Belajar Epidemiologi dan Membangun Bangsa

3
245

“The work of epidemiology is related to unanswered questions, but also to unquestioned answers.” Patricia Buffler

Banyak orang bertanya apa itu epidemiologi kepada saya. Kebanyakan bingung ketika saya menjawab kalau saya mengambil kuliah jurusan epidemiologi. Ada yang menebak apakah berhubungan dengan epidermis? Kulit manusia? Tumbuh-tumbuhan? Atau penyakit epidemik? Setidaknya tebakan terakhir lebih mendekati kebenaran. Secara singkat, epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana suatu penyakit dapat muncul di masyarakat, pada kelompok tertentu, dan mengapa hal itu dapat terjadi. Informasi epidemiologi inilah yang kemudian akan membantu para pemangku kebijakan dalam hal pengendalian penyakit dan perencanaan kesehatan.

Epidemiologi merupakan ilmu dasar kesehatan masyarakat, proses penyelesaian masalah, serta kunci dari pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit. Epidemiologi mampu memaparkan asal mula penyakit, bagaimana penyakit dapat menyebar di masyarakat, seberapa besar kejadian penyakit pada spesifik populasi, faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit dan wabah, serta bagaimana cara mengendalikan penyakit tersebut. Secara sederhana, epidemiologi merupakan kunci penting untuk memahami penyebaran penyakit serta menciptakan kesehatan pada masyarakat luas.

Saya sendiri tertarik mempelajari epidemiologi setelah saya ditakdirkan tidak lulus menjadi mahasiswa kedokteran. Suatu hikmah sehingga saya berpikir keras keilmuan apa yang kira-kira akan memberikan banyak manfaat di bidang kesehatan. Saat itu saya juga merasa tertantang karena peminat epidemiologi begitu sedikit di antara mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat lainnya, ditengah rumor yg beredar bahwa ilmu epidemiologi bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Akhirnya setelah saya membulatkan tekad menjajal ilmu tesebut, tak berapa lama hati saya tertambat untuk lebih jauh lagi menguasai ilmu ini.

Perjalanan “cinta” epidemiologi saya tidak berakhir di bangku S1. Saya ditakdirkan melanjutkan kuliah S2 di Imperial College London dengan jurusan MSc. Modern Epidemiology. Saat ini, saya pun tengah berjuang menyelesaikan program doktoral saya di UCL dengan jurusan Infectious Disease Epidemiology and Population Health (epidemiologi penyakit menular dan kesehatan populasi). Hal ini bukan tanpa alasan. Ada banyak teman saya yang berpindah jurusan saat melanjutkan jenjang studi nya. Namun saya justru semakin mantap, seakan telah menemukan passion yang tepat dan visi yang mantap dalam hidup saya.

Pengalaman penelitian saya setelah lulus sarjana membuat saya banyak berinteraksi dengan peneliti-peneliti internasional dalam lingkup Asia Tenggara dan Eropa. Teringat betul, sebuah projek riset di bidang Influenza yang saat itu sedang booming-booming nya dikarenakan munculnya wabah H5N1(flu burung) dan H1N1 (flu babi) membuat saya lebih mantap untuk melanjutkan studi epidemiologi. Di akhir riset ini, ilmu modelling dalam epidemiologi dapat meramalkan seberapa besar kejadian flu burung di masyarakat jika penyakit ini mewabah, jumlah obat-obatan yang diperlukan, pada hari keberapa kapasitas rumah sakit akan penuh, tenaga dokter dan staf pelayanan kesehatan minim, dsb. Semua dapat diprediksi menggunakan ilmu epidemiologi.

Hal ini pulalah yang membuat saya mantap untuk melanjutkan studi di UK, dimana kampus-kampus ternama dunia berada. Saya mendapat tawaran di beberapa universitas dan akhirnya mantap memilih ICL dengan jurusan Modern Epidemiology nya. Saya mengakui bahwa perkembangan ilmu epidemiologi di Indonesia belum sepesat yang ada di UK. Saya dapat mengatakan, belajar di UK merupakan sebuah kesempatan besar untuk dapat mereguk nikmatnya ilmu pengetahuan. Saat teknologi dan fasilitas yang diberikan begitu memudahkan pengajaran. Belum lagi ditunjang dengan etos kerja disiplin dan dinamika keilmuan yang terus berkembang. Sehingga tidak salah jika kita belajar di UK berarti kita belajar ke salah satu sumber terbaik ilmu pengetahuan.

