Dimanja Perpustakaan

1
115

Artikel ini saya tulis di perpustakaan, ditemani sepotong kue brownies, segelas kopi hangat, dan belasan lagu berlirik ganjil dari sebuah daftar putar di Spotify. Saya pindahkan satu demi satu kalimat yang melintas di kepala ke dalam aplikasi teks di komputer jinjing saya. Langit agak mendung. Hujan mungkin sebentar akan turun. Tapi terjebak hujan di perpustakaan tak pernah merupakan ide buruk.

Setiap perpustakaan bagi saya adalah kantor representatif surga di muka bumi. Untungnya, surga membuka banyak cabang di kota New York. Di universitas tempat saya belajar sekarang, ada 21 perpustakaan. New York Public Library (NYPL), perpustakaan publik milik pemerintah kota New York, punya lebih dari 40 cabang yang tersebar di Manhattan. Jumlah ini belum menghitung cabang-cabang NYPL di Bronx dan Staten Island. Juga belum ditambah perpustakaan-perpustakaan Brooklyn Public Library dan perpustakaan-perpustakaan institusi lain seperti museum, organisasi sosial, maupun perpustakaan pribadi.

Perpustakaan yang baik tentu bukan sekadar asal ada. Ia juga soal kualitas koleksi dan kenyamanan tempat. Dan untuk urusan yang satu ini pun, kota ini sungguh ciamik. Buat saya yang menekuni bidang arsitektur, ada Avery Architectural and Fine Arts Library di Columbia University, yang merupakan perpustakaan dengan jumlah koleksi bidang arsitektur terbesar di dunia. Ruang bacanya, yang dipenuhi meja dan lemari kayu, secantik Chelsea Islan. Jika bosan dengan perpustakaan kampus, banyak pilihan lain menanti. Saya dapat mampir ke NYPL for the Performing Arts, yang suasananya amat asyik karena berada di kompleks pertunjukan dan kesenian Lincoln Center, bersama gedung-gedung penting lainnya seperti Metropolitan Opera House, New York State Theater, dan Julliard School. Atau ke NYPL di 42th Street, di samping Bryant Park, yang ruang baca utamanya yang megah baru kembali dibuka bulan ini setelah dua tahun direnovasi.

Avery Library
Avery Library di Columbia University (Sumber: koleksi penulis)

Di saat hendak begadang, saya kerap mengandalkan Butler Library, perpustakaan utama di Columbia University, oleh karena ruang bacanya buka 24 jam dan kafetarianya buka sampai jam 2 pagi untuk menjamin ketersediaan asupan gizi dan energi para pelajar. Tak kalah handal lah dari 7-eleven di Jakarta. Tapi satu hal kerap bikin saya geleng-geleng kepala: betapa perpustakaan ini tak pernah sepi. Tak jarang, saya datang jam sebelas malam ke sana lalu saya tidak mendapatkan tempat duduk, padahal kapasitas duduk di perpustakaan ini sungguh banyak.

Cerita perpustakaan penuh bukan hanya milik Butler Library. Baik perpustakaan lain di kampus maupun perpustakaan NYPL, saya sering kesulitan mendapatkan tempat duduk. Saking sulitnya, tak ayal muncul situs semacam ini, yang memungkinkan para fakir kursi memeriksa seberapa penuh perpustakaan-perpustakaan di Columbia University.

density2
Tingkat keramaian di Butler Library pukul 11:38 malam (Sumber: http://density.adicu.com)

Saya jadi teringat masa-masa ketika saya bersemangat oleh karena gedung baru perpustakaan pusat Universitas Indonesia, tempat saya kuliah sarjana, akhirnya dibuka. Walaupun sudah lulus saat itu, saya masih kerap berkegiatan di sekitar kampus. Gedung perpustakaan itu besar dan megah. Selain memuat koleksi perpustakaan pusat sebelumnya, perpustakaan tersebut juga menggabungkan seluruh koleksi perpustakaan fakultas ke satu tempat. Ia digadang sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Crystal of Knowledge, demikian sebutannya. Ia salah satu perpustakaan di Indonesia dengan koleksi terbaik. Sungguh sayang, saya akhirnya jarang memakai perpustakaan tersebut oleh karena ia sudah tutup pukul tujuh malam. Sulit buat saya yang sudah bekerja, begitupun saya kira buat mahasiswa yang tak sedikit dari mereka harus mendatangi kelas hingga sore, untuk betul-betul menghabiskan waktu di sana. Ia akhirnya lebih banyak jadi tempat transit untuk meminjam dan mengembalikan buku.

