Pesona Negeri Tirai Bambu sebagai Destinasi Studi

1
61

Ada salah satu pepatah mengatakan, “Raihlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Pepatah itu pun yang mendorong diriku untuk tidak hanya berdiam diri di dalam negeri, melainkan merantau untuk menuntut ilmu dan bertebaran di muka bumi. Seorang guruku juga pernah berpetuah, “Ada yang tak tergantikan ketika kamu merasakan kuliah di luar negeri. Pengalaman berinteraksi dengan nilai dan budaya hidup yang berbeda, yang akan membuatmu semakin bijak dan dewasa.” Itulah yang mendorongku untuk semangat mengejar cita-cita merasakan kesempatan menuntut ilmu di luar negeri.

Ceritaku menempuh perjalanan studi ke negeri Cina diawali dengan diskusi dengan seorang kakak yang lebih dulu meyelesaikan studi master dan bekerja di Cina. Percakapan dimulai dengan overview seputar negeri tirai bambu itu. Beberapa tahun terakhir, salah satu perhatian dunia memang sedang tertuju kepada negara dengan jumlah populasi terbesar di Asia dan dunia itu. Selain menjadi negara yang memiliki ekonomi terbesar di Asia, Cina juga diprediksi akan menjadi kekuatan baru dunia dalam beberapa tahun kedepan. Sejak saat itulah, terbersit dalam pikiranku untuk melanjutkan studi ke negeri tirai bambu.

Melamar Beasiswa

IMG_20161011_133500
Kampusku, Harbin Engineering University

Percakapan awal itupun ternyata berlanjut tentang seputar kesempatan beasiswa untuk studi di sana. Ada banyak jalan untuk bisa melanjutkan studi ke Cina. Ada yang berbayar dan juga ada yang gratisan via beasiswa. Dan setelah bercakap-cakap panjang lebar, ternyata belum banyak orang tahu bahwa Pemerintah Cina setiap tahunnya menyediakan peluang studi bagi orang asing (foreigners) dengan beasiswa Chinese Government Scholarship (CSC) yang mencakup biaya studi, akomodasi, asuransi kesehatan, dan biaya hidup (living allowance) selama studi di sana. Besar dan cukup menggiurkan, bukan? Ketertarikan untuk melanjutkan studi di Cina pun semakin menggebu ketika melihat hampir kebanyakan jurnal internasional yang dipunlikasikan dalam bidang riset yang aku minati diterbitkan oleh banyak universitas di Cina. Hal ini menunjukkan perkembangan dunia riset di sana begitu pesat. Adapun bidang riset yang aku minati adalah mengenai energy storage materials, khususnya battery dan supercapacitor. Sejalan dengan itu, banyak pula brand gadget asal Cina yang bermunculan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Petualangan mencari informasi mengenai peluang studi di Cina pun berlanjut dengan mencari informasi studi via beasiswa Chinese Government Scholarship (CSC) pada portal website resminya (csc.edu.cn). Ketika itu ada banyak pilihan universitas yang ada dalam pikiranku, tetapi takdir menjatuhkan pilihanku pada salah satu universitas yang berada di wilayah Cina Utara, Harbin Engineering University. Pilihanku tersebut bukannya tanpa sebab, karena aku mendapatkan rekomendasi kontak seorang professor di sana dari salah satu dosen di kampusku ketika aku menjalani kuliah S1. Professor tersebut juga memang cukup memiliki track record yang baik pada bidang riset yang aku minati. Dari profilnya terbukti ia telah cukup lama berkecimpung dalam dunia riset energy storage materials dengan jumlah paper yang cukup banyak.

Gayung seakan bersambut ketika aku mencoba mengontak professor yang direkomendasikan oleh dosenku tersebut. Dia begitu responsif menjawab setiap email yang aku kirim. Akhirnya, wawancara pun dijadwalkan dan ia memintaku untuk mengirim CV, cover letter, hingga paper yang pernah dibuat dalam bahasa Inggris. Banyak hal yang ditanyakan ketika proses wawancara mengenai kemampuan dan pengetahuanku terhadap bidang riset yang akan aku dalami. Wawancara dilakukan selama 3 hari melalui percakapan email, hingga akhirnya pada proses akhir sang professor menghadiahiku dengan selembar approval letter untuk aplikasi Chinese Government Scholarship. Setelah hampir 2 bulan menunggu hasil dari proses seleksi, akhirnya pengumuman yang ditunggu-tunggu pun datang dan aku dinyatakan lolos sebagai penerima  Chinese Government Scholarship. Sekedar info, beasiswa Chinese Government Scholarship ini lumayan ketat seleksinya, setiap tahun hanya sekitar 300 orang dari Indonesia yang beruntung mendapatkannya.

