Ketika Disabilitas Bukanlah Sebuah Halangan

2
127

Disabilitas masih sering dianggap sebagai penghalang untuk menuju kesuksesan. Banyak yang beranggapan bahwa mereka yang memiliki disabilitas tidak akan mampu untuk meraih mimpi-mimpi yang mereka miliki. Namun itu tidaklah benar, karena saya pernah melaluinya.

Saya lahir di Kota Pati, Jawa Tengah. Ketika Ibu melahirkan saya, beliau mengalami Ashpyxia Neonatal, sebuah gangguan di pernafasan yang berdampak pada saraf motorik di tubuh saya. Ketika itu, dokter yang menangani kami berdua mengatakan bahwa saya tidak akan memiliki umur yang cukup untuk menikmati indahnya dunia. Namun, hanya Tuhan lah Sang Pemberi kehidupan. Meskipun terlahir dengan keterbatasan, saya mampu bertahan hidup seperti kawan-kawan saya lainnya.

Kekurangan yang ada di tubuh membuat saya sedikit lambat dalam pertumbuhan. Saya baru bisa berdiri tegak di umur empat tahun dan baru bisa berjalan di umur tujuh tahun. Keterbatasan fisik juga membuat saya tidak mampu melakukan beberapa aktifitas, termasuk menulis. Namun demikian, kedua orang tua saya masih tetap menginginkan saya bersekolah di sekolah normal seperti teman-teman sebaya saya. Tapi tampaknya keterbatasan saya membuat perjuangan mencari sekolah menjadi perjuangan yang tak pernah saya dan keluarga saya lupakan. Ayah dan ibu harus banting tulang kesana kemari agar saya mampu bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak normal lainnya. Untuk itu, orang tua saya harus menemui beberapa lembaga dan kantor pemerintahan. Dan berkat keteguhan dan kesabaran kedua orang tua saya, kami diberi jalan. Meskipun harus melakukan beberapa ujian tes masuk untuk meyakinkan bahwa saya memiliki kapabilitas yang sama dengan mereka yang ‘normal,’ akhirnya saya diterima di sekolah yang saya inginkan pada waktu itu.

Berulang kali, saya berucap syukur, entah apa jadinya jika saat itu tak satupun sekolah umum yang mau menerima saya. Barangkali Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah jalan pilihan yang harus ditempuh. Karena di sekolah-sekolah itulah biasanya otak kaum difabel dikerangkeng, hati dan fisik mereka dipisahkan dari komunitas. Sekolah yang seharusnya membuat anak ‘tidak biasa’ menjadi ‘luar biasa’ malah memberikan ‘keterbatasan’ yang sesungguhnya.

Hari-hari di sekolah kujalani dengan penuh cerita. Cerita yang berbeda. Jika boleh jujur, dari hati yang paling dalam, sungguh saya tidak ingin untuk mengulang kembali detil cerita luka yang saya alami sewaktu sekolah. ‘Bullying.’ Sebuah kata yang terus menghukum jantung hati saya semenjak belasan tahun yang lalu. Hari-hari ketika saya dilecehkan oleh teman, didorong hingga kepala saya penuh jahitan, dikucilkan dari pergaulan, dan pulang ke rumah penuh tangisan. Yang masih teringat, tak ada yang bisa saya lakukan selain berdiam diri di kelas di saat yang lain berlarian ketika jam istirahat. Datang ke sekolah selambat mungkin dan pulang secepat mungkin. Datang ke sekolah selambat mungkin adalah membuka kesempatan mendapatkan ciutan dan pulang lebih awal adalah satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari pergaulan.

Dari semua cerita, satu hal yang masih saya ingat jelas karena yang paling menyakitkan, mereka yang selalu meragukan kemampuan saya. Ada satu pertanyaan yang sering saya terima. ‘Apa cita-citamu?’ Pertanyaan yang sebetulnya standar buat anak-anak SD yang waktu itu belum tahu apa-apa. Dengan penuh keyakinan saya selalu menjawab bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang guru. Sejak kecil, Ayah selalu menanamkan pada diri saya bahwa orang-orang terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dan menurut saya, guru adalah salah satunya. Tapi sayang sekali beberapa dari mereka meragukannya dan ada yang menertawakannya, dan ada juga yang mengatakan ‘gimana jadi guru nulis di papan tulis aja nggak bisa?’

