Membawa Anak Ikut Studi: Catatan Penting untuk Student-Mom

Membawa anak saat studi di luar negeri bukanlah suatu halangan. Namun, semuanya harus dipertimbangkan dengan matang sebelum membawanya ikut serta. Apa saja yang harus dipikirkan?

Jenjang studi

Jika membawa anak saat studi program Master, mungkin lebih berat tantangannya sebab master-student-mom diwajibkan untuk datang kuliah, belum lagi tugas yang segunung dengan deadline yang ketat. Ada student-mom yang lebih nyaman meninggalkan anak sementara di Indonesia, untuk kelancaran studi dan menitipkan pada kakek-neneknya. Ada juga student-mom yang memilih untuk mengambil tantangan memboyong anak turut serta.

Tetapi, jika memang sudah niat tidak mau meninggalkan anak di Indonesia, semuanya bisa dilalui dan tentu ada jalannya.. Misalnya, jika suami juga kuliah, bisa dengan bergantian menjaga anak (jika anak belum usia sekolah) saat tidak harus datang ke kelas. Contoh lainnya adalah mengundang anggota keluarga untuk mengurus anak (nenek, bude atau tantenya) dengan visa turis, atau jika keduanya sangat sibuk kuliah, bisa dengan menitipkan ke sahabat atau ibu-ibu lokal kepercayaan keluarga.

Untuk jenjang studi PhD, jika dibandingkan dengan Master, sepertinya workload lebih mengendur (kecuali saat menjelang conference/ujian). Di beberapa negara, mahasiswa PhD bekerja layaknya peneliti untuk kampus, sehingga jam kerja juga mengikuti peraturan jam 9-17. Meskipun pada beberapa mahasiswa PhD yang bekerja di laboratorium harus bekerja ekstra di luar jam kerja biasa. Namun setidaknya, tidak ada kuliah – kuliah,tugas serta ujian-ujian wajib yang terus memburu di sepanjang perkuliahan Master. Jadi, membawa anak lebih memungkinkan saat studi PhD (juga karena durasi studi yang lama, terlalu lama jika ditinggal di Indonesia).

Biaya

Saat sudah yakin dengan pilihan membawa anak ikut studi, biaya adalah hal pertama yang harus dipikirkan dan dipenuhi. Setiap negara memiliki standar minimal biaya hidup per tanggungan yang harus dipenuhi saat imigrasi. Jika memilih untuk menitipkan anak di nursery, student-mom juga perlu survey mengenai biaya nursery di negara yang dituju. Di Jepang atau Jerman, mungkin biaya nursery lebih murah dibandingkan di Belanda atau Inggris, misalnya. Untuk di London sendiri, biaya nursery untuk anak dibawah 3 tahun cukup menyedot pemasukan, disamping biaya sewa tempat tinggal yang juga tinggi. Contoh untuk di pusat London (Kensington), full-time nursery (5 hari dari pagi sampai sore, 9-17) sekitar 1,000 – 1,400 GBP per bulan. Namun, cek juga di nursery yang disediakan oleh universitas karena harganya bisa lebih murah (karena dapat potongan khusus mahasiswa). Saat anak berumur 3 tahun, student-mom bisa mendaftar untuk nursery umum di dekat rumah yang menawarkan pre-school gratis 15 jam/minggu. Sedangkan anak usia 4 tahun sudah gratis full-time setiap hari untuk masuk Reception, yang terintegrasi dengan Primary School.

Tipe – tipe childcare dan sekolah

Kebanyakan penitipan anak berupa day nursery. Nursery biasanya menerima bayi mulai usia 6 bulan, bisa dipiliih part-time (morning/afternoon session, 5-day or 3-days/week). Usahakan yang terdaftar Ofsted (dewan penilaian sekolah anak di UK) dengan reputasi baik dan dekat dengan rumah atau universitas. Tapi selain nursery, ada juga tipe penitipan lain, yaitu:

  • Nanny/ childcare: seperti baby-sitter yang datang ke rumah untuk mengurus anak
  • Childminder: orang yang terdaftar secara profesional untuk mengurus anak – anak. Biasanya, di rumah childminder bisa dititipi sampai 6 anak, mulai dari usia lahir.
  • Drop-in session : dalam 3 jam/hari, anak bisa gratis beraktivitas di children center tapi harus ditunggui oleh orang tua/ nanny nya. Drop-in session ini cocok bagi pasangan mahasiswa yang ingin membawa anaknya untuk bersosialiasi serta bermain/belajar (daripada bosan di rumah terus).

