Kuliah di Taiwan dengan Beasiswa Pemerintah Aceh

Kuliah di Taiwan dengan Beasiswa Pemerintah Aceh

Bencana Tsunami yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004 silam tidak hanya mengakibatkan kerugian harta benda, tetapi juga kerugian akan kehilangan ratusan ribu korban jiwa, termasuk sumber daya manusia terbaik yang dimiliki Aceh.  Berbagai program dijalankan untuk memperbaiki kondisi tersebut, salah satunya adalah dengan pemberian beasiswa penuh dari Pemerintah Aceh melalui Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh bagi putra-putri Aceh. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti seleksi beasiswa ini pada tahun 2011, di mana saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Institute of International Management, National Cheng Kung University, Taiwan  tahun 2012-2014. Mungkin saja saat ini terjadi perubahan pada tahapan program beasiswa ini.

Setiap tahunnya, Pemerintah Aceh melalui LPSDM membuka kesempatan untuk melanjutkan studi dengan berbagai bidang keilmuan ke berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Taiwan, Thailand, Jepang, Turki, Malaysia, Belanda, dan beberapa negara lain. Menurut saya, mendapatkan beasiswa ini tidaklah sesulit yang diperkirakan. Tetapi tentu saja, kita harus memenuhi kualifikasi dan lolos dalam beberapa tahapan seleksi yang telah ditentukan. Berikut ini akan saya bagi informasi pengalaman saya menjalani tahapan seleksi dalam program beasiswa ini:

1.    Tahap Seleksi Administratif

Setelah mendapatkan informasi mengenai program beasiswa dari halaman http://lpsdm.acehprov.go.id, pada tahap ini pemohon diwajibkan untuk mengupload dokumen persyaratan. Sebagai syarat utama, pemohon beasiswa haruslah orang Aceh yang dibuktikan dengan fotokopi KTP atau Kartu Keluarga (KK). Syarat lainnya adalah usia maksimal 35 tahun untuk program S2 dan 40 tahun untuk program doktoral (S3) dan melengkapi dokumen pendidikan seperti ijazah dan transkrip, yang saya rasa sama seperti program beasiswa lain. Untuk nilai TOEFL, berdasarkan pengalaman saya, Pemerintah Aceh mensyaratkan minimal skor ITP 500 untuk keluar negeri. Tetapi, skor awal ini akan berpengaruh dalam penempatan penerima beasiswa. Dengan kata lain, jika negara tujuan kita Amerika Serikat (misalnya) maka skor TOEFL yang disyaratkan minimal 550.

Yang menurut saya cukup unik dari beasiswa ini adalah tidak adanya ikatan dinas untuk mengabdi di Aceh. Memang, ketika lulus kita harus melapor dulu ke LPSDM (pulang ke Aceh) dengan menyertakan salinan ijazah, transkrip nilai, dan thesis kita. Tetapi setelah itu, kita dibebaskan kembali ke tempat masing-masing, contohnya saja saya kembali mengajar dan teman-teman PNS kembali bekerja. Saya sempat bertanya kepada lembaga tentang ikatan dinas/pengabdian ini, dan dijawab bahwa tujuan utama Pemerintah Aceh saat ini adalah untuk mencerdaskan putra-putri Aceh, kalaupun akhirnya mereka bekerja di luar Aceh tetapi kemampuan mereka tetap membawa nama Aceh.

2.    Tahap Wawancara

Setelah lulus dari tahap seleksi administrasi, pemohon akan memasuki tahap wawancara. Pemohon akan diwawancarai oleh pihak akademisi, LPSDM, atau professor dari universitas negara yang dituju. Pengalaman saya, waktu itu saya di wawancarai oleh dua orang di ruangan terpisah. Pada wawancara pertama saya bertemu dengan seorang professor salah satu universitas di Taiwan. Pertanyaannya seputar mengapa memilih Taiwan untuk belajar, mengapa mau sekolah lagi, apa yang diharapkan, dan pertanyaan lain seputar bidang ilmu yang kita pilih. Pewawancara kedua adalah seorang akademisi Aceh dengan pertanyaannya lebih pada kebulatan niat dan tekad kita melanjutkan sekolah. Saya ingat salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya waktu itu adalah, “Bagaimana kamu mengatasi komentar tetangga yang mengganggap kamu lebih memilih pendidikan dibandingkan keluarga?”

