Persamaan Merdeka dan Maaf

0
48

Minggu ini, saya mengalami dua hari raya. Empat Juli untuk peringatan kemerdekaan Amerika Serikat dan enam Juli untuk Idul Fitri. Tetapi, Amerika bukan negara saya. Islam juga bukan agama saya.

Pada hampir setiap hari raya, terdapat batas yang memisahkan antara kelompok subjek yang merayakan dan yang tidak. Batas itu seringkali ditentukan oleh jenis-jenis identitas yang melekat pada kita, seperti agama, etnis, dan kewarganegaraan. Nyepi adalah untuk yang beragama Hindu, Waisak untuk Buddha, Natal untuk Kristen, Idul Fitri untuk Islam. Empat Juli untuk warga Amerika, 17 Agustus untuk warga Indonesia. Imlek untuk keturunan Tionghoa.

Identitas tidak selalu hasil pilihan bebas seseorang. Kita tidak bisa menolak dilahirkan di negara A dengan etnis B. Sekalipun kita bisa memilih agama X, Y, atau Z, lingkungan sosial tempat kita dilahirkan sedikit banyak mempengaruhi kualitas pengetahuan dan keyakinan kita dalam menetapkan suatu pilihan. Pada sebagian orang, pilihan bahkan memiliki konsekuensi sosial yang berat.

Maka saya merasa heran bin takjub ketika hari raya, yang notabene ditujukan bagi kelompok tertentu, justru menjadi pengalaman kolektif lintas identitas, seperti yang saya alami pada kedua hari raya yang lalu.

Di New York, empat Juli dirayakan dengan gegap gempita. Siang hari, orang-orang pergi ke taman-taman kota untuk barbekyu bersama keluarga dan teman-teman. Sepanjang tepi Hudson River penuh tikar dan panggangan. Tawa, obrolan, dan harum saus panggang merangkak ke mana-mana. Tetapi barbekyu tak peduli batas negara dan etnis. Dari orang kulit hitam hingga Hispanik ikut berpiknik. Malam harinya, 56 ribu set kembang api dalam 22 warna berbeda menghiasi kaki langit Manhattan. Taman-taman sekali lagi penuh orang. Anak-anak kecil digendong. Yang pacaran digandeng. Cahaya-cahaya berdansa di angkasa nyaris setengah jam lamanya. Sesudah kembang api terakhir, bunyi terompet bergaung menandai akhir atraksi. Seisi taman bersorak.

Tapi betapa surealis suasana hari itu jika dipikir-pikir. New York adalah kota imigran. Tiga puluh enam persen penduduk New York lahir di luar Amerika. Jumlahnya tiga juta jiwa, melebihi seluruh jumlah penduduk Chicago, kota Amerika terbesar ketiga. Mereka datang dari negara-negara Latin, Afrika, Eropa, hingga Asia. Tak ada ikatan lahiriah dengan Amerika. Namun apalah arti batas-batas administrasi negara hari itu. Toh, merdeka adalah mimpi semua orang.

Empat Juli tahun ini adalah pengalaman pertama saya merasakan hari peringatan kemerdekaan Amerika. Beda hal dengan Idul Fitri yang sudah saya alami semenjak kecil. Walau tidak merayakan secara rohani, saya selalu ikut senang menyambut Idul Fitri. Biasanya, saya keliling Jakarta atau berkumpul dengan teman-teman sekolah. Hari-hari itu tidak ada macet, tidak ada polusi. Tidak ada Jakarta hari itu.

Meskipun tahun ini tidak di Indonesia, saya tetap merasakan suasana Idul Fitri, terutama karena ponsel saya banjir permintaan maaf. Saya pun ikut mengirim dan membalas maaf, walau sesungguhnya agak sulit memaafkan teman-teman yang mengirim maaf disertai dengan foto hidangan Lebaran. Tentu saja teman-teman saya tahu bahwa saya bukan Muslim. Tapi, toh maaf, sama seperti merdeka, sudah semestinya tidak pilih-pilih identitas.

Barangkali justru di situ letak indahnya hari raya: ketika rutinitas hari raya—produk budaya yang diperuntukkan bagi kelompok identitas tertentu—justru mampu membuka ruang bagi orang-orang di luar lingkar identitas tersebut untuk ikut serta merayakan. Saat itulah sekat-sekat identitas menjadi cair dan kita kembali disadarkan bahwa kita, yang masing-masing mengemban identitas berbeda, adalah sama-sama manusia biasa.

Merdeka dan maaf adalah dua ihwal inklusif yang melintasi batas identitas. Baik merdeka dan maaf akan selalu bersinggungan dengan pihak lain, termasuk ia yang tidak berada pada kotak identitas kita. Kita tidak pernah benar-benar merdeka jika kita tidak memiliki empati atas kemerdekaan orang lain yang tak satu identitas. Begitupun kita tidak akan pernah bisa memaafkan maupun meminta maaf dengan tulus ikhlas jika kita masih menakar maaf yang kita beri atau ungkapkan berdasarkan identitas orang yang bersangkutan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, kita mendengar pengeboman di berbagai kota oleh kelompok yang mengatasnamakan identitas tertentu. Mereka menjadikan hari raya sebagai momentum untuk mengancam orang-orang yang tak satu identitas. Mereka yang menebar kebencian pada liyan, saya kira, adalah mereka yang merasa insecure terhadap identitas mereka sendiri. Mereka yang sulit memahami apa arti merdeka dan maaf.

 

Photo Courtesy: Author’s Collection

SHARE
Previous articleLondon Turned My Artsy Dream into Reality
Next articleBagasimu vs Bawaanmu: Tips Berkemas untuk Pergi ke Luar Negeri
Robin Hartanto
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.