Pengalaman Kuliah di UCL Institute of Education

Pengalaman Kuliah di UCL Institute of Education

Saat saya menerima unconditional offer letter dari University College London (UCL) Institute of Education (IOE), saya menyadari bahwa perjuangan berat baru akan dimulai. Sebelum saya memutuskan untuk melamar kuliah di program MA TESOL Pre-service di UCL IOE, saya sudah memikirkan mata kuliah pilihan apa yang akan saya ambil, termasuk tugas-tugas apa saja yang harus dikerjakan.

Kebetulan di program ini, selama satu tahun saya “hanya” diwajibkan mengambil 5 mata kuliah dan satu final report (master dissertation) untuk mendapatkan gelar MA, relatif lebih sedikit dibandingkan mata kuliah yang harus diambil di beberapa jurusan yang lain. Tiga mata kuliah merupakan mata kuliah wajib, dan dua mata kuliah merupakan mata kuliah pilihan lintas jurusan. Lima mata kuliah dibagi menjadi dua mata kuliah di term 1 (autumn), dua mata kuliah di term 2 (spring), dan satu mata kuliah di term 3 (summer). Sementara untuk mengerjakan report sudah bisa dilakukan sejak akhir term 2. Tiap mata kuliah dan final report memiliki bobot yang sama yaitu 30 credits. Sehingga jika ditotal menjadi 180 credits sebagai syarat mendapatkan gelar MA.

Sekitar satu minggu sebelum perkuliahan dimulai, para mahasiswa baru dikirimkan programme handbook oleh programme administrator. Buku panduan ini berisi berbagai hal mengenai perkuliahan; detail program, siapa saja dosen yang akan mengajar, daftar mata kuliah pilihan, dan yang menurut saya paling penting adalah tugas dan sistem penilaian untuk tiap modul. Mengutip sebagian dari buku panduan:

“Core and optional modules in the MA are assessed by coursework of up to 5000 words. Through a variety of coursework tasks including essays, portfolios (with a variety of tasks) and oral presentations. Your final coursework submission is assessed by the module tutor and a second marker; a sample of coursework is also read by the External Examiner.”

Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Pertama, tulisan akademik paling panjang yang pernah saya buat adalah tugas akhir/skripsi, dan itu pun ditulis dalam Bahasa Indonesia. Terlebih lagi, saya jauh lebih menikmati menulis cerita pendek dibanding menulis tulisan akademik yang menurut saya ‘harus disuruh dulu baru mau menulis’. Kedua, meskipun tugas mata kuliah saya di Sastra Inggris ditulis dalam bahasa Inggris, saya belum pernah menulis akademik sepanjang 5,000 kata dalam bahasa tersebut. Dan ketiga, esai-esai tersebut tidak dikumpulkan di hari term perkuliahan terakhir, namun bisa satu hingga dua bulan sejak term berakhir, di term berikutnya. Ini berarti selama liburan, saya akan banyak berada di flat dan perpustakaan untuk menulis esai. Keempat, nilai esai sepanjang 5,000 kata tersebut akan menjadi 100% komponen penilaian. Memang ada presentasi individu dan kelompok, namun ini tidak dihitung. Begitu juga dengan kehadiran, ada syarat minimal kehadiran sebesar80% dari jumlah pertemuan. Jika kurang dari jumlah minimal, esai tidak akan dinilai. Namun yang unik adalah tidak ada keterangan keaktifan di dalam kelas, yang mana di Indonesia ini merupakan komponen yang penting. Seluruh nilai akan diambil dari kualitas final essay. Dan yang terakhir adalah, esai akan dinilai oleh dua orang. Nah, memuaskan satu dosen saja sudah cukup sulit, bagaimana dengan dua orang dosen? Jadi saya harus bekerja keras di bagian ini.

Untungnya, programme handbook memuat banyak tips menulis. Plagiarisme adalah dosa terbesar dan bad referencing harus dihindari. Style dalam referencing juga harus diperhatikan. Beberapa kawan saya yang kuliah di jurusan lain mengadopsi Harvard Style, sementara UCL IOE memiliki gaya tersendiri dalam mengutip.

