The Albert Dock, Liverpool

Liverpool: Sebuah Pengenalan

Apa yang muncul di pikiran kalian kalau mendengar kata Liverpool?

Sebagian mungkin teringat klub sepak bolanya yang legendaris, Liverpool FC (serta kerjasamanya dengan Garuda Indonesia).

Oke. Apalagi?

Saya dulu juga tidak punya ekspektasi terlalu tinggi akan Liverpool sebagai kota pilihan studi. Saya baru saja menyelesaikan studi master saya di kota ini, dan jujur, dulu pilihan utama saya bukan di sini. Seperti penuturan beberapa rekan mahasiswa asal Indonesia lainnya di sini (yang sebagian besar juga ‘kesasar’ kemari), sepertinya Liverpool masih dipandang sebelah mata sebagai kota tujuan belajar. Okelah, mungkin peringkat universitas-universitas di sini masih kalah dibandingkan peringkat universitas di London atau beberapa kota lainnya di Inggris (contoh: menurut QS dan THE, University of Liverpool tahun 2015 ‘hanya’ menduduki peringkat 150-an dunia). Namun demikian, motivasi memilih tujuan untuk studi tentu tidak sepenuhnya bergantung pada peringkat universitas kecuali bila program yang dipilih memang benar-benar jarang ditawarkan universitas-universitas lain. ’Pengalaman’ yang ditawarkan kota tujuan studi itu tidak kalah penting. Kenapa? karena kota manapun yang saya pilih itu akan saya tinggali selama (minimum) satu tahun. Bagi saya, ini serius. Tidak boleh asal pilih. Berdasarkan pengalaman saya setahun ini, Liverpool menawarkan banyak warna dan pengalaman yang hanya tinggal digali, kalau mau.

Memangnya apa saja yang spesial dari Liverpool?

Bagi saya, Liverpool bisa dideskripsikan dengan tiga kata ini: affordable, multicultural, vibrant. Cantik, kalau mau ditambah satu kata lagi. Menurut seorang teman saya yang kuliah di London, Liverpool itu seperti London tapi dalam skala yang jauh lebih kecil (dengan harga yang jauh lebih terjangkau, tentu saja). Menurut QS, kriteria untuk sebuah student city ideal diantaranya adalah peringkat universitas, affordability, student mixdesirability dan employer activity. Untuk peringkat sudah disinggung di atas ya. Employer activity dieliminasi dulu karena seperti yang pembaca mungkin sudah tahu, peluang kerja untuk international student di Inggris saat ini cukup sulit. Ketiga faktor lainnya mari kita kupas satu-satu di Liverpool.

Pertama, harga-harga di Liverpool termasuk relatif terjangkau untuk student. Kota ini ukurannya tidak terlalu besar. Area kampus dan city centre relatif bisa dijangkau dengan berjalan kaki dan ini cukup menghemat biaya transportasi. Perkara tempat tinggal, banyak student accommodation (baik dari kampus maupun private) yang berlokasi di area ini dengan harga yang cukup masuk akal. Seperti kota-kota destinasi belajar di Inggris lainnya, populasi mahasiswa di sini cukup banyak yaitu sekitar 50 ribu (dibandingkan dengan jumlah populasi total sekitar 470 ribu). Sudah pasti barang kebutuhan mahasiswa tersedia dengan mudah.

Kedua, student mix. Erat kaitannya dengan multikultur. Ini sangat terkait dengan sejarah Liverpool di masa lalu. Di abad 19, Liverpool merupakah salah satu kota pelabuhan terbesar dan terkaya di Inggris. Ini memacu datangnya kaum imigran yang menambah keragaman budaya kota ini serta turut ‘mendidik’ warga lokal di sini untuk memaklumi adanya perbedaan. Multikultur dalam konteks student mix pun cukup terlihat. Contoh: jumlah international student di University of Liverpool saat ini mencapai 30 persen dari total populasi mahasiswa.

