Pengalaman Magang di KBRI Washington DC

6
144

Halo teman-teman IM! Di blog saya bulan ini, saya akan cerita sedikit tentang pengalaman saya magang selama 6 pekan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, DC. Tinggal dan bekerja di Washington, DC merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan akan sangat berguna bagi perkembangan saya secara professional.

Awal Ketertarikan

Ketertarikan saya untuk magang di KBRI berawal dari seorang teman yang libur musim panas tahun lalu magang di KBRI. Menurutnya, pengalaman magang di KBRI sangat baik dan ia mendapat pengalaman kerja yang sangat berharga. Saya sendiri memang sejak lama tertarik pada bidang Hubungan Internasional (HI). Saat awal masuk kuliah, saya bertujuan untuk mengambil jurusan HI dan mungkin mencoba menjadi diplomat untuk bisa kerja di salah satu KBRI di kota-kota besar dunia. Namun, setelah satu tahun kuliah, muncul ketertarikan besar pada Ilmu Ekonomi. Jadilah saya mengambil jurusan ekonomi di kampus. Tapi, saya tetap sadar bahwa dengan latar belakang pendidikan ekonomi pun saya masih bisa tetap meniti karir diplomatik. Karena itulah, saya memutuskan untuk magang di KBRI untuk mencari tahu bila saya benar-benar tertarik untuk bekerja sebagai diplomat atau tidak.

Mendapatkan Posisi Magang

Sekitar bulan Desember 2014, saya memulai komunikasi saya dengan pihak KBRI. Saya mendapat beberapa alamat email staff KBRI dari teman saya yang pernah magang di KBRI. Saya juga menggunakan Google untuk mencari nama dan alamat email staff KBRI, terutama staff di bidang ekonomi yang saya berkeinginan untuk magang. Setelah mengirimkan beberapa email ke kurang lebih 10+ staff, email saya akhirnya dibalas oleh salah satu staff. Setelah berbincang melalui email tentang tugas selama magang, kami menyepakati tanggal mulai magang di bulan Juli 2015. Desember sampai dengan Juli saya tetap menjaga hubungan dengan staf KBRI tersebut, dan beberapa minggu sebelum magang saya dimulai, saya mengecek ulang bila ada lagi hal-hal yang saya perlu lakukan sebelum magang dimulai.


Kegiatan Selama Magang

Tugas utama saya selama magang adalah riset. Lebih spesifik lagi, riset tentang Trans Pacific Partnership (TPP), sebuah perjanjian perdagangan bebas diantara negara-negara Asia Pasifik dan Amerika Serikat. Salah satu tugas utama KBRI adalah menulis laporan-laporan kepada Pemerintah di Jakarta tentang isu-isu di Amerika Serikat dan dunia yang dapat menyangkut Indonesia. Laporan-laporan ini kemudian dijadikan sebagai salah satu pedoman bagi pemerintah Indonesia untuk bertindak terhadap isu tersebut. Nah, tugas saya adalah membantu staff Ekonomi KBRI untuk menulis laporan-laporan tentang TPP yang tengah menjadi isu hangat bagi pemerintah Indonesia yang tengah mempertimbangkan bergabung pada perjanjian ini.

Selain TPP, saya juga sering diberi tugas melakukan riset di bidang yang lebih luas. Biasanya ini disesuaikan dengan kebutuhan KBRI yang ada kaitannya dengan ekonomi. Misal, saat Pak Dubes akan bertemu seorang anggota DPR Amerika Serikat yang berasal dari negara bagian Florida, saya diberi tugas untuk menulis dokumen pendek sebagai rangkuman atas hubungan dagang dan peluang investasi antara Indonesia dan negara bagian Florida. Saat anggota DPR Indonesia akan datang dari Jakarta untuk studi banding, saya ikut melakukan riset tentang beberapa undang-undang AS yng mejadi target studi banding dan juga menulis laporan tentang riset saya.

Selain riset, saya juga mengikuti berbagai pertemuan staff KBRI dengan berbagai pihak asing. Selain membuat laporan, tugas utama KBRI tentunya juga membentuk dan memilihara hubungan Indonesia dengan banyak pihak di Amerika Serikat, termasuk partner dagang, investor, atau pejabat pemerintahan. Saya berkesempatan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan ini, baik yang formal maupun informal. Dari pertemuan-pertemuan ini, saya bertemu dengan banyak pihak-pihak penting dan juga mempelajari hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia lebih lanjut.

Pertemuan dengan official dari Kedutaan Besar Jepang di Washington, DC

Kemampuan riset saya memang meningkat, terutama di bidang yang berkaitan dengan pemerintahan, tapi menurut saya hal yang paling berharga dari magang saya di Washington DC selama 6 pekan ini adalah koneksi yang saya bentuk dengan banyak kenalan-kenalan baru di Washington. Selain staf KBRI, dan orang-orang yang saya temui melalui meeting-meeting bersama KBRI, saya juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan para alumni kampus saya dan juga banyak anggota komunitas Indonesia di Washington di luar KBRI. Saya banyak bertukar kartu nama dengan orang-orang ini, tapi yang paling penting adalah perbincangan saya dengan mereka. Sungguh menarik mendengar cerita bagaimana mereka bisa sampai di tempat mereka sekarang ini, bagaimana mereka menemukan passion mereka, juga berbagi tips untuk memaksimalkan pengalaman magang saya. Orang-orang ini menjadi motivasi saya untuk belajar dan bekerja lebih keras lagi. Bila saya beruntung, mungkin koneksi ini juga akan membantu saya mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti.

