Bersekolah di Dua Negara

Bersekolah di Dua Negara

Apa rasanya sekolah di dua negara yang berbeda?

Saya akan menggambarkan dua pengalaman berbeda tersebut melalui artikel ini. Pertama kalinya adalah di saat saya menempuh pendidikan Diploma of Visual Communication di Raffles Design Institute, Singapura. Sekolah ini merupakan sebuah college, yaitu sekolah yang jumlah murid dan luas gedungnya lebih kecil dibandingkan universitas. Di Singapura sangat banyak perguruan tinggi yang memakai sistem college ini, di mana banyak yang berkerja sama dengan universitas lain di luar negeri (double degree) ataupun cukup dengan degree dari college tersebut saja. Murid yang terdapat di dalam satu kelas tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 – 25 orang. Kebanyakan murid berasal dari negara-negara di Asia seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, Cina, Jepang, Korea dan Singapura sendiri. Kapasitas kelas ini membuat dosen menjadi lebih fokus pada perkembangan setiap muridnya.

Kuliah di Singapura

Raffles Design Institute merupakan sekolah desain yang cukup terkenal di Singapura dan juga Australia, karena mereka juga memiliki cabang di Australia dan beberapa negara lainnya. Metode pembelajaran di Raffles sendiri lebih terpaku kepada practical project dan group work. Karena saya mengambil jurusan Visual Communication, maka projeknya lebih banyak seperti membuat konsep dan desain iklan, membuat desain publikasi seperti majalah atau buku dan juga meliputi tugas research yang kebanyakkan di lakukan secara group work. Karena Singapura merupakan negara jajahan Inggris, nuansa akademis yang terpengaruh dari cara belajar di Inggris cukup tertanam di sini, yaitu pada tugas research yang cukup mendetail walau saya ada di jurusan Visual Communication yang cukup jarang harus berada di library. Modul pelajaran ini cukup membuat teman-teman saya ‘kaget’ karena tidak biasanya anak design diharuskan membuat makalah. Di Singapura pembelajarannya lebih fokus di sisi practicalnya, dan pengalaman ini membuat teknik dan pehaman saya mengenai segala aspek dari jurusan yang saya pelajari menjadi lebih mendalam (ilmu yang diajarkan meliputi advertising, publication design, photography, portfolio making).

Kendala yang saya lalui di Singapura lebih banyak terdapat di saat saya harus mengerjakan group project, karena banyak dari murid di Singapura yang kurang menguasai Bahasa Inggris. Saya cukup salut dengan murid-murid yang berani mengambil resiko kuliah di negara berbahasa Inggris walaupun kemampuan berbahasa mereka yang terbatas. Terkadang mereka keluar dari instruksi yang diberikan dosen karena tidak paham mengenai tugas yang diberikan, saya pun harus turut membantu mereka dalam mengerjakan tugas yang benar. Pernah saya menjadi orang Indonesia sendiri di antara teman-teman grup yang berasal dari Vietnam. Hanya satu dari mereka yang lancar berbahasa Inggris! Namun hal ini membuat pertemanan kami lebih solid karena kami banyak menghabiskan waktu bersama.

Transfer ke Inggris

Lain halnya di Singapura, lain pula di Inggris. Kebanyakkan perguruan tinggi di Inggris berbentuk university yang standard akademisnya sudah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah Inggris. Karena merasa membutuhkan lebih banyak theory and business side dari perkuliahan, saya memutuskan untuk mentransfer kuliah saya dari Singapura ke Inggris pada tahun terakhir. Banyak yang bertanya bagaimana saya bisa pindah kuliah dan hanya menghabiskan waktu setahun untuk kuliah di Inggris untuk lulus S1. Kemudahan ini saya dapatkan karena saya pernah kuliah di Singapura dan juga pernah mengambil diploma di Lasalle College, Indonesia (dengan license dari Kanada) yang keduanya berbahasa Inggris. Kredit pelajaran yang saya miliki ternyata mampu menembus universitas di Inggris yang terkenal cukup selektif dalam menerima mahasiswa, terlebih mahasiswa transfer seperti saya. Saya akui saya cukup beruntung, karena sudah lebih dari lima sekolah yang saya coba dan hanya Leeds Beckett University yang memberikan penawaran paling baik, yaitu di Level 6 yang merupakan tahun terakhir dari masa perkuliahan di Inggris. Kebanyakkan memberikan saya tempat di Level 5, dimana saya membutuhkan dua tahun lagi untuk lulus.

Pada awalnya saya tidak mempunyai rencana pasti akan memilih negara yang mana. Namun setelah melihat dari segi pertimbangan biaya dan waktu lulus saya memutuskan untuk mengambil penawaran dari Leeds Beckett University, mengambil jurusan Creative Media Technology. Awalnya saya cukup nervous karena ketakutan saya bahwa saya akan tertinggal dengan teman-teman di final year yang sudah dari awal kuliah di Inggris. Apalagi saya mendengar dari seorang teman bahwa aksen Inggris di Leeds cukup susah. Tapi ketakutan saya itu tidak terbukti.

