Program Erasmus+ QEM via Beasiswa LPDP

1
41

Beasiswa Erasmus+ (dulu namanya Erasmus Mundus) memang salah satu beasiswa yang tidak asing di antara pemburu beasiswa, termasuk saya. Selain memberikan banyak pilihan program sesuai minat kita, juga program ini memungkinkan penerimanya berkuliah di beberapa universitas di beberapa negara eropa berbeda.

Lulus Diploma IV dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) jurusan Statistika-Ekonomi dengan IPK pas-pasan awalnya membuat saya tidak berharap banyak akan mendapatkan beasiswa Erasmus+ di program Joint Master Quantitative Economics Methods and Models (QEM). Apalagi saya juga tidak punya prestasi yang gemilang di luar kampus. Akan tetapi karena saya terlanjur jatuh cinta dengan programnya maka tidak ada salahnya saya coba, apalagi saya memiliki pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan yang sangat sesuai. Oleh karena itu saya semakin mantap untuk mencoba.

Pendaftaran program QEM dilakukan secara online, saya cukup mengunggah beberapa persyaratan yang diminta sesuai prosedur yang telah ditentukan. Pastikan dokumen yang kita unggah lengkap dan sesuai dengan standar minimal yang diminta. Pendaftaran Beasiswa Erasmus+ untuk program QEM biasanya dibukan sekitar Oktober dan berakhir Februari tahun berikutnya. Setelah menunggu sekitar 3 bulan, hasilnya pun diumumkan.

Ada tiga kategori pelamar dalam pengumuman program QEM. Pertama, pelamar yang diterima di program QEM sekaligus mendapatkan beasiswa Erasmus+ secara penuh. Kedua, pelamar yang diterima di program QEM tapi tidak mendapatkan beasiswa Erasmus+. Terakhir, pelamar yang tidak diterima di programnya dan tentunya tidak mendapat beasiswanya. Nah, saya masuk ketagori yang kedua. Sedih? Iya, tapi sedikit; lebih banyak senang karena target minimal saya tercapai; diterima di programnya dan bisa mendaftar di beasiswa LPDP.

Setelah mendapat Letter of Acceptance dari Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne sebagai universitas koordinator maka saya bergegas mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Awalnya sempat ragu karena begitu banyak informasi simpang siur mengenai kebersediaan LPDP membiayai program Erasmus+ karena sistem perkuliahan di program Erasmus+ yang melibatkan banyak universitas dan terkadang di antara universitas tersebut ada yang tidak masuk 200 besar universitas dunia versi LPDP. Namun setelah bertanya ke berbagai pihak yang terpercaya, maka saya pun memberanikan diri mendaftar ke LPDP. Alhamdulillah, pada pendaftaran LPDP tahun 2015 LPDP memperbolehkan program Erasmus+ dengan beberapa syarat khusus, yaitu jumlah universitas tempat kuliah maksimal 2 universitas dan semua universitas yang dipilih harus masuk LPDP. Oleh karena itu saya memilih Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne dan Universidad Autonoma de Barcelona karena hanya kedua universitas ini yang masuk daftar LPDP, sedangkan 2 universitas yang lain, yaitu Universitat Bielefeld Germany dan Universita Ca’ Foscari Venezia Italy, tidak masuk.

Setelah melewati seleksi berkas, penulisan esai di tempat, Leaderless Group Discussion (LGD) dan wawancara per-orangan, saya resmi menjadi salah satu penerima beasiswa LPDP untuk program QEM di Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne dan Universidad Autonoma de Barcelona. Sekali lagi saya sangat bersyukur di Indonesia masih ada beasiswa LPDP sehingga saya bisa mengejar impian saya. Harapan saya semoga ke depan LPDP masih mengakomodasi program Erasmus+ secara lebih luas lagi.

Photo courtesy of Indonesia Mengglobal

  • dessy

    hi Irwan. menarik banget ceritanya. mohon infonya dong wan. saya nasibnya mirip nih sama km. sy udh dpt LoA erasmus mundus self funding juga. yg beda, sy baru saja dpt pengumuman gak lolos LPDP. yg mau sy tnya, ad saran gak cari sponsor ato beasiswa slain lpdp. sy dpt LoA utk Erasmus Mundus Journalism. mohon bgt yah masukannya. trims :))