Perbedaan Kuliah di Malaysia dan Inggris

1
177

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya bisa mendapatkan kesempatan sampai dua kali untuk merasakan indahnya tinggal di luar negeri dengan bersekolah di dua negara berbeda. Bagaimana ceritanya?

Malaysia, Negara Pertama

Pertama, saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mengenyam pendidikan S1 di Malaysia selama 3 tahun. Dulu pilihan jatuh di Malaysia karena selain tidak terlalu jauh dari Indonesia (hanya dua jam dengan pesawat), saya juga masih bisa mendengar suara adzan dan negara mayoritas banyak muslim. Cari makanan halal pun sangat mudah dan harganya lebih terjangkau ketimbang negara tetangga. Untuk urusan kualitas pendidikan sudah tidak asing lagi kualitasnya. Banyak yang memilih Malaysia karena memang terkenal memiliki universitas-universitas dengan ranking tinggi se-Asia, bahkan dunia. Tidak hanya itu, jumlah murid internasional juga sangat banyak, mencerminkan Malaysia sebagai salah satu destinasi favorit para murid di seluruh dunia. Biaya studi juga lebih murah ketimbang di Eropa tapi negaranya based on English, jadi mudah bagi para international students untuk beradaptasi.

thumb_DSC06077_1024

Saya mengambil jurusan Bachelor of Communication, Public Relation and Event Management di Taylor’s University, di mana jurusan saya ini adalah dual degree program dengan salah satu kampus ternama di Inggris. Dual degree program sendiri adalah salah satu point penting saat dulu saya menimbang-nimbang jurusan yang akan saya pilih. Alasannya gampang, dengan sekolah di Malaysia selama 3 tahun, saya tidak hanya akan menjadi lulusan Malaysia saja, tapi juga lulusan dari Inggris. Kita bisa memilih kuliah 2 tahun di Malaysia dan meneruskan tahun terakhir di Inggris atau menyelesaikan studi di Malaysia selama 3 tahun. Keduanya sama, kita tetap akan mendapat sertifikat dari Malaysia dan kampus di Inggris yang memang bekerjasama dengan jurusan yang diminati.

Malaysia sangat kaya akan budaya. Tidak hanya itu, murid-murid yang belajar di sekolah saya dulu berasal dari seluruh penjuru dunia. Korea, Amerika, Kazakstan, Afrika, dan Belanda adalah contoh kecil di mana mata dan pikiran saya semakin terbuka kepada dunia luar. Saya belajar bahwa semakin kita berdiam di zona nyaman, semakin tumpul pula wawasan yang kita miliki. Berteman dengan berbagai macam pelajar mengajarkan saya bahwa keragaman budaya dunia sangatlah kaya dan menarik untuk ditinjau lebih jauh sebagai pelajaran untuk mengembangkan diri, terutama pelajaran hidup. Tidak hanya itu, orang-orang Malaysianya sendiri pun sangat ramah, hampir 60% teman baik saya sampai sekarang adalah orang Malaysia. Bahasanya pun mirip-mirip dengan Bahasa Indonesia, jadi tidaklah susah untuk memahami apa yang mereka bicarakan dengan Bahasa Melayu.

Walaupun Malaysia menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa utama, tetapi jangan khawatir. Proses belajar mengajar di universitas-universitas di Malaysia rata-rata menggunakan Bahasa Inggris, kok. Dosennya pun tidak hanya orang Malaysia, ada juga dosen dari luar negeri. Karena kurikulumnya berbasis internasional, sudah tidak ada lagi situasi belajar yang membosankan. Seluruh mahasiswa diwajibkan untuk aktif berdiskusi di kelas. Jadilah wawasan semakin bertambah karena diskusi-diskusi tersebut. Kita juga diwajibkan untuk mengetahui berita terkini yang sedang menjadi headline news di mana-mana. Bisa saja dosen tiba-tiba menunjuk kita untuk menjelaskan apa yang terjadi di Yunani saat ini.

Inggris, Negara Kedua

Lain halnya dengan di Inggris, saya mendapat kesempatan untuk menempuh satu tahun pendidikan S2 di Inggris, tepatnya di Newcastle University dengan jurusan MSc International Marketing. Saya memilih universitas tersebut selain karena Newcastle University termasuk kampus terkenal di Inggris dengan ranking tinggi untuk business school, kampusnya sendiri juga termasuk dalam Russel Group bersama kampus terkenal lainnya seperti Oxford dan Cambridge. Kotanya pun kecil, cantik dan kemana-mana dekat alias short walking distance. Tidak hanya itu, kotanya juga tidak se-ramai London, jadi lebih tenang untuk belajar. Banyak pula yang bilang kalau Newcastle adalah kota pelajar. Sering kali kotanya mendapat penghargaan sebagai “The best city in the UK”. Setelah setahun tinggal di sana barulah saya mengerti.

