Bagaimana mendapatkan beasiswa Australia Awards untuk jurusan desain

0
49

Memperoleh beasiswa internasional untuk program master ataupun doktoral di bidang Desain seperti Desain Produk, Desain Komunikasi Visual dan Desain Interior, memang susah-susah gampang. Saya menyelesaikan S1 saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), jurusan Desain Produk Industri, konsentrasi ke bidang Desain Komunikasi Visual. Ketika saya memperoleh beasiswa S2 untuk program Master of Applied Design and Art di Curtin University Australia dari Australia Awards (sebelumnya diketahui sebagai Australia Development Scholarship atau ADS) pada tahun 2012, banyak yang bertanya bagaimana saya bisa mendapat beasiswa untuk bidang desain, yang secara eksplisit tidak masuk dalam target dari Australia Awards.

1. English Proficiency Test; TOEFL atau IELTS?

Di formulir Australia Awards, tercantum bahwa minimal skor adalah 500 untuk Institutional/International TOEFL dan 5.0 untuk IELTS.

Apakah TOEFL ITS bisa dipakai untuk apply Australia Awards? Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa ITS menyelenggarakan test TOEFL ITP (Institutional TOEFL Program) dengan biaya Rp. 300,000 yang bisa teman-teman pakai untuk mendaftar beasiswa Australia Awards. Untuk TOEFL IBT atau internet-based TOEFL yang berlaku internasional, dibutuhkan biaya US$160 dan Anda bisa daftar di beberapa agen pendidikan seperti Vista atau Alfalink. Tesnya agak susah karena berbasis internet, banyak gangguan terutama ketika sesi speaking.

Untuk IELTS, kalian bisa tes di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) atau di IDP dengan biaya sebesar US$190, berlaku internasional selama 2 tahun. Menurut saya, IELTS lebih mudah daripada TOEFL IBT (tapi banyak perdebatan tentang ini), karena suasana tesnya lebih nyaman, tidak banyak gangguan, dan pada sesi test speaking kita berbicara dengan orang lain, bukan mesin. Kemudian, range nilai IELTS lebih lebar; misalkan, jika jumlah nilai IELTS Anda 4.7, maka akan dibulatkan menjadi 5. Konversi nilai IELTS dan IBT bisa dilihat di link ini.

2. Universitas yang dituju

Pilihan universitas yang dituju semua tergantung dari program master apa yang ingin teman-teman ambil. Ada beberapa universitas di Australia yang punya program desain, seperti UNSW, University of Technology Sydney, Monash University, Swinburne University, Queensland University of Technlogy, RMIT, dan masih banyak lagi. Coba Google berdasarkan minat Anda dan juga ranking universitas tersebut di bidang desain. Yang bisa jadi pertimbangan lain adalah biaya hidup, karena kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne biaya hidupnya tinggi, biaya sewa kamar bisa $220 per minggu.

3. Desain tidak tercantum dalam targeting area Australia Awards

Desain dan Seni memang tidak tercantum di targeting area Australia Awards, tapi desain adalah bidang yang sangat liquid dan bisa masuk ke topik mana saja. Yang penting, teman-teman bisa menjual isu terkini. Dan Ands tidak selalu harus ambil desain untuk S2 kan (kecuali kalau memang ingin jadi dosen PNS)? Rekan-rekan sesama penerima beasiswa saya tahun lalu banyak yang pindah jalur. Ada yang latar belakangnya pendidikan Bahasa Inggris, sekarang ambil double degree di bidang Political Science dan Human Rights sebagai akibat keprihatinannya terhadap relasi masyarakat Papua dan Freeport. Ada juga fresh graduate (baru lulus banget), di bidang International relations, karena keprihatinanya terhadap isu-isu TKI dan TKW yang sering tidak terurus oleh karena kegagalan diplomasi Pemerintah.

Kalau saya sendiri, saya ambil tema City Branding, dan saya kaitkan dengan Democracy Justice and Good Governance, dan masuk ke sub topik Decentralisation. Argumen saya, sejak pemberlakuan UU Otonomi Daerah tahun 2005, tiap daerah sudah tidak bisa bergantung sepenuhnya dari pendanaan Pemerintah Pusat, dan harus berusaha untuk memberdayakan daerahnya. City branding bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi kota dan kabupaten di Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan dan pembangunan daerah untuk menarik investor, menarik wisatawan dan pekerja dengan keahlian tinggi. Untuk mendukung strategi city branding, dibutuhkan logo yang bisa memunculkan dan menampilkan nilai-nilai positif dari sebuah kota. Riset saya adalah tentang bagaimana mewujudkan logo tersebut.

4. Coursework, research, atau campur?

Kalau Master program berbasis coursework, tiap semester biasanya ambil 4 mata kuliah, dan evaluasinya 3 kali dalam satu semester per mata kuliah.

Kalau research, kita harus bikin proposal riset dulu, kemudian cari profesor di universitas di Australia yang bersedia untuk membimbing kita. Untuk program yang seperti ini, kuliahnya tidak banyak, mungkin hanya di semester satu saja untuk membuat proposalnya. Setelah itu, kita mengerjakan riset tanpa harus mengikuti kuliah di kelas. Program ini ideal buat teman-teman yang punya rencana melanjutkan ke PhD/ S3.

Untuk program campur coursework dan research, biasanya di tahun pertama kita kuliahnya berupa coursework, lalu tahun kedua kita baru riset.

5. Reference/ Surat Rekomendasi

Surat rekomendasi bisa diminta dari mantan atasan saat kita magang, mantan pembimbing ketika di S1 atau mantan dekan atau mantan dosen yang lain. Usahakan meminta surat rekomendasi dari orang yang kompeten. Kalau dosen, cari yang minimal sudah S3, atau yang sudah bergelar profesor. Untuk Australia Awards, memang harus tulisan tangan langsung dari pemberi rekomendasi.

6. Berdoa

:) Yang paling penting, karena kalau Tuhan tidak ridla dan berkah untuk niat dan tujuan kita, tidak akan kesampaian.

Sekian dulu tips-tips dari saya. Pertanyaan lebih lanjut, silakan langsung message saya.

===========================================

Photo Credits:  ”Creative desk pens school” courtesy of Pixabay; “Inaugurial Australia Awards” courtesy of Wikimedia