Belajar Kajian Gender di Nara Women’s University dengan Beasiswa MEXT

0
176

Ketika menulis ini, saya jadi teringat dengan sebuah pepatah Jepang yang dulu sering saya gunakan untuk memotivasi diri:

“Nana korobi ya oki”

“Tujuh kali jatuh, delapan kali berdiri

Apa hubungannya?

Saya adalah pemburu beasiswa luar negeri sejak kuliah S1 di Sastra Jepang UGM. Jepang, tentu saja menjadi tujuan utama saya. Namun, mendapatkan beasiswa luar negeri ternyata tidak semudah yang dipikirkan orang. Kata ‘gagal’ atau ‘tidak lolos beasiswa’ sudah jadi makanan saya sehari-hari. Bahkan dalam satu tahun, saya pernah gagal beasiswa luar negeri hingga empat kali. Rasa ingin menyerah sering sekali menghantui saya, tetapi saya selalu teringat dengan pepatah Jepang yang saya tulis di atas: setelah jatuh, harus bisa bangkit lagi.

Festival tahunan Kotosai di Nara Women’s University
Festival tahunan Kotosai di Nara Women’s University

Kemudian, pada awal bulan Januari 2015, saya yang tengah menempuh studi S2 Ilmu Linguistik di UGM, mendapat informasi bahwa prodi Sastra Jepang UGM mencari alumni untuk direkomendasikan sebagai penerima beasiswa pemerintah Jepang (Monbukagakusho atau MEXT) U to U untuk program Research Student di Nara Women’s University (NWU). NWU adalah salah satu universitas negeri khusus perempuan di Jepang yang terletak di Prefektur Nara. Adapun program research student bisa dikatakan sebagai pembuka untuk melanjutkan ke program master apabila lulus ujian masuk dari universitas yang bersangkutan.

Perlu diketahui bahwa beasiswa MEXT terdiri dari dua macam, yaitu G to G (Government to Government) yang seleksinya dilakukan melalui Kedutaan Besar Jepang dan U to U (University to University), yakni melalui universitas di Jepang yang telah memiliki MoU dengan universitas di Indonesia. UGM telah banyak memiliki ikatan kerja sama dengan universitas-universitas di Jepang, salah satunya adalah NWU.

Hal yang membuat saya kemudian tertarik untuk mendaftar adalah NWU memiliki reputasi yang sangat bagus dalam bidang gender studies, mulai dari hubungannya dengan sejarah, budaya, hingga berkaitan dengan keluarga dan reproduksi. Saya juga memang memiliki rencana untuk meneruskan penelitian saya ketika S1 dulu, yakni mengenai representasi perempuan di dalam film.

Persiapan untuk mendaftar beasiswa ini bisa dikatakan sangat mendadak dan urutan seleksinya pun sedikit berbeda. Proses seleksi MEXT yang saya tahu adalah seleksi berkas lalu dilanjutkan dengan seleksi wawancara. Namun, saya harus mengikuti seleksi wawancara terlebih dahulu, baru mengirimkan berkas. Selain itu, ada syarat tidak tertulis yang sebisa mungkin perlu dipenuhi, yakni pelamar beasiswa telah ‘berkenalan’ dengan profesor di universitas yang dituju. Saya beruntung karena tidak perlu repot-repot mencari profesor sendiri karena Kepala Prodi Sastra Jepang UGM telah memperkenalkan seorang profesor dari NWU kepada saya.

Kami berkenalan via e-mail. Jarak antara saya berkenalan dengan Beliau dengan seleksi wawancara pun sangat singkat, hanya tiga hari. Beliau juga mewanti-wanti saya dari awal bahwa proses ini akan menguras energi dan waktu. Namun karena tekad saya sudah bulat, challenge accepted! Selama waktu yang super singkat tersebut, saya menyicil semua berkas yang dibutuhkan, seperti ijazah, transkrip nilai, sertifikat JLPT (Japanese Language Proficiency Test), surat rekomendasi dekan, dan rencana penelitian.

