Kuliah Pascasarjana ke Amerika dengan beasiswa USAID PRESTASI

Kuliah Pascasarjana ke Amerika dengan beasiswa USAID PRESTASI

Biaya pendidikan di Amerika Serikat (AS) yang mahal, bukan menjadi alasan kita untuk berhenti berharap dalam melanjutkan kuliah ke Negeri Paman Sam. Beberapa beasiswa yang ditawarkan kepada warga Indonesia, bisa dimanfaatkan, seperti misalnya Fulbright, LPDP, Presidential Scholarship dan beasiswa saya sendiri, USAID PRESTASI. Beasiswa PRESTASI atau kepanjanganya Program to Extend Scholarships and Training to Achieve Sustainable Impacts adalah program yang memberikan kesempatan kepada warga negara Indonesia untuk menempuh pendidikan Master dalam bidang – bidang tertentu di Amerika Serikat. Pendanaan sepenuhnya dibiayai oleh USAID Indonesia dan diimplementasikan oleh Indonesian International Education Foundation (IIEF) sebagai kontraktor lokal. PRESTASI dirancang sedemikian rupa untuk membantu calon pemimpin masa depan memperoleh pengetahuan baru dan meningkatkan kapasitas yang akan berguna untuk membangun Indonesia.

Tujuan dari beasiswa PRESTASI adalah untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan kaum profesional di Indonesia, yang pada akhirnya akan mendorong pembangunan Indonesia. Bidang- bidang utama yang menjadi fokus adalah bidang dimana AS dan Indonesia sama – sama memiliki kepentingan untuk menghapus kemiskinan dan transparansi demokrasi baik di dalam Indonesia sendiri, maupun secara global. Bidang – bidang tersebut adalah:

  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Lingkungan dan Ekonomi, dan;
  • Demokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan

Saya sendiri berasal dari bidang Economic Growth dan akhirnya melanjutkan Master study di bidang Kebijakan Umum (Kebijakan Ekonomi dan Finansial) di Cornell University, Ithaca NY. Menjadi salah satu penerima beasiswa ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga, tidak hanya dalam hal akademi, tetapi juga untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda. Beberapa proses yang saya lalui sebelum dikabarkan mendapat beasiswa terdiri dari proses pengiriman aplikasi dan proses interview beasiswa.

Acara Penerima USAID Prestasi

Acara Penerima USAID Prestasi

Acara Penerima USAID Prestasi

Acara Penerima USAID Prestasi

Menurut saya, tingkat keberhasilan mendapatkan beasiswa tidak bisa disamakan dengan tingkat intelektualitas seseorang. Terkadang ada beberapa factor lainya yang dilihat dan dipertimbangkan tim beasiswa dalam memilih penerima beasiswa. Namun yang saya cukup yakini, beberapa penerima beasiswa ini termasuk saya, memiliki cita-cita yang realistis dan feasible dalam memberikan kontribusi dan bantuan untuk kemajuan Indonesia. Selanjutnya, pendidikan yang akan kita ambil di Amerika hanya merupakan instrument dalam meraih dan mewujudkan cita-cita tersebut. Hal ini terdengar simple, namun fondasi dan alur pikiran kita harus jelas dan rapih agar bisa meyakinkan tim beasiswa bahwa kita layak untuk menjadi investasi mereka demi kemajuan Indonesia.  Seperti misalnya, ketika saya ditanya apakah saya mau menjadi dosen, saya katakan bahwa menjadi dosen bukanlah cita cita saya, namun saya tidak akan menolak jika saya diberikan kesempatan menjadi dosen part time. Lalu, mengenai cita- cita beberapa tahun kedepan, saya katakan dengan realistis bahwa masa depan adalah scope waktu yang panjang, mungkin saya bisa menjadi menteri kedepanya, namun saya tidak ada jaminan karena apapun bisa berubah. Yang saya tahu pasti, saya jelaskan kepada mereka bahwa sekembalinya saya dari Amerika, saya ingin bekerja menjadi peneliti di institusi riset di Indonesia. Pertanyaan lainya, menurut saya, sangat menjebak, yakni, mengapa saya tidak menjadi PNS jika ingin mengabdi kepada Negara.Selanjutnya, setelah aplikasi kita dilihat sesuai dengan tujuan dari Beasiswa PRESTASI, kita dipanggil interview di kota asal kita masing- masing. Interview saya kebetulan di Jakarta, dan interview  berlangsung dalam bahasa inggris selama kurang lebih 30-40 menit. Pertanyaan yang ditanyakan pertama adalah mengenai diri saya. Saya disuruh tim penanya yang terdiri dari tiga orang, dua warga Indonesia yang merupakan akademisi dan ahli ekonomi dan satu orang Amerika yang bekerja di USAID, untuk menjelaskan mengenai diri saya sendiri. Dari penjelasan dan jawaban saya, baru mulai mengalir pertanyaan- pertanyaan berikutnya. Beberapa pertanyaan yang masih saya ingat sampai sekarang adalah: apa kamu berminat menjadi dosen ketika kembali ke Indonesia, apa hubungan visi dan misi kamu dengan bidang yang akan kamu pelajari, apa yang akan kamu lakukan sekembalinya kamu ke Indonesia, jika ditawarkan menjadi menteri bagaimana pendapat kamu, dan lain lain. Pertanyaan terakhir yang menurut saya cukup lucu adalah pertanyaan mengenai pendapat saya jika saya jatuh cinta dengan pria Amerika. Untuk beberapa jawaban dari pertanyaan- pertanyaan tersebut, saya katakan dan saya jawab sejujurnya sesuai dengan visi dan misi saya ketika kembali ke Indonesia.

Hasi dari interview, merupakan hasil apakah kita akhirnya meraih beasiswa ini atau tidak. Hasilnya diumumkan sebulan setelah interview, yakni di bulan September. Ketika tahu bahwa saya mendapatkan beasiswa, saya menangis bahagia karena cita-cita saya untuk kuliah ke Amerika terwujud. Saya percaya jika ada niat dan tekad yang kuat, kita pasti bisa meraih cita-cita kita kedepanya. Menurut saya, tidak ada alasan untuk tidak mencoba dan terlebih, jika saya bisa, mengapa kamu tidak bisa? J

Tips mendapatkan beasiswa PRESTASI dari saya juga bisa didengar dari interview saya dengan VOA (Voice of America), disini: http://www.voaindonesia.com/audio/2591497.html

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Beasiswa USAID Prestasi: http://www.prestasi-iief.org/index.php/english/

Photo credit: koleksi pribadi dan www.prestasi-iief.org




===========================================
Catherine is currently pursuing her master degree in Cornell University majoring Economic and Financial Policy. She just finished her internship at the United Nations Secretariat in NYC this summer. Her passions in Economic Policy and International Trade develop during her first career as a Researcher in Australia-Indonesia Project assisting the Ministry of Trade Republic of Indonesia. Outside of work, she loves traveling, meditating and eating.
Posts | Website | Facebook | Twitter | LinkedIn