Kembali ke Indonesia Setelah Bekerja di Australia

1
169

Perkenalkan semuanya, nama saya Bina. Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Australia dan bekerja di salah satu laboratorium patologi terbesar di Australia sebagai seorang software engineer setelah menyelesaikan kuliah saya. Nah, kali ini saya akan menceritakan bagaimana pengalaman saya sekolah dan mencari kerja, serta mengapa pada akhirnya saya tetap memilih untuk pulang ke Indonesia demi membangun network dan mencari peluang bisnis.
Saya lahir di Kekeran, Singaraja, pada tanggal 1 Februari 1989. Sedari kecil, saya dan kedua saudara saya memang didorong orang tua untuk menjadi seorang dokter mengikuti jejak ibu kami. Maklum, pemikiran bahwa profesi dokter adalah sebuah simbol kesuksesesan merupakan hal yang lumrah pada saat itu. Alhasil, kedua saudara saya pun menempuh pendidikan kedokteran. Kakak saya adalah seorang lulusan fakultas kedokteran Universitas Hang Tuah yang saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Udayana. Begitu juga adik saya yang merupakan seorang lulusan fakultas kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Di sisi lain, dikarenakan pada saat itu saya telah bertekad untuk bekerja di bidang IT, saya memutuskan untuk keluar dari pakem dan menempuh pendidikan teknologi informasi di Universitas Bina Nusantara (Binus).

Wisuda di Universitas Binus
Wisuda di Universitas Binus

Setelah selesai menempuh pendidikan S1 di Binus saya pun tak menyia-nyiakan waktu dan langsung memilih untuk bekerja di Inwork Technology Indonesia, salah satu software house di Jakarta. Namun, karena orang tua menginginkan dan mendukung saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja, saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Australia.

Pada tanggal 3 Juli 2011, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Negeri Kangguru. Tujuan kedatangan saya ke Australia pada saat itu adalah untuk menempuh program studi S2 di bidang Manajemen Bisnis (MBA) di Deakin University, Melbourne.

Deakin University menjalankan sebuah mentoring program dimana mahasiswa-mahasiswi baru dipasangkan dengan seorang mentor dari negara asal yang sama. Hal ini diharapkan akan memudahkan mahasiswa untuk berasimilasi di Australia. Mentoring program inilah yang memberikan saya wawasan awal yang sangat membantu saya untuk belajar dan memperoleh teman akrab. Dari pertemanan ini juga lah saya sempat diundang untuk mengikuti beberapa klub yang ditujukan untuk mahasiswa S2, salah satunya Deakin Graduate Business Society. Mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di kampus memberikan kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga. Selain melatih kemampuan berbahasa Inggris dan juga memperluas pergaulan, kita juga dapat memperoleh kesempatan kerja. Saya mendapatkan penawaran untuk menjadi seorang student mentor di semester berikutnya dan juga tawaran untuk bekerja selama satu tahun di kampus. Meskipun pekerjaan itu hanya sebatas pekerjaan paruh waktu, dua hari seminggu, gaji yang diberikan pada saat itu cukup memuaskan dan  membantu saya.

Bersama teman-teman di Melbourne
Bersama teman-teman di Melbourne

Di semester kedua, saya mulai memulai memikirkan apa yang saya ingin lakukan setelah lulus. Saya memutuskan untuk berusaha mendapatkan Permanent Residency (PR) dan mencoba bekerja di Australia.  Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama, melalui pertemanan dengan para lecturers dan saran dari teman-teman baik, saya memutuskan untuk mengubah major saya dari MBA ke Master of Information Technology. Hal ini saya lakukan agar dapat memenuhi salah satu kriteria mendapatkan Australian PR.

Di semester terakhir, kami diharuskan untuk mencari tempat internship yang sesuai dengan major yang kami pilih. Berbekal pengalaman saya bekerja di Indonesia sebagai seorang software developer, saya berhasil memperoleh kesempatan untuk bekerja di salah satu klinik regional di Melbourne yang bernama Inner East Community Health (IECH). Disini saya diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah proyek kesehatan berbasiskan IT. Project tersebut terus dilanjutkan meski masa internship saya telah selesai dan saya pun diangkat sebagai seorang staff part-time di IECH. Di luar pekerjaan ini, saya pun juga bekerja paruh waktu di dua restoran, Pappa Rich dan Nandos, untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama di Australia.

