Menjadi Atlet di Universitas di Amerika

Menjadi Atlet di Universitas di Amerika

Anda punya banyak prestasi di bidang olahraga? Mungkin prestasi di tingkat nasional bahkan internasional?

Apakah Anda ingin melanjutkan aktivitas olahraga Anda di universitas? Lebih seru lagi, apakah Anda ingin melanjutkan prestasi Anda di universitas di Amerika?

Kabar bagus untuk Anda! Ada banyak kesempatan untuk murid Indonesia berprestasi olahraga untuk melanjutkan prestasi tersebut di universitas di Amerika Serikat. Lebih bagus lagi, prestasi-prestasi Anda selama di sekolah juga akan membantu proses penerimaan Anda untuk berkuliah di Amerika Serikat.

Di salah satu post lama saya, saya membahas sedikit tentang bagaimana prestasi saya di olahraga basket selama SMP dan SMA membantu saya  untuk diterima di The College of Wooster dengan beasiswa penuh. Di post ini, saya akan membahas sedikit lebih detil beberapa tips untuk teman-teman yang juga tertarik untuk melanjutkan prestasi olahraga selama kuliah di Amerika Serikat.

  1. Pilih Universitas yang Berkompetisi di Divisi III

Mengapa Divisi III menurut saya adalah pilihan yang tepat untuk murid Indonesia?

  • Universitas Divisi III, yang list nya bisa di lihat di sini, tidak sekompetitif Divisi I maupun II, jadi lebih besar kesempatan Anda untuk bisa berguna bagi tim kampus, dan membantu aplikasi Anda ke kampus tersebut.

  • Meskipun tidak sekompetitif Divisi I dan II, menurut pengalaman saya bermain untuk sekolah Divisi III, intensitas latihan dan profesionalitas pemain dan pelatih tetap sangat baik. Latihan biasanya 6 hari dalam seminggu selama sekolah, dan 2 kali sehari, 6 kali seminggu saat libur sekolah. Ini belum termasuk latihan-latihan tambahan seperti angkat beban atau weight training juga latihan-latihan individual diluar latihan tim. Fasilitas latihan untuk tim basket di kampus kecil saya, bisa dikatakan sebanding dengan tim basket professional di Indonesia. Tidak hanya memiliki tim pelatih (biasanya ada 2+ pelatih), tapi juga manager, dan athletic trainer.

  • Sekolah Divisi III menempatkan pendidikan sebagai prioritas, sedangkan di sekolah-sekolah Divisi I dan II, kebanyakan atlet kesulitan untuk mempertahankan prestasi sangat baik di kelas. Hal ini wajar, karena banyak atlet di Divisi I dan II punya tujuan untuk bermain di tingkat professional di Amerika Serikat atau Eropa. Bila Anda ingin tetap berkompetisi olahraga semasa kuliah, tapi tidak tertarik untuk melajutkan karir sebagai atlet professional dan ingin tetap fokus belajar, universitas divisi III adalah tempatnya.

  • Bila Anda masih ragu untuk memasuki karir sebagai atlet professional, berkompetisi di universitas divisi III pun tidak masalah.  Dengan intensitas latihan dan kompetisi di sekolah Divisi III di Amerika Serikat, menurut saya, Anda akan mampu berkompetisi professional di Indonesia setelah lulus kuliah. Salah satu contohnya adalah seorang atlet bola basket nasional Arki Dikania Wisnu. Arki lahir dan tinggal di New York City. Ia berkuliah dan bermain basket untuk sebuah universitas divisi III, Baruch College, di New York. Setelah lulus kuliah, ia kembali ke kota asal orang tuanya di Jakarta, dan kini ia bermain untuk tim bola basket professional Satria Muda Jakarta, dan juga bermain untuk Tim Nasional Indonesia.

