Menjalani Jalan Yang Tidak Biasa di Georgetown University, Qatar

1
243

Banyak sekali teman-teman dan keluarga di Indonesia yang bertanya: “Sekarang kuliah di mana?” dan ketika saya menjawab bahwa saya bersekolah di Georgetown University, Qatar banyak yang lantas bingung. “Dimana itu Qatar?” atau “Apa itu Georgetown University?” adalah reaksi yang jelas terbaca dari raut wajah mereka.  Pertanyaan selanjutnya berhubungan dengan jurusan yang saya pelajari. Ketika mereka mengetahui bahwa saya belum mengambil jurusan, banyak sanak-saudara yang terkejut dengan keputusan itu dan mencoba meyakinkan saya untuk melakukan sebaliknya. Sanak saudara juga bertanya-tanya mengapa saya tidak memutuskan untuk kuliah di Inggris, Amerika atau Kanada. Benar, saya sangat bersyukur dengan beragam sekolah yang memutuskan untuk menerima saya sebagai calon mahasiswa tetapi, saya  memutuskan untuk memilih Georgetown University di Qatar karena berbagai alasan.

 

Qatar

Kampus utama Georgetown University terletak di Washington DC, Amerika Serikat. Di kampus itulah terlahir banyak nama-nama terkenal di dunia politik. Salah satunya adalah Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat yang lulus dari School of Foreign Service (SFS) di tahun 1968. Selain terkenal sebagai sekolah untuk para diplomat dan anak-anak presiden, Georgetown juga terkenal sebagai kampus aktor Bradley Cooper. Lokasi kampus di Washington DC juga sangat strategis. Ketika saya berada di Washington DC musim panas ini, terlihat jelas sekali banyak kesempatan yang tersedia untuk para pelajar seperti kerja magang, penelitian dan fasilitas untuk berbagai kegiatan sekolah. Dengan segala keunggulan kampus di AS, mengapa saya memilih kampus yang berada di Qatar? Mengapa saya memilih kampus liberal-arts yang lebih kecil dengan jurusan yang terbatas?

 

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin menulis tentang Qatar Foundation, prakarsa Yang Mulia Sheikha Mozah bint Nasser, istri Emir dari Qatar yang sebelumnya. Beliau mempunyai visi untuk mengundang universitas-universitas top dunia untuk membuka kampus di Qatar untuk menyediakan universitas kelas dunia dengan standar yang sama dengan kampus ‘asli’ nya, saking setaranya, ijazah saya pun akan tercantum Washington DC dan bukan Qatar. Dengan visi itu, beliau ingin para pelajar dunia untuk datang ke Qatar tanpa membingungkan kemampuan membayar uang kuliah. Dengan itu, Qatar Foundation menyediakan bantuan finansial dan juga beasiswa  untuk para pelajar di sembilan kampus yang terletak di Education City, Doha. Sembilan kampus ini terdiri dari Virginia Commonwealth, Texas A&M, Carnegie Mellon, Northwestern, University College London, Georgetown, Qatar Faculty of Islamic Studies, HEC Paris dan kampus kedokteran Cornell University. Jadi, sangat tidak terasa bahwa kampus saya sangat kecil, hanya bersama dengan 260 pelajar lain saja, karena saya juga banyak berjumpa dengan pelajar lain yang menempuh studi di kampus tetangga.

 

School of Foreign Service in Qatar (SFS-Q)

Ada beberapa hal yang menarik minat saya untuk memilih kampus Qatar di Georgetown university, diantaranya, rasio mahasiswa dan profesor di SFS-Q sangat rendah. Karena kelas-kelas cenderung kecil, interaksi bersama dosen juga menjadi lebih sering. Semua professor saya tahu nama saya dan saya juga sering ke kantor mereka untuk bertanya dan berdiskusi. Mereka juga sangat senang sekali untuk menolong pelajar mereka. Karena kelas saya sampai tahun ke dua rata-rata hanya terdiri dari 18-20 pelajar, dosen bisa mengajar setiap mahasiswa secara pribadi dan juga bisa membimbing mahasiswa  yang hendak menulis makalah akademik dan pelbagai hal lainnya.

