Mengapa Melanjutkan Studi di Turki?

1
976

Banyak teman bertanya kepada saya, “Kenapa lo pilih kuliah ke Turki? Bukan Eropa atau Amerika?“

Saya tidak bisa menjawab ini cita-cita lama yang akhirnya terwujud, namun setelah sampai di sini saya tahu saya tidak mengambil pilihan yang salah dan menemukan banyak pelajaran berharga yang mungkin tidak akan saya dapati di negara lainnya. Cerita awalnya singkat saja, saya sampai ke Turki dengan beasiswa dari pemerintah di sini.

Jujur, jauh sebelum saya mendapatkan beasiswa ini, saya tidak pernah terlalu menilik Turki yang saya tahu sebatas sebagai negara tempat Masjid Biru berada. Namun beasiswa menarik yang saya temukan dan ketertarikan saya pada Turki sebagai negara yang belum terlalu disorot dunia, membuat saya memberanikan diri untuk mencoba mendaftar dan lolos persyaratan dokumen. Tidak dinyana setelah lupa, sekitar dua bulan kemudian mereka mengundang untuk wawancara di kedutaan besar dan dua bulan berikutnya saya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa yang meliputi tanggungan tiket pesawat PP, belajar bahasa selama satu tahun, akomodasi dan konsumsi, uang saku, asuransi kesehatan dan tentunya tuition fee.

Implementasi Pendidikan dan Variasi Pengajaran

Sudah hampir dua tahun saya menetap di sini, tahun pertama saya diisi dengan kursus bahasa dan sekarang saya tengah menjalani perkuliahan untuk level master jurusan Media Baru di Universitas Kadir Has. Jurusan ini mempelajari seluk beluk internet dari berbagai sisi, sebuah jurusan yang berdasarkan pencarian saya dulu, baru hadir di sebagian universitas di negara maju. Meski tergolong baru, universitas saya memiliki spesialisasinya sendiri yakni di jurusan komunikasi dan teater. Sudah belajar bahasa setempat bukan berarti saya fasih, namun kampus saya dipenuhi dengan banyak pegawai yang mampu berbahasa Inggris dengan baik dan cukup telaten dalam membantu mahasiswa. Hal ini juga karena kampus saya merupakan salah satu kampus yang memiliki banyak mahasiswa internasional mulai dari level sarjana hingga doktor baik lewat program pertukaran pelajar Erasmus ataupun mahasiswa tetap.

Suasana salah satu kelas di kampus.
Suasana salah satu kelas di kampus.

Sehari-hari aktivitas perkuliahan dilakukan selama 2,5 jam dengan berbagai variasi metode mulai dari diskusi, presentasi, hingga one-day guest lecturer yang datang dari negara lain seperti Yunani dan Perancis untuk berbagi tentang topik tertentu yang dikaitkan dengan kondisi di negara mereka. Terkait dengan jurusan saya, para dosen setiap mata kuliah kerap meminta mahasiswa untuk memberikan ide berbeda terkait teknologi internet yang aplikatif dan memperkenalkan kami kepada banyak sumber praktis yang membuat kami tidak tenggelam dalam teori semata. Misalnya lewat kelas wajib “Dasar Media Baru“ yang membawa kami mempelajari transformasi perusahaan pasca popularitas internet atau “User Experience” yang memperkenalkan kami pada sistem kerja mobile app di belakang layar. Meski hal seperti ini dapat saya temui sebagai kegiatan-kegiatan seminar berbayar atau komunitas di Indonesia, universitas masih belum secara rata memberikannya lewat perkuliahan apalagi membuka jurusan khusus.

Meski Turki bukan raksasa internet nomor satu, belajar mengenai internet di negara ini tidak semata-mata berbasis teori buatan negara lain, budaya digital dan internet lokal juga berkembang pesat dengan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat di seluruh Turki. Internet bukan lagi hal asing untuk sebagian besar penduduk. Praktek pemanfaatan internet sebagai media edukasi juga memiliki eksistensi tinggi dan dimanfaatkan oleh mayoritas publik dengan cukup baik sebagai medium informasi. Contoh praktis adalah integrasi aplikasi transportasi umum di telepon pintar dengan armadanya yang menunjukkan lokasi bus secara langsung lewat GPS dan jadwal ketibaan di halte. Konferensi internasional dan karya ilmiah yang dimiliki kampus saya dan Turki secara umum, terkait dengan jurusan yang saya pelajari juga cukup banyak, memberikan tanda bahwa peneliti di sini tak ketinggalan zaman akan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Jurusan Khusus dan Fasilitas Tak Terbatas

Meski memberi penjelasan lewat kampus saya, hampir seluruh universitas di Turki memiliki kelebihannya tersendiri terutama terkait spesialisasi jurusan yang membuat fasilitas akademis dan pengajar-pengajarnya dapat terbarui dengan lebih mudah. Pelajar internasional juga bertebaran di berbagai universitas baik pada jurusan berpengantar bahasa Inggris maupun Turki. Jurusan sangat khusus seperti “Minimalisasi Gempa Bumi” dan “Teori dan Kritik Seni” atau jurusan non konvensional seperti “Industri Ayam” dan “Industri Lebah” juga dapat ditemui di sebagian universitas yang terletak di kota dengan fokus industri yang sama. Misalnya, Teori dan Kritik Seni terdapat di Universitas Sabanci, Istanbul yang penuh dengan peninggalan sejarah atau Industri Lebah di Universitas Adnan Menderes, Aydin, kota yang menjadi pusat industri lebah.

Salah satu kegiatan di jurusan industri lebah.
Salah satu kegiatan di jurusan industri lebah.

Dari segi pendidikan secara umum, banyak pula saya temui perpustakaan yang terbuka untuk umum dan tidak sebatas memiliki koleksi karya akademis dan ruang-ruang membaca namun juga aula dan ruang pertemuan yang bisa digunakan oleh umum untuk kegiatan-kegiatan seminar dan pelatihan. Tak perlu ada afiliasi tertentu dengan sebuah lembaga atau semacamnya untuk bisa menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada. Pemutaran film gratis pun bisa menjadi pilihan hang-out hampir setiap harinya di banyak tempat.

Ada pula pelatihan-pelatihan gratis yang kerap diadakan oleh berbagai institusi buatan pemerintah selevel kelurahan hingga provinsial di berbagai wilayah untuk pelajar maupun umum yang kualitasnya tidak bisa diremehkan. Pelatihannya meliputi kursus bahasa, musik, film, ilmu komputer dan teknologi, hingga memasak dan mendesain busana, yang di Indonesia, sejauh saya ketahui selalu membutuhkan biaya atau relasi tertentu dengan institusi tertentu untuk bisa ikut serta. Di sini hanya diperlukan kartu identitas penduduk atau kartu izin tinggal bagi orang asing. Mahasiswa tanpa pandang universitas pun bisa ikut serta dalam seluruh kegiatan yang ditujukan untuk pelajar.

Salah satu kelas gratis yang pernah saya ikuti.
Salah satu kelas gratis yang pernah saya ikuti.

Negara yang Kaya dan Tak Sebatas Islam

Sayangnya, Turki tak terlalu sering terdengar di Indonesia selain sebagai bagian dari paket tur selepas haji atau umrah atau sesama negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Membuat saya tak heran untuk lagi dan lagi menemukan pelajar Indonesia yang datang untuk mendalami ilmu agama, berlatar belakang relijius atau menganggap Turki sebagai negara muslim memilih untuk mengenyam studi di sini. Senada dengan sebagian besar WNI yang menikah dengan penduduk setempat dan menetap di sini. Bahkan stereotip tak beralasan dari beberapa orang Indonesia yang menyebut-nyebut untuk menggunakan hijab jika ingin berkunjung ke Turki, masih santer terdengar.

Kenyataannya, meski Islam adalah agama mayoritas, Turki tidak mengidentifikasikan dirinya sebatas itu saja. Sebagai negara yang menjembatani Timur Tengah dan Eropa, Turki punya kultur yang kaya, industri yang cukup mapan dan nilai yang jauh lebih dari sekedar agamis. Bisa saya dapati museum-museum dan peninggalan bangunan dari era pra-sejarah, Romawi hingga kerajaan Usmaniyah yang terakhir memimpin sebelum Turki beralih menjadi republik -yang omong-omong sebagian besar memberikan akses gratis bagi pelajar dan mahasiswa dengan kartu museumnya. Di sisi lain, saya juga mempelajari bahwa Turki juga memiliki perusahaan-perusahaan yang produk-produknya mendominasi Eropa mulai dari pangan, busana hingga elektronik yang membuat negara-negara Eropa mulai menetapkan kebijakan impor.

Juga, sebagai bagian dari rumpun Turkik, Turki adalah satu penopang entitas besar yang membuat negara ini menjadi pemersatu banyak penduduk tak hanya dari Turki, namun juga Asia Tengah, Eropa Timur, Timur Tengah hingga bagian Barat China yang merasakan ‘sama rasa atau bahasa’. Di sini adalah persilangan budaya barat dan timur dengan sentuhan sejarah Bizantium hingga Usmaniyah. Sehingga mendefinisikannya sekedar sebagai negara Islam rasanya kurang tepat. Agama hanya afiliasi yang banyak orang pilih sebagai identitas pribadi dan tidak membuat mereka menutup diri dari penghormatan terhadap agama-agama lain. Masjid bukan satu-satunya rumah ibadah bersejarah meski kerajaan besar terakhir yang berkuasa adalah kerajaan Islam. Banyak gereja dan sinagog tua yang bisa ditemui di Turki dan masih aktif digunakan sebagai tempat beribadah, juga terbuka untuk pariwisata pada saat tertentu.

Turki mungkin masih terdengar asing untuk melanjutkan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia, namun sebagai seorang pelajar yang salah satu harapannya adalah bisa berpartisipasi dalam pembangunan negara, meski berbeda Turki juga punya banyak kemiripan dengan Indonesia. Agama dan persilangan budaya adalah beberapa di antaranya. Namun terlepas dari kemiripan yang ada, Turki mampu berkembang dalam banyak bidang dan memberikan pelayanan umum yang manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

Ilustrasi situasi kelas diambil dari iha.com.tr dan adu.com.tr. Ilustrasi lainnya adalah koleksi pribadi penulis.

  • Nurhamidah Tyas P

    Halo bang. Mau nanya aja sih,living costnya kalo di turki itu kira2 berapa ya?