Banyak Jalan Menuju Montana

0
72
Missoula, Montana Sumber: DestinationMissoula.org

Montana sudah memasuki penghujung musim panas ketika saya mewawancarai Wuri Prima Kusumastuti sepulang bekerja sore itu. Dara yang biasa dipanggil Wuri ini baru sekitar dua minggu tinggal di kota Missoula, negara bagian Montana, di Amerika Serikat. Wuri datang ke Montana melalui program Graduate Teaching Assistant (GTA) yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga bernama Defense Critical Language and Culture Program (DCLCP). DCLCP sendiri merupakan bagian dari University of Montana. Lembaga ini dikontrak oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat lewat University of Montana untuk mengajarkan berbagai bahasa asing bagi para anggota militer Amerika Serikat. Bahasa-bahasa yang dipelajari antara lain Bahasa Indonesia, Dari (bahasa asli Afghanistan), Korea, Cina, Arab, sampai bahasa Persia.

Posisi Wuri sebagai Graduate Teaching Assistant (GTA) memungkinkannya untuk melanjutkan kuliah S2 gratis di University of Montana. Sebagai timbal baliknya, selama masa studi S2, Wuri mengajar bahasa Indonesia di DCLCP. Dengan visa pelajar yang dipegang oleh Wuri, batas waktu kerja yang dapat dia lakukan adalah 20 jam per minggu, kecuali pada musim panas dimana tidak ada kegiatan belajar-mengajar di kampus. GTA adalah posisi berbayar. Jadi Wuri dapat berkuliah gratis sambil bekerja dan memiliki uang saku.

Saya berkenalan dengan Wuri lewat lembaga yang sama, DCLCP, hanya bedanya saya dikontrak sementara (temporary hire) untuk 3.5 minggu.

Penasaran bagaimana seorang wanita asli Sragen, Jawa Tengah yang penuh semangat ini bisa sampai ke Missoula, Montana lewat program yang bergengsi pula, saya memutuskan untuk mewawancarai Wuri. Jadi hari itu kami berdua bergegas ke restoran China Buffet setelah pulang kerja untuk melakukan wawancara. (Actually, let me take that back. We were really hungry and China Buffet in this area has pretty good food for a buffet. Great seafood, too.)

***

Wuri (kiri) dan Naftaly di depan kantor DCLCP, Missoula, Montana.

Naftaly Sitompul (NS) : “Wuri, bagaimana awalnya kamu bisa terlibat di program ini?”

Wuri Kusumastuti (WK): “Setelah menyelesaikan kuliah S1, saya diterima di program Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) yang diselenggarakan oleh Fulbright. Program ini berdurasi 1 tahun dan tugas saya adalah mengajar program bahasa Indonesia di University of Wisconsin di kota Madison, Wisconsin. Program ini juga mengizinkan saya mengambil kelas perkuliahan walaupun statusnya non-degree. Selama satu tahun di kota Madison itu, saya merasa senang dengan sistem pendidikan di Amerika. Dalam hati, saya begitu ingin melanjutkan kuliah S2 saya di Amerika.”

“Akhirnya saya mencari beasiswa S2 untuk berkuliah lagi di Amerika. Pada awalnya saya melamar di program beasiswa dari Lembaga Pengelolaan Dana Pemerintah (LPDP). Saya gugur di tahap interview. Bukan hanya program itu, saya juga mendaftar di program-program lain misalnya Graduate Teaching Assistant di University of Wisconsin. Program ini kira-kira sama dengan program saya yang sekarang di DCLCP, hanya beda Universitas dan muridnya juga bukan tentara Amerika, melainkan anak-anak kuliah. Berbagai lamaran beasiswa saya kirimkan namun belum ada yang goal, akhirnya saya juga melirik program-program lain misalnya program beasiswa S2 di negara Jepang. Total program beasiswa yang saya lamar mungkin lebih dari 10 program dengan total biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp. 18,000,000,-. (Biaya pendaftaran ditanggung sendiri, berbagai test diikuti, misalnya TOEFL dan IELTS plus biaya pengiriman dokumen internasional).”