Saya mengikuti seleksi wawancara via Skype selama tiga hari. Di hari keempat, saya diharuskan untuk sudah mengirimkan berkas ke NWU via pos. Setelah dikirim pun, ternyata ada masalah baru. Saya mendapat informasi dari profesor saya bahwa beberapa berkas saya ada yang kurang dan salah. Saya nyaris putus asa karena deadline sudah lewat. Namun, saya masih diberi kesempatan untuk merevisi berkas saya tersebut. Saya pasrah saja. Kalau bukan rezeki ya sudah, begitu pikir saya. Namun ternyata keajaiban itu datang. Setelah setengah tahun menunggu, akhirnya pada bulan Juni 2015, saya mendapat kepastian bahwa saya diterima beasiswa MEXT di NWU untuk keberangkatan bulan Oktober 2015.

Lalu, karena beasiswa MEXT tidak mau ‘diduakan’ dan UGM juga memperketat kebijakan mengenai masa studi, tentunya mustahil bagi saya untuk mendapatkan double degree di UGM dan NWU. Akhirnya, bulan Juli 2015 saya memutuskan untuk cuti dari UGM selama satu semester. Meski pada akhirnya, di tengah persiapan ujian masuk S2, saya memutuskan mengundurkan diri dari UGM. Itu adalah salah satu keputusan terberat yang harus saya lakukan, mengingat saya juga sudah menghabiskan dua semester kuliah di UGM dan besar kemungkinan bahwa bidang studi yang saya ambil tidak ada hubungannya sama sekali dengan bidang linguistik. Namun, orang-orang di sekitar saya berkata bahwa ilmu yang saya dapatkan selama ini tidak akan sia-sia dan akan berguna suatu hari nanti.

Studi di Nara Women’s University

Sejak Oktober 2015 hingga Maret 2016, saya menjalani program research student di kampus ini. Sebenarnya, oleh MEXT, saya diberi waktu selama 1,5 tahun menjadi research student. Akan tetapi, profesor saya menginginkan saya untuk secepatnya menjadi mahasiswa S2, sehingga saya hanya menjalani program research student selama satu semester. Selama menjadi research student, waktu saya banyak dihabiskan untuk memperdalam bahasa Jepang, mempersiapkan ujian masuk, dan mengembangkan rencana penelitian saya. Pada bulan Januari 2016, saya mengikuti ujian masuk S2 Graduate School of Humanities and Sciencies, Department of Culture and Humanities dan sejak April 2016, saya resmi menjadi mahasiswa S2 di NWU. Di NWU, ada tiga mahasiswa Indonesia selain saya. Dua di antaranya juga kuliah di jurusan yang sama dan satunya lagi adalah mahasiswa exchange.

Kuliah lapangan Study of Nara di Gunung Yoshino, Nara,
Kuliah lapangan Study of Nara di Gunung Yoshino, Nara.

Hal yang membedakan dengan sistem pendidikan di NWU dengan di Indonesia adalah di NWU, setiap profesor mengepalai satu laboratorium (kenkyuushitsu). Artinya, kita akan masuk ke dalam kenkyuushitsu yang sesuai dengan tema penelitian kita dan dibimbing oleh profesor yang berada di dalam kenkyuushitsu tersebut. Misalnya, tema penelitian saya adalah representasi perempuan di dalam film Indonesia dan Jepang. Oleh karena itu, di universitas ini saya masuk ke dalam kenkyuushitsu Gender Representation. Di setiap kenkyuushitsu, biasanya rutin dilakukan lab meeting (zemi). Profesor saya membuat kebijakan zemi seminggu sekali. Mahasiswa S1, S2, dan research student digabung. Di dalam zemi tersebut, setiap mahasiswa bergiliran mempresentasikan kemajuan penelitiannya dan kemudian didiskusikan.

