Mengenal Dekat The College of Wooster

Mengenal Dekat The College of Wooster

Halo teman-teman IM! Artikel saya bulan ini spesial untuk teman-teman di bangku SMA yang tengah mencari universitas di luar negri. Silakan simak pembahasan saya tentang kampus saya,The College of Wooster. Kampus saya memiliki banyak kualitas yang Anda cari (atau mungkin yang tidak Anda cari) diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Universitas Unggulan di bidang Riset – Setara dengan sekolah Ivy League Princeton University

Program unggulan Wooster adalah program thesisnya yaitu Independent Study atau biasa disebut I.S. Setiap murid wajib untuk menjalankan proyek riset orisinil selama satu tahun di dua semester terakhir mereka di Wooster. Setiap murid mendapat seorang dosen sebagai advisor saat proyek riset. Murid dibantu dengan advisor bekerja sama untuk keseluruhan proyek, dimulai dari mencari topik, penulisan, organisasi, serta presentasi.

Melalui proyek Independent Study ini, setiap murid membangun banyak sekali kemampuan yang sangat penting di apapun karir yang mereka pilih setelah lulus. Diantaranya, mereka akan terlatih untuk untuk mengambil keputusan secara independen, mengolah data secara anatilis, kretivitas dalam memecahkan masalah, time-management, serta tentunya kemampuan untuk mengutarakan ide secara oral dan tertulis ke berbagai macam audiens.

Program Independent Study beserta banyak kesempatan untuk menjalankan riset lainnya untuk murid selama 4 tahun karir mereka di Wooster, menempatkan Wooster setara dengan salah satu universitas Ivy League, Princeton University selama 14 tahun terkahir sebagai salah satu universitas unggulan di bidang riset menurut US News.

2. Komunitas yang Erat

Salah satu hal favorit saya dari Wooster adalah komunitasnya memiliki kebersamaan yang sangat erat. Ini mungkin karena ukuran Wooster yang relatif kecil: muridnya secara keseluruhan hanya sekitar 2,100 orang. Satu angkatan pun hanya sekitar 500 murid. Jadi, semua murid saling mengenal satu sama lain.

Tidak hanya saling kenal,murid-murid di Wooster umumnya saling membantu satu sama lain, baik di kelas atau pun hal lain. Meskipun murid-murid di Wooster memiliki dedikasi yang sangat tinggi pada studi mereka, mereka tidak segan untuk membantu murid lain yang kesulitan di pelajaran. Teman-teman sekelas saya sering mengerjakan PR bersmaa. Kakak-kakak kelas dengan senang hati membantu para adik kelas yang mengambil kelas yang sama dengannya di tahun sebelumnya. Tidak ada tuh, yang saling sikut untuk dapat nilai terbaik di kelas. Semua saling membantu asalkan tidak saat ujiannya itu sendiri.

Selain antar murid, hubungan dengan anggota komunitas lainnya juga sangat erat. Dengan dosen, saya dan teman-teman sering ngobrol santai sambil minum teh atau kopi. Tidak hanya masalah materi di kelas, tapi juga tentang karir dan tentang kehidupan pada umumnya. Dosen-dosen saya kenal sangat baik dengan saya, sampai pada waktu saya sakit dan harus dirawat di RS, salah satu dosen saya menjenguk ke RS! Sama halnya dengan staf kampus lainnya. Tidak jarang saya dan teman-teman berdiskusi dengan staf kampus lain tentang isu-isu kampus, politik, dan lain-lain.

Yang lebih penting lagi adalah hubungan dengan para alumni. Alumni-alumni Wooster merupakan sumber network yang sangat berharga. Mereka tidak segan untuk membantu murid-murid untuk mengeklorasi pilihan karir setelah kuliah.
3. Ukuran Kelas yang Kecil

Salah satu keunggulan utama Wooster adalah ukuran kelas yang umumnya sangat kecil. Perbandingan antara murid dan dosen adalah 11:1. Kelas terbesar yang pernah saya ambil diiisi oleh sekitar 40 murid. Sedangkan kelas terkecil yang saya ambil ada 8 murid di kelas.

Lalu, apa untungnya kalau kelasnya kecil?

Kelas yang kecil memungkinkan kelas menjadi lebih berdasarkan diskusi dan kolaboratif. Sistem di kelas tidak hanya dosen men-transfer ilmunya ke murid. Murid juga bisa memberi masukan dan ikut membentuk kelas. Karena kelas kecil, asisten dosen juga tidak diperlukan. Kami diajar langsung oleh para dosen.Kami memiliki banyak face-to-face time dengan dosen yang tidak bisa didapatkan di universitas besar. Kalaupun ada asisten dosen, umumnya mereka hanya membantu murid untuk persiapan ujian serta tugas. Setiap dosen juga memiliki office hours dan di waktu tersebut, setiap murid bebas untuk datang ke ruangan dosen dengan segala macam pertanyaan tentang materi kuliah.

