Kuliah di KAIST, Korea Selatan

Kuliah di KAIST, Korea Selatan

Halo rekan-rekan pembaca Indonesia Mengglobal, perkenalkan saya Vina, dari Bandung. Saya menyelesaikan pendidikan S1 di Teknik Mesin ITB, dan saat ini saya sedang menyelesaikan program doktor di Industrial and System Engineering di  KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology), Korea Selatan. Kali ini saya akan menceritakan tentang kehidupan mahasiswa internasional di Korea Selatan.

Sudah tidak diragukan lagi kalau Korea Selatan sedang menjadi tujuan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Banyak sekali anak-anak muda Indonesia yang senang dengan budaya Korea. Musik k-pop, k-drama, dan acara televisi Korea sudah menjadi sangat populer di seluruh dunia. Budaya Korea ini menarik minat banyak pelajar untuk melanjutkan studinya di Korea dengan harapan dapat mengenal lebih jauh tentang Korea. Selain itu, jarak tempuh yang hanya 7 jam penerbangan saja juga mempermudah mobilisasi dari Indonesia ke Korea.

Tapi ada juga hal lain yang membuat Korea sangat terkenal di dunia, dan justru hal inilah yang membuat saya tertarik untuk melanjutkan pendidikan saya di Korea. Teknologi di Korea sedang menjadi sorotan, mulai dari elektronik, infrastruktur, IT, kesehatan sampai teknologi nuklir. Tanpa kita sadari, produk-produk Korea sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Hal-hal ini ini tentu saja tak lepas dari kemajuan pendidikan di Korea yang kampus-kampusnya mulai mendunia sejak belasan tahun lalu.

Tentang KAIST

KAIST-2
Saya memulai pendidikan pascasarjana saya di KAIST sejak tahun 2011 di jenjang Master, dan dilanjutkan dengan program Doktor pada tahun 2013. Saya memilih KAIST karena kampus ini adalah salah satu sekolah unggulan di Korea Selatan dengan ranking dunia yang terus menanjak sejak berdiri pada tahun 1971.

KAIST menyediakan bidang studi engineering dan sains yang sangat beragam dengan reputasi yang juga mendunia. Setiap tahunnya, KAIST memiliki sekitar 9000 mahasiswa yang tergabung dalam program undergraduate (S1), graduate (S2,S3), dan post-graduate. Kampus utama KAIST yaitu di kota Daejeon. Lokasinya tidak begitu sulit ditempuh, yaitu sekitar 2 jam dari Seoul. Di kota Daejeon terdapat banyak lokasi riset pemerintah, sehingga Daejeon sering disebut sebagai Silicon Valley of Korea. Hal ini mendukung kerjasama antara KAIST dan pemerintah Korea.

Di KAIST, bahasa yang digunakan di dalam kelas hampir seluruhnya adalah bahasa Inggris.  Hal ini juga yang membuat saya dan banyak mahasiswa internasional lainnya tertarik untuk belajar di KAIST, karena kami tidak perlu belajar bahasa lebih dahulu tentunya. Namun, tentu saja pelajaran bahasa Korea sangat dianjurkan, mengingat tidak banyak masyarakat Korea yang berbahasa Inggris dalam kesehariannya.  Khusus untuk program undergraduate, KAIST mewajibkan mahasiswanya untuk memiliki sertifikasi bahasa Korea TOPIK tingkat 2. Sementara untuk mahasiswa pascasarjana, tidak ada syarat khusus namun disesuaikan dengan lokasi penelitian.

Secara umum, semua mahasiswa KAIST disponsori oleh lembaga tertentu, baik pemerintah, lembaga riset, atau kampus. Sebelumnya, untuk dapat diterima di KAIST, mahasiswa harus melewati beberapa jenis tes masuk: seleksi dokumen, tes tertulis untuk departemen tertentu, dan wawancara. Kemudian, beasiswa akan ditentukan berdasarkan hasil tes. Khusus untuk mahasiswa internasional termasuk saya, jika diterima sebagai mahasiswa maka tuition fee akan didukung sepenuhnya oleh kampus. Beasiswa untuk kebutuhan hidup sehari-hari diberikan oleh kampus atau lab sesuai dengan jenjang pendidikan mahasiswa.

Sekilas Tentang Undergraduate Program di KAIST
Saya menghabiskan masa S1 saya di Indonesia, dan dari pengalaman dan pengamatan saya, ada beberapa karakter khusus di KAIST yang menarik dan cukup berbeda dengan yang saya alami di ITB.

· Di KAIST, tidak ada kewajiban untuk mahasiswa S1 untuk melakukan Tugas Akhir atau yang sering kita sebut skripsi.
· Mahasiswa di KAIST diberi kebebasan untuk melakukan penelitian atau tidak sama sekali. Jika memilih penelitian maka akan ada beberapa opsi,seperti internship, penelitian tugas akhir, atau riset dengan topik tertentu; yang memungkinkan mahasiswa untuk menyesuaikan pilihannya dengan rencana masa depan.
· Mahasiswa juga diberikan kebebasan untuk memilih mata kuliah yang diinginkan setiap semesternya dengan beberapa kuliah wajib saja.
· Kampus juga sangat mendukung program pertukaran pelajar untuk mahasiswa S1. Dukungan ini diberikan dalam bentuk kerjasama antar sekolah di seluruh dunia dan bantuan finansial untuk mahasiswa yang berminat.
· Untuk kehidupan akademik, kuliah yang diberikan cukup menantang dan mendukung budaya kompetisi yang tinggi di antara mahasiswa. Perbedaan paling menonjol adalah, mahasiswa di KAIST sangat fokus pada studi dan berbudaya individual.