 

Selain itu, banyak juga kesempatan untuk melanglang buana keluar kampus. Pelajar SFS-Q bisa menjelajahi negeri lain melalui berbagai program SFS-Q seperti Zones of Conflict, Zones of Peace di mana mahasiswa diajak mengunjungi negara-negara  yang pernah mengalami konflik bersenjata seperti Israel, Palestine, Rwanda, Timor-Leste, Germany, US-Mexico border dan mempelajari bagaimana sebuah komunitas menangani sebuah konflik atau bagaimana cara menangani berbagai hal setelah konflik tersebut selesai. Melalui Community Engagement Program, musim panas tahun depan, saya bersama dengan beberapa murid lain akan ke Nepal untuk membangun sebuah sekolah yang runtuh setelah diguncang gempa bumi di bulan April. Semua program ini tidak memungut biaya apapun, hanya aplikasi dan esei yang harus diisi. SFS-Q juga sering sekali mengundang tokoh-tokoh penting dunia untuk memberikan ceramah seperti Bapak B.J. Habibie. Minggu ini saya juga berkesempatan untuk makan siang bersama Christine Lagarde, Managing Director dari International Monetary Fund.

 

Alasan berikut yang mungkin sudah bosan didengar oleh para pembaca adalah keragaman kultur di Qatar dan universitas saya. Teman-teman dekat saya di kampus datang dari Mesir, Mexico, Algeria, Sudan, Denmark dan negara-negara lain. Diversity inilah yang membuat experience saya di SFS-Q sangat menarik karena setiap diskusi, di dalam atau di luar kelas, kita selalu membawa pengalaman kita di negara masing-masing. Saya juga tidak harus baca berita dunia sering-sering karena teman-teman saya sendiri adalah sumber yang cukup!

 

Kurikulum Inti

Jujur, yang membuat saya tertarik untuk mendaftar ke Georgetown University adalah kurikulum inti universitas. Jadi di SFS nya Georgetown University, ada modul yang wajib  dipelajari selain pelajaran-pelajaran dari jurusan itu sendiri. Kurikulum inti ini terdiri oleh mata pelajaran ekonomi, filosofi, teologi, sastra, politik,  sejarah , urusan luar negeri (international affairs), map of the modern world dan bahasa asing yang harus dikuasai. Requirement terakhir ini menurut saya sangat unik dan penting sekali di dunia kita sekarang yang multikultural dan global. Jadi semua mahasiswa di SFS harus lancar di dalam bahasa selain bahasa Inggris jika mereka ingin lulus, dan jika tidak terpenuhi, mereka tidak akan lulus. Karena requirement ini, saya sangat kagum dengan pelajar di kampus saya. Keren sekali jika saya berjalan di kampus dan mendengar pelajar Pakistan berbicara dalam bahasa Perancis dengan teman saya dari Denmark, atau teman Qatari saya dan adiknya yang fasih dalam bahasa Mandarin, Jerman dan Perancis namun tidak bisa bahasa Arab. Kurikulum inti ini biasanya dipenuhi dalam 2 tahun pertama, namun tidak harus asalkan diselesaikan sebelum tamat kuliah.

 

Menurut saya, kurikulum inti ini sangat penting. Dengan mempelajari berbagai macam mata pelajaran, saya lebih tahu lebih tentang banyak hal-hal yang meliputi dunia kita ini. Misalnya di kelas filosofi saya belajar tentang filsafat yang telah berfikir dan bertanya ‘kenapa kita butuh pemerintahan?’ Pertanyaan seperti ini dan yang lain-lain membuat saya dan teman sekelas berdiskusi tentang peran pemerintah di hidup kita; di kelas History of South Asia saya belajar tentang agama Buddha, Hindu, Jain dan gimana mereka tumbuh dan mempengaruhi masyarakat Asia; di kelas International Trade saya belajar mengapa negara mengenakan tariff impor dan apa dampaknya di negara yang menggunakannya; dan di kelas International Relations, saya mempelajari teori-teori penting yang saya bisa menerapkan serta membuat saya lebih berwawasan tentang isu-isu kontemporari seperti konflik di Syria, Yemen dan laut Cina selatan. Karena kurikulum inti ini sangat membuat seseorang well-rounded, banyak orang yang menjuluki School of Foreign Service nya Georgetown University sebagai sekolah ‘untuk para calon diplomat.’

 

Tertarik untuk mendaftar di Georgetown University, Qatar?

SHARE
Previous articleRefleksi Awal 2016, dari Kaca Mata Imigran
Next articlePengalaman Sekolah Teater di Luar Negeri
Afif Haitsam
Afif is a sophomore at Georgetown University’s School of Foreign Service in Qatar, a Jesuit liberal arts institution in the Middle East, on a Qatar Foundation scholarship. Although he is yet to declare International Economics as his major, he often dreams about pursuing his cooking ambitions in between lectures and reading assignments. Despite having lived in Qatar since he was little, he still calls Jakarta his home and plans to return there to pursue a career in diplomacy once he graduates.
  • Dila Hidayat

    Terima kasih atas informasinya. Bisa minta informasi mengenai biaya kuliah per semester di Georgetown University, Qatar dan biaya hidup bulanan di Qatar ? Apakah tersedia scholarship ?