  • Sekolah Divisi III umumnya berukuran kecil. Jadi, bila Anda ingin belajar di sekolah yang ukuran kelas yang kecil, dengan banyak waktu untuk berdiskusi langsung dengan professor, tidak diajar oleh asisten dosen, sekolah divisi III patut jadi pertimbangan Anda.

  • Tidak ada ikatan
    Tidak seperti Divisi I dan II, universitas Divisi III tidak diperbolehkan untuk memberikan beasiswa spesifik untuk atlet, atau athletic scholarship. Meskipun begitu, prestasi olahraga Anda akan tetap menguntungkan Anda. Para atlet memang tidak menerima beasiswa spesifik untuk olahraga, tapi mereka tetap menerima bantuan keuangan atau financial aid. Tergantung dari regulasi sekolah, financial aid biasanya berdasarkan gabungan dari prestasi akademik, pemasukan orang tua, dan prestasi dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Nah, di sinilah prestasi olahraga akan tetap membantu Anda untuk mendapatkan bantuan keuangan meskipun dengan ketiadaan athletic scholarship.
    Lebih untungnya lagi, karena bantuan keuangan ini berdasarkan gabungan dari banyak hal yang saya sebutkan diatas, tidak ada ikatan bagiAnda untuk bertanding bersama tim kampus untuk mempertahankan bantuan keuangan tersebut. Setelah diterima,bila  Anda berubah pikiran dan memutuskan  untuk tidak bermain, Anda bisa keluar dari tim tanpa konsekuensi apapun karena beasiswa Anda tidak spesifik untuk olahraga.

Tim Bola Basket Putri The College of Wooster, 2013-2014
(Saya di pojok kanan atas)

 

  1. Tunjukan Keinginanmu di Aplikasi

Meskipun terdengar sepele, menunjukan rasa antusias Anda untuk berkompetisi bersama universitas pilihanmu akan sangat penting untuk meningkatkan kemungkinanmu untuk diterima di universitas dan juga mendapat bantuan keuangan. Di aplikasi, umumnya akan ada pertanyaan bila kamu berniat untuk melanjutkan aktivitas ekstrakurikulermu di kampus. Tentunya kamu harus menjawab “Ya” untuk pertanyaan tersebut. Namun, yang lebih penting lagi, berusahalah untuk berkomunikasi dengan tim pelatih langsung. Banyak sekolah yang menampilkan alamat email dari pelatih mereka di website, terutama di sekolah yang ukurannya lebih kecil (kebanyakan sekolah Divisi III). Kirimkan email ke tim pelatih dan tunjukan bahwa kamu sangat tertarik untuk bermain.

Saya sendiri tidak melakukan hal ini, tapi saya beruntung karena saya dikirimi email langsung oleh salah seorang dari tim pelatih basket di Wooster. Kami berkomunikasi via email  jauh sebelum saya diterima di Wooster. Komunikasi ini tidak hanya memberi gambaran untuk tim pelatih terhadap saya, tapi saya juga bisa sedikit melihat seperti apakah staff yang bekerja di Wooster dan menunjukan sedikit gambaran dari salah satu sudut dari komunitas di Wooster.

  1. Simpan Rekaman Video

Salah satu tugas penting dari tim pelatih universitas adalah recruiting. Pelatih mengunjungi event-event kompetisi olahraga tingkat SMA untuk melihat secara langsung pemain-pemain berkualitas di tingkat SMA untuk diajak bergabung ke universitas mereka. Lalu, bagaimana tim pelatih kampus bisa melihat permainanmu bila kamu bermain di tempat yang berada 10,000 km dari mereka?

Di situasi seperti inilah rekaman video permainan mu menjadi sangat berharga. Saya sendiri tidak memiliki rekaman video apapun dari pertandingan basket saya, dan saya sangat sesali hal itu karena beberapa pelatih dari beberapa sekolah yang saya daftar tentunya menanyakan hal tersebut.  Komunikasi dengan tim pelatih kampus di email bisa dimulai dengan menunjukan antusiasme kamu untuk melanjutkan studi di universitas tersebut, sekaligus melanjutkan prestasi olahragamu, tapi juga ingatkan tim pelatih kalau kamu memiliki rekaman permainan yang bisa mereka lihat bila mereka membutuhkan. Tentunya rekaman video permainanmu akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan hanya piagam pernghargaan juara di olahragamu.