Sekilas Tentang Graduate Program di KAIST

KAIST-6
Sekarang, saya ingin menceritakan pengalaman saya khususnya sebagai mahasiswa program pascasarjana. Setiap mahasiswa termasuk saya berada dalam bimbingan dosen tertentu yang sudah didiskusikan sebelum kita diterima di kampus. Kami bekerja di lab atau office yang dikepalai oleh dosen pembimbing tersebut.

Suasana penelitian dapat dikatakan mirip dengan suasana bekerja di perusahaan atau lembaga riset. Mahasiswa dikelompokkan dalam grup penelitian tertentu. Masing-masing grup kemudian akan mendapatkan project yang sesuai dengan bidang penelitiannya.Mahasiswa pascasarjana juga mendapatkan dukungan finansial dari project yang dikerjakan di lab. Di banyak lab, jumlah funding untuk mahasiswa sangat bergantung pada project yang dikerjakan.

Saya berada dalam grup keahlian Manufacturing System Engineering, bidang yang  sudah saya tekuni sejak S1 di ITB. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kerja suatu sistem manufaktur lewat pemodelan matematik dan teori optimisasi. Perkembangan penelitian dan eksperimen didiskusikan dalam lab meeting dan personal meeting dengan dosen pembimbing secara berkala.

Selain penelitian, saya memiliki persyaratan akademik juga untuk kelulusan. Mahasiswa pascasarjana memiliki persayaratan jumlah kredit sesuai dengan program dan departemen masing-masing. Pada umumnya dalam 1 semester, mahasiswa diwajibkan untuk mengambil minimal 9 kredit setiap semesternya yang dibagi menjadi kredit kelas dan kredit penelitian. Penekanan kredit lebih kepada kredit penelitian, sementara kredit kelasnya hanya sebagai pendukung dan jauh lebih sedikit dibandingkan program S1.

Untuk syarat kelulusan, mahasiswa program doktor diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal internasional dengan standar khusus. Selain itu, setiap mahasiswa diwajibkan untuk melewati sidang disertasi, uji proposal, dan qualification exam untuk program doktor.

Dalam kehidupan lab, setiap mahasiswa memiliki jam kerja yang berbeda, pada umumnya Senin sampai Jumat jam 9 pagi-6 sore. Namun jam kerja tersebut pun bervariasi tergantung dari beban kerja dan penelitian.

Salah satu budaya lain yang menarik dari masyarakat Korea pada umumnya adalah komitmen yang tinggi terhadap segalanya. Dalam kehidupan akademik, setiap mahasiswa akan terpacu dan pantang menyerah untuk mendapatkan nilai yang tertinggi, demikian juga dalam penelitian, setiap mahasiswa akan berusaha untuk menyajikan penelitian dengan hasil dan bentuk yang terbaik.

Untuk saya, ada hal yang menarik dari kehidupan mahasiswa di Korea, yang sebenarnya juga merupakan budaya masyarakat Korea pada umumnya. Setiap tahun, atau semester, setiap lab mengadakan acara outing yang bertujuan untuk team-bonding. Outing ini dilakukan selama 2 atau 3 hari dengan kegiatan seperti mendaki gunung, ski, atau berkemah yang disertai dengan (tentu saja) Korean barbecue. Di sini, semua anggota lab melakukan aktivitas yang berbeda dengan yang kami lakukan sehari-hari dengan harapan ketika kembali ke lab, masing-masing dari kami sudah relaks dan segar untuk memulai kembali penelitian.

Mahasiswa Indonesia di KAIST
Mengenai mahasiswa Indonesia, saat ini, Juli 2016, ada sekitar 40 mahasiswa Indonesia, terdiri dari mahasiswa undergraduate, graduate, dan post-graduate program. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, mahasiswa Indonesia di KAIST membentuk paguyuban yang dikenal dengan nama KAIST-INA. KAIST-INA menyelenggarakan acara-acara rutin seperti olah raga, sharing penelitian, atau rekreasi bersama. Dengan adanya paguyuban ini, mahasiswa Indonesia di KAIST dapat saling membantu sekaligus juga berkontribusi untuk Indonesia secara bersamaan.

Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dengan melanjutkan sekolah di KAIST, seperti penelitian yang berkualitas dunia, belajar dari dosen-dosen yang hebat, network yang berharga di masa depan. Namun hal ini juga sama dengan perjuangan yang sulit dan tidak sebentar. Tanpa kerja keras akan sangat sulit untuk dapat beradaptasi di Korea dan juga mengejar beberapa dekade ketinggalan keilmuan yang kita miliki. Seandainya teman-teman diberikan kesempatan untuk belajar di luar negeri dan kampus yang bagus, marilah kita berjuang keras untuk bisa maju dan nantinya berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.




===========================================
Vina Sari Yosephine menyelesaikan S1 di Teknik Mesin ITB dan saat ini sedang menyelesaikan program S3 di Korea Advanced Institute of Science and Technology di bidang Industrial and System Engineering. Selain riset mengenai Manufacturing System Engineering, Vina juga sedang menekuni pembaharuan sistem pengajaran terutama untuk pendidikan untuk mahasiswa engineering.
Posts