Arsitek-tur (Bagian Kedua): Menjelajah desain Frank Lloyd Wright

Arsitek-tur (Bagian Kedua): Menjelajah desain Frank Lloyd Wright

Perjalanan kali ini sangat berkesan dan begitu emosional bagi saya. Kesempatan berkunjung langsung ke dua karya fenomenal Frank Lloyd Wright, sosok yang sangat tidak asing bagi seluruh insan arsitektur di seluruh dunia. Wright adalah seorang genius di ranah ilmu arsitektur. Dia meyakini bahwa arsitektur sebagai tempat manusia bertinggal harus mampu menciptakan harmoni dengan alam tempatnya terbangun. Pada dua karya Wright yang saya kunjungi, konsep tentang arsitektur organik tampil dalam dua konsep yang berbeda namun serupa. Solomon R Guggenheim Museum yang berada di tengah hiruk pikuk hutan beton di New York, sementara Fallingwater House berdiri di antara sunyi senyap semak-semak hutan alam Bear Run di Pennsylvania.

Perjumpaan pertama saya dengan karya Wright terjadi di pertengahan Desember. Saat Kota New York terus menerus diguyur hujan di musim dingin yang cukup ramah bagi manusia tropis seperti saya. Saya ingat saat itu saya turun di statiun subway di 86th Street lalu jalan menyusuri Lexington Avenue sebelum berbelok ke 89th Street. Karakter jalannya tipikal dengan jajaran bangunan tua dan baru berselang-seling dengan ketinggian yang tidak kurang dari empat lantai. Deretan ambang beragam jenis mulai dari pintu bergagang antik sampai etalase kaca nan nyentrik menggiring saya menuju ke Solomon R Guggenheim Museum. Semakin dekat saya ke persimpangan 89th Street dan 5th Avenue, semakin jelas citra luar Guggenheim Museum yang putih bersih dengan aksen elemen horizontal berwarna hitam yang mengitari. Skala Guggenheim Museum cukup kecil dibandingkan gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Beruntung Guggenheim Museum menghadap ke arah Central Park yang sedikit banyak melebur perbedaan skalanya.

Tampak luar Solomon R Guggenheim Museum

Tampak luar Solomon R Guggenheim Museum
(Sumber: https-//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6b/NYC_-_Guggenheim_Museum)

Di ruang dalam Guggenheum Museum, Wright menyuguhkan atrium berbentuk oval yang tinggi. Pandangan saya didominasi oleh figur dari ramp (baca: jalur yang melandai) spiral yang mengular tidak terputus dari lantai dasar sampai ke atas menuju skylight. Sinar matahari yang menelisik masuk lewat atap kaca menambah kuat karakter atrium. Wright menginginkan koneksi visual yang menerus, dari seluruh penjuru ruang secara vertikal dan horizontal. Saya bisa melihat orang-orang yang sedang menyandarkan tubuhnya ke susur tangga (railing) dari atas, begitu pula sebaliknya. Pergerakan manusia menyusuri ramp menciptakan dinamika ruang dalam yang khas, mungkin hanya ada di Solomon R Guggenheim Museum. Saya berdiri tepat di tengah, mencoba mengambil citra interior sambil menengadahkan kamera dan kepala saya. Atrium ini rasanya megah sekali.

Pandangan saat mendongak ke atas dari atrium

Pandangan saat mendongak ke atas dari atrium

Ramp seperti pita yang melilit ruang dalam Guggenheim Museum

Ramp seperti pita yang melilit ruang dalam Guggenheim Museum

Ramp adalah tokoh utama di Guggenheim Museum. Ramp berperan sebagai alur sirkulasi juga galeri. Di antaranya, Wright menyelipkan galeri-galeri kecil, kafe, dan ruang teater untuk menyokong fungsi utamanya sebagai museum. Saat itu sedang ada pameran lukisan karya Alberto Burri. Namanya terpampang di dinding dekat dengan permulaan ramp. Sayang, jiwa arsitektur saya untuk menghayati aspek-aspek arsitektural mengalahkan hasrat menikmati objek-objek seni yang tentu tidak kalah indahnya. Hal yang ada di pikiran saya selama menyisiri pengalas menanjak ini adalah derajat kemiringannya. Mungkin sejak saya masuk dunia arsitektur, saya tidak akan pernah berada di sebuah objek arsitektur tanpa terbesit satu aspek teknis bangunan. Pikiran ini bukan tidak beralasan, saya tidak merasa lelah berjalan menyusurinya, walaupun tanpa disadari saya sudah berada di ketinggian setara lantai empat. Kemungkinan jawabannya ada dua, desain ruang Wright begitu memukau sehingga memburaikan rasa lelah saya, atau memang perhitungan derajat kemiringannya pas dan ergonomis.

