Menimba Ilmu Di Luar Negri Selagi Masih Mahasiswa Kedokteran, Mengapa Tidak?

0
279

Banyak mahasiswa kedokteran yang menganggap kesempatan belajar hanya mungkin didapatkan di kampus asal. Tidak dapat dipungkiri, ilmu kedokteran berbeda dengan ilmu lainnya sehingga mahasiswa kedokteran seringkali membutuhkan izin khusus untuk belajar di luar kampus, apalagi di luar negeri. Namun, adanya liku-liku birokrat seperti ini bukan berarti mahasiswa kedokteran tidak dapat belajar di luar negeri lho. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh agar kita dapat menimba ilmu di negeri orang sebagai mahasiswa kedokteran.

Salah satu caranya adalah dengan mengikuti pertukaran pelajar / exchange program. Untuk dapat mengikuti program ini, kamu bisa mendaftar melalui kampus (seringkali universitas/ fakultasmu sudah memiliki afiliasi dengan universitas/ fakultas kedokteran tertentu di luar negeri sehingga diberi kemudahan), mendaftar mandiri atau melalui organisasi kemahasiswaan kedokteran bertaraf internasional, misalnya AMSA (Asian Medical Students’ Association) dan CIMSA (Center for Indonesian Medical Students’ Activities).

Dalam tahun kedua saya sebagai mahasiswa, saya berkesempatan untuk mengikuti exchange program yang dikoordinasi oleh AMSA Indonesia ke salah satu universitas kedokteran ternama di Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Keikutsertaan saya dalam program pertukaran ini merupakan salah satu pengalaman sewaktu universitas yang tidak terlupakan.

Salah satu keuntungan yang dinikmati para siswa yang mengikuti program pertukaran melalui organisasi kemahasiswaan adalah biaya yang jauh lebih murah daripada pendaftaran mandiri, meskipun mungkin setiap organisasi memiliki kebijakan masing-masing. Keuntungan lainnya adalah semua program dan kegiatan telah diatur sedemikian rupa sehingga kamu benar-benar mengalami kehidupan sebagai mahasiswa, tanpa melewatkan kegiatan menyenangkan khas anak mahasiswa, mengenal budaya lokal, dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya. Akomodasi dan izin selama mengikuti kegiatan pertukaran biasanya telah diurus dan ditanggung oleh organisasi kemahasiswaan di tempat kedatangan.

Sebagai mahasiswa kedokteran, tentulah tidak asing mengalami berbagai macam jenis penyampaian materi, mulai dari kuliah, pleno, presentasi, diskusi kelompok, praktikum, hingga seminar. Beruntung sekali, sewaktu saya menjalani program pertukaran, saya sempat mengalami hampir semua kegiatan tersebut. Bahkan, saya pun diizinkan untuk mengikuti praktikum dan merasakannya langsung di rumah sakit pendidikan UKM.

Satu hal yang sangat nyata adalah secara kualitas, penyampaian materi kedokteran di Indonesia dan Malaysia dapat disandingkan. Namun, tidak dapat dipungkiri, masyarakat Indonesia seringkali lebih memilih berobat di luar negri daripada di negara sendiri. Apa yang berbeda? Nah, itulah yang saya pelajari dalam pertukaran ini. Melihat dokter dengan kebudayaan yang ‘serupa tapi tak sama’ dengan kebudayaan kita, membuka wawasan dan pikiran saya mengenai praktik kedokteran di luar negeri. Hal ini membantu saya mengevaluasi dan menetapkan standar bagi diri saya sendiri, hal positif yang harus dipertahankan sebagai dokter di Indonesia, dan hal negatif apa yang perlu diperbaiki.

Kuliah, diskusi, praktikum, dan hampir semua kegiatan formal dilakukan dalam Bahasa Inggris, sehingga secara tidak langsung melatih saya untuk menggunakan bahasa kedokteran yang berlaku secara internasional, dan mengenal istilah-istilah awam yang digunakan secara umum dalam bahasa Inggris. Bekal ini sangat berharga dan membantu saya percaya diri untuk menghadapi pasien asing yang saya temui saat ini ketika saya sudah berstatus sebagai dokter.

Sebagai bonus, saat pergi dalam program pertukaran yang dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan, para siswa dapat juga mengalami liburan dan pengalaman yang sangat unik. Host bukan hanya mempersiapkan kegiatan akademis, tetapi juga segudang kegiatan sosial, mengunjungi tempat-tempat yang terkenal, dan mengalami menjadi ‘warga lokal’ selama berada di negeri asing. Pengalaman ini bahkan tidak akan didapatkan melalui tur wisata! Selama saya di Kuala Lumpur, bukan saja saya sempat mengunjungi KL Tower dan berbelanja hampir di semua mal di KL, tapi juga saya sempat mengunjungi daerah Putrajaya, mengunjungi sebuah kawasan konservasi hutan karet di sana, mencoba makanan setempat (sampai sekarang saya masih kangen nasi kerabu – di sana warnanya biru keunguan menggunakan rempah lokal—dan belum pernah saya temui lagi hingga saat ini), dan mendapatkan banyak teman baru (bahkan kami masih berkomunikasi dengan satu sama lain sampai sekarang!). Percayalah, saat sudah menjadi dokter, koneksi menjadi sangatlah penting, bukan hanya dengan sejawat di tempat asal, tetapi juga sejawat di negara asing. Mereka dapat menjadi teman diskusi, misalnya saat ada kasus medis yang langka di negara kita, sumber informasi konferensi internasional, bahkan tempat menumpang saat hendak mengikuti acara internasional di tempat mereka.

Setelah menjalani pertukaran pelajar di Malaysia, saya merasa lebih semangat mengikuti konferensi mahasiswa kedokteran internasional dan memperoleh teman yang sangat beragam (saat ini, saya sudah memiliki kenalan dokter di hampir seluruh negara di Asia Pasifik, bahkan beberapa di antaranya menjadi sahabat saya sekarang!). Pengalaman ini merupakan awal dari serangkaian keputusan penting dalam pilihan karir saya sebagai dokter, dan merupakan salah satu pengalaman yang mencolok dalam CV saya ketika saya melamar kerja dan mendaftar pendidikan selanjutnya.

There are limitless opportunities in your life as medical students! Kamu cuma perlu membuka wawasan dan pandai mengintai kesempatan itu! Don’t wait until you become a doctor, you can start now!

Photos are courtesy from the author.