Selain saya, ada dua mahasiswa asing lain yang berasal dari China. Meskipun terdapat mahasiswa asing, profesor saya selalu berusaha untuk memperlakukan kami sama dengan mahasiswa Jepang. Oleh karena itu, saya juga harus belajar untuk mengikuti ritme kerja mereka. Hal yang membuat saya kaget saat pertama kali mengikuti zemi adalah zemi dimulai sejak sore hari hingga malam hari dan tak jarang berakhir di atas pukul 9 malam. Dari zemi tersebut saya juga belajar cara kerja mahasiswa dan profesor Jepang yang sangat pekerja keras dan selalu berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Mengenai sistem perkuliahan, tahun ajaran baru semester ganjil dimulai pada bulan April, saat musim semi, dan semester genap dimulai pada bulan Oktober, saat musim gugur. Sama seperti di Indonesia, di dalam perkuliahan, banyak diakan diskusi dan presentasi. Semua mata kuliah yang saya ambil di kampus ini menggunakan bahasa Jepang, kecuali mata kuliah double degree. Namun, yang membuat saya kaget adalah beban kredit SKS yang wajib diambil oleh mahasiswa tidak sebanyak SKS yang harus diambil oleh mahasiswa S2 di UGM. Di UGM, saya harus mengambil 44 SKS (8 SKS untuk tesis dan 36 SKS untuk mata kuliah), sedangkan di NWU, saya hanya dibebankan 30 SKS (8 SKS untuk tesis dan 22 SKS untuk mata kuliah).

Selain perkuliahan, ada satu event tahunan mahasiswa di NWU yang selalu saya tunggu-tunggu, yaitu festival Kotosai yang dilaksanakan selama tiga hari di awal bulan November. Selama festival tersebut, semua kegiatan perkuliahan diliburkan dan kampus dibuka untuk umum. Para mahasiswi NWU berlomba-lomba menampilkan unjuk bakat, membuka stand-stand, dan lain-lain. Festival ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar dan wisatawan.

Terletak di kota yang pernah menjadi pusat peradaban Jepang pada abad ke-7 dan tidak terlalu padat penduduknya, serta dikelilingi pegunungan dan berbagai bangunan warisan dunia, NWU bagi saya adalah tempat yang sangat cocok untuk belajar. Terutama bagi saya yang tidak begitu suka keramaian. Belajar di NWU dan tinggal di Nara, saya seperti berdiri di antara Jepang modern dan Jepang klasik. Adanya atmosfir tersebut banyak mengingatkan saya pada UGM dan Yogyakarta.

Masa studi saya di NWU masih dua semester lagi. Tentunya, jalan saya untuk menyelesaikan pendidikan S2 di sini masih panjang. Saat ini saya sedang berusaha untuk mulai menulis tesis. Tentunya saya sangat bersyukur dibimbing oleh profesor yang baik dan selalu siap membantu saya. Selepas lulus S2, saya berencana untuk meneruskan ke program doktoral di kampus yang sama karena beasiswa MEXT juga memberikan kesempatan bagi para penerima beasiswanya untuk melanjutkan pendidikan hingga S3. Memang hingga saat ini, saya belum terpikir untuk bekerja di Jepang karena setelah saya menyelesaikan studi di sini, saya ingin kembali ke Indonesia. Saya ingin membagi ilmu yang saya dapat selama saya belajar di sini untuk membangun masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik.

 

Foto: Koleksi Pribadi Penulis

Informasi mengenai kehidupan mahasiswa Indonesia di Jepang:

http://ppion.org/ (PPI Osaka-Nara)

http://www.ppijepang.org/ (PPI Jepang)

 

Informasi mengenai beasiswa pemerintah Jepang (MEXT):

http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

 

Informasi mengenai Nara Women’s University:

http://www.nara-wu.ac.jp/nwu/en/education/index.html