Proses transfer kredit mata kuliah saya dari Singapura ke Inggris cukup mudah. Kita hanya harus memberikan transkrip terakhir kita yang akan dinilai oleh pihak universitas di sana. Proses aplikasinya pun sama dengan mahasiswa/mahasiswi baru, yaitu melalui online system yang bernama UCAS. Namun karena saya menemui pihak universitas Leeds Beckett University melalui sebuah pameran pendidikan, prosesnya tergolong mudah dan praktis karena saya dibantu oleh agen pendidikan yang sangat mengerti akan kebutuhan saya yang sangat penting ini (di karenakan perkuliahan akan mulai di bulan September, sedangkan saya baru apply di bulan Maret – April). Sistem penilaian antara kampus saya di Singapura dan Inggris cukup berbeda, namun untuk apply ke jurusan kreatif saya diharuskan memberikan design portfolio untuk mendukung transkrip nilai yang telah saya berikan. Saya juga harus menyertakan lembaran yang berisikan deskripsi mengenai tiap mata kuliah yang saya ambil, di mana pihak di kampus Singapura sudah menyediakan lembaran ini dari awal saya masuk kuliah. Jika teman-teman belum memiliki lembaran ini, teman-teman bisa memintanya pada pihak administration di kampus teman-teman untuk memprosesnya. Bermodalkan transkrip nilai, penjelasan mata kuliah dan design portfolio, akhirnya saya mendapatkan offer letter dari Leeds Beckett University untuk masuk ke L6 (final year).

Kuliah di Leeds, Inggris

Final year di Leeds melatih saya untuk mengerti setiap tahapan mengerjakan project baik dari eksekusi konsep hingga berkomunikasi dengan client. Kelas saya di Leeds Beckett University terdiri dari kelas practical, seminar dan lecture. Pada kelas seminar dan lecture muridnya bisa mencapai 60 orang, namun di kelas practical muridnya di batasi hanya 15-20 orang per kelas yang menurut saya sangat bagus. Di kelas practical kita akan membutuhkan komunikasi yang lebih intens dengan dosen, saya sangat merasakan manfaat dari pembatasan jumlah murid ini. Apalagi wajah Asia saya cukup membuat para dosen lebih perhatian karena takut saya tidak mengerti (don’t you worry Sir!), dosen-dosen di Inggris ternyata sangat peduli dengan perkembangan individu tiap muridnya. Terlebih lagi di kampus saya orang Asianya sangat sedikit, kebanyakan muridnya berkewarganegaraan Inggris dan dari negara-negara Eropa lainnya.

Di semester pertama saya sudah harus mengumpulkan thesis yang merupakan syarat untuk lulus dengan gelar Bachelor of Science with Honours. Bagusnya, di semester kedua project-nya lebih terdiri dari aspek practical yang sudah saya pelajari sebelumnya. Tantangannya pun tidak lantas mudah, di semester kedua saya harus membuat motion graphic video, professional photography project serta website project yang paling sulit karena kita diwajibkan untuk mengembangkan ilmu coding sendiri untuk membuat struktur dari website yang kita tersebut. Karena pernah berkuliah di dua tempat sebelumnya, variasi ilmu yang saya miliki cukup beragam dan sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas-tugas di final year itu. Di Inggris mahasiswa dituntut untuk menjadi lebih mandiri lagi dan mampu memecahkan persoalan dengan caranya masing-masing. Kita diharapkan untuk dapat menjadi seorang ‘innovator’ daripada mengikuti cara dosen mengerjakan sesuatu. Kemandirian saya sangat terasah saat berkuliah di Inggris, dari mulai menginap di perpustakaan kampus saya yang memang buka 24 jam dan membaca puluhan buku serta jurnal, mengerjakan coding yang seharusnya lebih dipahami anak IT, mencari model untuk tugas photography saya serta memaksa diri untuk terus bersemangat mengikuti kelas pagi di kala udara di Leeds sangatlah dingin. Kunci saya di dalam menempuh pendidikan yang sukses di Inggris adalah menguasai bahasanya dengan baik (bekali diri dengan penguasaan grammar dan conversation skill yang baik), tepat waktu (tidak menunda-nunda mengerjakan tugas), dan memiliki kemampuan presentasi yang baik. Tiga hal tersebut mampu membawa saya meraih gelar Bachelor of Science (Hons) hanya dengan setahun beradaptasi dengan kurikulum Inggris!

Singapura dan Inggris, keduanya memberikan tantangan dan pengalaman yang berbeda. Hal ini memberikan banyak manfaat di perkembangan saya sebagai seorang individu untuk beradaptasi dan meraih mimpi di era globalisasi sekarang ini. Jadi, mana yang tertarik untuk kamu coba?

 

 




===========================================
Bella obtained Diploma of Visual Communication in Lasalle College International (Jakarta) and Raffles Design Institute (Singapore). She graduated with a degree of BSc (Hons) Creative Media Technology from Leeds Beckett University (UK). She was a signed musician back in Indonesia, currently continuing her journey abroad through working as a Key Account Executive at Wilmar Singapore.
Posts