Kehidupan di Cina

IMG_20160105_153411
Suasana Harbin di musim dingin.

Hari-hari pertama ketika sampai di Cina memang cukup menantang. Orang-orang dan lingkungan yang berbeda, ditambah lagi bahasa Mandarin yang terdengar sangat asing di telinga. Namun demikian, manusia memang makhluk yang diciptakan Tuhan dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Beberapa bulan berlalu, secara perlahan-lahan bahasa yang masih asing itu pun terdengar  mulai familiar. Apalagi adanya kelas bahasa Mandarin dan China Panorama selama 1 semester menjadi daya dukung dan kemudahan tersendiri untuk semakin adaptif dengan lingkungan di negeri tirai bambu. Walaupun aku berkuliah dengan menggunakan bahasa Inggris, bagiku menjadi keuntungan tersendiri bisa mempelajari bahasa Mandarin, terutama karena Cina merupakan negara dengan populasi manusia terbesar di dunia. Cina juga termasuk negara yang sangat terbuka dengan orang asing (foreigners), hampir setiap kampus di Cina memiliki mahasiswa asing. Efeknya manusia dari berbagai ras bisa dengan mudah kita temui di sana, yang juga menguntungkan bagi kita untuk memperluas network dalam pergaulan internasional. Begitu juga dengan suasana pembelajaran di sini, satu kelas bisa terdiri dari 15-20 negara asal yang berbeda. Mereka sangat beragam dari mulai negara benua Asia, Eropa, Afrika, hingga Australia. Untuk kuliah master, umumnya mahasiswa akan diarahkan pada perkuliahan (full course) di tahun pertama, dan pada tahun kedua mereka akan ditempatkan di ruangan laboratorium dengan bimbingan seorang professor untuk melakukan riset hingga lulus. Ibaratnya, tahun pertama kita mengisi “bahan bakar” ilmu dan pengetahuannya dulu, kemudian pada tahun kedua kita mengimplementasikannya pada riset laboratorium.

Tak lengkap rasanya jika berkesempatan kuliah di suatu negara tanpa mempelajari budaya studi orang-orangnya juga. Itu juga yang terjadi padaku, melihat budaya studi orang-orang Cina sangat menarik bagiku. Yang pertama, budaya membaca orang-orang disini begitu luar biasa. Aku begitu tercengang ketika masuk ke gedung perpustakaan kampus yang hampir setiap meja sudah diiisi oleh setiap mahasiswa dengan ditemani setumpuk buku-buku yang menggunung. Setiap pagi kita akan melihat banyak mahasiswa bak semut masuk ke gedung perpustakaan dan keluar di malam harinya. Fenomena yang sangat jarang ditemui pada gedung perpustakaan kampus di negeri kita.

Selanjutnya adalah budaya riset yang sudah sangat dekat dengan mahasiswa di sana. Mereka rela pergi pagi dan pulang larut malam dari laboratorium. Sungguh tak aneh di sini, mendengar mahasiswa yang baru master saja sudah menerbitkan 2 atau 3 jurnal internasional pada bidang penelitiannya. Mereka betul-betul pekerja keras dan ulet, tak kenal lelah dan waktu untuk bisa meraih targetnya.

mmexport1459677663293
Berolahraga di kampus.

