Pengalaman Sekolah Teater di Luar Negeri

2
281

Nama saya Vania.  Saya ingin  bagi tips dan pengalaman nih, buat kalian yang memiliki passion di teater, sampai bela-belain mau kuliah teater di luar negeri seperti saya. Yuk simak ceritanya!

Ketika saya memilih untuk  mengambil sebagai jurusan kuliah, orang tua saya, terutama ibu saya, tidak  setuju akan pilihan ini. Mereka khawatir mau kerja apa nanti. Saya malah disuruh untuk mengambil jurusan film, tetapi saya bilang kalau saya tetap ingin kuliah di teater. Setelah lama berdiskusi, akhirnya mereka setuju walau masih dengan berat hati.

Tips pertama supaya buat kuliah kalian lancar, khususnya di luar negeri: Pick your own passion dan major, karena kalian yang kuliah dan menjalankan hal tersebut, bukan orang lain.

Mungkin kalian nanya, kenapa sih saya ingin belajar tater di luar negeri? Jawaban saya pasti: saya ambil teater karena saya punya passion untuk mengajarkan teman-teman saya di gereja acting skills yang baik dan benar, supaya ketika kita berkarya untuk Tuhan dan jemaat di gereja, kita berikan mereka yang terbaik, bukan akting yang abal-abal. Jadi awal mulanya saya tertarik pada teater itu karena Drama Ministry di gereja saya. Dari situlah saya  ambil jurusan teater di SMA saya (waktu itu saya ambil jurusan Bahasa atau Arts, maka dari itu ada penjuruan sesuai dengan minat masing-masing dan akhirnya keterusan sampai saya kuliah) .

Saya udah beritahukan orang tua saya bahwa saya tidak ingin  kuliah teater di Indonesia karena saya merasa kalau memang ingin belajar teater atau akting  yang bagus, seharusnya di luar negeri sehingga kita bisa dapat pendidikan secara keseluruhan. Di Indonesia, saya belum merasakan itu.

Akhirnya ibu saya mendaftarkan saya di Lasalle College of the Arts di Singapore. Saya tahu bahwa pilihan ibu saya adalah sekolah arts yang bagus. Saya ingat, pada waktu itu Lasalle College of the Arts masih baru buka.  Saya menempuh performing arts foundation dengan jurusan  teater  selama satu tahun, dan sempat juga mendapatkan beasiswa dari pemerintah Singapore. Namun, saya hanya bertahan selama 1 tahun dan 6 bulan lamanya di sekolah tersebut, dikarenakan apa yang saya pelajari tidak sesuai dengan tujuan utama saya, yaitu teater untuk Drama Ministry.

Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sejenak dan mengambil kesempatan ikutan Actors Program di Amerika. Saya tinggal di Burbank, Los Angeles selama 3 bulan. Pada waktu itu, mata saya dibuka dari segi keterampilan sosial, kemandirian, financial literacy, bertemu temen-teman baru, dsb. Tapi ini semua diluar Actors Program tersebut ya.

Setelah saya pulang ke ke Indonesia, saya berpikir apakah benar passion saya di teater? Saya sempat berpikir untuk mengambil multimedia dan broadcasting. Saya juga sempat ikut program memasak selama satu tahun di Jakarta.

Suatu hari, saat saya  sedang menonton Teater Koma di Salihara, saya diingatkan kembali akan passion saya yang sesungguhnya. Baru sampai Salihara dan vibe teaternya, saya langsung merasakan perasaan ‘I am home’. Saya merasa seperti anak hilang yang bertemu dengan ibunya lagi. Dari situlah saya semakin yakin bahwa teater memanglah passion saya, khususnya teater untuk Drama Ministry.

Dari situlah saya mulai mencari program kuliah teater di luar negeri, tetapi kali ini adalah pilihan saya sendiri. Saya mencari tempat kuliah yang memiliki program Drama Ministry sehingga saya bisa membagi pengetahuan tersebut dengan teman-teman gereja saya, supaya akting mereka makin bagus. Ketika saya sedang membuka email, tiba-tiba muncul iklan kecil  ‘Study Drama Ministry in Australia’. Saya sangat senang dan langsng klik, munculah website Wesley Institute, yang sekarang namanya menjadi Excelsia College.

Excelsia College adalah sebuah institusi swasta di Sydney yang menerima murid internasional dan memiliki program sesuai dengan passion saya, yaitu teater untuk Gereja. Akhirnya, institusi tersebut adalah tempat saya bertumbuh dan mendapatkan gelar BA Dramatic Arts (Theatre Practice).

Di Excelsia College, walau universitas ini berlatar belakang Kristen, tetapi terbuka untuk umum. Disini saya belajar teater dari segi aspek yang berbeda. Dosen-dosen saya mengajarkan teater  dengan cara ‘holistic approach’ sehingga secara kedewasaan dan pengetahuan saya terus bertumbuh dan menjadi mandiri. Saya adalah satu-satunya orang Indonesia di sekolah itu.

Di Excelsia, satu kelas maksimum hanya 20-30 orang, jadi ukuran kelas yang dekat dan intimate sekali. Kami benar-benar mempelajari semua performance technique secara mendetail dan persahabatan teman-teman sekelas juga sangat erat sekali.

Kuliah teater di luar negeri, khususnya di Excelsia, ternyata tidak segampang yang saya pikir. Banyak tantangannya, khususnya kedisplinan atau professionalism dan bahasa. Saya pikir bahasa inggris saya sudah paling bagus dari antara semua teman-teman saya  di Indonesia ternyata lafal saya masih belum jelas dan masih banyak yang harus dipelajari.

Namun karena holistic approach tersebut, saya belajar sendiri dan teman-teman sekelas saya yang murid lokal juga membantu saya untuk artikulasi dan pronunciation. Bahkan, mereka ingin saya untuk mengajarkan mereka Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Bayangkan saja  bule menyebutkan ‘Wilujeng Sumping’ dan ‘Hatur Nuwun’ berkali-kali! Disekolah ini pula, saya sadar kenapa selagi di Actors Program di Amerika saya tidak lulus audisi untuk mendapatkan agent di Hollywood. Ternyata lafal saya masih belum jelas. Dosen ‘voice’ saya memberikan buku latihan untuk latihan lafal sehingga saya bisa jelas. Tanpa saya sadarkan, ternyata latihan untuk lafal berguna sampai sekarang loh… Banyak dari mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang terampil di reading and writing, tetapi masih kurang di lafal dan conversation.

Jadi begitulah teman-teman, perjalanan saya dalam mendapatkan gelar teater di luar negeri! Keuntungan yang didapat, jurusan teater itu sangat fleksibel. Kamu bisa kerja di bagian marketing, guru drama, creative director, guru bahasa inggris, sutradara, stage manager, lighting designer, sound designer, banyak deh! Di Excelsia, kamu bisa belajar sesuai dengan minat kamu ketika memasuki level dua. Saya sempat memilih fotografi , produksi video, set design, acting, directing, scriptwriting, film production, dsb.

Semoga cerita saya bermanfaat untuk teman-teman sekalian. Sekarang saya sudah balik ke Indonesia and berharap untuk ikut kontribusi keterampilan saya dalam lingkup seni di Indonesia, khususnya seni teater! Salam Mengglobal semuanya!! ☺

Photo courtesy of: Grobes Theater by eigner Quelle

  • Suryadinata Sanda

    Sangat menginspirasi

    • Vania Christy R

      Thank you Surya! :)