Desirability. Masih menurut QS, faktor ini diantaranya terkait dengan keamanan. Liverpool di masa lalu memiliki image sebagai kota yang tidak aman. Ini terutama berkaitan dengan kondisi perekonomian yang buruk dan tingkat pengangguran yang tinggi. Image ini perlahan berubah positif khususnya semenjak kota ini dianugerahi predikat sebagai European Capital of Culture pada tahun 2008. Sejak itu, kegiatan perekonomian ditingkatkan, serta bagian-bagian kota ini direnovasi dan dipercantik termasuk kawasan city centre dan, ini yang paling menarik, area Liverpool Waterfront. Kawasan ini menghadap ke Sungai Mersey. Dianugerahi sebagai Unesco World Heritage Site pada tahun 2004, kawasan ini sekarang merupakan paduan bangunan kuno klasik dan gedung-gedung baru dengan bentuk modern dan kontemporer. Cantik sekali. Bangunan-bangunan kuno yang sebagian adalah dock (gudang pelabuhan) dialihfungsikan menjadi museum, galeri seni, pertokoan, perkantoran, apartemen serta kafe dan restoran. Kembali ke tingkat keamanan, saat ini, tingkat keamanan di Liverpool secara umum cukup tinggi dibandingkan kota-kota besar lainnya di Inggris.

Di awal tadi saya menyebut kata vibrant. Dan memang, saya cukup beruntung memilih tinggal di kota ini. Banyak event dan tempat-tempat menarik yang bisa dijelajahi dan banyak dari mereka bisa didatangi hanya dengan berjalan kaki. Dimulai dari Bold Street, jalan yang sangat populer akan toko-toko independen, supermarket dan restoran mancanegara (serta area rope-walks di belakangnya yang penuh tempat-tempat hiburan, kalau berminat). Liverpool ONE adalah salah satu mal perbelanjaan terbesar di Inggris. Lalu Baltic Triangle, kawasan bekas gudang-gudang tua yang disulap menjadi perkantoran industri kreatif, kafe dan tempat hiburan. Chinatown, meskipun ukurannya tidak besar, tapi ini adalah kawasan Pecinan tertua di Inggris. Lalu ada Anglican Cathedral, salah satu katedral terbesar di dunia. Bagi yang muslim mungkin tertarik mengunjungi masjid Abdullah Quilliam, masjid tertua di Inggris yang didirikan oleh mualaf pertama negara ini yang juga berasal dari sini. Dan jangan lupa bahwa Liverpool adalah kota asal band legendaris The Beatles. Segala yang berkaitan dengan band ini masih menjadi salah satu magnet terbesar wisatawan untuk berkunjung kemari, dan ini benar-benar dijaga. Event? jangan ditanya, banyak sekali.

Sekilas di atas saya mencoba untuk memasarkan sebuah kota. Jujur, sebagian memang benar. Tapi ini saya tulis setelah saya merasakan sendiri tinggal di sini. Tapi, kesimpulan yang sebenarnya ingin saya kemukakan adalah apapun kota yang akan dituju untuk keperluan studi, pilihlah dengan sebaik-baiknya. Layaknya wisata, jangan hanya terpaku pada destinasi-destinasi yang itu saja. Jika sudah terlanjur memilih, maka cari tahu sebaik-baiknya akan orang-orang, tempat-tempat dan event yang ada di kota manapun itu. Bacalah sekilas tentang sejarahnya. Ini terutama demi menikmati masa studi kita. Yang paling penting: jangan memilih kota hanya karena semata-mata banyak populasi orang Indonesia-nya.

Again, ini bagi saya ya.

 

Referensi: QS Best Student Cities 2015: Methodology

Sumber foto: koleksi pribadi




===========================================
MSc E-Business Strategy and Systems - University of Liverpool Akuntansi - Universitas Gadjah Mada Awardee BPI LPDP Ex financial auditor dan business analyst (under IT). Saat ini masih berada di Liverpool untuk wisuda sebelum nantinya kembali ke (most likely) Jogjakarta. Penikmat tapi amatir dalam fotografi, traveling, foto editing dan desain grafis. Member of Couchsurfing.
Posts | Facebook | LinkedIn