Mengapa Kuliah di Dalam Negeri adalah Pilihan

Mengapa Kuliah di Dalam Negeri adalah Pilihan

Banyak hal tentang belajar di negeri orang yang sudah dimuat di Indonesia Mengglobal. Situs ini memang untuk itu. Untuk tempat diskusi dan sumber informasi tentang bersekolah di mancanegara. Segala manfaat akan bersekolah di luar negeri sudah disodorkan dari sudut pandang berbagai jurusan hingga negara tujuan. Kualitas pendidikan dan peluang kerja pascakuliah, di antaranya, adalah keunggulan-keunggulan yang sulit kita abaikan. Yang tak kalah membuai, kesempatan untuk tinggal lama di kota-kota asing penuh pesona. Jika boleh memilih, rasanya hampir pasti semua orang tanpa pikir panjang memilih kuliah di luar negeri ketimbang di Indonesia.

Benarkah kuliah di luar negeri pasti lebih baik? Tentu penting untuk, pertama-tama, tidak mengotak-ngotakkan universitas-universitas di dalam negeri dan universitas-universitas di luar negeri untuk menilai kualitas edukasi. Kedua kategori yang dibatasi lingkup geografis tersebut tidaklah cukup sederhana untuk dapat dibandingkan dengan gamblang. Banyak universitas-universitas di luar negeri yang lebih culun ketimbang yang di Indonesia, demikian pula sebaliknya. Lagipula, lingkup dalam negeri, seperti halnya luar negeri, demikian besar. Pengalaman berkuliah di Pontianak bisa amat berbeda dari di Medan atau di Yogyakarta. Begitupun halnya antara berkuliah di Tokyo, Kairo, dan Ohio.

Namun, saya kira ada hal-hal yang esensial dari berkuliah di dalam negeri. Hal-hal yang belum tentu kita dapatkan dari berkuliah di luar negeri. Hal-hal yang menjadikan berkuliah di dalam negeri bukan sekadar ya-sudah-nasib-apa-daya-diterima-saja, melainkan sebuah pilihan yang disadari sepenuhnya.

Jika tujuan akhir kita adalah berkarir di Indonesia, sesungguhnya belajar di dalam negeri selalu membawa kita beberapa langkah lebih awal. Sebab, ia menyiapkan kita dengan bahasa-bahasa praktik yang lebih familiar di lingkungan pekerjaan dan keprofesian di dalam negeri. Selain itu, ia juga memberikan kita jaringan yang lebih relevan. Dengan berkuliah di dalam negeri, kita bertemu dengan teman-teman satu jurusan yang sangat mungkin akan menjadi partner kita nantinya di dunia kerja, juga dengan dosen-dosen yang sudah lama berkecimpung di bidangnya, yang bisa membukakan kita pada akses-akses pascakuliah.

Saya mengamati perbedaan itu ketika melihat teman-teman saya yang studi arsitektur. Teman yang sedari awal berkuliah di luar, ketika kembali, membutuhkan waktu ekstra untuk menyesuaikan diri dengan praktik profesi di Indonesia. Sebab, ia harus memahami istilah-istilah material, konstruksi, dan lain-lain yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah yang dulu ia pelajari dalam bahasa Inggris belum tentu ada atau digunakan di Indonesia. Program komputer canggih yang ia kuasai belum banyak dipakai. Standar-standar ergonomi yang ia hafal, yang merujuk pada tubuh orang-orang sana, belum tentu kontekstual dengan orang Indonesia. Sementara, teman yang berkuliah di Amerika harus mengubah kepekaannya akan ukuran, oleh karena ia belajar dengan menggunakan satuan imperial—inci dan kaki—alih-alih satuan metrik. Ketika mereka hendak mengerjakan proyek sendiri, mereka harus menyurvei lagi para ahli struktur, mekanikal, elektrikal, pencahayaan, dan lain-lain yang berpraktik di Indonesia. Teman-teman itu pada akhirnya harus belajar dua kali. Sementara, banyak teman lulusan dalam negeri yang tak lama sehabis lulus langsung melaju mantap di jalur karirnya.

Soal lain adalah ekspektasi saat melamar kerja. Di satu sisi, lazim jika seorang yang telah berkuliah di luar negeri mengharapkan pendapatan yang lebih tinggi daripada seorang yang bekerja di dalam negeri. Padahal tidak banyak perusahaan rela membayar lebih, sehingga kesempatannya menjadi lebih sempit. Di sisi lain, pihak penerima kerja kerap berekspektasi lebih besar akan performa lulusan luar negeri. Padahal, kuliah di luar negeri tidak menjamin kompetensi. Pun sebagaimana yang telah dipaparkan sebelum ini, lulusan luar juga perlu waktu lebih untuk menyesuaikan diri. Maka para lulusan luar negeri perlu menakar ulang ekspektasi ketika bekerja di dalam negeri, sembari menyiapkan mental dalam menghadapi ekspektasi-ekspektasi orang lain.

Di samping alasan-alasan pragmatis tersebut, ada satu hal lagi yang membuat saya sungguh bersyukur pernah berkuliah di Indonesia. Ketika memulai studi sarjana, saya segera menyadari bahwa lingkungan universitas pada umumnya lebih heterogen dibandingkan lingkungan sekolah. Banyak mahasiswa yang datang dari kota lain. Latar belakang suku, agama, dan ras mereka pun beragam. Di universitas, saya berkesempatan mengenal teman-teman yang walaupun macam-macam itu, sama-sama Indonesia. Dibesarkan sejak kecil di lingkungan yang amat homogen, baru sejak berkuliah saya keluar dari zona nyaman dan bersinggungan dengan liyan. Tapi justru pengalaman itu yang membuat saya mulai merasa mengenal Indonesia. Kesan-kesan itu mengakar pada saya, sampai sekarang.

Jika waktu berulang dan saya dihadapkan lagi pada pilihan kuliah sarjana di dalam atau di luar negeri, saya akan memilih berkuliah di dalam negeri. Saya merasakan banyak manfaat dari berkuliah di dalam negeri. Pilihan itu tentu saja personal. Barangkali juga sentimental. Ia tidak bisa menjamin baik tidaknya suatu pilihan, karena pada akhirnya, lokasi bukanlah satu-satunya hal penting yang perlu ditimbang dalam memilih universitas. Tapi yang terpenting dari semua itu, adalah mengeluarkan yang terbaik akan apapun pilihan kita.

Photo Courtesy: Mohamad Sani 




===========================================
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.
Posts | Facebook | Twitter