Menjadi Ibu Sambil Belajar di Luar Negeri

1
647

You’re doing a master while taking care of your family, is it hard?

Beberapa teman di kampus sempat melontarkan pertanyaan seperti itu. Hmm.. dan jawaban saya pun hanya.. “Yaaa.. it seems hard, but I’ll try”. Memang bukan jawaban yang menjanjikan.

Beberapa dari mereka cukup heran juga, oh are you already married? oh you have a daughter? Mungkin bukan sesuatu yg biasa bagi mereka mengetahui seorang mahasiswa yang sekolah sambil mengurus anak yang masih kecil karena kebanyakan dari teman-teman saya yang lanjut kuliah master di sini masih fresh graduate dari S1. Ada juga yang sudah selesai master-nya di bidang lain dan lanjut master di bidang ini, atau ada juga yang hanya mengambil program riset selama 6 bulan. Sedangkan mahasiswa PhD di sini yang sudah menikah dan punya anak cukup banyak, jadi mungkin terlihat lebih wajar.

Entah apa yang membuat mereka heran. Apakah poin saya yang sudah menikah, saya sudah punya anak, atau saya sekolah sambil mengurus anak. Kultur di sini tentu berbeda dengan kita orang Indonesia. Menurut mereka menikah dan punya anak adalah pilihan yang akan dijalani setelah semua cita-cita pribadi mereka tercapai termasuk karir, sekolah, dan kemapanan. Having partner and living together mungkin adalah pilihan mereka, tapi menikah itu lain cerita.

Mereka bertanya: “What is your goal?”  Tujuan saya, ya belajar. Bukan cuma belajar dari bangku kuliah, tapi belajar hidup di sini, belajar membentuk pola pikir, dan belajar “memajukan” diri sendiri, karena ilmu tidak ada batasnya. Belajar sambil mengurus keluarga adalah tantangan yang luar biasa bagi saya.

Semangat saya adalah saat melihat anak saya, Runa, sangat mendukung bundanya kuliah. Runa sekarang berusia 2,5 tahun. Sebelum berangkat sekolah dan setelah pulang sekolah, Runa selalu berceloteh: “Ayah kantor.. Bunda kampus.. Runa kolah..” Mendengarnya berkata begitu serasa mendapatkan es cendol di musim panas. Setiap saya jemput di sekolah, saya selalu memeluk Runa dan berkata: “Makasih ya Runa, sudah membantu Bunda hari ini, Runanya pinter sudah sekolah, Bunda jadi bisa ke kampus.”

Kembali lagi ke masalah sulit atau tidak. Saya masih optimis bahwa saya bisa melakukannya. Saya mau sedikit berbagi pengalaman saya selama sekitar hampir setahun menjadi mahasiswi lagi. Banyak hikmah yang bisa saya dapat selama waktu tersebut, banyak belajar, banyak trial and error, dan sebagainya. Alhamdulillah Allah selalu memberikan kemudahan dibalik kesulitan.

Pertama, saya belajar untuk tidak membuat tantangan selama kuliah terasa sulit. Caranya? Hmm.. ya well, there’s no such theory sebenarnya. Kalau dulu saat saya masih kuliah S1, mau ujian, presentasi, atau ada tugas penting apapun, pasti saya panik, kadang stres, dan sangat perfeksionis sehingga semuanya jadi terasa berat. Tapi semenjak jadi ibu dan bersekolah, saya berusaha “meringankan” (bukan menganggap enteng ya) tantangan tersebut agar saya tidak stres. Pernah saat itu saya harus presentasi riset awal di hadapan pengajar departemen, Di saat yang bersamaan, Runa sakit, muntah dan demam. Saya sangat panik, besok saya harus presentasi, walaupun sudah siap dari beberapa hari sebelumnya, tapi tetap saja khawatir dan merasa belum siap. Saat itu akhirnya saya pasrah.. Pikir saya, Ah sudahlah “ujian” presentasi ini ga ada apa-apanya dibandingkan dengan “ujian” anak sakit. Saya jadi tidak terlalu memberatkan pikiran saya untuk penampilan besok, yang penting hari itu terlewati. Dengan berpikir seperti itu, malah kondisi jadi lebih terkendali, presentasi pun dijalani tanpa beban.