Namun saya terus bersyukur, karena dibalik cerita-cerita yang saya alami saya diberikan orang tua yang hebat. Setiap kali saya pulang ke rumah, ayah dan ibu selalu memberikan sebuah nasihat yang selalu saya ingat sampai hari ini; “Jangan biarkan keterbatasan mengalahkanmu.” Pesan inilah yang membawa saya terus maju meskipun banyak rintangan di depan saya. Tahun 2004, saya tamatkan pendidikan Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Meski bullying masih terkadang saya alami dari hari ke hari, tapi sepertinya hati ini sudah mulai kuat, setidaknya tak ada tangisan lagi. Berulang kali saya memotivasi diri saya sendiri untuk meraih apa yang teman-teman normal lainnya raih. Ternyata benar, doa dan kerja keras adalah jalan untuk mendapatkan kesetaraan. Beberapa kali, saya dipilih sebagai juara lomba pidato dan santri terbaik, serta lulus dengan nilai ujian nasional yang memuaskan.

Setelah lulus SMP, saya mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di Qatar, negara kecil di Timur Tengah. Meskipun perjuangan mencari sekolah yang mau menerima kekurangan saya tidak sesusah di Indonesia, sekolah di Qatar membawa saya pada bentuk perjuangan lain. Bergaul dengan lingkungan yang asing lengkap dengan keasingan bahasa dan sifat mereka. Tetapi setidaknya, ada satu hal yang berbeda. Tak ada lagi bullying, hari-hari yang saya lewati bukan lagi saat-saat mendendam rasa benci terhadap teman yang mem-bully. Perjuangan saya lebih membahagiakan, belajar bahasa Arab dan belajar bagaimana mencari teman. Kebahagiaan yang justru saya dapatkan setelah pergi ribuan kilometer dari bumi pertiwi.

Setelah tamat SMA, saya yang dulu saat lahir divonis mati oleh dokter, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S1 di Qatar University. Sungguh anugerah yang luar biasa dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Titik balik pengharapan saya untuk menjadi orang yang jauh lebih berarti buat keluarga dan orang-orang sekitar. Saya memilih jurusan Hubungan Internasional, dengan fokus Politik Islam dan Politik Timur Tengah. Selama duduk di bangku kuliah, perlahan mulai saya rasakan arti sebuah persahabatan. Persahabatan yang menjadi dukungan mental yang luar biasa sebagai jawaban atas kelemahan saya. Persahabatan yang tulus, tanpa berharap kembali.

Jika boleh jujur, persahabatan itu juga yang menjadi asa dan semangat saya yang sebenarnya. Dampaknya, saya memahami menjadi manusia yang utuh, percaya diri mulai tumbuh, dan prestasi pun melambung. Tulisan-tulisan saya mulai dimuat di outlet lokal dan internasional. Saya mulai diundang untuk mengisi acara di beberapa tempat di Qatar dan Indonesia. Saya pun diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah. Berbekal nilai IPK yang hampir sempurna, kuliah sarjana saya selesaikan dengan predikat lulusan terbaik dan salah satu yang tercepat dari Qatar University. Entahlah, serasa mukjizat yang sulit digambarkan disaat melihat orang tua saya tersenyum haru saat anaknya mendapatkan penghargaan langsung dari Raja Qatar.

Dari hijaunya bumi pertiwi dan panasnya gurun pasir Timur Tengah, hari ini saya jejaki dinginnya tanah Eropa. Saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S2 di University of Manchester, Inggris. Disini, saya sangat terkesan dengan bagaimana masyarakat memahami kaum difabel dan melindungi hak-hak mereka. Sekolah-sekolah diwajibkan untuk menerima dan menyediakan fasilitas kepada siswanya yang memiliki kebutuhan khusus. Murid-murid ini tidak dipandang sebelah mata. Mereka dinilai melalui apa yang mereka lakukan, bukan dari apa yang mereka tidak bisa lakukan. Mereka dianggap sama, walaupun dengan cara yang berbeda. Masyarakat di sini percaya bahwa dibalik kekurangan yang dimiliki kaum difabel, tersimpan potensi besar dalam diri mereka.

Proses inilah yang membuat saya merasakan bahwa tangan ini jauh lebih kuat, lidah ini jauh lebih kuat. Syaraf-syaraf itu serasa berfungsi kembali, berfungsi kembali dalam arti yang sesungguhnya, menjadi manusia yang sempurna. Cerita saya bukanlah cerita yang istimewa karena ada banyak orang diluar sana yang mengalami hal yang sama atau bahkan jauh lebih luar biasa. Kehidupan mengajarkan saya tentang perjuangan. Perjuangan yang harusnya juga dilakukan oleh kawan-kawan saya di luar sana yang hari ini harus tersisihkan dengan keterbatasan.

Percayalah kawan, tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan doa dan kerja keras. Terus berjuang!