Si Biru, “Hangaku-mono”, dan “Arubaito”

1
1333

Pengalamanku belajar di Jepang mengajarkan bahwa tinggal di negara maju tidaklah mudah. Kemajuan yang dinikmati oleh penduduk negara itu dan pendatang sepertiku harus dibayar dengan tingginya biaya hidup. Pajak tinggi yang dikenakan pada setiap barang dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk fasilitas umum yang sangat memadai. Maka dengan statusku sebagai mahasiswa, aku harus pintar mengelola keuangan.

Sepeda menjadi pilihan populer bagi mahasiswa yang ingin berhemat. Sepeda tergolong lebih ekonomis dalam segi perawatan dan perbaikan. Aku pun memilih sepeda untuk mendukung mobilitas selama tinggal di Fukuoka, kota terbesar di Pulau Kyushu. Kehidupan di kota yang terkenal dengan kelezatan Hakata Ramen ini memang tak semahal Tokyo atau Osaka, tetapi tetap saja biayanya relatif tinggi.

Kupanggil sepedaku “Si Biru” karena warnanya.  Seperti umumnya bentuk sepeda di Jepang, Si Biru mempunyai keranjang di bagian depan yang berguna untuk menampung barang bawaan. Bel terpasang erat di bagian kanan stang sepeda. Selama setahun, Si Biru menjadi “kaki keduaku” untuk berangkat kuliah, berbelanja pada akhir pekan, dan berpetualang ke berbagai sudut kota di negeri sakura.

Ilustrasi

Uniknya, Si Biru ini dilengkapi dengan selembar surat keterangan resmi kepemilikan layaknya ‘STNK’ yang diberikan oleh toko. Saat ada razia oleh polisi yang rutin dilakukan di sana, surat itu harus ditunjukkan. Bila tidak punya secarik kertas tersebut, jangan harap bisa pulang ke asrama bersama dengan sepeda.

Bersepeda di Jepang merupakan pengalaman luar biasa yang tak didapatkan di negeri sendiri. Aku merasa membaur dengan masyarakat Jepang. Ikut menjadi golongan mayoritas karena saking banyaknya orang yang menggunakan sepeda di sana. Sebagai pesepeda, aku lebih dihormati di jalanan, terutama oleh pengemudi mobil. Aku selalu diberi kesempatan pertama untuk menyeberang jalan. Tidak ada rasa was-was takut ditabrak atau dipepet. Pesepeda hanya dinomorduakan setelah pejalan kaki.

Bicycle culture in Japan – picture credit of Japan Times

Kemudahan bersepeda di Jepang ditunjang dengan jalur sepeda yang memadai. Jalur sepeda di sana selalu steril dari pedagang kaki lima. Mobil diparkir tepat menutupi sepeda saja tidak pernah aku temukan. Bila tidak ada jalur khusus sepeda, pesepeda dapat melaju di trotoar. Trotoar di sana sengaja dibuat cukup lebar untuk bisa mengakomodasi pejalan kaki dan pesepeda sekaligus. Namun, pesepeda harus mengalah kepada pejalan kaki. Meskipun kami berbagi trotoar, tidak pernah ada kejadian pejalan kaki tertabrak pesepeda. Masing-masing individu sudah paham untuk berbagi tempat seperti aturan tidak tertulis lainnya saat antre atau pun naik-turun tangga.

Tak berlebihan bila Si Biru menjadi sahabat perjuanganku selama di Jepang. Di tengah himpitan harga barang kebutuhan hidup yang tinggi, sebenarnya ada juga barang di sana yang harganya relatif terjangkau. Namun, barang tersebut baru bisa dibeli pada waktu tertentu. Sebutannya, hangaku-mono atau barang-barang setengah harga.

Selepas jam sembilan malam, aneka makanan olahan akan didiskon hingga 50 persen secara berturut-turut. Karena murah, hangaku-mono menjadi rebutan banyak orang. Aku pun harus berpacu dengan waktu agar barang yang kuinginkan tidak kehabisan diborong orang. Si Biru selalu bisa diandalkan setiap malam untuk memperoleh hangaku-mono. Jusco adalah swalayan yang selalu aku sambangi demi memperoleh makanan siap saji dengan harga miring.

Begitu juga saat akhir pekan. Jika tak ada tugas kampus, aku bersepeda sambil keliling kota sekaligus berbelanja bersama dua sahabatku, Marc dari Prancis dan Tuyen dari Amerika Serikat. Aku menjadi hapal dengan tempat yang suka menawarkan diskon. Satu di antaranya, Boxtown, sebuah swalayan yang letaknya dekat dengan Universitas Kyushu, tempat aku belajar. Sabun, sampo, pasta gigi, parfum, dan produk perawatan lainnya bisa dibeli dengan harga lebih murah 10-15 persen. Lumayan kan?

