Mengenal Lebih Jauh tentang Sistem Ujian di Universitas di Belgia

1
81
Photo courtesy of Wikimedia.org

Ujian adalah salah satu hal yang sering menjadi kekhawatiran para calon mahasiswa/i ketika akan memulai pendidikan di luar negeri. Begitu juga dengan yang saya rasakan dan pikirkan sebelum berangkat menempuh pendidikan master di jurusan Water Resources Engineering di Katholieke Universiteit Leuven terletak di area Flanders, Belgia dan Vrije Universiteit Brussel. Akankah saya nantinya bisa lulus melalui ujian-ujian semester hingga tugas akhir? Berangkat kuliah dengan beasiswa VLIR-UOS dari Pemerintah Belgia, dan izin dari instansi tempat saya bekerja menambah beban tersendiri bagi saya untuk harus –minimal— lulus; syukur-syukur dengan nilai yang baik.

Mengantisipasi berbagai kemungkinan, aktif mencari informasi mengenai sistem perkuliahan dan ujian yang diterapkan di suatu negara, khususnya di universitas tempat kita akan menempuh studi, tentu akan sangat membantu dalam beradaptasi saat memulai kuliah di sana nantinya. Berikut adalah beberapa hal yang saya rangkum tentang aspek-aspek penting yang harus diketahui tentang sistem ujian di Belgia sebelum menempuh studi master di sana.

Format ujian yang berbeda

Katholieke Universiteit Leuven, Vrije Universiteit Brussel dan kebanyakan universitas lain di Belgia pada umumnya menerapkan sistem ujian lisan, selain ujian tertulis dan/atau praktek. Setiap mahasiswa/i diberi kesempatan maju satu per satu untuk tanya jawab dengan profesor. Pada masa awal perkuliahan, bagi yang kemampuan bahasa Inggris-nya pas-pasan, hal ini tentu saja terdengar sedikit intimidatif dan menakutkan. Namun, sebenarnya tujuan ujian lisan sangatlah baik. Selain untuk mengonfirmasi jawaban ujian tertulis dan atau ujian praktek, ujian lisan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penguasaan mahasiswa/i terhadap materi kuliah tersebut.

Variasi sistem ujian ini bisa berbeda-beda; ada yang murni evaluasinya hanya dari ujian lisan, ada yang kombinasi tertulis dan lisan, ada yang kombinasi praktek dan lisan, dan ada juga yang kombinasi ketiganya.

Ujian lisan ini pun bisa jadi bentuknya bermacam-macam. Bisa berupa tanya jawab empat mata dengan si profesor, bisa presentasi plus tanya jawab di depan profesor saja, bisa juga presentasi plus tanya jawab di depan profesor sekaligus forum teman-teman sekelas. Sistem ujian dan parameter penilaiannya biasanya akan dijelaskan pada pertemuan pertama kuliah. Jadi, beda profesor, bisa beda aturan main.

Lingkungan kampus Arenberg - Katholieke Universiteit Leuven (Photo Courtesy of Erin Priandini)
Lingkungan kampus Arenberg – Katholieke Universiteit Leuven (Photo courtesy of Erin Priandini)

Penilaian

Sistem kredit perkuliahan di universitas di Flanders menggunakan European Credit Transfer and Accumulation System (ECTS).  Untuk standar program 1 tahun akademik, mahasiswa/i mengambil 60 ECTS. Satu ECTS mewakili 25-30 jam belajar. Program master yang pernah saya ambil memiliki 120 ECTS yang selesai dalam 2 tahun, dengan tesis berbobot 30 ECTS.

Selain itu, berbeda dengan mayoritas perguruan tinggi di Indonesia yang memakai nilai huruf, penilaian di sini berupa angka dalam range 1-20. Untuk dapat lulus suatu mata kuliah, kita harus mendapat nilai akhir minimal 10. Kurang dari itu harus mengulang ujian. Iya, enaknya hanya perlu mengulang ujiannya saja dan tidak wajib hadir di kuliahnya ataupun mengulang membuat tugas-tugas. Aturan nilai akhir ini juga tergantung masing-masing profesor, yang merupakan gabungan antara nilai tugas dan nilai ujian semester. Pada umumnya, nilai ujian akhir mendominasi nilai kelulusan. Misal, 90% nilai ujian akhir ditambah 10% nilai tugas.

Jika dikonversikan dengan US grading system, nilai 18-20 setara dengan A+; nilai 16-17  setara dengan A; nilai 14-15 setara dengan A-; nilai 13 setara dengan B+; nilai 12 setara dengan B; nilai 11 setara dengan B-; dan nilai 10 setara dengan C. Mendapat nilai 14 sudah dianggap cukup bagus, namun untuk meraih nilai 14 ke atas tidaklah mudah. Diperlukan usaha keras untuk dapat memahami materi kuliah. Apalagi untuk mendapat nilai 18 ke atas, yang menurut survei data statistik universitas terhadap nilai sekitar 11.000 mahasiswa/i internasional, jumlahnya hanya sekitar 3 % saja.

