Lessons Learned: 2 Tahun, 3 Negara di Eropa

0
67
Photo Courtesy of Pixabay

Saya adalah seorang yang academically ambitious, dan melanjutkan kuliah di Eropa merupakan mimpi saya. Kenapa Eropa? Mungkin karena reputasi engineering di Eropa yang terkenal bagus, cocok dengan latar belakang saya di Chemical Engineering, mungkin juga karena cerita seorang alumni yang meyakinkan mengenai pengalamannya melanjutkan kuliah di Eropa. Entahlah, saya sendiri tidak punya jawaban pasti.

Namun, saat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah maka jurusan kuliah apa yang akan saya pilih lah yang terpenting. Hal terpenting selanjutnya adalah beasiswa apa yang tersedia untuk jurusan yang saya pilih, apa saja pilihan universitas yang ada, dan bagaimana reputasi universitas tersebut. Maka setelah mengumpulkan berbagai informasi saya memutuskan untuk mendaftar program Erasmus Mundus Master in Engineering Rheology (EURHEO). Erasmus Mundus merupakan program yang sudah cukup populer di telinga para pencari beasiswa Eropa. Namun program EURHEO ini agaknya kurang diminati mungkin karena rheology bukan merupakan bidang ilmu yang dipakai secara luas seperti halnya ekonomi. Saya sendiri mendapatkan keuntungan dari ke-tidak populer-an program ini: saya diterima dengan mudah.

Program EURHEO merangkul 6 universitas di Eropa yang secara spesifik mengaplikasikan rheology pada bidang engineering yang berbeda. Calon mahasiswa diperbolehkan untuk memilih universitas pertama sebagai tujuan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Saya terdaftar sebagai mahasiswa di Katholieke Universiteit (KU) Leuven  – Belgia selama setahun pertama, sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai chemical engineer. Setengah tahun berikutnya mahasiswa diwajibkan mengikuti intensive course di Universidade do Minho – Portugal untuk mendapatkan pemahaman yang seragam mengenai program yang dijalani. Selanjutnya, sesuai dengan topik tesis yang diajukan, mahasiswa akan ditempatkan di universitas yang mampu memadai kebutuhan riset mereka. Saya ditempatkan di Università della Calabria – Italy untuk menyelesaikan tesis saya.

Singkatnya, saya hidup di tiga negara selama dua tahun masa kuliah saya. Sebuah perjalanan berharga yang pernah saya lalui. Mereka yang pernah hidup jauh dari kenyamanan di negeri asing mungkin akan setuju dengan beberapa hal ini.

Persiapkan mental

Hal ini mungkin terdengar sepele, tapi penting. Percayalah, kehidupan di luar negeri tidak akan seindah profile picture yang mungkin di-share oleh mereka yang bersekolah di sana. Saya sendiri sudah tahu fakta tersebut dan mempersiapkan mental saya sejak lulus SMA. Namun toh tetap saja di tahun pertama saya hampir mengemasi barang-barang saya dan kembali pulang ke Indonesia. Jadi, jangan dulu membayangkan bisa jalan-jalan di Eropa. Luruskan niat sejalan dengan tujuan awal untuk kuliah dan cobalah cari informasi mengenai bagaimana untuk mendukung niat tersebut. Misalnya dengan bergabung dalam forum diskusi online.

Jangan berasumsi mengenai kehidupan di suatu negara

Saya punya pengalaman yang cukup menarik di tahun pertama saya selama di Belgia. Saya sulit beradaptasi di semester pertama. Saya berharap bertemu orang Belgia yang ramah dan tersenyum menyapa saya. Tidak aneh kan keinginan saya? Di Indonesia hal itu bisa ditemui di mana pun. Namun setelah berinteraksi lebih dekat dengan beberapa teman dari Belgia, barulah saya mengerti. Harga keramahan adalah perkenalan. Saya tidak bisa mengharapkan orang Belgia sehangat orang Indonesia. Saya lah yang seharusnya membaur dengan kehidupan mereka. Penting untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kehidupan di suatu negara sebelum tiba.

Be like local people

Kita tidak hanya sekedar jalan-jalan, tapi hidup di negeri orang. Dan cara terbaik untuk merasa diterima serta disambut di suatu negara adalah dengan mengikuti tradisi mereka. Di Guimaraes (Portugal), misalnya, ada berbagai macam festival hampir setiap bulannya, seperti Medieval Festival di mana seluruh penduduk lokal akan berdandan dan mendekorasi kotanya seperti di abad pertengahan.