Apabila dilihat lebih jauh secara keseluruhan, Cina juga merupakan negara yang cukup baik menata negaranya. Walaupun dengan jumlah penduduk yang berjumlah sekitar 1,3 milyar, Cina mampu menyediakan transportasi publik yang memadai dari mulai bus kota, kereta bawah tanah (subway metro), kereta super cepat, hingga pesawat terbang. Tak heran ketika tahun baru Imlek datang, di mana kebanyakan penduduk Cina hilir mudik ke berbagai kota, tak pernah terdengar isu kemacetan panjang seperti di negara kita ketika lebaran. Budaya antri juga patut disorot, walaupun disini banyak manusianya tetapi mereka sangat teratur dalam antrian. Tidak ada namanya saling dorong dan mendahului antrian. Semuanya teratur dan menunjukkan respeknya satu sama lain. Sisi lain yang patut menjadi sorotan ialah mengenai online market. Di Cina, situs belanja online sudah sangat berkembang, user-friendly, dan lebih disukai banyak orang karena kemudahannya. Kebutuhan apapun yang kita mau dengan mudahnya kita bisa dapatkan secara online dengan harga yang relatif lebih murah dan terpercaya. Bahkan sekedar bumbu masakan/makanan Indonesia pun bisa temukan disana. Jadi tidak usah khawatir kalau merasa homesick dengan makanan Indonesia, tinggal mencari dan membeli saja pada situs belanja online tersebut.

Sebagai epilog, Cina merupakan negara yang berkembang sangat pesat beberapa tahun belakangan ini. Pembangunan infrastruktur dan industri teknologi canggih yang merupakan efek bola salju dari bagusnya kualitas pendidikan di sini sangatlah berkaitan erat. Di lihat dari sisi demografi juga, Indonesia hampir serupa dengan Cina, dengan jumlah penduduk yang besar. Untuk itu akan banyak dialektika pemikiran keilmuan, budaya, dan tatanan kehidupan yang bisa dipelajari dari negara Cina ketika kita melanjutkan studi di negara tersebut. So, mengapa tidak negeri tirai bambu menjadi destinasi studi?

 

SHARE
Previous articleDimanja Perpustakaan
Next articleInterfaith Encounter in the Holy Land: Beyond the Black and White Binary
Ilham Azmy
Ilham Azmy, itulah nama indah yang diberikan kedua orangtuanya padanya. Ia lahir di tanah Pasundan Tasikmalaya 20 tahun silam, atau tepatnya 28 November 1991. Anak kedua dari dua bersaudara ini memang mempunyai semangat juang dan daya tahan hidup yang tinggi. Maka dari itu, sejak menjalani kuliah S1 sosok bertubuh 167 cm ini pun memutuskan tempat studi yang jauh dari kampung halamannya, yaitu dengan menjadi mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dengan full beasiswa dari Kemenristek Dikti RI. Sosok yang gemar bermain futsal ini juga merupakan tipe orang yang menyukai tantangan dan berani dalam mengambil keputusan, sehingga ia selalu disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Sosok Sunda tulen ini memang kerap kali aktif dan memiliki berbagai prestasi semenjak duduk di bangku sekolah menengah, terbukti ia pernah menjabat sebagai wakil ketua OSIS semasa SMP dan menjadi ketua MPK semasa SMA. Berlanjut ketika kuliah, Ilham aktif dalam berbagai aktivitas keilmiahan, ia tercatat sebagai Trainer Keilmiahan ITS, Departemen Ristek Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi ITS. Capaian-capaian gemilang lainnya turut mewarnai kehidupannya seperti menjadi delegasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), juara dalam beberapa Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional. Bahkan, yang lebih luar biasa lagi Ilham juga terpilih mewakili Indonesia dalam ajang One Young World Summit di Pittsburgh, Amerika Serikat. Yang kemudian mengantarkannya untuk menyabet Juara 3 ITS Heroes Award (Mahasiswa Berprestasi ITS). Ilham yang bercita-cita menjadi Walikota Tasikmalaya ini selalu meyakini bahwa semua pencapaiannya selama ini adalah buah dari doa orangtua dan tentunya kerja keras yang selalu konsisten. Sosok yang terkenal ramah dan kalem ini juga selalu menekankan bahwa pentingnya berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtua. Selain itu, ia juga selalu berpinsip bahwa hidup yang hanya sekali ini haruslah bermakna dan penuh manfaat. Bahkan, ia juga memiliki filosofis bahwa hidup haruslah kontributif dan prestatif, karena dengan kontributif keberadaan kita sebagai manusia akan dirasakan oleh sekeliling kita, dan dengan prestatif kredibilitas kita dapat teruji. Saat ini, Ilham sedang melanjutkan cita-citanya menempuh studi S2 Materials Science and Engineering pada Harbin Engineering University, China dengan beasiswa Chinese Government Scholarship. Ia mengambil konsentrasi penelitian pada bidang energy storage materials. Ilham bisa dikontak melalui email ilhamazmy@yahoo.co.id.