“Saya begitu aktif dalam berbagai kegiatan komunitas ketika saya di Madison. Suatu hari, saya menulis status di Facebook mengenai betapa frustrasinya saya mengirim berbagai lamaran beasiswa namun tidak ada yang berhasil. Salah satu teman Facebook saya yang saya kenal lewat komunitas fotografi di Madison membaca status saya. Kemudian beliau mengirimkan pesan lewat Facebook kalau tempat beliau bekerja sekarang, DCLCP, sedang mencari kandidat GTA, tapi saya harus mengumpulkan semua persyaratan dan mengirimkannya dalam waktu 2 hari. Karena saya begitu sering mengirimkan lamaran S2, semua persyaratan saya lengkapi dan saya kirimkan dalam waktu 10 menit. Luck is opportunity meets preparation. Itulah yang terjadi pada saya. Seminggu kemudian, saya mendapat email undangan interview online dari pihak DCLCP. Mereka juga meminta saya untuk mempersiapkan demo mengajar. Saya merasa interviewnya berjalan lancar, meskipun ada kandidat lain yang juga diinterview untuk posisi ini.”

“Karena saya begitu sering ditolak, saya jadi tidak berharap banyak. Nothing to lose. Dua minggu setelah diinterview oleh DCLCP, program GTA di University of Wisconsin yang saya lamar mengirimkan email bahwa aplikasi saya diterima! Saya pun tahajud. Sepuluh menit kemudian ketika saya tahajud, mengucap syukur kepada Allah, datang email dari DCLCP yang menyatakan saya diterima di program GTA mereka juga!”

NS: “Lalu apa yang membuat kamu memutuskan untuk memilih DCLCP dibanding University of Wisconsin?

WK: “Program GTA di DCLCP University of Montana menanggung tiket perjalanan pulang pergi, sementara program di University of Wisconsin tidak. Ada beberapa lagi keuntungan di DCLCP, lebih ke financial benefit, yang tidak ditawarkan di University of Wisconsin.  Atas pertimbangan itu, saya memilih pergi ke Montana.”

NS: “Apa rencana ke depan kalau kamu sudah menyelesaikan program ini?

WK: “Kalau ada kesempatan lagi, saya ingin sekolah lagi sampai S3, sehingga dengan pengetahuan yang saya punya, saya bisa mengerti apa yang benar-benar diperlukan oleh Indonesia. Saya juga ingin kembali ke desa saya dan hopefully bisa mendukung PAUD di desa saya. Suatu hari nanti saya akan pulang ke Indonesia dan saya akan membangun Indonesia. Saya juga akan membangun sekolah-sekolah di kampung.”

NS: (sambil mengelap air mata haru) “Apa pesan kamu untuk sesama pejuang cinta beasiswa?

WK: “Jangan berhenti kalau belum dapat. Coba terus. Jangan hanya mencoba satu beasiswa, cobalah berbagai beasiswa. Jangan hanya tanya-tanya tapi gak pernah usaha. Ini bukan lotere. When it comes to scholarship, be proactive. Kalau kamu serius, kamu pasti siap. Luck is opportunity meets preparation.”

***

Wuri di depan kampus University of Wisconsin.
Photo Credit: Facebook “Wuri Prima Kusumastuti”.

Wuri dapat dihubungi lewat Facebook (Wuri Prima Kusumastuti) atau lewat email: wuri.edu@gmail.com. 

Content edited by Artricia Rasyid

Photo Credits: Author’s Collection

SHARE
Previous articleEssay Application to USAID PRESTASI Scholarship
Next articleProgram Profesional Mentorship untuk Pencari Kerja
Kitty Sitompul-Nieman
Kitty Sitompul-Nieman is an award winning intercultural professional with a blend of experiences in teaching, writing, interpreting, and public speaking in international and diverse platforms. A Fulbright scholarship grantee for the Community College International Development program, Kitty has eight years of experience in English as a Second Language (ESL) teaching and management, as well as three years experience in Indonesian-English consecutive and simultaneous interpretation. She currently lives in Lexington, Kentucky, USA with her husband, Clay Nieman. They both enjoy hanging out at Buffalo Wild Wings. More of her writings can be found at her personal blog www.KittySitompul.wordpress.com.