MSc. Infrastructure Investment and Finance (UCL): Pertama dan Satu-satunya di Dunia

0
167
“Infrastructure is the key: 1% peningkatan ketersediaan infrastruktur akan meningkatkan 1-2% pertumbuhan GDP – The World Bank

 

A Logic Behind the Choice

Burning Desire (Passion)

Jika menghubungkan titik-titik peristiwa dalam hidup, pilihan studi saya dimulai dari inspirasi yang berasal dari kedua orang tua. Semasa kecil, cita-cita saya adalah menjadi insinyur pembangunan. Dari sekian banyak titik peristiwa hidup, salah satu yang memperkuat fondasi motivasi saya adalah ketika saya ditugaskan untuk menangani program dan kegiatan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) untuk kegiatan pada sektor infrastruktur perumahan dan perkotaan. Kegusaran yang timbul karena melihat daftar kegiatan pembangunan yang harus menggunakan dana pinjaman dari luar negeri menimbulkan banyak pertanyaan di kepala saya. Tentunya bukan pertanyaan yang kompleks karena saya sangat awam dalam bidang pembiayaan dan investasi. Desakan rasa ingin tahu itu membuat saya mencari tahu, apakah ada ilmu yang mempelajari hal ini? Takut karena ilmu baru, semangat karena mau tahu.

Kebutuhan Infrastruktur Nasional

Teringat ketika berada ditingkat akhir masa perkuliahan S1 saya membaca salah satu novel Andrea Hirata yang menceritakan bidang studi yang dikejar di luar negeri dan kebutuhan yang dirasakan masyarakat di negara sendiri. Pada titik itu saya yang sebelumnya berpandangan egois untuk menimba ilmu sesuai dengan keinginan saja menjadi berpikir, “apa sih sebenarnya yang dibutuhkan negara ini?”

Jika kita berbicara tentang infrastruktur, tentu banyak aspek yang akan terkait untuk menjustifikasi mengapa ini menjadi suatu hal kunci. Secara sederhana saya memandang peran infrastruktur dari sisi pemenuhan kebutuhan penduduk dan investasi pemerintah.

Fenomena Urbanisasi dan Kebutuhan Penduduk

Fenomena urbanisasi telah menjadi sorotan dunia, dimana pada beberapa tahun terakhir ini urbanisasi meningkat tajam di negara-negara Asia dengan proporsi jumlah penduduk perkotaan mencapai setengah dari total penduduk perkotaan dunia. Indonesia merupakan negara dengan tingkat urbanisasi tertinggi ke tiga dalam lingkup Asia Pasifik setelah Cina dan India dengan proyeksi posisi yang sama selama satu dekade kedepan. Pada tahun 2010, persentase penduduk perkotaan telah meningkat lebih dari 7% dalam waktu satu dekade, yaitu mencapai 49,79% dari semula sebesar 42% pada tahun 2000 (Sensus Penduduk 2010, BPS).

Ekonomi dan Investasi

Di sisi lain, kondisi geo-ekonomi Indonesia merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perekonomian nasional lima tahun mendatang. Pada dasarnya, kondisi perekonomian nasional secara umum terus menguat dan Indonesia terbukti telah bangkit kembali sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1990-an. Namun, pada periode pembangunan menengah 2009-2014 Indonesia masuk ke  dalam kondisi middle income trap. Sebagai salah satu pasar terbesar dalam emerging market economy, Indonesia perlu melakukan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus keluar dari middle income trap.

Bertolak dari dua aspek besar pembangunan, kebutuhan infrastruktur memegang peranan penting menuju kesejahteraan rakyat dan sebagai alat investasi negara untuk berkembang.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi dalam upaya penyediaan infrastruktur adalah adanya kesenjangan pendanaan (funding gap) antara kebutuhan investasi infrastruktur dengan relatif terbatasnya kemampuan keuangan negara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terbatasnya dana yang dimiliki menyebabkan pemerintah tidak mampu membiayai pembangunan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat. Estimasi kebutuhan investasi infrastruktur pada tahun 2010 – 2014 menunjukkan bahwa dari total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastuktur, hanya sekitar 31% saja yang mampu untuk dibiayai oleh pemerintah melalui APBN, sementara sisa kekurangan sebesar 69%  direncanakan diperoleh dari sumber lain di luar APBN. Pemerintah telah menyadari bahwa dalam upaya pembangunan dan pemenuhan kebutuhan infrastruktur diperlukan adanya kemitraan atau kerjasama yang sinergis antara berbagai pelaku pembangunan.

