Menjadi Graduate Assistant di St. Louis University

0
77

Tahun 2013, saya masih sibuk “jungkir balik” berjuang mendapatkan Fulbright Scholarship. Sembari menjalani proses yang panjang itu, saya juga mulai mencari informasi universitas-universitas yang akan saya jadikan “sasaran tembak” untuk mendaftar program master. Beberapa universitas seperti University of Pittsburgh, Kansas State University, University of California, Los Angeles, University of Washington, dan Saint Louis University akhirnya masuk dalam daftar universitas yang akan saya coba daftar. Terus terang, sejak awal saya sudah tertarik dengan Saint Louis University karena program yang ditawarkan dan informasi yang disajikan di website Saint Louis University tampak sejalan dengan yang saya harapkan.

Jurusan yang saya ambil di Universitas Brawijaya untuk program pendidikan S-1 saya adalah Gizi Kesehatan (nutritional health). Di kelas, saya tertarik dengan bidang pediatrik dan olah raga. Oleh karena itu, saya merasa minat saya adalah gizi medis. Saint Louis University memiliki beberapa peminatan untuk program master, yaitu Nutrition and Physical Performance, Culinary Entrepreneurship, Medical Dietetics, dan Dual Degree with the School of Public Health. Universitas ini adalah universitas Katolik Yesuit yang berkarya di bidang pendidikan dan mengudang semua kalangan dengan berbagai keyakinan dan latar belakang, tanpa kecuali. Saya sangat menyukai misi Saint Louis University: “We believe in educating “the whole person” — mind, body, heart and spirit. The more whole you are, the more you can contribute to the world.

Saat saya mendengar kabar bahwa saya mendapatkan Fulbright Scholarship dan diterima di Saint Louis University, senang sekali rasanya. Tapi, perjuangan saya tidak selesai sampai di sini. Ternyata, beasiswa yang saya dapatkan tidak dapat menutupi seluruh biaya kuliah di Saint Louis University. Sisa biaya harus saya usahakan sendiri apabila saya mengamini keputusan bersekolah di Saint Louis University. Saya mencari sebanyak mungkin mengenai tambahan sponsor kuliah, namun hasilnya nihil. Hampir putus asa, saya menghubungi pihak Saint Louis University untuk menanyakan pendapat mereka mengenai kesulitan saya saat itu. Akhirnya, saya diberi kesempatan untuk mendaftar posisi sebagai graduate assistant yang akan dapat menutupi biaya kuliah di sana. Saat itu, saya sangat senang dan juga takut, karena saya harus menunggu lagi keputusan dari pihak Saint Louis University. Sekitar bulan Mei 2014, saya diterima sebagai graduate assistant di Nutrition and Dietetics Department, Saint Louis University. Saya sangat bersyukur akan respon tanggap dari Saint Louis University mengenai masalah saya. Bila tidak, mungkin saat ini saya tidak akan menginjakan kaki di Amerika Serikat.

Saya tiba di Saint Louis City, Missouri State pada tanggal 17 Agustus 2014 malam hari. Saint Louis memiliki international office staff yang menjemput international student di Lambert-St. Louis International Airport. Lelah sekali, tapi girang rasanya. Esok harinya, saya berjalan-jalan di sekitar tempat saya tinggal dan menghadiri orientasi universitas. Saya sangat terkesan dengan orientasi yang mereka sediakan. Informasi begitu lancar mengalir, lengkap tersedia. Panitia orientasi dan staf pengajar tampak bersemangat dan suportif, membuat rasa takut dan khawatir perlahan-lahan berkurang. Perkiraan saya tidak salah.  Setelah melewati dua semester di Saint Louis University, banyak yang saya pelajari dan dapatkan. Saya juga menyadari perbedaan yang sangat tampak dibandingkan pengalaman belajar di Indonesia, yaitu fasilitas yang menunjang dan pengajar yang sangat mendukung.

Saya terkesima dengan kelengkapan pustaka di perpustakaan. Bila saya membutuhkan satu artikel dari sebuah jurnal yang masih baru atau tidak tersedia gratis, kita bisa mengajukan permohonan dan perpustakaan akan menyediakannya dengan relatif cepat. Biasanya hanya makan waktu beberapa jam sampai satu hari. Selain itu, mereka juga memiliki Writing Service. Tentunya, tugas paper menjadi momok bagi mahasiswa, apalagi international students. Tapi, dengan adanya fasilitas ini, saya hanya perlu berusaha keras untuk membangun konsep dengan ide asli saya. Saya mencoba menulis yang terbaik dan berkonsultasi dengan staf Writing Service. Mereka akan membantu memperbaiki grammar, brainstorming, maupun order of essay. Dengan demikian, hampir pasti saya bisa mendapatkan nilai yang baik untuk tugas tersebut, yang penting isinya juga oke.

Orientasi di Bali memberikan informasi kepada para Fulbright Scholar yang akan berangkat ke Amerika Serikat bahwa kami sebaiknya rajin-rajin bertanya dan berkonsultasi kepada para pengajar. Pastilah para pengajar dengan senang hati menuntun, memberikan informasi, dan membantu sebisa mereka. Tepat sekali apa yang mereka sampaikan. Saya mengirimkan e-mail kepada semua instructor kelas yang saya ikuti pada fall semester. Mereka menanggapi dengan baik dan bersedia untuk bertemu dengan saya. Secara umum, saya memperkenalkan diri saya kepada mereka mengenai status saya sebagai international student, kekhawatiran saya mengenai bahasa, dan apa minat saya. Saya juga bertanya kepada mereka mengenai tips yang dapat mereka bagikan. Sungguh, pertemuan itu pada akhirnya sangat membantu saya dalam mengikuti pelajaran di kelas dan membangun hubungan baik dengan pengajar di Saint Louis University.

Tidak gampang bekerja sebagai graduate assistant bagi seorang international student. Saya perlu lebih cepat beradaptasi dengan bahasa dan lingkungan kerja di departemen. Awalnya, hal ini cukup mengundang stres. Akan tetapi, setelah kurang lebih tiga bulan, saya dapat menikmati pekerjaan saya tersebut. Hal baru yang sangat berarti bagi saya adalah bekerja di kebun. Nah lho, graduate assistant bekerja di kebun? Kesan aneh dan lucu selalu saya dapatkan bila teman-teman maupun kenalan menanyakan keseharian saya sebagai graduate assistant. Ya, itulah uniknya belajar di Amerika Serikat, atau lebih tepatnya di Saint Louis University. Banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan dari berkebun. Lagi-lagi, itu karena mereka menyediakan fasilitas sebaik-baiknya bagi mahasiswa. Educating “the whole person” — mind, body, heart and spirit. The more whole you are, the more you can contribute to the world.

Saya baru menjalani 10 bulan di Saint Louis University, namun banyak sekali pengalaman berharga yang saya alami. Bukan hanya ilmu pengetahuan di bidang gizi kesehatan yang saya dapatkan, tapi juga pengalaman hidup, as a whole person. Tahun depan, saya akan lulus dengan gelar Master of Science dari Nutrition and Dietetics Department, Saint Louis University. Semoga saya dapat menjalani kehidupan sebagai international student dengan lebih baik lagi. Amin.

Content edited by Artricia Rasyid

Photo Credit: Author’s Collection