Sayur-sayuran dan buah-buahan dijual lebih murah di sebuah swalayan dekat Ryugakusei Kaikan, asrama bagi mahasiswa internasional yang belajar di Universitas Kyushu. Dengan letak yang saling berjauhan, aku harus bersepeda sekitar 10 km pulang-pergi (PP) dari asrama mahasiswa ke swalayan tersebut. Karena keranjang sepedaku tak mampu menampung semua barang belanjaan, aku juga membawa sebuah ransel. Ranselku itu selalu mengembung terisi penuh dengan susu, roti, telur, dan barang lain.

Kegiatan berbelanja rutin tersebut biasanya disambung dengan acara memasak. Hampir setiap malam aku, Marc, dan Tuyen berbagi dapur untuk memasak. Kegiatan itu diakhiri dengan acara makan malam bersama. Tak jarang, dalam kesempatan ini, kami bisa saling mencicipi masakan khas negara masing-masing. Masakan andalanku adalah mi goreng telur dan semur daging. Ada kalanya aku rindu dengan makanan Indonesia. Kalau ada acara pengajian atau musyawarah Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPIJ) cabang Fukuoka, aku sambangi untuk mendapatkan gado-gado, gulai, soto, atau bakso secara gratis!

Cara lainnya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jepang ialah menjadi pekerja arubaito. Arubaito atau kerja paruh waktu menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh tambahan pendapatan. Pekerjaan paruh waktu, antara lain, bisa berupa menjaga minimarket dan mengajar bahasa Inggris. Syaratnya, hanya perlu mengantongi surat izin dari kampus untuk ditunjukkan kepada bos di tempat kerja nanti. Universitas Kyushu memberikan hak kerja paruh waktu kepada mahasiswanya hingga 20 jam seminggu.

Newspaper delivery in Japan - picture credit of Japan-Photo.de
Newspaper delivery in Japan – picture credit of Japan-Photo.de

Biasanya mahasiswa Indonesia memilih untuk ngeloper koran atau menjadi pengantar koran. Pekerjaan itu mudah dijalani dan tidak menyita banyak waktu. Hanya sekitar dua jam sehari pada awal pagi. Tetapi upahnya lumayan besar, 40 ribu yen setiap bulan. Waktu itu, aku menggantikan tugas seorang teman yang sedang pulang ke Indonesia.

Sepeda sangat berjasa dalam menjalani profesi tersebut. Koran-koran didistribusikan ke tempat tinggal penduduk menggunakan sepeda. Ketika itu, aku harus bangun pada pagi buta. Pukul 03.00, aku bersiap untuk menuju agen koran Mainichi Shinbun yang terletak di salah satu blok permukiman di Kashiihama, Fukuoka. Jalanan yang aku lalui di bawah Fukuoka Highway Route 1 begitu sunyi. Dengan penuh semangat, aku kayuh Si Biru menembus dinginnya pagi.

Sepeda khusus disediakan oleh kantor Mainichi Shinbun untuk mendistribusikan koran ke lima gedung apartemen. Jadi Si Biru aku tinggal sejenak di kantor agen koran tersebut. Sepeda pengantar koran dirancang khusus untuk bisa membawa koran dengan jumlah hingga 300 eksemplar. Keranjang berukuran besar dipasang di bagian depan dan belakang sepeda.

Suatu pagi saat sedang mengantar koran, aku terjatuh dari sepeda karena dihantam badai. Koran-koran yang telah tersusun rapi jatuh berserakan di jalan. Aku langsung khawatir kalau koran-koran itu menjadi basah terkena air hujan. Aku takut mengecewakan pelanggan Jepang yang dikenal memiliki standar tinggi terhadap pelayanan. Dalam kepanikan ekstrem, aku cepat-cepat memunguti koran-koran itu. Lega rasanya mengetahui tak ada satu pun koran yang basah atau keluar dari pembungkus plastiknya. Menebus waktu yang terbuang, lantas aku memacu sepeda lebih kencang. Dinginnya udara dan derasnya hujan seolah tak menjadi halangan. Koran-koran tersebut harus tiba tepat waktu.

Kegiatan ngeloper koran dengan sepeda tidak selalu diwarnai dengan pengalaman buruk. Aku beruntung menjadi orang yang pertama kali menyaksikan mekarnya sakura pada awal April. Kebetulan rute pengiriman koran melewati barisan rindangnya pohon sakura. Bersepeda sambil diiringi sakura merah jambu yang sedang bermekaran membangkitkan sensasi tersendiri. Rasanya aku disambut meriah oleh alam atas dedikasiku dalam mendistribusikan informasi kepada masyarakat Jepang.

Sebelum pulang ke Indonesia, aku harus relakan Si Biru dipakai oleh seorang dosen Universitas Indonesia yang sedang meneruskan studi doktoral di Universitas Kyushu. Perjuangan hidup di Jepang, pengalaman kerja paruh waktu, dan persahabatan dengan teman-teman dari berbagai negara tak akan terwujud tanpa dukungan Si Biru. Semua kenangan tersebut sangat membekas dan tetap hidup di benakku hingga kini.

Featured image via treehugger.com.