Kedua, saya belajar untuk multitasking. Belanja keperluan dapur, masak, beres-beres, antar jemput Runa sekolah, main dengan Runa, ke kampus dan mengerjakan tugas kuliah, semuanya saya lakukan. Menyelaraskan semua jadwal dan kebutuhan memang perlu pemikiran ekstra. Semuanya tidak akan bisa saya kerjakan tanpa adanya support system yang baik. Apa saja support system itu: 1) Suami tentunya. Suami saya untunglah sangat mendukung sejak awal saat saya memutuskan untuk kuliah. Suami juga mau direpotkan untuk ikut “mengasuh” Runa, entah itu menyuapi, memandikan, dan juga bermain dengan Runa. Waktu Runa sakit dan saya harus ke kampus untuk presentasi, terpaksalah suami yang izin dari kantornya untuk tidak masuk. Hal-hal seperti ini yang dibutuhkan seorang ibu saat memutuskan untuk sekolah. 2) Sekolah/Day Care yang terpercaya. Di Belanda, anak usia 2 tahun sudah wajib (atau boleh) sekolah. Jadwal sekolah biasanya dua kali seminggu selama 4 jam dan saya memanfaatkan fasilitas itu untuk Runa. Selain sekolah, Runa juga ikut day care di tempat yang sama (jadi semuanya sudah terintegrasi). Jadi Runa pagi hari ke day care dan siangnya sekolah, walaupun sebenarnya programnya sama, main dan main, hehe.. Jadwalnya yang 2x seminggu itu saya sesuaikan dengan jadwal research dan meeting. Saya merasa cukup tenang meninggalkan Runa di sana karena semuanya sangat teratur.  3) Saudara tanpa darah. Saat merantau dan jauh dari keluarga, sangat terasa ikatan saudara setanah air menjadi lebih erat. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara terdekat kita selama di negeri orang. Alhamdulillah orang Indonesia di kota Groningen cukup banyak. Kami saling membantu dan gotong royong. Opsi saat Runa tidak ke sekolah dan saya harus ke kampus adalah mereka. Kadang Runa saya titipkan pada mereka yang kebetulan sedang ada di rumah. Ibu-ibu, mbak-mbak, dan bude-bude di sini sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri.

Yang ketiga adalah belajar memanfaatkan waktu se-efektif dan se-efisien mungkin. Ini masih sulit. Kadang saya masih terjebak dalam procrastination, buang-buang waktu tidak jelas, seperti nonton tv, buka-buka media sosial, dan seterusnya. Akhirnya saya malah terlambat dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu saya harus lebih disiplin terhadap diri saya sendiri. Bagi saya waktu terbaik untuk mengerjakan tugas adalah saat Runa sudah tidur. Kalau tidak pasti Runa ingin ikut “membantu” bundanya mengerjakan tugas. Pengalaman saya waktu itu ada tugas kelompok, saya dan teman-teman sekelompok sering berdiskusi lewat email sebelum pertemuan kelompok. Teman sekelompok saya pernah bertanya: “Monik you always send us email at around 3 o’clock in the morning, what did u do at midnight?”, Well.. actually that’s the best time that I’ve got. Pokoknya yang penting semuanya beres.

Runa akan mengambil alih kerjaan bundanya kalau bunda buka laptop saat Runa masih bangun

Nah, terakhir saya ingin sharing beberapa hal yang bisa saya atur agar pekerjaan rumah tangga tidak keteteran, antara lain:

  1. Makanan. Siapkan selalu bahan makanan yang sederhana dan siap makan. Kalau tidak sempat masak, cukup siapkan makanan yang sudah ada. Contohnya: roti, keju, nugget, sosis, telur, abon, mie, sup instan.
  2. Memasak beberapa menu saat akhir pekan dan simpan di kulkas untuk seminggu berikutnya, misal: chicken katsu, kering tempe, bacem, ayam goreng.
  3. Andalkan bumbu instan tidak apa-apa juga, tidak dosa juga, hehe.. Karena keluarga suka makanan berkuah, saya sering memasak soto, opor, dan gulai dengan menggunakan bumbu-bumbu instan. Hanya sop yang tidak pake instan, tapi memang bumbunya juga tidak banyak.
  4. Cuci baju di mesin cuci saat akhir pekan. Semua baju saya masukkan ke dalam mesin cuci. Hasilnya baju memang jadi mudah kusut. Tapi ya.. mau bagaimana lagi, kecuali kalau sayang sekali sama bajunya, baru dicuci dengan tangan ketika sedang mandi.
  5. Menyetrika? tidak pernah! Haha.. memang tidak baik. Menyetrika memang memakan banyak waktu. Akhirnya baju kering hanya saya lipat saja sambil diusap-usap dengan tangan agar hilang kusutnya. Kecuali kemeja suami, mau tidak mau ya harus disetrika.
  6. Menyapu dan beres-beres rumah? Yaa.. sambil Runa main saya bisa sambil beres-beres. Saat malam hari mau tidur, saya masukan semua mainannya ke satu kotak besar. Karpet disedot saja dengan vacuum cleaner, mengepel lantai biasanya seminggu sekali saja, itupun hanya bagian yang dirasa kotor .
  7. Gosok kamar mandi? Dikerjakan kalau sedang mandi dan tidak buru-buru, bisa sekalian sambil menyikat kamar mandi.

So, sekali lagi saat ada yang bertanya pada saya, is it hard?

I’ll say.. yah, it’s challenging, but I shall overcome it..

Semangat semua, ibu-ibu pelajar!