Pengalaman Kuliah Di Yogyakarta dan Melbourne

2
1041

Hai! Nama saya Williem. Laurensius Williem, untuk lebih lengkapnya. Saya baru dibaptis setelah dewasa sehingga nama baptis saya, Laurensius,  tidak muncul di akte lahir. Pada akhirnya nama dengan satu kata ini membantu saya mengisi kolom-kolom lebih cepat, terutama saat ujian. Nama ini juga yang mengundang perhatian seorang dosen di Melbourne yang lalu berkata, “Student with a one-word name? I think he wants to be a rock star”. Haha. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman kuliah di Yogyakarta dan Melbourne, Australia melalui program Double Degree Magister Managemen Universitas Gadjah Mada (MM UGM).

Saya lulus S1 Ilmu Ekonomi UGM pada tahun 2012. Setelah itu, selama setahun berikutnya saya melanjutkan studi pascasarjana di MM UGM. Alasan saya adalah saya masih ingin belajar sebelum terjun di dunia riil (praktis). Cukup banyak orang bertanya, “Untuk apa kuliah lagi? Orang tua sudah punya usaha.” Well, mereka seusia orang tua saya dan mungkin belum menyadari bahwa tingkat persaingan di antara tenaga kerja terus bertambah.

Mengapa manajemen? Sejak menjalani program S1 saya sudah mengetahui bahwa perekonomian digerakkan oleh aktivitas di pasar barang. Terlebih, saat krisis di tahun 1997 lalu para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bisa bertahan dan menjadi tulang punggung negara kita. Selain itu, menyesuaikan dengan latar belakang bisnis keluarga, jurusan ini sangat tepat untuk saya. Pada akhirnya, sesuai dengan harapan saya, kuliah S2 dan pengalaman belajar di luar negeri telah memberikan insight-insight yang berharga untuk saya.

 

laurensius williem lpdp university of melbourne
Penulis bersama para penerima beasiswa LPDP di Melbourne

Program Dual Degree MM UGM menarik minat saya karena saya bisa memperoleh dua gelar S2 dalam waktu 2,5 tahun, di mana saya dapat menjalani 1,5 tahun pertama di MM UGM dan 1 tahun setelahnya di universitas mitra. Yang menarik, saya dapat dengan leluasa memilih universitas mitra MM UGM di luar negeri asalkan semua persyaratan terpenuhi. Selain itu, dengan program ini, persyaratan GMAT yang menjadi momok bagi saya bisa dihindari. Pada awalnya saya ingin kuliah di Rotterdam School of Management, namun  akhirnya saya memantapkan diri untuk melanjutkan tahun terakhir kuliah saya di Melbourne Business School (MBS) milik The University of Melbourne (Unimelb). Saya beruntung memiliki teman-teman sekelas dan sepermainan yang juga turut kuliah di Unimelb. Bersama teman-teman saya Mahwida, Hema, dan Rangga, kami berempat memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan menjalani masa-masa kuliah yang mengesankan baik di Yogyakarta maupun di Melbourne.

Kuliah di MM UGM diawali dengan semester matrikulasi. Bagi saya ini adalah waktu untuk mengingat kembali konsep-konsep yang telah dipelajari di S1 sekaligus sebagai gambaran bagaimana proses perkuliahan di semester-semester selanjutnya. Semasa matrikulasi pulalah saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP dan sebuah lomba tingkat nasional. Saya ingat saya pernah bolak-balik Jakarta-Jogja selama dua minggu untuk seleksi dan lomba tersebut. Selepas matrikulasi saya pun mengambil kelas internasional dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan berbaur dengan para bule.

Dua semester di kelas internasional terasa padat walaupun hanya ada enam mata kuliah per semesternya. Di sinilah saya mengalami sendiri perbedaan kuliah sarjana dan pascasarjana. Ekspektasi dosen dan bagaimana mereka memandang mahasiswa, serta materi kuliah dan beban tugas terlihat jelas berbeda. Walaupun materi kuliah dan beban tugas lebih berat, di sisi lain dosen lebih menghargai usaha mahasiswa. Di semester satu, selain kuliah saya juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Bersama rekan-rekan kuliah, kami beberapa kali menerbitkan buletin dan menyelenggarakan acara kampus. Semester ini adalah masa saya rajin bersosialisasi dan membangun jaringan.

Untuk semester dua, saya lebih fokus kuliah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Melbourne. Di sisi lain, mata kuliah General Business Environment (GBE) dan Metodologi Penelitian (Metopen) cukup banyak menyita waktu saya. Output GBE adalah dua belas paper kecil untuk dosen pembimbing yang berbeda-beda dan satu paper besar untuk dosen penanggung jawab, sedangkan Metopen menghasilkan sebuah proposal tesis. Sementara itu, saya intensif belajar IELTS dan mengurus administrasi untuk studi di Melbourne, seperti visa belajar, penyesuaian kontrak LPDP, dan letter of acceptance MBS. Di luar kegiatan akademik, saya dan adik menemani ayah untuk operasi bypass jantung di Malaysia. Saya pun izin kuliah selama tiga minggu dan setelah itu berusaha mengejar ketertinggalan dibantu oleh rekan-rekan. Bisa dikatakan bila semester kedua adalah periode terberat dalam kuliah saya.