3.    Tahap Persiapan Bahasa

Pada tahap ketiga, pemohon diberikan pelatihan (persiapan) bahasa Inggris dan bahasa sesuai dengan negara tujuan selama lebih kurang sepuluh minggu. Pada saat bersamaan, kami diberikan waktu untuk mendapatkan LoA universitas yang dituju. Kelulusan pada tahap ini akan ditentukan dari adanya LoA dan kehadiran peserta. Pada kelas bahasa Inggris, proporsi terbesar adalah pelatihan untuk menulis esai dengan baik yang saya rasakan sungguh bermanfaat saat menempuh pendidikan di luar negeri. Karena negara tujuan saya adalah Taiwan, maka saya mengikuti kelas bahasa Mandarin. Memang hasilnya tidak 100% bisa berbicara dengan fasih, tapi pelatihan ini sangat berguna untuk percakapan sehari-hari ketika di sana.

4.    Tahap (Persiapan) Keberangkatan

Setelah mendapatkan LoA dan mengikuti pelatihan bahasa, kami pun mendapatkan jadwal keberangkatan sesuai dengan mulainya perkuliahan di universitas negara tujuan. Sebelum itu, kami mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan arahan mengenai kehidupan muslim di negara tujuan. Kami akan menjalani hal yang pasti berbeda dengan kondisi di Aceh, sehingga dirasa perlu untuk kami mengetahui dengan jelas jawaban dari setiap pertanyaan dan keraguan kami (khususnya sebagai muslim) sebelum pergi melanjutkan studi.

Beasiswa Pemerintah Aceh menanggung hampir seluruh komponen biaya, termasuk tiket pulang pergi, uang ketibaan, biaya kuliah, biaya hidup, uang buku, asuransi, serta uang saku setiap bulannya. Keluarga, adalah kompoen yang tidak ditanggung bila ikut ke negara tujuan. Tetapi berdasarkan pengamatan saya, beasiswa yang diberikan Pemerintah Aceh sangatlah cukup. Teman-teman dari Aceh yang membawa serta keluarga masih dapat menabung dan hidup dengan layak.

Pengalaman saya pribadi mengapa memilih Taiwan, sebenarnya lebih kepada alasan pribadi dan kesempatan. Alasan utama karena saya punya keluarga dan kondisi suami yang memilih untuk tetap tinggal di Banda Aceh. Otomatis jarak dan ongkos (tiket pesawat) dari Taiwan tidak terlalu jauh dan mahal dari Taiwan ke Banda Aceh, jadi lebih memudahkan.  Memang awalnya saya “buta” dengan informasi Taiwan, tapi setelah browsing mengenai pendidikan di sana, ternyata banyak sekali universitas bereputasi sangat baik (kelas dunia) berada di Taiwan. Jadi, saya lebih mantap memilih Taiwan untuk melanjutkan studi.

Dari sudut pandang saya (dan sepertinya penerima beasiswa Aceh ke Taiwan, pada umumnya), tantangan terberat adalah menyesuaikan diri sebagai muslim di sana. Hal yang paling mendasar, yaitu makanan, sangat sulit saya sesuaikan pada waktu itu. Saya sempat menjadi vegetarian dan kehilangan 4 kg berat badan ketika awal-awal kuliah. Untungnya, beberapa kawan muslim (yang tinggal bersama keluarganya) membuka usaha katering halal kecil-kecilan, walaupun masih cukup sulit mendapatkan ayam dan daging (karena harus ada stok halal dari masjid di Taiwan). Pengalaman unik lainnya adalah pernah suatu kali jilbab yang saya gunakan ingin dibeli oleh seorang ibu di Taiwan. Mungkin mereka menganggap itu syal dengan mode terbaru. Setelah dijelaskan barulah mereka mengerti bahwa jilbab yang saya pakai tidak untuk dijual.

Walaupun beasiswa ini dikhususkan untuk putra-putri Aceh, kenyataannya masih banyak generasi muda Aceh yang belum tahu akan hal ini, sehingga dibutuhkan pendekatan dan usaha lebih dari pihak pemerintah Aceh dan kami sebagai alumni untuk memperkenalkan program ini sampai ke pelosok Aceh. Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan dapat memotivasi anak muda Aceh lain untuk mewujudkan mimpinya belajar di luar negeri.

 




===========================================
Amelia (Amel), saat ini aktif sebagai dosen di Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Aceh. Memperoleh gelar M.B.A tahun 2014 dari Institute of International Management, National Cheng Kung University Taiwan dengan beasiswa dari Pemerintah Aceh. Bidang penelitiannya adalah sosial media dan perilaku konsumen. Menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi (S.E) pada program ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2008. Memiliki hobi mendengarkan musik dan jalan2 (walau sekedar cari angin).
Posts