Penelitian S3 saya saat ini pun tidak lepas dari pentingnya ilmu epidemiologi. Belajar dari nol bagaimana harus mengendalikan penyakit pada populasi. Bahkan jika penelitian saya berhasil, ini dapat menjadi kasus pertama di dunia untuk mengeradikasi penyakit hepatitis C pada populasi. Eradikasi berarti kita meniadakan penyakit atau membuat tidak adanya penyakit sama sekali pada masyarakat. Butuh kerja keras memang, namun itulah sifat dasar epidemiologi.

Epidemiologist (ahli epidemiologi) begitu dicari di negara-negara maju. Karena mereka begitu paham bahwa epidemiologi adalah kunci pencegahan penyakit yang terjadi di masyarakat. Saya melihat kinerja dan sumbangsih ahli epidemiologi begitu besar di negara-negara Eropa dan Amerika. Mereka bekerja sama erat dengan kementrian kesehatan negara setempat, memberi masukan-masukan berdasarkan fakta lapangan, lalu kebijakan yang dihasilkan akan berdasar pada masukan ahli epidemiologi yang telah melalui penelitian-penelitian panjang.

Saya berharap besar bahwa keilmuan yang tengah saya pelajari saat ini sedikit banyak akan dapat memberikan sumbangsih perubahan kepada Indonesia. Membawa angin sejuk kebermanfaatan demi seluas-luasnya kemaslahatan. Karena bahagia itu, sesederhana bermanfaat bagi sesama, mengangkat derita mereka yang papa, menjawab permasalahan berbekal ilmu yang ditempa. Karena saya percaya, buah karya kitalah yang akan membangun bangsa, menyemai asa, dan menggapai cita.

The best among you are those who bring greatest benefits to many others”. –Nabi Muhammad SAW-

 

SHARE
Previous articleMengenal Asia lewat TF LEaRN Programme di Singapura
Next articleTips Beasiswa LPDP, Kita Semua Bisa!
Dewi Aisyah
Dewi Nur Aisyah received her Bachelor Degree with honor from Universitas Indonesia, majoring Epidemiology. Throughout her study, she was awarded as the most outstanding student at Faculty of Public Health. Having interest to tackle infectious disease problem, she and her team of 4 built an integrated system for TB patients which brought her as Indonesia representative in Imagine Cup Student Competition worldwide final, a prestigious international event for category Design for Development. She completed her master degree at Imperial College London majoring Modern Epidemiology at 2012. She has been awarded Indonesia Presidential Scholarship at 2014 and currently undertaking PhD Fellowship at Institute of Epidemiology and Health Care, University College London. She was previously assigned as Program Development Manager at INDOHUN (Indonesia One Health University Network) and currently working as epidemiologist at Emerging Zoonotic and Infectious Disease – Health Policy Research Group, Universitas Indonesia. After her 3 years experiences in some research centers in Indonesia, she led many multidisciplinary projects, built networks and involved in many international collaboration researches across Southeast Asia and some European countries.
  • Windalia Apriani Fitri

    Senang sekali bisa baca artikelnya sangat bgus dan jd motivasi buat sy mnyelesaikan study sy. Salam kenal dr saya winda mahasiswa S2 FETP UGM semoga sukses sll.

  • Zahra

    Hiiii… thanks buat kak dewi aisyah, yg kisah kakak sangat menginspirasi saya. I really enjoy to read your article. Sy kuliah s1 di fkm jurusan promkes. Tp entah kenapa aku sangat tertarik di bdng epidemiologi. Apalagi cerita kak dewi yg makin membuat sy mantap dgn pilihan sy kedepannya. Semoga sukses selalu. Amiin

  • Yulia Rani

    Assalamualaikum, salam kenal saya rani. saya sangat tertarik untuk melanjutkan study di s2 jurusan epidemiologi di Undip. maaf sebelumnya saya ingin bertanya, banyak orang di sekitar saya bilng lulusan epid akan banyak yang bekerja dilapangan yang terkena wabah dan bukan di labor untuk meneliti penyakit, apakah hal tersebut benar? karena saya mengalami kesulitan meyakinkan ortu yang tidak ingin saya bekerja di lapangan dan menangani wabah penyakit secara langsung. sangat sedikit info tentang lulusan epid yang bisa saya temukan di mesin pencarian. jika berkenan, mohon infonya. terima kasih banyak