Kemudian, untuk menentukan Indeks Prestasi atau Grade Point Average (GPA), masing-masing nilai akan dihitung berdasarkan jumlah kreditnya, sehingga nilai GPA-nya nanti berupa persentase nilai antara 0-100%. Untuk dapat meraih predikat cum laude, minimal GPA sebesar 68% atau setara dengan nilai rata-rata minimal 13,6. Predikat magna cum laude jika GPA lebih dari 77%, dan summa cum laude jika lebih dari 85%.

Mempersiapkan ujian

Suasana perpustakaan kampus Arenberg - Katholieke Universiteit Leuven.  Para mahasiswa/i serius belajar di musim ujian. (Photo courtesy of Flickr.com)
Suasana perpustakaan kampus Arenberg – Katholieke Universiteit Leuven.
Para mahasiswa/i serius belajar di musim ujian. (Photo courtesy of Flickr.com)

Persiapan yang baik akan memperbesar peluang kita mendapatkan hasil yang baik. Kuncinya, sangat penting untuk rajin datang di setiap kuliah, karenatidak jarang di sela-sela kuliah, profesor memberi petunjuk tentang soal seperti apa yang akan muncul di ujian, bagaimana cara profesor memberi penilaian, serta tips dan trik mendapatkan nilai bagus pada mata kuliah yang dia ajar. Oleh karena itu, walaupun absensi kehadiran setiap pertemuan kuliah tidak berkontribusi terhadap nilai akhir, datang ke perkuliahan menjadi sebuah kebutuhan untuk mendapatkan ilmu dan informasi.

Bersahabat dengan senior kelas juga akan sangat berguna. Kita bisa meminta mereka berbagi pengalaman menjalani ujian dan juga mendapat informasi soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Dari situ kita bisa tahu tipe soal yang akan diberikan, sehingga bisa berlatih secara independen juga. Kesuksesan juga ditentukan dari manajemen waktu yang baik. Kebanyakan dari kita cenderung santai-santai di awal semester. Maka, jangan tunda-tunda belajar. Belajar dengan Sistem Kebut Semalam bisa saya katakan mustahil diterapkan di sana jika ingin lulus.

Lalu, bagaimana jika bahasa Inggris kita kurang bagus?

Jika kita kuliah di jurusan non-teknik, di mana dalam kuliahnya sendiri diwarnai banyak presentasi, diskusi dan berdebat, kemampuan berbicara dengan lancar dan menangkap pembicaraan bahasa Inggris dalam berbagai aksen, tentu sangat penting. Lain halnya jika kita kuliah di jurusan teknik, di mana dalam proses belajarnya sendiri tidak mengharuskan kita untuk banyak berbicara. Dalam ujian, sepanjang apa yang kita sampaikan bisa dimengerti oleh profesor, itu sudah cukup. Menguntungkannyalagi jika kita kuliah di universitas di area Flanders, karena pelafalan alfabet kita mirip dengan bahasa sehari-hari mereka (bahasa Belanda), bagi mereka pengucapan bahasa Inggris kita terdengar jelas, begitu pula sebaliknya.

Pengalaman saya, setelah dijalani, ternyata ujian lisan tidaklah semenakutkan yang saya kira. Malah saya menemukan bahwa ujian lisan ini lebih menguntungkan daripada ujian murni tertulis.  Berikut ini beberapa pengalaman saya mengikuti berbagai macam variasi ujian lisan.

1. Ujian Aquatic Ecology

(Photo courtesy of Erin Priandini)
(Photo courtesy of Erin Priandini)

Pada awal kuliah, profesor memberi tahu bahwa dia akan memberikan sekitar 250 pertanyaan yang mesti kita cari tahu jawabannya. Soal ujiannya akan diambil 5 pertanyaan random dari 250 pertanyaan tersebut dansetiap mahasiswa/i akan mendapat 5 pertanyaan yang berbeda-beda.

Sebelum maju menghadap profesor, ada waktu persiapan untuk membaca pertanyaan dan mencoret-coret jawaban terlebih dahulu pada selembar kertas. Ketika berada di tahap ini, sebaiknya coret-coret jawaban selengkap-lengkapnya, jika perlu lengkapi pula dengan gambar ilustrasi atau skema. Kalau-kalau saking gugupnya kita di depan profesor, sampai tenggorokan tercekat tidak bisa keluar suaranya, maka si profesor akan mengambil kertas corat-coret jawaban kita, dan memberi nilai hanya dari situ.