Galeri “terselip” di antara alur ramp

Galeri “terselip” di antara alur ramp

Pemandangan yang unik dari tepian ramp

Pemandangan yang unik dari tepian ramp

Wright menawarkan seri ruang yang saling berhubungan, lalu membiarkan pengguna untuk menelusuri kembali jejaknya saat beranjak keluar dari museum. Ruang-ruang penuh lengkung organik yang terinspirasi dari alam, diinterpretasi pada konteks kota yang cenderung kaku dan penuh siku. Ini adalah proyek major terakhir yang dirancang dan dibangun oleh Wright sebelum ia meninggal dunia. Lagi-lagi sebuah masterpiece yang beruntung bisa saya kunjungi langsung di sela masa studi saya di negeri Paman Sam. Wright berhasil memukau saya, bersama dengan ribuan dan mungkin jutaan orang lain yang sudah pernah menginjakkan kakinya langsung ke Solomon R. Guggenheim Museum.

Arsitek-tur saya berlanjut ke karya fenomenal Wright di tengah pepohonan ek dan mapel di Mill Run, Pennsylvania. Sebuah rumah yang saya yakin dibahas di banyak ruang-ruang kuliah arsitektur di seluruh penjuru dunia, Fallingwater House. Melihat langsung Fallingwater house ibaratnya umroh arsitektur buat saya. Boleh saja anggap saya berlebihan, tapi rumah ini terlalu sentimental bagi saya. Teringat dulu ketika masih di tingkat dua kuliah, saya duduk hampir terkantuk di kelas, lalu mendadak sadar seratus persen ketika dosen saya menampilkan gambar rumah yang duduk di atas air terjun, dibingkai pucuk-pucuk pohon berdaun warna-warni kemerahan. Rumahnya ramah, menyatu seirama dengan alam di sekeliling. Arsitekturnya tidak arogan, sangat mengundang dan memesona.

Sisi Fallingwater House yang paling dikenal

Sisi Fallingwater House yang paling dikenal

Perjalanan menuju Fallingwater house tidak kalah indahnya. Wright pasti sudah memikirkan dalam-dalam pengalaman ruang pengantar menuju karyanya. Saat itu saya berada di balik kemudi, bermanuver di antara pepohonan yang sedang gundul di musim dingin. Jalanan naik turun berliku, terkadang terselip padang rumput hijau memukau. Udara saat itu tidak terlalu dingin, sehingga saya bisa menikmati hembusan semilir angin pengunungan yang menenangkan.

Setibanya di tempat parkir, saya berjalan melalui jalan setapak. Semakin dekat ke Fallingwater House, semakin berdebar jantung saya. Saat itu ramai, tapi saya sudah bisa mendengan gemericik air dari air terjun. Hutan, pepohonan, jembatan, jalanan berbatu, hujan gerimis mengiring saya menuju ke titik pertemuan langsung saya dengan Fallingwater House. Saya ingat, setelah berjalan lebih kurang sepuluh menit, saya berbelok sekitar 45 derajat lalu menatap langsung rumah yang saya kagumi sejak lima tahun lalu. Hanya berjarak tidak lebih dari 10 meter, saya disajikan pemandangan sisi rumah yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Fitur horizontal dari tumpukan balkon sangat mengundang. Jendela lebar berkusen coklat tua yang lebar dan rendah dipastikan ada di setiap dinding yang mengitari. Ide arsitektur organik yang diusung Wright sangat terasa. Harmoni antara lingkung bangun dan alam yang erat, menyatu, membentuk komposisi yang menawan.

Pandangan langsung yang pertama pada Fallingwater House

Pandangan langsung yang pertama pada Fallingwater House

Tampak dari jembatan menuju ke pintu utama

Tampak dari jembatan menuju ke pintu utama

Saya mencoba menangkap beberapa citra luar Fallingwater House sebelum saya masuk dan tidak diperkenankan menggunakan kamera untuk mendokumentasikan ruang dalamnya. Semakin mendekat, saya bisa melihat sungai yang mengalir di celah bawah struktur Fallingwater House yang  menggantung. Tampak tangga yang menjadi ambang dan akses antara ruang tamu menuju sungai. Terbayang saat keluarga Edgar Kaufman, pemilik rumah ini, saat menghabiskan akhir pekan dan bercengkrama di air terjun yang berada tepat di bawah rumahnya. Butuh kejeniusan arsitek dan insinyur sipil untuk mampu menciptakan kemewahan ini, terlebih di tahun 1930-an saat Fallingwater House dibangun.

