Bekerja di Luar Negeri dengan Ijazah Dalam Negeri

Bekerja di Luar Negeri dengan Ijazah Dalam Negeri

Bagaimana sih caranya bisa bekerja di luar negeri?

Itu adalah salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan kepada saya oleh teman-teman yang mengetahui hijrahnya saya ke negeri Singa untuk bekerja, kurang dari setahun sejak saya memakai toga. Sayangnya ketika ditembak pertanyaan serupa, saya sendiri juga tidak yakin bisa memberi jaminan sukses bisa bekerja di luar negeri. Namun, izinkan saya untuk membagikan pengalaman dan pengamatan pribadi saya sehingga saya bisa menjadi karyawan sebuah perusahaan start-up di Singapura setelah lulus kuliah di Indonesia.

Gardens by The Bay, salah satu ikon Negeri Singa.

Satu hal yang menurut saya paling penting adalah persiapan. Ibarat hendak berperang, kita tentu ingin sesiap mungkin bukan? Sama halnya dengan dunia kerja, di manapun atau apapun cita-citanya pasti kita perlu mempersiapkannya sedini mungkin. Tidak hanya persiapan agar bisa diterima bekerja, tapi bagaimana agar siap menjalani pekerjaan itu sendiri. The real fight will start after you get the job! Satu hal yang saya temukan setidaknya di kantor saya sekarang adalah seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak lapangan pekerjaan yang terbuka bagi masyarakat global. Saat ini asal universitas atau asal negara bukan faktor utama diterima atau tidaknya seseorang. Perusahaan lebih melihat kualitas kandidat, karakter, pengalaman yang dimiliki, dan kontribusi apa yang bisa diberikan oleh kandidat tersebut untuk kemajuan perusahaan. Inilah mengapa menyiapkan diri sebagai pribadi yang stand out among other candidates sangat penting! Kalau perusahaan sudah merasa seseorang cocok, terlepas dia kuliah di mana atau asalnya dari mana, sangat tidak menutup kemungkinan perusahaan rela mengurus segala macam visa kerja dan hal-hal yang diperlukan terkait relokasi.

Masa kuliah adalah Masanya Mengumpulkan Pengalaman

Oke, jadi persiapan yang seperti apa sih yang dimaksud? Well, jujur saja walaupun bercita-cita ingin bekerja di luar negeri sejak kecil, namun saya tidak tahu secara pasti karier apa yang ingin saya rintis. Untungnya saya gemar menjajal banyak hal semasa kuliah

‘Keisengan’ saya berlanjut ketika exchange, saya mencoba aplikasi jual beli yang baru dikembangkan oleh alumni universitas tempat saya menempuh studi tersebut. Saya sangat mengagumi betapa aplikasi tersebut sangat user friendly serta memiliki tampilan yang menarik, cukup berbeda dengan aplikasi-aplikasi jual beli lain yang pernah saya gunakan sebelumnya. Siapa sangka, 2 tahun kemudian aplikasi tersebut sukses besar dan mengembangkan sayap di Indonesia. Sebagai upaya untuk menggaet pasar lokal, beberapa lowongan pekerjaan pun dibuka. Salah satunya lowongan sebagai customer support specialist. Kebetulan pula, saat itu saya sudah cukup memiliki pengalaman untuk mengisi lowongan tersebut karena sepulang exchange, sembari menuntaskan skripsi, saya juga menyambi bekerja secara remote untuk sebuah start-up company yang berbasis di Australia untuk posisi yang hampir serupa.

Tantangan dalam Bekerja

Pemandangan depan kantor.

Pemandangan depan kantor.

Setelah beberapa bulan bekerja, tentu banyak sekali tantangan yang saya rasakan. Terlebih ini adalah pekerjaan kantoran pertama saya setelah lulus. Tapi tak disangka, saya tidak merasa mendapat tekanan separah yang saya kira akan alami. Bisa dibilang, walau tidak saya sadari, saya telah mengantisipasi tantangan-tantangan tersebut dengan persiapan matang. Pertama, bahasa Inggris. Saya menemukan banyak sekali teman-teman yang belum berhasil mendapatkan pekerjaan karena gagal di tes bahasa Inggris. Saya cukup beruntung menyadari pentingnya bahasa Inggris sejak semasa sekolah, dan melakukan kegiatan yang meningkatkan paparan bahasa asing mulai dari nonton film, membaca buku, hingga berinteraksi dengan ‘bule’ di organisasi internasinal AIESEC semasa kuliah. Kedua, pengalaman exchange di Singapura membuat saya sedikit banyak tidak kaget lagi ketika harus tinggal mandiri di negeri orang, termasuk bagaimana watak masyarakatnya. Ketiga, walaupun ini adalah pekerjaan kantoran pertama saya setelah lulus kuliah, namun di semester akhir saya pernah magang tiga bulan di sebuah kantor akuntan publik di Jakarta. Walau saat itu rasanya ngoyo, jauh-jauh ke Jakarta dari Yogyakarta hanya untuk magang, namun saya percaya di samping bisa memperkuat CV dengan pengalaman bekerja, saya bakal nggak terkaget-kaget ketika menghadapi dunia kerja sungguhan nantinya.

Demikianlah sedikit banyak yang bisa saya bagikan. Mungkin apa yang bisa saya sarankan adalah perkaya pengalaman dan wawasan sebanyak mungkin dan mulailah sedini mungkin. Lakukan hal-hal yang tidak banyak dilakukan orang lain, cobalah sebanyak mungkin hal baru, teruslah mencari interest atau motivasi. Jadilah pribadi yang unik. Latar belakang S1 saya di bidang psikologi, tidak berhubungan secara langsung dengan apa yang saya tekuni sekarang. Namun saya masih bisa menerapkan  ilmu-ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dan memang harus memiliki eagerness to learn agar memiliki keunggulan kompetitif. Terakhir, walaupun klise tapi jangan pernah takut gagal. There is no harm in trying. Saya mungkin nggak akan pernah bekerja di luar negeri kalau saya saat itu menyerah melengkapi dokumen persyaratan pendaftaran exchange yang jumlahnya segunung, atau jika saya lebih memilih menunda-nunda semasa skripsi dan bukannya magang. So, please just try whatever you think it will do good for you, because youll never know how it will impact your future.

 




===========================================
Tatya is a customer experience enthusiast with a deep interest in human behaviour. Beside people watching, she likes to spend her spare time baking pies or watching Hitchock’s. Graduated from University of Gadjah Mada, Tatya spent one semester in National University of Singapore under TF LEaRN Scholarship. She’s currently residing in Singapore and can be reached at arawindatatya@gmail.com
Posts