Jika teman-teman mencermati apa yang dicantumkan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), maka sebenarnya agenda pembangunan infrastruktur ini sudah dicanangkan dan merupakan prioritas nasional. Memasuki periode menengah ke-3 dari RPJPN, Indonesia bergerak untuk memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan IPTEK yang terus meningkat. Dalam hal ini, percepatan pembangunan infrastruktur merupakan prioritas dan masuk kedalam agenda pembangunan nasional yang dijabarkan dari NAWA CITA Presiden RI. Oleh karena itu, anggaran pemerintah dalam bidang infrastruktur ditingkatkan, dan upaya kerjasama dalam pembangunan infrastruktur ditingkatkan.

UCL: Infrastructure Investment and Finance

Sekitar 3 bulan saya berusaha mencari tahu mengenai jurusan yang sesuai dengan keinginan saya. Sampai pada akhirnya, saya menemukan program studi Infrastructure Investment and Finance di bawah Bartlett School of Construction and Project Management (Bartlett School of CPM), University College London. Hanya ada satu program studi di seluruh universitas di dunia yang spesifik mengajarkan pembiayaan dan investasi infrastruktur. Setelah melalui 3 tahap seleksi, akhirnya saya berhasil masuk sebagai angkatan pertama program studi ini. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Bartlett School of CPM, terdapat sekitar 115 orang yang mendaftar program ini. Dari jumlah tersebut, pelamar diseleksi kembali dan dipilih berdasarkan persyaratan administrasi (dokumen S1, surat rekomendasi, motivation letter). Selanjutnya dilakukan wawancara oleh Ketua Program Studi (Course Director) untuk mengetahui kemampuan pelamar dalam bidang yang diajarkan di kelas serta kemampuan dan kelancaran pelamar dalam berbahasa Inggris agar dapat berdiskusi di kelas. Pada akhir wawancara ini, pelamar akan diberikan satu topik esai yang harus dikirimkan via email dalam kurun waktu satu jam.

Pada akhirnya angkatan saya berjumlah 15 orang dengan proporsi 2 orang dari Indonesia, 2 orang dari RRT (Tiongkok),  3 orang dari UK (London), 2 orang dari Colombia, 1 orang dari Rumania, 1 orang dari Zimbabwe, 1 orang dari Spanyol, 1 orang dari Yunani, 1 orang dari Bulgaria dan 1 orang dari Australia. Berdasarkan penjelasan dari Course Director, proporsi negara dan latar belakang juga merupakan bagian penting dari pertimbangan mereka untuk memilih mahasiswa pada angkatan pertama ini. Hal ini penting untuk menjaga perspektif dalam diskusi dan membuat standar program studi.

Ada beberapa alasan mengapa saya sangat menyukai kelas ini, yai
tu:

  1. Dosen yang hadir tidak hanya profesor tetapi juga para praktisi dengan level jabatan direktur, pemilik, atau mitra dalam bidang investasi dan pembiayaan infrastruktur.
  2. Kita juga diberi pelatihan financial modelling building dari KPMG, dimana pengajar kita langsung dari mitra KPMG.
  3. Ketika ada beberapa murid yang dianggap kurang baik dalam menggunakan bahasa Inggris di kelas, Course Director akan menawarkan kelas bahasa inggris khusus secara gratis.
  4. Terdapat kelas tambahan untuk mempelajari metode tata tulis akademik.
  5. Walaupun valuasi nilai hanya dari ujian, esai dan tesis, ada banyak metode pengajaran di kelas seperti:
    1. Menggunakan real case study discussion dengan infrastruktur yang ada di London, misalnya Channel Tunnel, London Underground, Metronet, London Olympic Park. Dalam hal ini kelas sangat interaktif dan terkadang mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi di kelas, baik itu membicarakan aspek yang sama dengan perspektifnya masing-masing atau dengan berbeda peran dalam kelompok (misalnya sebagai pemerintah, konsorsium, bank, dll.).
    2. Kompetisi berkelompok dalam penyelesaian sebuah kasus pembiayaan dan investasi infrastruktur yang langsung didiskusikan dan negosiasi dengan praktisi (EIB, ASHURST, KPMG, Profesor). Kompetisi ini dinilai dengan beberapa kriteria yang sudah ditentukan oleh juri dan diakhiri dengan presentasi yang disusun dalam waktu 5 menit.
    3. Kompetisi individu dengan peran sebagai investment analyst untuk menjelaskan (presentasi) tentang negara tujuan investasi di hadapan executive boards sebuah perusahaan maya (yang terdiri dari teman-teman sendiri di kelas secara bergantian). Penilaian individu dilakukan oleh teman-teman yang menjadi boards dan dari course director. Penilaian executive boards akan merujuk pada 3 pilihan teratas negara tujuan investasi yang dilanjutkan dengan diskusi untuk memutuskan pilihan negara yang akan dituju.
    4. Simulasi praktek pelelangan yang dibagi-bagi berdasarkan tipe barang dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.
    5. Financial Modelling Workshop dari KPMG untuk project finance.

Saya bisa mengatakan bahwa berada di dalam kelas ini sungguh berat. Walaupun hanya ada 2 hari kelas dalam seminggu (09.30 sampai dengan 17.30) tetapi dalam satu kelas begitu banyak materi yang harus dibaca sebelumnya dan setelahnya, diluar case studies dan tugas. Oleh karenanya, saya harus dapat membagi waktu untuk membaca agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Tapi jangan khawatir, bahan bacaan standar dan materi kuliah akan didistribusikan secara online pada portal modul sebelum kelas (paling lama satu minggu sebelum kelas berikutnya).

Salah satu hal yang juga membekas adalah tata tertib kelas yang sangat ketat. Kelas ini sangat disiplin dengan waktu. Toleransi terhadap keterlambatan adalah 5 menit, atau menunggu di luar dan dihitung absen parsial. Selain itu, dengan ukuran kelas yang sangat kecil, mahasiswa dilarang menggunakan laptop, tablet dan handphone dengan alasan apapun kecuali meminta izin kepada course director secara langsung. Selain itu, seluruh peserta selalu dikondisikan untuk berdiskusi aktif di kelas.

Apakah course ini sesuai dengan ekspektasi awal saya?

Di kelas ini saya mendapatkan pemahaman komprehensif tentang pembangunan infrastruktur dari sisi ekonomi dan finance pada seluruh tahapan proyek. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah adanya pertanyaan, “kamu melihat ini dari sudut pandang siapa?” karena di kelas ini terdapat berbagai sudut pandang, yaitu sisi pemerintah/regulator, project manager, juga perspektif komersial dari sisi sponsor, lenders, investor dan kontraktor. Dapat dikatakan kelas ini melengkapi pemahaman saya dari jenjang pendidikan sebelumnya.

Setelah lulus dari kelas ini teman-teman saya bekerja di Moody’s Credit Rating Agency, Bechtel Corporation, M&G Investment, Sequoia Investment Management Company Ltd., dan beberapa perusahaan finance lainnya. Kesempatan untuk belajar di kelas ini membuka exposure terhadap tempat pekerjaan di dunia finance, project management dan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur.

Angkatan pertama program studi MSc Infrastructure Investment and Finance, UCL

Akhir kata, berada di tengah-tengah projek infrastruktur kelas dunia merupakan keuntungan berada di kelas ini karena banyak obyek pembahasan dan aplikasi ilmu yang jelas langsung terlihat nyata. Kelas ini mengajarkan banyak sisi ilmu lebih dari ekspektasi awal saya ketika mendaftar. Namun, beberapa skill yang sangat spesifik, seperti financial modelling workshop/accounting module tidak akan diajarkan secara detil di dalam kelas. Oleh karena itu, akan sangat banyak ilmu yang bisa digali dari kelas ini, terutama bagi orang-orang yang sudah berpengalaman/kerja di bidang infrastruktur.

Foto dalam artikel ini merupakan koleksi pribadi penulis.