Ada juga Pinheiro festival, saat seluruh penduduk kota akan memenuhi jalan dan berarak menabuh drum mengelilingi kota. Cerita mengenai kehidupan penduduk lokal semacam ini lah yang paling menarik untuk dibagikan saat saya pulang. Berpestalah saat mereka berpesta!
Ada juga Pinheiro festival, saat seluruh penduduk kota akan memenuhi jalan dan berarak menabuh drum mengelilingi kota. Cerita mengenai kehidupan penduduk lokal semacam ini lah yang paling menarik untuk dibagikan saat saya pulang. Berpestalah saat mereka berpesta!

Terima aturan main suatu negara

Selama menumpang hidup di negara asing, ikutilah aturan yang berlaku. Jangan menyepelekan apalagi melanggar peraturan setempat, seremeh apa pun peraturan itu. Seorang teman pernah kedapatan tidak membeli tiket bus di Italia dan harus membayar denda. Namun karena tidak ada panggilan lanjutan mengenai pembayaran denda tersebut, dia anggap hal itu selesai. Saat tiba waktunya untuk kembali ke Indonesia, dia tertahan di bandara. Proses clearance-nya tertahan karena ada tagihan denda yang terakumulasi dan belum terbayarkan. Akumulasi denda yang harus dibayar mencapai ribuan Euro! Berkali-kali lipat dari harga denda yang seharusnya dibayarkan kalau saja ia taat dengan peraturan.

Pelajari bahasa lokal

Sebagai mahasiswa untuk program internasional, bahasa yang saya persiapkan adalah bahasa Inggris. Selama setahun pertama di Belgia, hal ini bukan merupakan masalah. Penduduk Belgia rata-rata menguasai 3 bahasa, dan Inggris adalah salah satu bahasa yang mereka kuasai. Namun saat pindah ke Portugal, saya mulai mengalami kesulitan.

Saya ingat saat pindah dari Belgia ke Portugal, saya mengendarai bus. Di tengah perjalanan seorang kondektur bus memberikan pengumuman. Kemudian semua penumpang turun, termasuk saya. Saya bingung karena sebagian besar orang turun dengan membawa koper mereka, padahal kami masih jauh dari tujuan. Saya sendiri turun tanpa membawa apa – apa. Tidak berapa lama kemudian, bus yang saya tumpangi pergi. Saya kaget dan spontan saya berlari mengejar bus tersebut tapi tidak berhasil. Putus asa, saya duduk di pinggir trotoar. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Untunglah sejam kemudian bus tersebut kembali. Ternyata kami diturunkan untuk istirahat makan siang sementara bus pergi untuk isi bahan bakar. Konyol memang, berangkat ke suatu negara tanpa mengetahui sepatah kata pun. Hahahaha…

Selain berguna untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, mempelajari beberapa patah kata juga menunjukkan bahwa kita menghargai tradisi mereka. Saya ingat betapa teman-teman saya di Italia sangat bahagia saat saya menyapa mereka dalam bahasa Italia. Mempelajari bahasa itu seperti membuka pintu persahabatan.
Selain berguna untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, mempelajari beberapa patah kata juga menunjukkan bahwa kita menghargai tradisi mereka. Saya ingat betapa teman-teman saya di Italia sangat bahagia saat saya menyapa mereka dalam bahasa Italia. Mempelajari bahasa itu seperti membuka pintu persahabatan.

Mengalirlah.. bebas!

Kuliah di luar negeri berarti siap untuk terjun dalam lingkup pertemanan antar negara. Saya bertemu dengan berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda – beda. Pengalaman paling menarik saya jumpai saat bersama seorang sahabat dari Meksiko. Saya pernah tersinggung saat ia melontarkan ejekan yang – menurut saya – kasar. Saya katakan kepadanya bahwa di Indonesia kami menghargai sopan santun, dan yang ia lakukan itu tidak benar. Tapi kemudian ia mengatakan bahwa saya harus ingat bahwa saya tidak dapat terus membawa “ke-Indonesia-an” saya. Ya, saya tidak dapat memaksakan segala sesuatu segaris dengan apa yang saya hidupi. Maka saya belajar untuk lebih fleksibel dan terbuka. Saya menerima semua perbedaan tersebut dengan tersenyum.

 

My own story was not a happy one, but it was totally worth the struggle.

 

All Photos Courtesy of Gisela Viska