source: static.pexel.com

Blogging Efektif

Bulan Agustus- September yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengajar Bahasa Indonesia untuk para anggota militer Amerika Serikat di negara bagian Montana. Bulan ini, Oktober sampai November, saya kembali diberi kepercayaan untuk mengajar para anggota militer ini di kota San Diego, negara bagian California.

Banyak teman-teman menanyakan kepada saya bagaimana saya bisa mendapat kesempatan-kesempatan yang luar biasa seperti ini. Percaya atau tidak, jawabannya adalah lewat blog pribadi saya.

Ada satu artikel di blog saya dimana saya menceritakan sisi “duka”-nya menjadi imigran di Amerika Serikat. Salah seorang teman saya yang membaca artikel tersebut berniatan baik dan membantu saya mencari kegiatan yang signifikan dengan latar belakang saya di bidang pendidikan. Dari situlah, lewat berbagai proses wawancara, saya diberi kesempatan yang pertama untuk mengajar para anggota militer di Amerika Serikat. One thing leads to another. Setelah kesempatan tersebut usai, saya ditawarkan kesempatan serupa di California. Sungguh sangat tidak disangka bahwa kesempatan-kesempatan ini berawal dari hanya sebuah artikel di blog saya.

Menariknya, ini bukan kali pertama blog saya berujung pada pekerjaan berbayar. Ketika saya masih di Indonesia, kira-kira setahun sebelum saya pindah ke Amerika, saya memutuskan untuk bekerja sendiri (self-employed) dengan beberapa jenis pekerjaaan yaitu sebagai dosen (dua kali seminggu), business/event interpreter (most of weekdays), dan talk show host (hampir setiap akhir pekan). Banyak dari pekerjaan-pekerjaan ini menghubungi saya lewat blog saya. Beruntungnya, merekapun menjadi client tetap.

Kunjungan ke Pabrik Kertas dalam salah satu tugas saya sebagai interpreter untuk ASEAN Conference on Pulp and Paper Industry, 2013.

Yang paling saya banggakan dari blog saya ini adalah bahwa Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, membalas salah satu artikel dalam blog saya mengenai pandangan saya tentang Amerika yang saya kirim ke email White House. Memang ada jeda dua bulan sebelum saya menerima balasan. Tapi saya tidak mengharapkan balasan apapun. Saya tidak berani mengharapkan balasan apapun. Kalau menurut peribahasa anak sekarang, Da aku mah apa atuh, hanya setetes embun di Kebun Raya Bogor (hashtag: Kekinian). Jadi ketika suatu pagi saya membuka email pribadi saya, rasanya tidak percaya ketika ada balasan dari beliau. I mean, how many of you can say that President of the United States listened and responded to your voice?

Email Balasan dari Gedung Putih

***

Jadi bagaimana biar blog kita berujung pada pekerjaan berbayar, kesempatan-kesempatan baru, atau bahkan beasiswa?

1. Blogging itu erat kaitannya dengan metode komunikasi.

What makes a good writer? A good reader.

What makes a good public speaker? A good listener.

Jangan terbalik.

Semua hal yang ada kaitannya dengan skill komunikasi membutuhkan “investasi” dari kita terlebih dahulu. Apa hubungan menjadi “good reader” dengan “good writer”? Dengan banyak membaca, kita jadi tahu mana tulisan yang “enak dibaca” dan mana yang terasa “dipaksakan”. Dengan banyak membaca, secara alami kita otomatis juga belajar penggunaan tanda baca yang baik – disamping ilmu baru yang ditawarkan oleh artikel/ berita/buku tersebut.

Apa hubungan menjadi “good listener” dengan “good public speaker”? Dengan menjadi pendengar yang baik, kita tahu berbagai jenis percakapan, mulai dari yang sangat membosankan sampai dengan yang sangat inspiratif. Dari situ kita bisa belajar pentingnya intonasi dan pengemasan kata-kata. Kita juga belajar cara menanggapi suatu cerita: mana tanggapan yang negatif dan menghakimi, mana tanggapan yang berujung pada persahabatan. Tentunya menjadi pendengar sangat susah dilakukan. We are our own favorite topic. Semua orang ingin bicara, jarang yang ingin mendengar. Tapi pasti level komunikasi kita akan semakin berkembang bila kita-lah orang yang ingin mendengarkan itu: ask questions and show interest.

Saya percaya, bila kita sudah menguasai kedua skill tersebut, membaca dan mendengarkan, your blog is going to be splendid.

2. Pasarkan blog kita! Banggalah dengan hasil karyamu sendiri. Believe and have confidence in your product.

Ketika saya pertama memutuskan untuk self-employed, hanya 4 point yang saya cetak di kartu nama saya: Nama, Service yang ditawarkan, Nomor HP/Email (Contacts), dan website blog saya. Saya juga rajin men-share artikel terbaru blog saya lewat berbagai media sosial. Pada awalnya memang saya “memaksakan” teman-teman terdekat dan keluarga untuk membaca blog saya dan memberi masukan. Mereka sangat jujur, kadang mereka bilang, “No Kitty. We’re not feeling this one. You could do better than this.” Itu saatnya artikel tersebut harus kembali ke meja kerja saya untuk dievaluasi. Jangan takut akan kritikan.

Ngomong-ngomong soal diktum diatas, “believe and have confidence in your product,” beberapa bulan yang lalu saya menerbitkan artikel berjudul “A Letter To My Indonesia” yang mengungkapkan ‘kefrustasian anak bangsa’ (yaitu saya sendiri) tentang negara yang tidak kunjung berubah ke arah yang lebih baik. Banyak yang memuji namun lebih banyak lagi yang mengecam. Dengan total lebih dari 8,000 share di Facebook saja, saya menerima banyak sekali masukan, mulai dari masukan yang membangun, membuka pikiran saya akan sudut pandang yang lain, sampai komentar yang “tidak bermutu” dan penuh asumsi yang begitu personal dan judgmental. Dengan berbesar hati, semua saya approve untuk ditampilkan di section “Comments.”

However, I believe in my products and I stand by my words. Ketika saya masih kecil, almarhum ayah saya mengajarkan, bila kamu diserang tapi kamu tahu apa yang kamu lakukan itu benar, jangan pernah mundur. Memasarkan blog kita berarti kita sudah siap untuk menghadapi berbagai reaksi publik. Sekali lagi saya mau mengingatkan, selama niatan kita baik, jangan mudah mundur.

3. Don’t be good at what you do. A lot of people are good at what they do. BE VERY GOOD at what you do. Be excellent. Jadilah nama yang pertama kali muncul di benak seseorang tiap kali mereka mencari orang yang tepat untuk menyelesaikan suatu tugas. Nama kamu harus berarti kualitas. Nama kamu harus berarti jaminan bahwa suatu pekerjaan akan selesai dengan sempurna dan tepat waktu. Nama kamu harus berarti integritas. Aturan ini berlaku tidak hanya dalam hal blogging, namun dalam bidang apapun kita sekarang: apakah itu dalam hal belajar bahasa asing, dalam hal pendaftaran beasiswa, dalam hal perkuliahan. Jadi pada awalnya, kita memang harus berusaha mengembangkan skill pribadi kita seluas-luasnya terlebih dahulu. Jangan pernah merasa sudah terlalu pintar untuk belajar. Bila kita menjadi orang yang terbaik di bidang kita, pekerjaanlah yang akan mencari kita, bukan sebaliknya.

***

Saya percaya bangsa Indonesia yang ramah ini memiliki banyak potensi untuk menjadi ahli komunikasi. Secara kultural, kita adalah bangsa yang secara alami ramah terhadap sesama. Hanya saja masih minim anak-anak bangsa yang berani unjuk gigi ke tahap internasional. Sayangnya, sekali ada yang mencoba unjuk prestasi dan merambah dunia internasional, ramai-ramai kita cerca (Hashtag: AgnesMonica). Saya bukan fans Agnes, tapi saya sangat menghargai usaha dan keberanian beliau merambah pasar Amerika Serikat. And one more thing, remember that great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.

Harapan saya adalah semakin banyak anak-anak bangsa yang hebat dibidangnya, tidak saling menjatuhkan, dan mempunyai  keberanian membawa skill mereka ke kancah internasional. Biarlah karya anak Indonesia benar-benar mengglobal.

Content edited by Artricia Rasyid

Photo Credit: Author’s Collection




===========================================
Kitty Sitompul-Nieman is an award winning intercultural professional with a blend of experiences in teaching, writing, interpreting, and public speaking in international and diverse platforms. A Fulbright scholarship grantee for the Community College International Development program, Kitty has eight years of experience in English as a Second Language (ESL) teaching and management, as well as three years experience in Indonesian-English consecutive and simultaneous interpretation. She currently lives in Lexington, Kentucky, USA with her husband, Clay Nieman. They both enjoy hanging out at Buffalo Wild Wings. More of her writings can be found at her personal blog www.KittySitompul.wordpress.com.
Posts | Website | Facebook | Twitter | LinkedIn