Pengalaman Belajar di Negeri Orang: Tuliskan, Bukukan (Bagian 1)

0
110

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang meraih kesempatan untuk menuntut ilmu di luar negeri, terlebih lagi dengan semakin banyaknya beasiswa yang tersedia serta informasi yang semakin mudah diperoleh. Namun, bagi banyak anak-anak muda lainnya, belajar di luar negeri masih menjadi sebuah mimpi yang harus dikejar.

Sebagaimana yang telah saya alami sendiri, membaca tulisan-tulisan mereka yang telah lebih dulu belajar di mancanegara cukup ampuh untuk memotivasi dan membangkitkan semangat saya. Dari tulisan-tulisan semacam itu, saya memperoleh gambaran bagaimana rasanya kuliah di luar negeri, bagaimana keseharian di lingkungan asing, bagaimana cara mempersiapkan diri sebelum keberangkatan, dan sebagainya.

Saya bersama penerima beasiswa Australia Awards dari berbagai negara di kampus The University of Queensland (UQ), St Lucia-Brisbane, Juli 2008
Saya bersama penerima beasiswa Australia Awards dari berbagai negara di kampus The University of Queensland (UQ), St Lucia-Brisbane, Juli 2008

Berbagai tulisan yang tersebar di dunia maya, baik berupa artikel di blog pribadi maupun kontribusi di suatu website, tentu saja sangat membantu penyebaran informasi. Hal itu pula yang sempat saya lakukan ketika menempuh program master di University of Queensland (UQ) di Brisbane, Australia. Setelah melihat atau mengalami sebuah kejadian menarik, saya kemudian menuangkannya di blog pribadi dalam bentuk sebuah reflective essay. Tulisan-tulisan saya tersebut akhirnya dibaca oleh cukup banyak pengunjung yang juga memberikan komentar, dari situlah kemudian terbentuk interaksi antara saya dan para pembaca blog yang bahkan berlanjut hingga sekarang.

 

Mengapa Menulis Buku?

Lama-kelamaan, saya menjadi termotivasi untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang saya hasilkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh penerbit besar. Melalui buku karya saya, saya ingin membagikan tulisan saya kepada banyak orang. Saya harap pada akhirnya tulisan saya tersebut akan memberikan pencerahan atau inspirasi bagi banyak orang dengan beragam cara yang tidak saya duga.

Saya teringat akan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pada akhirnya, seseorang pasti akan tutup usia dan jasadnya akan berkalang tanah. Namun karyanya dalam bentuk tulisan akan tetap abadi dan berpotensi untuk terus memberikan maslahat bagi banyak orang. Tulisan memang bisa dipublikasikan melalui berbagai media, seperti blog, artikel di koran atau majalah, dan lain-lainnya. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh Flora Morris, seorang coach menulis dari Amerika Serikat, menulis buku adalah sebuah cara yang ampuh untuk membangun platform serta memperoleh visibilitas.

Hal ini bisa jadi cukup relevan bagi muda-mudi Indonesia yang sempat merasakan belajar di luar negeri dan mereguk ilmu dalam bahasa asing. Mereka memperoleh kesempatan dan pengalaman yang tidak dapat dinikmati oleh semua anak bangsa seusia mereka. Alangkah baiknya jika pengalaman berharga itu dituliskan dan kemudian dibukukan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas dan berjangka panjang.

Serpihan Inspirasi - Hikmah dari Negeri Seberang (Salim Darmadi)
Serpihan Inspirasi – Hikmah dari Negeri Seberang (Salim Darmadi)

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pada bulan April 2016 saya berhasil menyusul jejak anak-anak bangsa alumni mancanegara yang berhasil menerbitkan buku. Buku saya yang berjudul Serpihan Inspirasi: Hikmah dari Negeri Seberang akhirnya diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo (Kelompok Kompas Gramedia), salah satu penerbit buku terbesar di Indonesia, dan didistribusikan melalui toko-toko buku terkemuka di Tanah Air. Buku tersebut berisi kumpulan catatan reflektif saya atas berbagai peristiwa yang saya saksikan atau jalani ketika tinggal di Negeri Kangguru selama dua tahun.

Begitu buku solo pertama saya tersebut terbit, tentunya saya merasa bangga bukan main. Terlebih lagi ketika saya menerima apresiasi ataupun masukan konstruktif dari pembaca melalui media sosial, Goodreads, atau resensi yang mereka tuliskan di blog pribadi. Besar harapan saya, buku tersebut menjadi bukti nyata karya saya, dan bisa terus memberikan inspirasi dan pencerahan kepada sesama anak bangsa.

 

Bagaimana Mulai Menulis Buku?

Salah satu pertanyaan yang kemudian banyak saya terima dari teman-teman saya adalah, “Bagaimana kamu mendapatkan ide tulisan? Lalu bagaimana mendekati penerbit yang mau menerbitkan bukumu?”

Bagi saya, mengumpulkan ide tulisan dalam bentuk buku tidaklah sulit, namun juga tidaklah bisa dikatakan mudah. Dalam proses panjang untuk menentukan topik dan genre tulisan yang saya tulis, saya banyak mengambil inspirasi dari buku-buku yang telah terlebih dahulu terbit. Ketika mengembangkan isi buku dan berusaha menyelesaikannya, saya memang dihadapkan pada banyak tantangan. Semangat yang naik turun, writer’s block yang kerap mendera, agenda kantor dan keluarga, dan sederet alasan lainnya.

Namun, ketika akhirnya buku tersebut selesai dan saya menerima banyak apresiasi dari pembaca, saya merasa bahwa kerja keras yang telah saya lakukan telah terbayar sempurna. It is indeed worth it!

Pada bagian selanjutnya, saya akan menguraikan beberapa saran terkait penulisan dan penerbitan buku mengenai pengalaman belajar di luar negeri.

Photos provided by the author

SHARE
Previous articleBelanda VS. Finlandia
Next articleFond memories of my time working and living in Germany
Salim Darmadi lahir dan besar di Kediri, Jawa Timur. Menyelesaikan pendidikan di Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, Tangerang Selatan, dan The University of Queensland, Brisbane, Australia. Saat ini meniti karier profesional di salah satu institusi sektor publik di Jakarta. Berhasil menyabet sejumlah penghargaan di bidang penulisan karya tulis ilmiah tingkat internasional. Aktif dalam kegiatan organisasi dan komunitas sejak duduk di sekolah menengah. Buku solo pertamanya, Serpihan Inspirasi: Hikmah dari Negeri Seberang, diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2016.