thumb_DSC08019_1024
Saya di Newcastle University

Inggris sudah tidak asing lagi untuk kualitas pendidikan. Negara ini merupakan salah satu negara terbaik untuk tujuan belajar. Menurut saya, dibandingkan dengan di Malaysia, belajar di Inggris memiliki keuntungan besar di mana murid betul-betul di tempa sedemikian rupa sebagai pelajar untuk menjadi murid yang handal dalam bidangnya, terlebih untuk jenjang S2. Jurusan saya adalah international marketing, dan dosen saya mewajibkan kami para murid untuk mengetahui kondisi dunia saat ini dan memiliki wawasan luas di hampir segala bidang. Tidak hanya itu, dengan kondisi kelas yang memang terbilang cukup besar (sekitar 150 orang murid) dan muridnya beragam, menjadi keuntungan besar bagi kami para international marketer untuk belajar budaya teman-teman kami sendiri. Kurikulum yang ditawarkan pun sangat menantang. Banyak project-project besar yang harus kami rampungkan dalam kurun waktu singkat, dikarenakan materi untuk dua tahun dipadatkan hanya untuk satu tahun ajaran saja. Sungguh saya merasa Inggris telah merubah saya dengan caranya sendiri, sehingga saya menjadi pribadi yang lebih dewasa, matang, dan semakin berwawasan luas.

Budaya di Inggris pun sangat beragam dan menarik untuk disimak. Banyak peninggalan-peninggalan penting dan sejarah yang dapat kita pelajari, terlebih Inggris adalah negara monarki yang masih memiliki ratu sebagai simbol negara. Bangunan-bangunan tua yang masih terjaga dan apik dapat menjadi pelajaran bagi setiap orang yang berkunjung bagaimana pentingnya menjaga peninggalan nenek moyang. Tidak hanya itu, Inggris terkenal dengan kedisiplinan dan kesopanannya dalam bertutur kata. Tinggal di Inggris selama setahun mengajarkan saya beberapa kesopan-santunan dan kedisiplinan yang akhirnya saya terapkan dalam hidup sampai sekarang, seperti mengantri dengan tertib dan membuang sampah pada tempatnya.

Menampilkan kesenian Indonesia
Menampilkan kesenian Indonesia

Namun, kelancaran saya dalam bersekolah di Inggris tentunya terbantu karena dulunya saya telah tinggal lama di Malaysia. Tiga tahun di sana mengajarkan saya bagaimana pentingnya bersabar saat banyak masalah berdatangan silih-berganti, mandiri dalam bersikap dan berpikir, bahasa Inggris yang semakin terasah dengan baik, keberanian akan menghadapi hal baru di luar zona nyaman, sampai bagaimana mengatasi homesick dengan cara yang tentunya lebih efektif. Tidak hanya itu, saya dapat menerapkan strategi pembagian waktu antara sekolah, bermain dan aktif berorganisasi pun dikarenakan saat di Malaysia saya sempat menjadi Vice President untuk komunitas Indonesia di universitas saya. Maka dari itu, saat saya berada di Inggris, kontribusi serupa saya terapkan saat menjadi salah satu anggota dalam divisi seni budaya untuk PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) UK. Saya pun sempat aktif menjadi pengajar tari untuk 3 tarian tradisional Indonesia untuk acara besar PPI Newcastle, yaitu Discover Indonesia. Padahal saat itu saya sedang dalam proses menyelesaikan disertasi dan akan menghadapi 6 ujian beserta beberapa assignments. Semua dapat berjalan dengan mulus karena pengalaman saya berorganisasi di Malaysia mengajarkan bagaimana membagi waktu yang baik.

Sekolah di luar negeri mengajarkan saya banyak pengalaman berharga. Jangan pernah takut untuk keluar dari zona nyaman yang telah kita miliki, karena di luar zona tersebut kita dapat tumbuh berkembang menjadi sosok yang lebih baik lewat pengalaman. Kuliah di luar negeri memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak akan ditemukan saat bersekolah di dalam negeri. Pergunakan waktu mudamu sebaik mungkin karena waktu tersebut yang akan menentukan masa depanmu di kemudian hari.

SHARE
Previous articleBuild the Startup and Secure the Funding!
Next articleIndonesia Mengglobal’s 2017 Recruitment
Amanda Pahlawan achieved her bachelor degree in PR and Event Management at Taylor's University, Malaysia. Furthermore, back in 2015 Amanda was also one of the finalist and winner for a prestigious Tourism Ambassador in Jakarta called Abang None. After her bachelor degree, she took her post graduate degree in MSc International Marketing at Newcastle University, United Kingdom. Her passion in art and culture has made her a content creator for her own blog and Youtube Channel, which mainly talks about both area. She can be reached at amanda.pahlawan@yahoo.com