Setahun berikutnya saya jalani di Melbourne. Datang di bulan Februari 2015, saya disambut musim panas dengan suhu 40 derajat Celsius. Dua minggu pertama saya tidak betah. Mungkin juga karena saat itu saya kurang cocok tinggal bersama seorang penduduk lokal Australia. Saya membutuhkan kira-kira satu bulan untuk menyesuaikan diri dengan Melbourne. Entah karena cuacanya yang mudah berubah (dalam satu hari Anda bisa mengalami empat musim), perasaan waswas tinggal di negeri lain, atau kesulitan dalam memahami aksen Australia yang sangat kental. Beberapa hari sebelum kuliah dimulai, kami berempat mendapatkan apartemen di tengah kota, kurang lebih 15 menit jalan kaki dari kampus. Saya sendiri senang karena lokasi ini sangat strategis, berada di dekat kampus, pasar, tram stop, dan pusat perbelanjaan.

laurensius williem university of melbourne social entrepreneuship
Penulis bersama tim Social Entrepreneurship

Saya mengambil empat mata kuliah di tiap semester, sehingga total ada delapan mata kuliah. Mata kuliah di MBS bervariasi dan memiliki bobot penilaian yang berbeda-beda. Ada yang menitikberatkan pada ujian akhir (60% untuk pelajaran Accounting for Decision Making), mewajibkan mahasiswa membuat video presentasi di Youtube dan artikel di Wikipedia (Managerial Psychology), dan ada juga yang ujian akhirnya berupa essay dan kompetisi ide bisnis (Social Entrepreneurship). Secara umum, semua mahasiswa di Unimelb harus berusaha keras untuk memenuhi ekspektasi dosen, apalagi mayoritas dosen di sini pelit nilai.

Harus diakui bahwa MBS dan Unimelb memberikan fasilitas prima. Perpustakaannya luas didukung jam operasional hingga larut malam, kecepatan internet yang mumpuni, akses jurnal-jurnal akademik top, dan tempat belajar untuk mahasiswa pascasarjana dengan jam operasional 24 jam. Sulit untuk mengatakan ”malas” karena mereka telah menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut. Mereka paham bahwa tekanan kuliah yang tinggi bisa membuat mahasiswa stres. Oleh karena itu, mereka memberikan jasa konsultasi dengan psikolog. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, mereka menganjurkan mahasiswa untuk bersenang-senang dan sejenak melupakan kuliah.

Selain itu, MBS dan Unimelb turut memberikan pelatihan untuk para mahasiswa yang mengalami kesulitan berbahasa Inggris. Hal ini penting mengingat bahwa para mahasiswa MBS berasal dari seluruh penjuru dunia, dari Asia, Eropa, hingga Afrika. Banyak sekali mahasiswa yang datang dari Tiongkok sehingga pada awalnya saya beranggapan kalau Melbourne bercita rasa Timur. Bahkan, ada pula istilah Australian Born Chinese (ABC) yang merujuk pada orang-orang Tionghoa-nya Australia. Orang Indonesia di sini juga banyak walaupun jumlahnya di bawah orang Tiongkok dan India. Restoran Indonesia pun ada beberapa di tengah kota. Sudah jadi hal yang lumrah bertemu orang Indonesia di satu restoran, tram, bahkan dalam satu kelas.

Transportasi publik di Melbourne tertata baik dengan adanya bus, tram, dan kereta yang nyaman dan aman. Dengan sebuah kartu yang disebut Myki, saya bisa menggunakan ketiga moda transportasi tersebut. Jika sedang suntuk karena tugas dan kuliah, biasanya saya akan jalan-jalan di sekitar Melbourne dan sekadar pergi ke museum, taman, pelabuhan, dan pantai. National Gallery of Victoria dan Melbourne Museum adalah dua tempat kesukaan saya. Koleksi seni mereka sangat ekstensif dan tidak ada biaya masuk untuk mahasiswa. Jika ada waktu luang, saya biasanya pergi ke pantai di luar kota di mana pantainya biasanya lebih bagus dibandingkan dengan pantai di Melbourne.

Pengalaman kuliah pascasarjana, terutama di Melbourne, mengajarkan saya beberapa hal yang berharga. Pertama, jadilah seorang profesional. Dinamika grup saat mengerjakan tugas kelompok adalah sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Walaupun ada perbedaan pendapat yang tak dapat dihindari, grup harus tetap solid dan tiap individu harus berusaha untuk mencapai tujuan akhir yang sama. Di sisi lain, ada baiknya tidak membawa urusan akademik ke dalam hubungan personal karena dapat mengganggu pertemanan.

Kedua, kemampuan untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda akan meningkatkan toleransi kita. Stereotyping tidaklah selalu benar karena setiap individu itu unik. Hal ini penting karena berhubungan dengan network yang kita bangun. Tidak tepat rasanya bila kita menghindari atau hanya bergaul dengan orang-orang dari kelompok tertentu. Semakin luas network kita, maka dunia akan terasa semakin kecil. Kelak teman-teman dan kenalan-kenalan kitalah yang akan menjadi penolong saat kita kesulitan. Who knows?

 

Photos provided by the author

Edited by Hadrian Pranjoto