Umberto Eco dan Kiat Menulis Tesis (Bagian Kedua)

0
21

Agustus lalu, saya mengulas buku Umberto Eco How to Write a Thesis. Ia sesungguhnya buku lama. Terbit pertama kali dalam bahasa Italia pada 1977. Judul aslinya: Come si fa una tesi di laurea: le materie umanistiche. Baru pada 2015, MIT Press menerbitkan terjemahan bahasa Inggris.

Lepas dari kelawasannya, buku itu masih menawarkan panduan-panduan segar bagi mahasiswa yang hendak menulis tesis. Hal yang memikat dari buku ini adalah bagaimana Eco menyodorkan kecakapan praktis sekaligus pandangan kritis di balik kiat-kiat yang ia lontarkan, yang tajam namun juga kerap bikin ketawa. Ia juga menggunakan bahasa yang lincah, jauh dari nuansa akademik yang merupakan objek dan sasaran utama buku itu.

Artikel bagian pertama berfokus pada usulan-usulan Eco akan segala tetek-bengek memilih topik. Pada bagian kedua ini saya akan mengupas saran-saran Eco setelah mahasiswa sudah mantap hati dengan topik tesisnya.

1. Buat bibliografi di awal.

Salah satu godaan terbesar ketika buku-buku terkait sudah di tangan adalah hasrat untuk membaca semuanya sampai habis. Padahal untuk menuntaskan satu buku saja perlu waktu lama. Oleh sebab itu, Eco mengusulkan untuk sekadar baca sekilas setiap buku, sambil memerhatikan dengan rinci bibliografi setiap bab. Bandingkan referensi-referensi buku yang satu dengan buku yang lain, sehingga kamu dapat menentukan mana referensi-referensi yang dikutip paling sering dan kamu bisa memulai daftar referensi utama. Buat bibliografi di awal, bukan belakangan setelah seluruh isi tesis tuntas ditulis. Bibliografi awal ini adalah acuan buat bibliografi final yang harus terus diolah selama proses menulis tesis.

Kerjakan bibliografi ini dengan rapi, teliti, dan hati-hati, dengan metode penulisan yang sesuai aturan. Dengan melakukan hal-hal yang kecil tapi penting ini di awal, kamu akan terhindar dari mengurusi perintilan-perintilan semacam ini di masa-masa genting menjelang deadline.

how to write a thesis 4
Di buku ini, Eco juga menjelaskan sistem ia mencatat dan merekam bibliografi. Salah satunya, dengan membuat kartu indeks bibliografi.

2. Hati-hati dengan alibi fotokopi.

Membuat dokumen fotokopi amatlah berguna. Demikian juga, dalam konteks sekarang, memindai teks ke dalam dokumen digital. Keduanya mengizinkan kita untuk membawa pulang teks dan membacanya di mana saja, tanpa perlu lagi mampir ke perpustakaan. Tapi begini peringatan Eco, “Mahasiswa membuat ratusan halaman fotokopi dan membawanya pulang, lantas merasa bahwa ia sudah memiliki teks tersebut. Menyimpan dokumen fotokopi membuat seseorang terbebas dari urgensi membacanya.”

Memiliki salinan dokumen tidak otomatis menambah pemahaman. Maka usul Eco, selepas kamu memiliki dokumen salinan, langsung baca dan buat catatannya. Jika urgensinya rendah, jangan membuat duplikat suatu dokumen sebelum membaca dokumen duplikat yang sudah dibuat sebelumnya. Niscaya, tidak akan ada dokumen duplikat yang menganggur di lemari tanpa pernah disentuh sekalipun.

how to write a thesis 3
This sort of vertigo of accumulation, a neocapitalism of information, happens to many,” kata Umberto Eco soal alibi fotokopi.

3. Buat daftar isi sebagai hipotesis berjalan.

Setelah mengerjakan bibliografi, Eco mengusulkan untuk lanjut membuat judul, menulis pengantar, dan membuat daftar isi–tepatnya segala hal yang biasanya kita kerjakan paling akhir. Usul ini sangat mungkin bertentangan dengan logika. Tapi Eco berpendapat bahwa daftar isi dapat membantumu menjernihkan ide-idemu. Ia dapat berfungsi sebagai hipotesis berjalan, yang memberikan batas pada tesis, tetapi juga membuka kemungkinan-kemungkinan untuk perubahan dan perbaikan selama proses menulis.

Eco memberi analogi bertamasya, yang destinasinya saya ubah sedikit biar lebih Indonesia. Pada suatu hari libur, kamu memutuskan bertamasya naik mobil dari Jakarta ke Semarang. Kamu tentu tidak akan keluar rumah tanpa memiliki setidaknya rencana kasar. Kamu mungkin memutuskan untuk lewat jalur Pantura, sambil mampir ke Tegal, Brebes, dan Pekalongan dan mungkin berencana berhenti agak lama di Cirebon, dan mampir ke Sunyaragi. Ternyata kunjungan di Tegal memakan waktumu lebih lama dari rencana, atau ternyata kamu tertarik juga berkunjung ke Pemalang, sehingga kamu batal berhenti di Brebes. Lalu saat tiba di Semarang, muncul ide buat singgah Jepara. Kamu mengubah rencana perjalananmu. Tetapi kamu memodifikasinya, dan bukan melakukan perjalanan tanpa rencana.