Uniknya, walau jawaban kita benar semuanya, nilainya tidak maksimal. Kalau tidak salah, jika 5 pertanyaan benar semua kita akan mendapatkan 14 poin. Lalu, kika kita bisa menjawab 1 pertanyaan ekstra di luar 5 pertanyaan itu, nilai kita naik 1 poin. Jika profesor kembali bertanya dan kita bisa jawab dengan baik pula, naik lagi 1 poin. Jika jawabannya kita kurang tepat, professor akan memberi clue, memancing kita supaya bisa menjawab dengan sempurna. Tapi jika kita tidak bisa menjawab, nilai kita tidak dikurangi.

2. Ujian Advanced Mathematics.

Ujian yang berlangsung 4 jam ini dilakukan bersama dengan mahasiswa/i lain dalam 1 ruang. Profesor akan mendatangi tempat duduk mahasiswa/i satu per satu untuk melihat lembar jawaban. Jika ada jawaban yang salah atau bahkan kita tidak tahu cara mengerjakannya, dia meluruskan dan memberitahukan bagaimana seharusnya cara mengerjakannya. Jika sistemnya seperti ini, strateginya, ambil posisi di tengah, di mana profesor akan mendatangi kita di saat kita sedang setengah perjalanan dalam mengerjakan soal. Dengan demikian kita bisa menunjukkan hasil pekerjaan kita, sehingga dia bisa memberi banyak komentar, namun, kita akan memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan dengan benar, kalau ada jawaban kita yang salah.

3. Ujian Social Political Institutional Economic Environmental Aspects of Water Resources

Beberapa minggu sebelum ujian, para mahasiswa/i diminta menuliskan permasalahan non-teknis sumber daya air di negaranya masing-masing dalam bentuk makalah, untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas pada hari H. Aspek-aspek yang dinilai termasuk teknik presentasi, tampilan slides, cara kita bicara dan keefektifan dalam menyampaikan informasi dalam waktu singkat. Ya, hanya dalam 5 menit dan jika melebihi waktu, malah dikurangi nilainya. Dalam waktu 5 menit tersebut kita harus bisa menguraikan permasalahan, dengan menampilkan fakta, apa yang sudah dilakukan selama ini untuk mengatasi permasalahan tersebut namun kurang berhasil, dan menyampaikan ide solusi dari kita sendiri. Setelah kita presentasi, dilanjutkan sesi tanya jawab, di mana profesor dan teman-teman sekelas boleh ikut berpartisipasi.

4. Ujian Hydraulics

Gedung Fakultas Bioscience Engineering - Katholieke Universiteit Leuven. (Photo courtsey of Erin Priandini)
Gedung Fakultas Bioscience Engineering – Katholieke Universiteit Leuven. (Photo courtsey of Erin Priandini)

Ujian ini terdiri dari kombinasi 3 metode, yakni tertulis, praktek memakai aplikasi program komputer dan lisan. Ujian tertulis dilakukan bersama-sama dalam durasi 3 jam. Secara teknis, jumlah soal memang hanya 2 nomor, tapi masing-masing nomor terdiri dari 10 dan 3 sub pertanyaan soal hitung-hitungan dan konsep teori! Setelah itu, siang dan sorenya diisi ujian memakai program komputer. Sementara ujian komputer berlangsung, mahasiswa/i dipanggil satu per satu, bersama profesor memeriksa kertas ujian tertulis kita tadi pagi. Kita diminta menjelaskan jawaban  ujian tertulis kita, sambil dia bertanya lebih detail, baik yang berkaitan dengan soal, maupun teori dasarnya. Jika jawaban kita di ujian tertulis tidak selesai, kita diberi kesempatan untuk menjawab soal-soal tersebut secara lisan. Asyiknya, kita hanya diminta menjelaskan cara menghitungnya dan teorinya, tanpa perlu menghitung pakai kalkulator hingga ketemu angka hasilnya.

Serunya lagi, profesor mengizinkan para mahasiswa/i untuk membahas jawaban soal ujian di waktu jeda istirahat makan siang. Kalau ternyata setelah berdiskusi dengan teman-teman kita menyadari jawaban kita di ujian tertulis itu salah, kita diperbolehkan untuk mengganti jawaban ketika ujian lisan. Misalnya, dalam ujian tertulis kita terbalik-balik dalam menjelaskan teori aliran subkritis dan superkritis dalam berbagai kondisi medan aliran. Atau kita salah mengambil asumsi dalam perhitungan aliran air dalam pipa. Akui saja bahwa jawaban kita di ujian tertulis itu salah, dan jelaskan penyebabnya. Terlebih lagi, jika kita bisa menjelaskan dengan baik, jawaban yang salah di atas kertas, bisa dinilai benar.