Tangga yang menjadi akses langsung dari ruang tamu ke sungai dan air terjun

Tangga yang menjadi akses langsung dari ruang tamu ke sungai dan air terjun
(Sumber: http-//www.archdaily.com/60022/ad-classics-fallingwater-frank-lloyd-wright/5037de0228ba0d599b00009b-ad-classics-fallingwater-frank-lloyd-wright-image)

Tidak lama, pemandu menggiring rombongan saya memasuki interior Fallingwater House. Perasaan luas di alam bebas tiba-tiba ditekan begitu saya berada tepat di depan pintu masuk yang kecil, pendek, dan gelap. Secara tidak sadar saya didorong masuk ke ruang tengah secepat mungkin. Ke ruang yang lebih luas, lebih terang, dan lebih mengundang. Wright dengan sengaja menciptakan perasaan tertekan lalu bebas seketika pengguna masuk ke ruang tengah yang luas. Kemanapun menoleh, saya selalu bisa menatap keluar melalui jendela-jendela besar yang minim distraksi kisi kayu atau kusen. Secara fisik saya berada di dalam, tapi saya tidak merasa saya terpisah dengan dunia luar. Suara riuh air terjun masih terdengar, elemen bebatuan dan warna alam masih mendominasi. Ruangan ini berada tepat di atas air terjun. Ada akses berupa jendela atau pintu yang diikuti tangga menurun langsung ke sungai dan air terjun. Di sinilah tempat Edgar Kaufmann berkumpul dengan keluarganya. Terdapat beberapa set sofa yang mengelilingi ruang tengah, satu set meja makan, dan lemari penyimpanan alat makan. Mata saya tertuju pada tungku perapian berwarna merah di pojok rumah dengan bingkai bebatuan alam yang masih tersusun asli layaknya di alam luar. Wright berusaha untuk meminimalisir intervensi terhadap kondisi alam tapak tempat rumah ini berdiri. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa suasana alam masih sangat terasa, walaupun saya sudah berada di dalam rumah. Pengalas rumah berasal dari batu-batu alam yang didapat dari sungai yang diberi lapisan lilin untuk menciptakan kesan basah layaknya bebatuan di alam bebas. Setiap detil yang Wright pikirkan adalah manifestasi dari kepercayaannya pada arsitektur organik, yang berkiblat pada hubungan harmonis antara objek arsitektur dan alam sekitar.

Suasana interior ruang utama Fallingwater House

Suasana interior ruang utama Fallingwater House
(Sumber: http://www.simonedesignblog.com/wp-content/uploads/2013/05/design_Fallingwater8)

Memandang Fallingwater House dari kejauhan, pasti didominasi oleh tumpukan balkon yang menjalar ke berbagai sisi rumah. Citra horizontal Fallingwater House diciptakan dari susunan balkon yang merupakan elemen utama rumah ini. Kontras dengan kamar-kamar berukuran kecil dan beratap pendek, Wright memadankannya dengan balkon berukuran luas untuk setiap ruangan. Wright ingin menjuruskan pandangan mata untuk menatap ke arah luar, menuju ke alam bebas. Lagi-lagi ia menekankan pentingnya alam dalam eksistensi Fallingwater House. Mengutip perkataan Wright, “Fallingwater adalah peristiwa fisikal dan spiritual dari manusia dan arsitektur yang menjadi harmoni dengan alam”. Sebenarnya, masih banyak detil arsitektur yang mendukung argumen Wright. Balok yang mengitari batang pohon, susunan batu fondasi yang mengkuti bahasa struktur alami, kemiringan atap yang menerjemahkan pola aliran air, dan masih banyak lagi fitur memukau di rumah ini. Jujur saya kewalahan dengan keindahan dan kejeniusan desain Fallingwater House. Dari Fallingwater, Wright seolah berbisik pada saya bahwa sudah selayaknya arsitektur tidak menjadi arogan dan memalingkan wajahnya dari alam tempatnya berdiri. Sudah sepantasnya hubungan itu diekspos dan disatukan menjadi organisme yang bertumbuh bersama.

Balok yang “mengalah” dengan memberi ruang pada batang pohon

Balok yang “mengalah” dengan memberi ruang pada batang pohon

Atap dibuat miring dan berundak mengikuti sifat air yang mengalir

Atap dibuat miring dan berundak mengikuti sifat air yang mengalir

Sungguh, arsitek-tur kali ini menuntun saya untuk kembali berpikir untuk mendefinisikan keterkaitan antara manusia, arsitektur, dan alam. Semakin banyak ditumpahi informasi, semakin tinggi rasa penasaran saya untuk mengeksplorasi semakin banyak objek arsitektur di negeri ini.

Terima kasih, Wright!

Photo Courtesy: Author’s Collection, wikimedia.org, archdaily.com, simonedesignblog.com




===========================================
Widya Aulia Ramadhani graduated from Universitas Indonesia in 2014. She is an awardee of the first Indonesia Presidential Scholarship and now pursuing her master degree in architecture at University of Illinois at Urbana-Champaign. Her concentration is on architecture and its relation to human health and well-being. She is very passionate in practicing participatory design method in architecture as she believes that everyone is a designer and should be taken into account in the design process. Previously, she worked as a teaching assistant at Universitas Indonesia and a researcher at petajakarta.org. She is keen to continue her career in research and teaching architecture. Email: widya.ramadhani@gmail.com
Posts