4. Murid-Murid yang Rajin Belajar

Murid-murid di Wooster memiliki banyak kegiatan. Seperti saya, biasanya mereka aktif di setidaknya satu atau dua organisasi di kampus, entah itu olahraga, musik, kesenian, dan lain-lain. Tidak peduli kegiatannya, satu hal yang pasti: murid-murid di Wooster sangat peduli dengan prestasi akademis mereka. Murid-murid di sini sangat rajin belajar. Para atlet, contohnya, biasanya belajar di bis di jalan menuju ke pertanidngan. Setelah pertanidngan, mereka belajar sampai tengah malam mengejar ketertinggalan. Energi seperti inilah yang membuat Wooster tempat yang spesial. Murid-murid ini membuat saya ikut termotivasi juga untuk berkerja keras di setiap kelas yang saya ambil.
5. Dosen Berkualitas Teratas

Baru-baru ini, muncul di berita bahwa The College of Wooster adalah salah satu dari 5 universitas dengan dosen terpintar di Amerika Serikat.

Di luar dari benar atau tidak nya penilaian dari website tersebut, saya setuju bahwa kualitas dari sebagian besar dosen di Wooster adalah sangat baik. Saya sering bingung, mengapa dosen-dosen Wooster memilih untuk mengajar di tengah pedesaan seperti Wooster. Karena melihat dari pengalaman dan kualifikasi mereka, para dosen ini saya bisa bekerja di banyak tempat lain seperti perusahan atau NGO yang mungkin menggaji lebih besar! Tapi dosen-dosen di Wooster berkomitmen sangat tinggi untuk mengajar dan itulah yang menjadi salah satu faktor utama kualitas pendidikan di Wooster menjadi sangat baik. Seperti yang saya bahas sebelumnya, mereka selalu bersedia membantu saya bila saya mengalami kesulitan di kelas. Di luar kewajiban mereka untuk melangsungkan office hours saya juga bisa membuat appointment untuk bertemu mereka diluar waktu tersebut bila saya masih memiliki masalah. Mereka benar-benar peduli akan kesuksesan para murid di Wooster.

6. Kesempatan Beasiswa

Ini mungkin adalah faktor paling penting – Wooster memiliki banyak beasiswa yang tersedia tidak hanya untuk murid lokal namun juga untuk murid internasional. Saya pribadi tahu banyak murid lokal dan internasional yang diterima di berbagai universitas yang lebih terkenal dari Wooster namun memilih untuk Wooster karena paket beasiswanya yang lebih menarik.

Wooster menilai tinggi keberagaman budaya dan kultur diantara mahasiswanya, karena itulah Wooster sangat giat merekrut murid dari negara asing. Selain itu, Wooster juga sangat jarang memiliki murid dari Indonesia. Saya adalah murid Indonesia pertama mereka di sekitar setidaknya 10 tahun terakhir. Karena itulah, menjadi murid Indonesia juga akan menjadi daya tarik untuk bisa diterima dan mendapat beasiswa di Wooster.

7. Lokasi di Pedesaan

Seperti kebanyakan sekolah kecil seperti Wooster, kampus saya terletak di daerah yang cukup rural. Kota kecil Wooster, populasi sekitar 26,000 dan areanya 42km2. Sangat kecil bila dibandingan dengan kota asal saya Jakarta yang populasinya 9.6 juta dan areanya 740 km2.

Wooster terletak sekitar 45 menit dari Akron-Canton, daerah “metropolitan” terdekat. Wooster terletak kira-kira 1 jam dari Cleveland, salah satu kota terbesar di Ohio, dan sekitar 2 jam dari Columbus, ibu kota negara bagian Ohio. Bandara terdekat dari Wooster juga terletak di tiga kota tersebut.

Lokasinya yang cukup jauh dari kota besar tentunya memiliki banyak kekurangan. Contohnya, sulit bagi saya untuk melakukan magang saat sekolah sedang berlangsung. Kesempatan saya untuk magang hanya di saat liburan musim panas. Kesempatan networking juga terbatas karena bisnis di kota ini berskala kecil. Selain itu, setelah beberapa lama kota kecil seperti Wooster sangat membosankan karena sumber kegiatan dan hiburan yang terbatas.

Namun, tentunya banyak juga keuntungannya. Saya merasa sangat fokus ke kegiatan akademis dan non akademis di kampus. Kalau saya berkuliah di kota besar, mungkin saya akan sedikit lengah di pelajaran karena banyaknya distraksi dari kegiatan kota besar. Selain itu, sumber hiburan yang ada juga biayanya sangat murah dibanding dengan di kota besar.

Wooster itu sendiri sebetulnya memiliki daerah downtown yang cukup unik, lengkap dengan beberapa restoran lokal favorit serta beberapa restoran franchise. Ada juga beberapa pusat perbelanjaan kecil di Wooster yang memiliki Walmart, Best Buy, Kohl’s, Dick’s Sporting Goods, dll.

Jangan ragu untuk memasukkan The College of Wooster di salah satu universitas pilihan kamu. Informasi lebih lanjut bisa anda dapatkan di website http://wooster.edu atau saya juga bisa coba jawab beberapa pertannyaan melalui comment di artikel ini. Semoga bermanfaat!

 




===========================================
Khairunnisa (Nisa) Usman is an Economics and Mathematics student at The College of Wooster in Wooster, Ohio, USA. She is a former benchwarmer of the college's women's basketball team and the ultimate frisbee team. Before her senior year of high school, she took a gap year to live in Arlington, VA as an AFS Foreign Exchange student. Her free time consists of many "The Office" episodes as well as Manchester United games.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn