Menjadi Profesor: Pembelajaran Seumur Hidup

1
137

Siang setelah upacara wisuda, ibu seorang murid/wisudawan bertanya pada saya, “Apa rencana Anda setelah lulus?”

Sang murid dengan tersipu menjelaskan, “Bu, ini Profesor saya…” Saya senyum maklum, pertanyaan dan perkiraan ini sudah umum. Mungkin karena saya berkaca-mata tapi belum beruban, dan juga perempuan—tak cocok dengan gambaran khas seorang profesor.

Saya sendiri ingat bahwa sebagai mahasiswi di Universitas Harvard, saya tidak begitu mengerti perkerjaan dan hidup seorang profesor sebenarnya. Contoh utama: dulu tidak saya ketahui bahwa inti pekerjaan profesor adalah sebagai peneliti, bukan sebagai pengajar. Ini mungkin mengagetkan pembaca, yang mengenal profesor kebanyakan lewat konteks kelas, kuliah, dan ceramah.  Profesor memang mengajar, tapi pada pokoknya profesor membaktikan dirinya pada riset dan penelitian. Profesor adalah ilmuwan. Ada ilmuwan yang bukan profesor (peneliti di lembaga riset, misalnya), tapi tidak ada profesor yang bukan ilmuwan.

Inti profesor sebagai ilmuwan menentukan dan mengukir hidup seorang profesor. Pertama-tama, untuk mendapatkan pekerjaan sebagai seorang profesor, calon dinilai dari kualitasnya sebagai peneliti dan ilmuwan. Ilmuwan-calon profesor ini tentu saja sudah mendapatkan Ph.D. (S3), tetapi mendapatakan gelar Ph.D. semata-mata jauh dari cukup untuk mencapai keprofesoran. Menurut Nature, di Amerika Serikat hanya 15% dari para pemegang Ph.D berhasil mendapat posisi sebagai profesor di universitas, ini pun hanya 6 tahun setelah mendapat Ph.D.[1] Kompetisi mendapatkan pekerjaan profesor sangat tangguh. Suami saya—seorang fisikawan di Universitas Stanford—berhitung bahwa mendapatkan pekerjaan profesor sama susahnya dengan pemain sepak bola memasuki klub Champions League.

Layaknya pemain baru Champions League berlatih keras untuk bertahan di klub impian, profesor di tahun-tahun awal berkeringat memajukan penelitiannya. Tujuannya sama: untuk bertahan. Universitas AS menerapkan sistem tenure track: pada awalnya profesor menjalani masa “uji”—biasanya 6 tahun—sebelum seorang profesor dinilai layak mendapatkan tenure. Arti mendapatkan tenure adalah mendapatkan posisi profesor permanen di universitas itu. Kekal selama-lamanya bertengger di universitas, tak bisa digugat oleh siapa pun, termasuk dekan dan rektor. Dalam hal ini kami para profesor lebih beruntung dari pemain sepak bola liga atas—yang bisa dipecat sewaktu-waktu.

Saya sendiri bermain di klub Swarthmore College. Swarthmore ini seperti klub liga atas, selalu menduduki peringkat 1, 2, atau 3 dari National Liberal Arts Colleges[2] menurut US News & World Report. Bersama dengan Williams College dan Amherst College, Swarthmore sering disebut sebagai Little Ivies—seperti Harvard atau Yale—tapi dengan jumlah murid yang jauh lebih sedikit. Konsekuesinya adalah ukuran kelas yang lebih kecil sehingga mahasiswa lebih mudah bersua dan berdiskusi dengan para profesor. Juga lebih mudah bagi mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian sang profesor.

Melibatkan mahasiswa dalam penelitian adalah sumber penyemangat saya sebagai profesor. Saya adalah ilmuwan psikologi kognitif; penelitian saya menanyakan bagaimana manusia mendapat pengetahuan dan ilmu. “Ilmu” tidak terbatas pada pelajaran dari buku sekolah tetapi mencakup seluruh tahu-menahu. Untuk saya adalah sangat mempesona dan misterius bahwa bocah umur 3 tahun bisa berungkap “mainan ada di meja” dan tidak sembarangan mengatur kata-kata “meja ada mainan di.” Mempesona karena saya jamin tidak ada bocah Indonesia yang pernah mengucapkan  “di” di akhir kalimat ; misterius karena tidak ada yang mengajarkan sang bocah untuk menyusun “di” sebelum “meja.” Belum lagi anda pikirkan dari mana sang bocah tahu artinya “di”? Meja, mungkin sang ayah bisa memperlihatkan “Nak, itu namanya meja.” Tetapi “di” tidak bisa dilihat, dipertunjukan. Penelitian saya memberi jawaban misteri ini.