5. Ujian berbagai macam kuliahModelling (River Modelling, Groundwater Modelling, Surface Water Modelling, dan lain-lain.)

Dari awal kuliah kita diminta membuat tugas besar, yaitu pemodelan dengan aplikasi program komputer, berikut laporannya. Kuliah modelling ini ada yang tugasnya individual, maupun yang ber-partner atau berkelompok. Hasil tugas besar pemodelan kita akan dipresentasikan untuk ujian. Presentasinya sendiri ada yang hanya di depan profesornya saja, ada pula yang di depan forum kelas yang akan diikuti dengan sesi tanya jawab. Jika kita benar-benar mengerjakan sendiri dan memahami betul prinsip dan teorinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Soal penilaian, seperti yang saya katakan sebelumnya, beda profesor beda aturan nilai. Ada profesor yang menyamaratakan nilai dalam 1 kelompok, danada pula yang nilainya tergantung performa masing-masing personel ketika presentasi. Memang pada akhirnya kelihatan juga yang pintar dan atau paling banyak kerjanya.

6. Ujian Surface Water Hydrology

Ini dia ujian paling berkesan, karena saya sampai harus melaluinya 3 kalibaru bisa lulus!
Ujian tertulis berlangsung 3 jam, dengan diberikan kesempatan 10 menit open book di awal waktu setelah kita menerima lembar soal. Tetapi, di ujian ini tidak boleh membuat coretan apapun selama buku dibuka. Soal-soalnya mencakup teori dan konsep, terdiri dari 2 nomor yang masing-masing nomor terdiri dari 3 sub-pertanyaan.

Selama ujian tertulis, profesor memberi kita kesempatan maju ke depan kelas untuk bertanya, apakah jawaban kita sudah cukup baik dan benar. Si profesor akan memeriksa, kemudian hanya akan memberi komentar singkat: ‘ya, ini sudah cukup, bisa dikumpulkan’, atau, ‘jawaban ini sudah cukup untuk lulus, tapi kalau ingin nilai lebih baik, kamu harus tambahkan lagi’, atau  ‘jawaban ini tidak cukup kalau kamu ingin lulus, kamu harus lebih menjabarkannya lagi’. Begitu saja, tanpa memberi petunjuk apanya yang kurang dan mesti ditambahkan.

Setelah bertanya teman-teman yang mendapat nilai bagus, maka saya mengambil kesimpulan bahwa mungkin jawaban saya tidak salah, hanya terlalu sederhana bagi professor, alias kurang menunjukkan bahwa saya mengetahui dan memahami banyak hal yang berkaitan dengan soal. Maka di kesempatan ujian yang ke-3, saya menulis panjang lebar semua yang saya ketahui yang masih berhubungan dengan pertanyaan yang diberikan, lengkap dengan berbagai gambar dan bagan/skema sebagai ilustrasi. Hasilnya? Saya lulus dengan nilai bagus.

—————————

Suasana kampus Etterbeek - Vrije Universiteit Brussel. (Photo courtesy of Wikipedia.com)
Suasana kampus Etterbeek – Vrije Universiteit Brussel. (Photo courtesy of Wikipedia.org)

Pada prinsipnya, jika ingin lulus pada mata kuliah yang kita ambil, kita harus benar-benar terlibat, memahami logika teori dan konsep, bukan sekedar menghapal. Proses pemahaman terhadap materi kuliah lebih dihargai daripada sekedar hasil akhir jawaban pertanyaan yang harus tepat betul angkanya. Profesor juga senang jika kita bisa menunjukkan sebanyak-banyaknya apa yang kita ketahui yang masih berkaitan dengan pertanyaan, namun tentu saja dengan memberi jawaban yang terstruktur, efektif dan efisien. Komunikasi non-verbal secara tidak langsung bisa menjadi penilaian. Seberapa semangat, percaya diri dan meyakinkannya cara kita menjawab pertanyaan. Profesor mungkin tidak dapat mengingat-ingat satu per satu nama mahasiswa/i-nya, tapi cenderung mengingat wajah. Jika kita rajin kuliah, aktif di kelas, dan bersikap positif, tentu memberi kesan yang baik di mata Profesor.

Oh ya, jangan coba-coba mencontek jika ingin lulus. Mencontek di sini bukan hanya ketika ujian, tapi juga dalam mengerjakan tugas kuliah. Inovasi dan keorisinilan ide akan sangat dihargai. Maka, plagiarisme merupakan hal yang tidak bisa ditoleransi di sana. Pada akhirnya yang bisa lulus dan mendapat nilai baik bukan hanya orang yang cerdas saja, tapi juga orang yang bersungguh-sungguh dan berusaha keras untuk lulus.