Suasana perpustakaan UCL IOE (Photo Courtesy of commons.wikimedia.org)

Suasana perpustakaan UCL IOE (Photo Courtesy of commons.wikimedia.org)

Yang paling awal saya lakukan adalah memahami apa yang diharapkan dari esai yang ditulis para mahasiswa program MA. Pertama adalah pemahaman atas bidang ilmu yang dipelajari dan ditelaah secara kritis. Deskripsi yang panjang bukanlah yang diharapkan, namun bagaimana penulis mampu berargumen dan menganalisa. Kedua adalah pemahaman dan evaluasi atas isu penelitian yang diangkat, serta metodologi yang digunakan. Bagian ini harus menjawab bagaimana metodologi diaplikasikan untuk memecahkan penelitian yang sedang dilakukan. Bagian ketiga adalah struktur penulisan dan bagaimana penulis mempresentasikan penelitiannya agar mudah dibaca. Apakah terfokus? Apakah tidak bias?

Yang saya lakukan kemudian adalah mendaftar kelas academic writing yang disediakan secara gratis oleh kampus. Hampir tiap minggu kelas academic writing ini diadakan selama term time. Tema yang dibahas pun beragam, mulai dari bagaimana memulai untuk menulis hingga proofreading. Kelas yang dipilih pun bisa bebas, sesuai kebutuhan. Yang paling menguntungkan jelas ketika saya bisa berkonsultasi di kelas tersebut. Kebetulan pula, UCL IOE menerbitkan buku academic writing sendiri yang bisa digunakan sebagai panduan dalam menulis dan buku ini bisa dibeli di toko buku kampus. Phrase bank dari berbagai universitas seperti di universitas Manchester juga sangat membantu untuk menambah perbendaharaan kata sehingga tulisan menjadi lebih jelas untuk dibaca, sesuai dengan kaidah penulisan akademik yang berlaku di UK.

Saya merasa beruntung karena jurusan saya memperbolehkan untuk mengumpulkan draft essay formative sepanjang 2,500-5,000 kata terlebih dahulu. Feedback dari module tutor sangat dibutuhkan, dan tiap mahasiswa dialokasikan waktu selama setengah jam untuk berdiskusi mengenai apa yang perlu diperbaiki, ditambah, dikurangi, dan diganti. Saran saya, ikuti apa saran tutor, karena dia yang akan bertindak sebagai first marker atau penilai pertama. Yang tidak kalah penting adalah mengalokasikan waktu menulis. Saya kapok karena sempat berleha-leha menjelang deadline dan panik sekian jam sebelum pengumpulan essay.

Proofreading juga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Untuk proofreading, bisa meminta tolong teman, atau metode yang lebih saya sukai adalah menggunakan salah satu aplikasi proofreading berbayar. Meskipun aplikasi ini masih memiliki beberapa kekurangan seperti salah mendeteksi kesalahan gramatikal, beberapa saran yang diberikan aplikasi ini cukup berguna. Lalu,yang paling penting adalah melakukan proofreading secara tradisional. Saya menge-print seluruh esai saya dan mencoret-coret kesalahan ketik dan tata bahasa yang saya buat dengan tinta merah.

Saya pun mengumpulkan esai dengan perasaan campur aduk. “Tidak ada tulisan yang pernah selesai”, begitu yang pernah saya baca. Selalu ada yang bisa ditambah, dikurangi, dan diganti. Terlepas dari hasil yang saya dapatkan (dan saya bersyukur melebihi ekspektasi saya), saya percaya bahwa menulis dalam bentuk apapun terasa menyenangkan jika telah selesai ditulis. Apalagi feedback final draft dari dosen saya sangat membangun dan mereka terbuka untuk diskusi lebih jauh dan menjelaskanmengapa saya bisa mendapat nilai tersebut. Inilah yang mungkin akan saya aplikasikan jika kembali mengajar di Indonesia. Proses jatuh bangun saat menulis, bingung mau menulis apa, bagaimana menggenapkan 5,000 kata, stres malam-malam dan berjalan ke dapur mencari cemilan adalah waktu-waktu yang akan sangat saya rindukan jika perkuliahan ini sudah selesai. Mungkin, saya sudah menemukan cinta yang baru.

 

Photo courtesy of Wikipedia




===========================================
Lidya Pawestri Ayuningtyas graduated from Publishing Studies, State Polytechnic of Jakarta in 2011 and English Literature, University of Indonesia in 2015. She also graduated from MA TESOL Pre-service, UCL Institute of Education in 2016 with a Distinction as a sponsored student from Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). In Indonesia, she is working as a lecturer at State Polytechnic of Jakarta, editor, translator, and has published her short stories in various short story anthologies.
Posts