Ilmuwan bukanlah (hanya) profesor linglung yang memelototi mikroskop. Lebih tepat kalau saya bilang bahwa ilmuwan adalah seseorang yang jatuh cinta pada pekerjaannya. Siang malam—kadang subuh—saya pikirkan misteri penelitian, mencari jawaban, merenungkan pertanyaan. Tetapi untuk saya gairah pemikiran penelitian ini tidak bisa dibendung sendirian. Akan lebih memicu semangat kalau dibagi dengan murid-murid saya. Dan inilah yang sehari-hari saya lakukan sebagai profesor: menunjukan berbagai misteri, menguraikan pertanyaan, dan mengajak murid-murid saya mencari jawaban bersama.

Secara konkrit banyak murid-murid yang melakukan penelitian di laboratori saya. Ini sering dilakukan di luar kelas, tanpa mendapat credit. Awalnya di kelas (lectures) mereka mendengar dan berpikir tentang misteri—misalnya bagaimana anak umur 3 tahun telah mengetahui tata bahasa—atau misteri terkait lainnya. Lalu mereka ingin lanjut terlibat, dan saya menyediakan sarana dimana mahasiswa-mahasiswi bisa terlibat melakukan penelitian, secara metodis mengajukan pertanyaan dan memilah jawaban. Tahun akademik lalu contohnya, murid saya yang belum dapat gelar sarjana memberi ceramah di Konferensi Kognitif di Budapest, Hungaria, tentang penelitian yang dia lakukan di laboratori saya. Ceramah ini dihadiri pakar-pakar  dan profesor kognitif psikologi. Murid saya adalah satu-satunya pembicara yang bahkan belum lulus S1.

Ini memang keunikan liberal arts colleges: para murid dipacu untuk menimba ilmu dengan profesor, dan bukan terbatas dari profesor. Begitulah saya sebagai ilmuwan-profesor, haus membagi pemikiran dengan para murid yang awam. Kadang keawaman ini berbuah menjadi pertanyaan yang menarik, penelitian baru yang saya tidak terpikirkan sebelumnya. Sebaliknya juga, ajakan saya untuk jeli mendalami masalah, berpikir terbuka terhadap pertanyaan hidup—kecil (di kelas: lebih baik mendengarkan saja atau mencatat semua yang didengar?) maupun besar (darimana manusia menjadi pintar?)—membuka mata dan nuansa hidup mahasiswa.

Banyak murid yang telah lulus dan bekerja bukan sebagai ilmuwan berkata bahwa pengalaman mereka melakukan penelitian di laboratori saya berguna bahkan di konteks pekerjaan kini yang berbeda. Tidak mengherankan: kemampuan berpikiran kritis dan metodis selalu bermanfaat.


[1] Cyranoski, D., Gilbert, N., Ledford, H., Nayar, A., & Yahia, M. (2011). Education: the PhD factory. Nature News472(7343), 276-279.

[2] Di AS college dan university tidak berbeda dalam sarjana S1 (bachelor degree, BA or BS). Perbedaan antara college dan university terletak di S2 dan S3—ini bukan prioritas college, kebanyakan college tidak memberi gelar S2 dan S3.

Content edited by Artricia Rasyid

Photo Credits: Author’s Collection

SHARE
Previous articleMengenal Manfaat Studi di Eropa – Belanda
Next articleKehidupan di The College of Wooster
Stella Christie
Stella Christie adalah 100% orang Indonesia, hingga kini teguh membawa paspor hijau bergambar Garuda. Bersekolah dari TK sampai SMP di Santa Ursula, dia memperoleh beasiswa ASEAN untuk melanjutkan pendidikannya di Singapura. Selesai ‘O’ Level dia mendapat beasiswa dari organisasi United World Colleges (UWC) untuk mengambil International Baccalaureate (IB, setingkat SMA) di Norwegia. Stella mendapat BA dari Harvard University dengan magna cum laude with highest honors dan Ph.D. in Cognitive Psychology dari Northwestern University. Stella adalah pakar ilmuwan language and concept acquisition. Sebagai Assistant Professor of Psychology di Swarthmore College, dia juga memimpin Cognition and Development Laboratory. Tulisan dan penelitian lengkap bisa dilihat di http://kidlab.swarthmore.edu/.
  • Alif Dhylan

    wih…..kereennn moga banyak yg bisa kayak bu prof ini…..salutt….