Menimbang Kota dalam Memilih Universitas

Menimbang Kota dalam Memilih Universitas

Pada suatu percakapan dengan seorang teman, kami berbincang soal tupai. Ia membandingkan tupai yang saya potret di jalanan New York dengan tupai-tupai Ann Arbor, Michigan, tempatnya berkuliah. “Tupai-tupai di New York kurus-kurus karena stres tinggal di kota besar,” candanya, ”beda dengan tupai-tupai Ann Arbor yang gemuk-gemuk.”

Sialnya, ia benar. Saya tak bisa membela martabat tupai-tupai di New York, kota tempat kampus saya berada. Mereka memang tampak kalah gizi dibandingkan tupai-tupai Ann Arbor. Tapi saya berpikir, jika kota bisa demikian berpengaruh pada berat badan tupai, maka semestinya begitu juga pada manusia. Saya lantas balik bergurau, “Jadi berapa berat badanmu sekarang setelah lama tinggal di Ann Arbor?”

Di luar masalah pertupaian yang sesungguhnya tak penting dibicarakan itu, saya mengimani lokasi, bersama dengan jurusan studi dan kualitas dosen, sebagai tiga hal paling krusial dalam memilih universitas. Ini bukan hanya perkara berat badan. Saat kuliah, setiap mahasiswa akan menghabiskan sekian tahun untuk tinggal di kota yang mungkin jauh dari kota tempatnya tinggal semula. Mau tak mau, ia harus berurusan dengan lingkungan yang baru di sana setiap hari, mulai dari urusan perut, hati, hingga kepala. Maka kota, demikian halnya kampus, akan mempengaruhi dirinya luar dalam. Salah-salah memilih kota, maka ia akan gundah gulana setiap harinya. Sebaliknya, kota yang tepat tak hanya akan membuat hati dan pikirannya tenang, tetapi juga akan mendukung pertumbuhan akademiknya.

Banyak riset yang menjelaskan bagaimana kota berpengaruh baik pada kondisi biologis maupun psikologis seseorang. Sebuah riset kolaborasi peneliti di Central Institute of Mental Health (University of Heidelberg) dan Douglas Mental Health University Institute (McGill University), misalnya, berkata bahwa orang yang lama tinggal di kota memiliki aktivitas otak yang berbeda, antara lain pada perigenual anterior cingulate cortex, area pada otak yang meregulasi kondisi stres dan cemas. Dalam buku Who’s Your City? How the Creative Economy Is Making Where You Live the Most Important Decision of Your Life, Richard Florida lebih jauh lagi menyimpulkan bahwa tiap kota memiliki tipe personalitasnya masing-masing. New York, katanya, adalah kota orang-orang neurotik, tempat individu-individu yang dinamis dan sensitif, tetapi rentan terhadap turbulensi emosi. Sementara orang-orang kota Boston dan Washington, sebutnya, cenderung terbuka, memiliki rasa ingin tahu dan kreativitas yang tinggi, tetapi kurang fokus dan sulit diprediksi.

personality map

Personality Map di Amerika Serikat (Sumber: www.WhosYourCity.com)

Secara sederhana, kita bisa menyimpulkan tiga macam tipe kampus berdasarkan kedekatannya dengan kota besar. Kampus urban berada di tengah kota besar, terekspos dengan berbagai dinamika yang terjadi di pusat kota. Kampus suburban berada di pinggir kota besar, tidak bersinggungan langsung dengan pusat kota tetapi masih memiliki akses terhadapnya. Sementara kampus rural berada di kota kecil yang populasinya didominasi oleh warga kampus tersebut.

Tidak ada kategori yang mutlak lebih baik dibanding yang lain. Tiap orang memiliki lingkungan belajar terbaiknya masing-masing. Ada orang-orang monokronik, yang memerlukan tempat yang tak banyak distraksi untuk dapat berkonsentrasi. Mereka cenderung cocok dengan kekaleman lingkungan kampus rural. Di sisi lain, ada orang-orang polikronik, yang cenderung butuh selingan berbagai hal lain untuk bisa berkreasi. Mereka membutuhkan intensitas kota besar untuk dapat belajar dengan produktif, sehingga kampus urban adalah pilihan tepat. Sementara, bagi orang-orang yang menginginkan jalan tengah, yang membutuhkan lingkungan belajar yang terisolasi tetapi juga membutuhkan hiruk-pikuk kota untuk inspirasi maupun pelarian sesekali, kampus suburban adalah pilihan terbaik.

Central Park

Central Park, salah satu tempat favorit saya di New York untuk relaksasi ketika jenuh. (Foto: Robin Hartanto)

Dalam hal memilih kota, ada lagi hal yang esensial selain soal kecocokan karakter. Kota adalah sumber daya yang akan menentukan mau dibawa ke mana skripsi, tesis, atau disertasi kita, apalagi jika kita mengambil bidang humaniora. Akses terhadap studi kasus atau sumber-sumber primer mutlak diperlukan untuk membuat riset yang berkualitas. Tak ada gunanya, kata Umberto Eco dalam bukunya How to Write a Thesis, jika kita mempelajari perfilman di suatu universitas di Italia lalu membuat tesis mengenai sutradara tertentu, jika ternyata arsip karya-karya sutradara itu berada di Library of Congress, Washington. Sama halnya jika kita belajar antropologi di Harvard University lalu membuat penelitian akhir tentang orang Bali, tetapi kita tidak berniat mengunjungi Indonesia sebelum lulus. Kecuali jika kita memiliki kemewahan finansial untuk melancong kesana-sini, maka pemilihan kota sebaiknya menimbang kemungkinan tugas akhir yang ingin kita geluti nantinya.

Salah satu sebab saya memilih untuk belajar di New York adalah karena kota ini memiliki banyak museum, galeri, dan arsip yang berkualitas. Keberadaan ruang-ruang semacam itu amat membantu saya menekuni bidang kuratorial. Beberapa penelitian yang saya kerjakan malah mengandalkan koleksi mereka. Pada tugas semester pertama saya, misalnya, saya mengkaji pameran arsitektur International Style pertama. Pameran itu rupanya diadakan di Museum of Modern Art pada 1932. Arsipnya masih tersimpan rapi di museum tersebut, sehingga saya kerap datang ke sana untuk melihat langsung data-data primernya. Di kesempatan lain, saya meneliti tentang Paviliun Indonesia di New York World’s Fair 1964-65, yang dirancang oleh R. M. Soedarsono, arsitek Monumen Nasional, dan dengan keterlibatan Presiden Sukarno dalam proses perancangan arsitektur hingga penentuan isi pamerannya. Arsip-arsipnya terdapat di New York Public Library. Di kala senggang, saya mengunjungi museum dan galeri untuk membuka wawasan sekaligus mengamati cara-cara mereka menyajikan benda pamer. Tak ayal, dari kota saya belajar tak kalah banyak dengan dari kampus.

Singkat cerita, timbanglah masak-masak kota tempat kampus berada sebelum menetapkan pilihan universitas. Kota yang tepat, selain akan membuat kita nyaman dalam belajar, juga akan mendukung kita dalam mempelajari bidang yang kita tekuni. Lokasi menentukan prestasi, demikian kata pepatah.

Guggenheim Museum

Guggenheim Museum, New York. (Foto: Robin Hartanto)

Photo Courtesy: Author’s Collection, www.WhosYourCity.com.




===========================================
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.
Posts | Facebook | Twitter