Beberapa teman saya juga menyarankan saya untuk mencari tempat kerja baru karena terdapat banyak perusahaan IT yang memerlukan developers berpengalaman. Setelah berpikir panjang, saya memutuskan untuk tidak mengikuti saran tersebut. Pertimbangan saya pada saat itu adalah pertama, sangat sulit bagi seorang non-local fresh graduate untuk mendapatkan pekerjaan formal apabila tidak memiliki Permanent Resident Visa. Kedua, meskipun berstatus part-time periode pekerjaan saya tersebut akan dikategorikan “on-field” dan akan tetap diperhitungkan pada saat saya memasukkan aplikasi visa saya.

Wisuda di Deakin University
Wisuda di Deakin University

Setelah melalui perjuangan selama satu setengah tahun setelah lulus, saya akhirnya memperoleh Permanent Resident Visa. Mulai dari sinilah saya menjadi sangat optimis untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di Australia. Pekerjaan pertama saya pada saat itu adalah sebuah posisi kontrak di Deakin Prime, commercial arm dari Deakin University. Disini, selama tiga bulan saya dikontrak untuk menyelesaikan proyek Postgraduate Referencing System yang sekarang digunakan sebagai salah satu syarat masuk program Postgraduate Psychology di 34 universitas di Australia.

Setelah proyek tersebut selesai berbagai tawaran untuk bekerja pun mulai berdatangan, mulai dari pekerjaan di bidang hukum, transportasi, web design, maupun healthcare. Nah, kali ini saya memilih untuk bekerja untuk Sonic Healthcare yang merupakan perusahaan laboratorium internasional yang cukup besar dan terbesar di southern hemisphere, dengan banyak lab yang bekerja dibawahnya. Setelah melalui tiga kali proses interview akhirnya saya berhasil memperoleh tawaran pekerjaan di Melbourne Pathology, salah satu divisi dari Sonic Healthcare. Tugas saya sehari-hari adalah melanjutkan dan menyempurnakan software dalam bidang radiology and imaging.

Sebuah titik balik dalam kehidupan saya datang pada akhir tahun 2015. Setelah 2 tahun bekerja di Australia, saya memutuskan untuk mengikuti sebuah program seminar startup di University of Melbourne. Melihat begitu banyaknya anak muda di Melbourne yang berambisius ingin mengembangkan startup mereka agar sukses di negaranya masing-masing, muncullah keinginan saya untuk kembali ke Indonesia dan mencoba mengembangkan ide-ide kreatif yang saya dan teman –teman saya impikan. Selain alasan ini, terdapat keinginan di dalam diri saya untuk juga mencoba bekerja dan mengembangkan usaha di tanah air, terutama didukung oleh peluang usaha yang semakin banyak.

Di sela-sela pekerjaan dan di waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri untuk melanjutkan pengembangan app kami. Beberapa teman dekat saya juga malah telah mendahului saya untuk pulang ke Indonesia untuk juga mengembangkan bisnisnya masing-masing di bidang design and IT services. Setelah melalui berbagai pertimbangan matang, hal ini jugalah yang mendorong saya untuk memantapkan hati untuk pulang ke Indonesia. Salah satu faktor lainnya adalah karena saya masih memiliki Permanent Residency di Australia maka saya dapat kembali bekerja di Australia sewaktu-waktu. Setelah berkonsultasi kepada keluarga dan juga siap secara finansial dan mental, saya pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk mulai mengembangkan startup kami. Tentunya saya pun menyadari bahwa kemungkinan gagal sebuah startup sangatlah tinggi, namun ini adalah sebuah kesempatan bagi saya untuk menguji batas kemampuan saya dan juga untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Saran saya, apapun keputusan yang kita ambil setelah menempuh studi di luar negeri, apakah itu menetap di negara seberang maupun kembali ke Indonesia, ingatlah bahwa kita harus selalu menantang diri untuk menjadi yang terbaik, terutama bagi kita yang masih muda.

All photos provided by the author

Edited by Hadrian Pranjoto

  • Halo mas, kalau boleh tahu S2 di Australia menggunakan beasiswa atau biaya sendiri?
    Apakah mungkin mendapatkan PR di Australia jika belajar menggunakan beasiswa?