Untuk anak yang sudah memasuki usia sekolah, kalender akademik dimulai pada bulan September tiap tahunnya. Perlu diingat bahwa untuk di London, pendaftaran sekolah semua dilakukan secara online di website wilayah tempat tinggal kita (borough) dan biasanya dimulai setahun sebelum sekolah dimulai. Untuk pemilihan sekolahnya sendiri,  jika ingin mendaftar ke sekolah publik (gratis), mereka yang akan menentukan dimana anak kita sekolah berdasarkan jarak dari tempat tinggal (diutamakan yang paling dekat). Tipe sekolah juga harus dicermati, sebab ada sekolah yang berbasis agama (agama/ aliran/ gereja tertentu), jadi jangan sampai salah pilih. Jika ingin memasukkan anak ke sekolah berbasis agama seperti Islamic school, selain yang dimiliki publik (gratis), ada juga yang dimiliki oleh swasta dan harus merogoh kocek lebih dalam.

Waiting list

Untuk kota yang padat penduduk, seperti London, waiting list untuk nursery di pusat kota bisa sangat lama (12-14 bulan). Biasanya begitu tahu positif hamil, student-mom harus buru-buru mendaftarkan nama (calon) anaknya ke nursery terdekat (kampus atau rumah). Nursery untuk bayi butuh waktu lebih lama dibandingkan anak usia 2 tahun ke atas, sebab pilihan nursery lebih sedikit dan satu pengasuh hanya bisa mengurus maksimum 3 bayi. Jadi, begitu dapat LoA dan beasiswa, saat di Indonesia langsung saja daftar ke nursery (milik universitas) yang dituju agar saat mulai studi kita bisa tenang anak sudah dapat tempat di penitipan.

Jadwal nursery dan sekolah

Student-mom juga perlu memperhatikan jadwal nursery. Untuk full-time, biasanya ada yang menawarkan dari jam 8-18, ada juga dari jam 9-17, atau 9-15. Lalu, sesuaikan juga dengan jadwal kuliah (bagi yang master), karena ada nursery yang juga menawarkan sesi pagi (9-12) atau sore (13-16) pada hari – hari tertentu. Untuk childminder, biasanya jadwla bisa lebih fleksibel. Jika anak sudah sekolah, umumnya sekolah dimulai jam 9 sampai sekitar jam 3 sore. Kalau ingin di sekolah lebih pagi, bisa ikut breakfast club (misal dari jam 8). Kalau ingin agar anak lebih lama di sekolah, bisa daftarkan anak di after-school club, yaitu sejenis ekstrakurikuler (sampai jam 5-6 sore) di sekolah. Jenisnya macam – macam (tergantung sekolah), ada musik, olahraga, atau kreativitas, yang biaya per bulannya juga bervariasi.

 

Pada dasarnya, membawa anak ikut studi di sekolah atau penitipan, memiliki poin plus dan minus tersendiri. Apa saja poin plusnya? Jika di Indonesia, para orang tua sibuk mencari sekolah internasional yang memakai bahasa Inggris, disini sehari – hari anak secara naluriah menggunakan bahasa Inggris. Untuk student-mom yang studi di negara non-English-speaking, anak juga tumbuh sebagai anak bilingual; selain Indonesia (jika orangtua masih bercakap-cakap dengan bahasa di rumah) ia bisa fasih bahasa lain. Di tempat penitipan, anak dilatih (dan terpaksa) untuk mandiri. Misal, anak 2-3 tahun dilatih untuk memakai pakaian sendiri, makan sendiri, ke toilet sendiri, gosok gigi sendiri, sampai merapikan mainan sendiri. Tentu kemandirian anak bisa mengurangi beban student-mom selama studi.

Selain itu, anak juga bisa bersosialisasi dengan teman – teman internasional. Semenjak kecil, anak bisa mengenal macam – macam bangsa, budaya, serta menerima perbedaan tersebut. Namun, membawa dan menitipkan anak saat student-mom belajar di luar negeri juga ada sisi minusnya. Kadang merasa ‘sepi’ karena terpisah dari keluarga besar. Ada kalanya anak yang masih kecil rindu akan nenek, kakek, om atau tantenya, dan orang tua harus bersabar menunggu sampai ada kesempatan ke Indonesia.

Bagi yang memilih untuk mengasuh anak sendiri (tidak dititipkan) saat studi, mungkin juga harus ‘kehilangan’ waktu-waktu khas mahasiswa, seperti hang-out/study group/ seminar/ talks/ networking saat malam hari, bahkan kekurangan waktu belajar akibat sibuk mengurus bayi.  Bagi yang menitipkan atau anaknya sekolah, perbedaan budaya bisa jadi persoalan. Terkadang, ada budaya atau nilai yang tidak sejalan, misal perayaan hari keagamaan tertentu atau makan tidak selalu tangan kanan, dsb. Tapi semua bisa dikomunikasikan, sebab seyogyanya hak serta suara anak harus selalu didengar dan dihargai.




===========================================
Vanya Valindria is a Phd student at Imperial College London, majoring Computing research (visual information processing - BiomediA group). She received her Master Degree from Erasmus+ program; VIBOT (Computer Vision and Robotics) and Bachelor Degree from Institut Teknologi Bandung (ITB) majoring Electrical (Biomedical) Engineering. Besides an academic (computer science lecturer), she is also a musician, an amateur writer/journalist, and an initiator of RDV Tech.
Posts | Website | Facebook | Twitter | LinkedIn