 

Tinggal di Washington, DC

Washington DC merupakan kota yang sangat menarik untuk ditinggali. Kota ini memiliki banyak pekerja dari luar negri. Tidak jarang, saat saya dan rekan-rekan kerja ngopi di kafe favorit dekat KBRI, akan terdengar tiga bahasa digunakan untuk ngobrol di café tersebut.

Di kota ini juga banyak terdapat eksekutif muda, sehingga banyak event-event yang diadakan di Washington DC yang cocok untuk bagi professional muda yang baru lulus kuliah. Akan banyak kesempatan untuk bertemu eksekutif muda yang seumuran dan ini membuat Washington makin diminati kalangan muda.

Washington DC juga sangat mudah dinavigasi. Sistem transportasi utamanya adalah kereta bawah tanah yang bernama Metro. Metro sangat mudah dipelajari dan memiliki cakupan yang luas di DC dan suburb DC. Selain kereta, juga ada Metro Bus yang melayani jarak lebih pendek. DC juga merupakan kota yang sangat mudah dijelajahi dengan jalan kaki. Trotoar nya jelas dan berjalan kaki di sebagian besar wilayah DC umumnya sangat aman. Bersepeda pun tidak sulit, karena selain ada jalur sepeda, kita juga bisa menyewa sepeda dengan biaya yang sangat murah.

Mungkin satu-satunya hal yang tidak saya sukai dari Washington DC adalah biaya hidup di kota ini yang sangat mahal. Laporan dari CBS News menempatkan Washington DC di tempat ke-10 dalam list kota termahal di Amerika Serikat. Dari pengamatan saya, biaya sewa kamar di DC umumnya sekitar $1500 – $2000 per bulan untuk di pusat kota dan agak lebih murah untuk di tepi kota (suburb). Biaya makan dan groceries pun cukup mahal. Makan di semacam restoran sederhana biasanya habis sekitar $10 – $15 untuk makan siang, dan lebih mahal untuk makan malam.

Lalu bagaimana saya, mahasiswi rantau miskin yang hanya sanggup kuliah di Amerika karea beasiswa full-ride, bisa membiayai diri sendiri untuk tinggal di Washington selama 6 pekan? Untuk satu hal, saya mendapat fellowship dari kampus saya untuk membiayai sebagian dari biaya hidup saya di Washington DC. Fellowship ini tidak cukup menutupi biaya sewa kamar di Washington, sehingga saya pun menumpang tinggal di rumah keluarga angkat selama pertukaran pelajar SMA dulu. Kebetulan saya dulu ditempatkan di Arlington, di tepi kota Washington, sekitar 40 menit – 1 jam melalui Metro di waktu-waktu padat berangkat dan pulang kantor. Di dua pekan terakhir, saya menumpang tinggal di apartemen seorang teman yang terletak hanya sekitar 5 menit jalan kaki ke KBRI, saya pun semakin menghemat biaya Metro dan bisa merasakan hidup di pusat kota.

Kesimpulan

Seringkali sebagai mahasiswa/i kita pengalaman kita terbatas hanya di dunia akademia. Tapi menurut pengalaman saya, dunia akademia itu sangat berbeda dengan dunia professional. Di dunia akademia, profesor, tutor, bahkan teman-teman kampus akan membantu anda untuk sukses di kelas. Di dunia professional, biasanya setiap orang memiliki goal profesional nya sendiri, sehingga meskipun dia bersedia membantu, tidak akan sangat terlibat seperti layaknya seperti di kampus. Di dunia akademia, melakukan kesalahan umumnya dimaklumi, dan bertanya biasanya dianjurkan. Di dunia profesional, kesalahan bisa berakibat sangat buruk bagi organisasi, sedangkan bertanya, meskipun masih berguna, hanya bisa digunakan secukupnya agar tidak menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan proyek. Kesimpulan saya, magang sangatlah penting untuk mempersiapkan pelajar untuk terjun ke dunia profesional. Jadi, untuk teman-teman yang masih di bangku kuliah, sempatkanlah untuk magang sebelum lulus!

Semoga berguna untuk teman-teman IM! Sampai bertemu bulan depan!

 

Foto adalah koleksi pribadi penulis. Featured image dan foto pertama diambil oleh Haikal Eki Ramadhan Boediwidjaja. Foto kedua diambil oleh Mukti R. Setianto.




===========================================
Khairunnisa (Nisa) Usman is an Economics and Mathematics student at The College of Wooster in Wooster, Ohio, USA. She is a former benchwarmer of the college's women's basketball team and the ultimate frisbee team. Before her senior year of high school, she took a gap year to live in Arlington, VA as an AFS Foreign Exchange student. Her free time consists of many "The Office" episodes as well as Manchester United games.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn
  • bisa magang di KBRI disana sebuah kebanggan tersendiri ya… salut..

    http://jualvimax.org/

  • wah pengalaman yang hebat bisa magang di kbri
    http://wscaslioriginal.blogspot.com/

  • abc dde

    Wah keren mbak. Sukses terus yaa! :).

  • Jean Geisena Languyu

    Hai :) thank you banget untuk inspirasinya. Boleh tahu kah kisaran pengeluaran cost selama KBRI di washington DC saat kamu magang ? terima kasih banyak sebelumnya

  • MarichaAFS

    Hi kak cara magang Di kantor kedutaan gimana sih kak Terima kasih

  • Nixon Anthony

    Hi kak, aku sekarang exchange student di amerika. Dan aku sekarang lagi pengen tau caranya kerja di KBRI luar negeri gimana??