulitan berbahasa. Hanya saja, lokasi homestay biasanya jauh dari kampus sehingga masih diperlukan biaya transportasi untuk pergi ke kampus. Pilihan selanjutnya adalah flatting, yaitu menyewa apartemen baik dengan sesama mahasiswa Indonesia atau mahasiswa internasional lainnya. Biasanya flatting dipilih oleh mereka yang ingin biaya sewa yang lebih rendah atau yang membawa keluarga. Kekurangannya adalah bagi mereka yang memilih flatting, tidak semua apartemen dilengkapi dengan perabotannya sehingga para penghuni harus mencari dan membeli perabotannya sendiri. Selain itu, para calon penghuni juga harus pintar dalam memilih karena apartemen yang diiklankan terkadang tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Pada intinya, jenis akomodasi hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter penghuninya.

New Zealand terkenal dengan keramahan penduduknya, jadi jangan heran jika dengan mudahnya mereka berkata “sorry” atau “thank you”. Mereka juga tidak segan mendahulukan orang lain untuk lewat. Untuk menyeberang jalan juga sangat mudah. Pejalan kaki hanya butuh menekan tombol di tiang lampu merah sebagai tanda untuk menyeberang jalan agar kendaraan berhenti. Bahkan seringkali tanpa ada lampu merah pun, para pengguna kendaraan akan menghentikan kendarannya untuk memberi kesempatan bagi para pejalan kaki untuk menyeberang. Warga Wellington atau yang juga dikenal dengan sebutan Wellingtonian, mempunyai rasa toleransi yang tinggi. Mereka sangat menghargai orang lain tanpa memandang suku, agama, atau ras. Mereka juga tidak segan turun tangan bahkan tanpa dimintai pertolongan. Jadi jangan heran apabila melihat orang lain kebingungan, mereka pasti akan langsung menawarkan bantuan. Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak-anak juga melakukan hal yang serupa. Di beberapa sekolah di Wellington juga menerapkan sistem di mana siswa yang lebih menguasai suatu mata pelajaran harus mengajari teman lainnya yang kurang bisa di mata pelajaran tersebut. Hal itulah yang mungkin juga meminimalisir kekerasan maupun saling intimidasi di kalangan murid di sekolah-sekolah Wellington.

Sebagai pelajar, kegiatan untuk melepas penat sehabis kuliah merupakan suatu keharusan. Wellington sendiri dikenal sebagai kota yang memiliki daya tarik yang unik. Bangunan dengan sentuhan seni rupa banyak bertebaran, yang berpadu dengan keindahan alamnya, terutama pantai dan lautnya. Wellington memang terletak di dekat sebuah teluk. Beberapa konservasi yang berterbaran di Wellington juga menambah daya tarik kota ini. Asyiknya lagi banyak objek wisata yang gratis. Gratis bukan berarti tidak terawat. Perawatan secara berkala dilakukan oleh pihak terkait sehingga tidak heran jika objek wisata selalu bersih, indah, dan terawat. Hampir di setiap objek wisata juga terdapat toilet yang terjaga kebersihannya. Para pejalan kaki juga sangat dimanjakan dengan keberadaan jalur untuk berlari atau bersepeda yang tersedia hampir di setiap kawasan wisata tersebut. Wellington juga dikenal ramah terhadap penyandang disabilitas. Hampir di setiap tempat umum terdapat akses khusus untuk penyandang difabel. Yang juga tidak boleh dilewatkan adalah atraksi di malam hari. Setiap akhir pekan yaitu pada hari jumat-sabtu diadakan acara bernama Pasar Malam Wellington yang menyediakan makanan dari berbagai belahan penjuru dunia. Makanan Indonesia juga bisa ditemukan dengan nama Garuda Food Truck yang juga dimiliki dan dikelola oleh seorang WNI. Pada waktu tertentu seperti pada saat tahun baru, natal, bahkan Tahun Baru Cina, diselenggarakan perayaan seperti kembang api, pesta lampion dan berbagai macam perlombaaan. Wellington juga identik dengan museumnya. Museum-museum di Wellington terkenal dengan koleksinya yang bersejarah dan terawat. Sebagian besar dari tempat-tempat wisata tersebut tidak mematok tarif masuk. Yang juga tidak boleh dilewatkan adalah Weta Cave nya, studio pembuatan animasi yang telah menggarap banyak film Hollywood seperti the Lord of the Rings, Batman VS Superman dan the Hobbit. Untuk pecinta kopi, Wellington dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki kedai kopi terenak di dunia. Di jalan-jalan utama kawasan Central Business District (CBD) dapat ditemukan kedai kopi yang menyediakan beragam varian kopi dari seluruh penjuru dunia.

Pemadangan yang lazim ditemui di sepanjang perjalanan dari kota ke kota di New Zealand.
Pemadangan yang lazim ditemui di sepanjang perjalanan dari kota ke kota di New Zealand.

Dengan segala keistimewaan, keunikan, dan ciri khas yang dimilikinya, tidak salah jika Wellington patut dilirik sebagai salah satu tujuan studi. Jika kamu ingin studi di tempat yang tidak biasa menjadi pilihan mahasiswa namun dengan kualitas pendidikan yang baik serta lingkungan yang menyenangkan, maka Wellington layak masuk dalam daftarmu.

  • Felice

    Kak,

  • Felice

    Kak, apakah tersedia beasiswa S1 disana? Lalu, pakah kakak sendiri dapat beasiswa? Aku mau kuliah disana, tapi terkendala biaya. Nilai rapotku juga biasa saja kak, ga bagus2 amat hehehe tapi masih acceptable. Aku mau jurusan International Relations.

    • Dwi Wahyuningtyas

      Halo Felice, saya mendapat beasiswa dari LPDP. Untuk S1 sendiri beberapa universitas d sana menawarkan beasiswa, beberapa di antaranya mencakup living allowance dan tution fee, namun ada beberapa yang hanya mengcover tuition fee nya saja. Untuk di kampus saya sendiri, Victoria University of Wellington, kamu bisa cari infonya di sini. http://www.victoria.ac.nz/study/student-finance/scholarships/find-scholarship

      • Abdurrobbi Al Ihsaan

        Hello Mbak Dwi, I think we have quite similar interest. I’m eager to study TESOL in Victoria university either.

        Are you pursuing MA by thesis or course? Do you mind if you drop me your email address? I’d like to ask you few questions about application to the program. My email is alihsan.robby@gmail.com

        Thank you in advance.

  • Yogas Praska

    Mbak Dwi, saya sedang coba untuk dapat beasiswa dari LPDP. Victoria salah satu yang saya tertarik untuk apply.
    Kalo boleh saya tau emailnya Mbak untuk kontak2?
    Email saya yogaskapteina@yahoo.co.id
    Terima Kasih sebelumnya