4. Hindari penggunaan anak kalimat yang berlapis-lapis.

Kadang-kadang kita berupaya menulis panjang, dengan berlapis-lapis anak kalimat, agar terdengar memiliki pemikiran yang kompleks. “Kamu bukan Proust,” kata Eco. Jika banyak hal muncul dalam pikiranmu, tulislah tetapi kemudian pecahkan jadi beberapa bagian. Jangan segan mengulangi subjek dua kali, dan kurangi anak kalimat.

Jangan tulis,

Pianis Paul Wittgenstein, adik dari filsuf ternama Ludwig Wittgenstein yang menulis Tractatus Logico-Philiosophicus yang saat ini dianggap sebagai mahakarya filsafat kontemporer, pernah meminta Maurice Ravel membuat komposisi untuk tangan kiri, setelah ia kehilangan tangan kanannya.

Karena panjang dan berlapis, kalimat ini pada satu titik akan membingungkan pembaca akan siapa adalah siapa. Siapa yang kehilangan tangan kanan: Paul, Ludwig, atau Maurice? Tulis begini agar lebih jelas,

Pianis Paul Wittgenstein adalah adik dari seorang filsuf bernama Ludwig Wittgenstein. Setelah Paul kehilangan tangan kanannya, Maurice Ravel pernah menuliskan untuknya sebuah komposisi yang hanya memerlukan tangan kiri.

5. Kutip dengan cermat.

Secara praktis, ada dua macam kutipan dalam teks akademis: a) kutipan teks yang hendak kamu analisis; b) kutipan teks yang hendak kamu gunakan untuk mendukung analisismu. Di sisi lain, kutipan bisa menjadi manifestasi akan kemalasan, misalnya ketika kandidat malas berpikir atau merangkum sekumpulan data dan memilih untuk meminjam saja ucapan orang lain.

Maka ini beberapa saran Eco dalam mengutip. Kutip objek analisismu dalam jumlah yang wajar. Jika tidak ingin dikatakan meniru opini orang yang dikutip, sertakan pandangan kritismu setelah atau sebelum kutipannya. Pastikan penulis dan sumber kutipanmu teridentifikasi dengan jernih. Jika kutipannya tidak melebihi dua-tiga baris, sertakan dalam tubuh teks. Jika lebih panjang dari itu, sebaiknya pisahkan sebagai blok kutipan. Kutipan harus tepat dan akurat.

6. Jadikan pembimbing kelinci percobaan tesismu.

Untuk dapat membuat tesis yang mantap, seorang mahasiswa rajin berbicara dengan pembimbing. Jika kamu menulis dengan terburu-buru dan dalam waktu sesingkat-singkatnya, maka pembimbingmu tak akan sempat membaca dengan teliti. Pun jika kamu menjelaskan tesismu kepada pembimbing di waktu yang mepet, dan jika ternyata pembimbingmu tidak puas, ia tidak akan membantumu mempertahankan tesis di masa sidang dan sebaliknya justru akan ikut menantang pemikiran-pemikiranmu.

Sebab, pembimbing sesungguhnya adalah kelinci percobaan bagi tesismu: audiens yang kompeten untuk menguji apa yang sudah kamu tuliskan. Berbincang dengan pembimbing adalah sebuah latihan untuk menyampaikan gagasan kepada audiens. Pada skenario terburuk, ketika ternyata pembimbingmu malas, maka kamu tidak bisa berbuat banyak. Jalan keluarnya, minta teman-temanmu membaca. Jadikan mereka kelinci percobaan cadanganmu.

 

Demikian beberapa kiat menulis tesis dari Eco. Yang terpenting, ucapnya, adalah kamu menulis tesis dengan penuh hasrat. Niscaya kamu akan menulis tesis yang baik.

“Tetapi jika kamu memulai dengan menganggapnya sebagai ritual tanpa arti, kamu sudah kalah sebelum bermain,” kata Eco. “Jika demikian adanya, seperti yang sudah saya katakan padamu (dan saya berharap tidak mengulangi saran ilegal ini), minta orang lain menulis buatmu. Atau jiplak saja. Jangan buang waktumu, atau pembimbingmu, orang yang mesti membantu dan membaca tesismu dari awal sampai akhir.”

Akhir kata, selamat menulis.

how to write a thesis 2
What really matters is that you write your thesis with gusto.

Photo Courtesy: Author’s Collection

SHARE
Previous articleQ&A: Bagaimana Perkuliahanku di Indonesia dan Inggris Membantu Karirku Saat Ini
Next articleStarting Your Overseas Study: What (Not) To Do to Start Your Overseas Study
Robin Hartanto
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.