Kisah sedih datang tahun lalu dari perpustakaan lain: Perpustakaan Freedom Institute. Ia perpustakaan juara di kota Jakarta yang sungguh kekurangan perpustakaan bermutu. Perpustakaan Freedom Institute memiliki koleksi yang menggoda, ruang baca yang seksi, dan taman yang keberadaannya di tengah hingar-bingar belantara kota sungguh menenteramkan hati. Perpustakaan itu akhirnya tutup oleh karena tidak dapat lagi menutupi biaya operasional.

Nasib perpustakaan di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya memang tak sebaik di kota saya berada sekarang.

Barangkali ini soal minat membaca yang rendah. Kita kerap membaca hanya jika memang dibutuhkan saja. Sementara membaca memang tidak mesti di perpustakaan. Lebih asyik baca buku di kafe-kafe hits. Akhirnya, tidak ada orang yang benar-benar butuh perpustakaan. Barangkali ini juga soal stigma. Di Indonesia, kita masih kerap mengecap orang-orang yang rajin ke perpustakaan sebagai kutu-kutu berkamacata tebal yang kerjaannya setiap hari hanya berpacaran dengan buku.  Maka perpustakaan kerap sepi, atau hanya dihinggapi orang-orang yang tidak keren itu lah.

Atau mungkin ini soal bagaimana kita memaknai perpustakaan, juga bagaimana perpustakaan menempatkan dirinya di tengah kita. Perpustakaan kerap dianggap semata-mata sebagai tempat menyimpan koleksi buku. Tempat buku-buku berdiam kaku di sudut-sudut lemari. Padahal ia, lebih dari itu, adalah tempat manusia menjalin relasi dengan pengetahuan. Ia juga tempat orang-orang berkumpul berdiskusi, menggali ilmu bersama. Itu barangkali mengapa segelas kopi hangat dan sepotong kue brownies boleh-boleh saja saya bawa ke perpustakaan tempat saya berada sekarang. Sebab, keberadaan manusia sama pentingnya dengan keberadaan buku-buku di sana.

Tetapi perpustakaan juga bukan sekadar pusat para snob atau para penggila buku berkumpul. “Perpustakaan adalah obat fanatisme,” kata James Billington, pustakawan di Library of Congress. Mereka adalah kuil pluralisme, tempat buku-buku yang berlawanan berdiri bersebelahan dengan tenteram di satu sudut lemari yang sama, demikian halnya musuh-musuh intelektual bisa duduk bersebelahan dengan damai, berbagi meja yang sama.

Ada sejuta makna lain dari perpustakaan. Apalagi di masa banjir informasi, atau di era uber teknologi seperti sekarang. Pada akhirnya, tak perlulah repot-repot memaknai perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat kita membaca buku, dan itu saja semestinya sudah cukup untuk mengamini betapa pentingnya keberadaan perpustakaan yang baik bagi individu, universitas, kota, maupun negara.

 

Photo courtesy: Author’s collection and http://density.adicu.com

 

SHARE
Previous articleGraduating, Inside the Kitchen, and Within Yourself
Next articlePesona Negeri Tirai Bambu sebagai Destinasi Studi
Robin Hartanto
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.
  • Ignasia Kijm

    Terima kasih utk artikelnya. Menarik sekali perpustakaan di AS. Sy teringat masa kuliah hampir 1 dekade lalu, perpustakaan Freedom Institute kerap sy datangi, mencari bacaan sebagai tambahan data utk tugas kuliah. Selain itu perpustakaan CSIS di Tanah Abang yg sangat membantu sy. Di sana tersedia bacaan sosial politik yg tidak ada di kampus. Sayangnya saat ini perpustakaan CSIS hanya utk kalangan internal. Di Jakarta ada perpustakaan yg didirikan Pemerintah tp menurut saya koleksi bukunya sdh terlampau tua (kurang mengikuti perkembangan yg ada) dan didominasi buku teks utk mahasiswa. Semoga ke depannya semakin banyak perpustakaan yg juga menyediakan bacaan yg lebih bervariasi.