Q & A: Bekerja di Negara Timur Tengah

Q & A: Bekerja di Negara Timur Tengah

Negara-negara Timur Tengah umumnya identik sebagai negara-negara kaya minyak bumi, yang menjadikannya negara dengan pendapatan tinggi. Selain lapangan kerja pink collar seperti asisten rumah tangga dan perawat khususnya yang sering disebut dengan tenaga kerja Indonesia (TKI), negara-negara Timur Tengah juga menawarkan lapangan pekerjaan blue collar dan white collar di bidang konstruksi, teknik, atau pengeboran minyak.

Kali ini, Indonesia Mengglobal berbincang-bincang dengan Ivan Yared yang bekerja di Qatar hingga akhir tahun lalu.

Q: Hai Ivan Yared, boleh perkenalkan diri secara singkat?

Halo pembaca Indonesia Mengglobal, perkenalkan, nama saya Ivan Yared. Saya lahir di Semarang 30 tahun yang silam. Setelah mendapat gelar Bachelor dari Universitas Widya Mandala Surabaya, saya melanjutkan kuliah untuk gelar Master di National Taiwan University of Science and Technology.

Q: Setelah lulus kuliah, mengapa Ivan Yared berkarir di bidang yang Ivan Yared tekuni sekarang?

Setelah mendapatkan gelar Master di bidang Chemical Engineering, saya diterima bekerja sebagai engineer di Process Department di CTCI Corp., sebuah perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang berkantor pusat di Taipei. Ketertarikan di bidang engineering memang sudah ada sejak masa kuliah di Indonesia, dan saat itu saya berharap dapat lebih mendalami desain dan operasi plant dengan bekerja perusahaan ini.

Q: Bagaimana ceritanya Ivan Yared kemudian bisa bekerja di negara Timur Tengah padahal kantor perusahaannya di Taipei?

Bekerja di Process Department memang sebagian besar didominasi oleh perancangan plant dan persiapan dokumen di HQ, di mana HQ ini berada di Taipei. Tiga tahun bekerja di sana, kesempatan untuk bekerja secara langsung di site belum ada, dan pengajuan untuk mobilisasi ke site saya tidak disetujui oleh Department Manager saat itu. Kemudian ada informasi bahwa departemen yang berbeda, Commissioning Department, membuka lowongan untuk commissioning engineer yang akan ditugaskan di proyek baru di Qatar. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan; setelah melakukan wawancara singkat, saya pun resmi pindah ke departemen baru dan bertolak ke Qatar 1 tahun kemudian.

Suasana camp di Qatar saat terjadi badai pasir.

Suasana camp di Qatar saat terjadi badai pasir.

Q: Bagaimana budaya kerja di sana?

Bekerja di site (Qatar) terasa sangat berbeda dibandingkan di HQ (Taipei), contohnya:

  1. Jam kerja yang lebih panjang, di sana jam kerja minimum adalah 10 jam/hari, 6 hari/minggu
  2. Rekan kerja dari berbagai negara, mayoritas berasal dari India dan Filipina, tetapi ada juga yang berasal dari kawasan Asia dan Eropa lainnya
  3. Tekanan pekerjaan lebih terasa, di mana kita diharuskan membuat laporan harian sebelum pulang kerja
  4. Tempat tinggal yang jauh dari pusat kota. Pekerja tinggal di asrama di dalam kawasan kota industri dengan keramaian dan hiburan yang tidak banyak, sehingga waktu senggang biasanya dihabiskan dengan olahraga di gym yang disediakan.
  5. Keadaan cuaca yang kurang bersahabat, terutama saat musim panas

Sekilas terasa bahwa bekerja di Qatar itu berat dan melelahkan. Namun, setelah menjalani hidup di sana selama 2 tahun, secara pribadi saya berpendapat bahwa bekerja di site itu lebih sederhana, mudah dijalani, dan sekaligus menantang dibandingkan bekerja di HQ.

Bekerja di tempat yang terisolasi dari keramaian dan hampir selalu berada di bawah tekanan membuat kita sangat berkonsentrasi dalam bekerja. Beragam masalah yang muncul setiap hari menjadi kesempatan untuk berkembang karena kita bekerja dengan tim yang kebanyakan profesional dan berpengalaman.

Suasana di Souq Waqif. Souq serupa pasar di Indonesia.

Suasana di Souq Waqif. Souq serupa pasar di Indonesia.

Di saat rasa bosan sudah tak tertahankan, ada bis yang disediakan setiap Kamis malam dan Jumat yang bisa dipakai untuk berangkat ke Doha (ibukota) atau Al-khor. Di sana kami bisa jalan-jalan ke mall atau Souq Waqif. Kegiatan saya dan rekan dari Indonesia lainnya adalah pergi ke restoran Indonesia di Doha untuk melepas kangen dengan masakan Indonesia.

Q: Hal-hal apa yang Ivan Yared lihat sebagai keunikan selama bekerja di sana?

Qatar adalah negara yang unik karena hampir 90% dari total populasi adalah pekerja asing yang bervariasi dari level buruh hingga manajemen. Karena itu, di pusat keramaian dapat ditemui ragam kuliner dari berbagai macam negara.

Selain itu, walaupun Qatar adalah negara Islam, Qatar terasa sudah terbuka dan berbeda dibanding negara Timur Tengah lainnya (misalnya Arab Saudi) terkait beberapa aturan dalam agama Islam. Di Qatar, perempuan boleh mengemudi sendiri, ada tempat khusus yang diizinkan menjual alkohol dan daging babi, dan mereka yang beragama lain bisa menjalankan ibadah dengan bebas.

Suasana kota.

Suasana kota.

Q: Pesan apa yang ingin Ivan Yared sampaikan untuk pembaca Indonesia Mengglobal yang ingin bekerja di Qatar atau di negara Timur Tengah?

Untuk teman-teman yang ingin bekerja di Timur Tengah, saran saya adalah be a (very) good professional. Profesional berarti mengedepankan kompetensi dan menjunjung budaya kerja yang baik. Industri minyak dan gas, yang merupakan andalan negara-negara di Timur Tengah, mungkin sedang agak tersendat belakangan ini, tapi itu bukan berarti ekspansi di bidang ini berhenti total. Adanya banyak proyek di dearah Timur Tengan, baik pembangunan plant baru atau revamping plant yang lama, memberi kesempatan kerja bagi para profesional dari berbagai usia. Selain penghasilan yang lumayan, bekerja di lingkungan yang multikultural adalah manfaat lain yang bisa kita dapatkan. Selain itu, keuntungan bekerja di Qatar adalah tidak adanya income tax, namun saya tidak yakin apakah kebijakan ini juga berlaku di negara GCC/Gulf Cooperation Council lainnya.




===========================================
Ivan Yared, aka Yared, went to Taiwan more than 8 years ago to seek a higher education. Walking down the path of a professional engineer after graduating, life gave him a chance to go to Qatar to broaden his mind about the world. Currently stationed at HQ in Taipei, he is struggling to find his SO before he is again sent to live among sand and men. Despite mostly content with what he have now, he do think about the future. For example, when and where he should settle down, or if he should seriously pursue an inner desire to become a firework artisan.
Posts