  1. Rekomendasi dari Pelatih di IndonesiaTim pelatih universitas juga biasanya ingin ngobrol dengan pelatihmu yang sekarang. Tujuannya tentunya untuk mengenali kepribadianmu lebih lanjut. Jadi, bicarakan rencanamu untuk melanjutkan studi dan prestasi olahragamu di AS dengan pelatihmu. Saya beruntung karena saya bersekolah SMA selama setahun di AS dan juga bermain basket selama setahun di sekolah tersebut. Jadi, saat pelatih di Wooster meminta kontak informasi, saya berikan kontak informasi pelatih di SMA saya di AS. Bila pelatihmu lancar berbahasa Inggris, dan bila beliau bersedia, jangan ragu untuk memberikan kontak informasi pelatihmu kepada tim pelatih di universitas pilihanmu.

    Nama saya di loker tim

  2. Jadilah Dirimu Sendiri

Dan yang paling penting, jadilah dirimu sendiri. Meskipun terdengar klise, aset terbesarmu seringkali bukanlah kemampuan olahraga atau nilai-nilai tesmu, tapi keunikanmu sebagai seorang atlet dengan pembawaan budaya Indonesia. Sudut pandangmu sebagai seorang dari Indonesia adalah tambahan yang sangat baik untuk tim.

Cerita favorit saya dari tim pelatih di The College of Wooster adalah ketika melalui email , salah seorang pelatih tim basket bertanya bila saya punya pertanyaan untuknya tentang tim basket di Wooster. Saya lalu bertanya kepada beliau apa yang tim sering lakukan bersama di luar latihan dan pertandingan. Saya bertanya seperti itu karena  tim basket saya di Jakarta sangat dekat di luar lapangan. Kami sering pergi ke bioskop bersama, makan-makan, karaoke, dll. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman terdekat saya. Pertanyaan ini terdengar masuk akal dan biasa saja bukan?

Setelah saya diterima di Wooster dan menjadi pemain untuk tim basket Wooster, pelatih tersebut bercerita kepada saya bahwa pertanyaan tersebut sangat menarik baginya. Menurutnya, kebanyakan murid lokal akan bertanya pertanyaan seperti: “Ada berapa pemain lain di tim yang sama posisinya seperti saya?” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang menjurus apakah mereka akan mendapatkan kesempatan bermain di Wooster. Pertanyaan saya yang bertanya tentang kebersamaan tim menurut pelatih menunjukan karakter saya yang tidak egois, dan membuat saya menonjol dibanding murid-murid lain.

Tapi menurut saya, pertanyaan tersebut tidaklah karena karakter pribadi saya, melainkan bawaan budaya. Di budaya Indonesia,  menurut saya, pertanyaan yang menjurus apakah saya akan ada kesempatan bermain bahkan sebelum diterima di universitas tersebut dianggap sangat tidak sopan, dan pertanyaan tersebut tidak pernah muncul di benak saya. Jadi intinya, cukup menjadi diri saya sendiri, yang tentunya sudah jauh berbeda dari murid-murid lokal, sudah membuat saya menarik perhatian tim pelatih.

 

Semoga artikel ini berguna untuk teman-teman! Semoga sukses dan tetap berlatih ya!

Foto-foto adalah koleksi pribadi penulis. Feature image diambil oleh Eloise Nimocks.

 




===========================================
Khairunnisa (Nisa) Usman is an Economics and Mathematics student at The College of Wooster in Wooster, Ohio, USA. She is a former benchwarmer of the college's women's basketball team and the ultimate frisbee team. Before her senior year of high school, she took a gap year to live in Arlington, VA as an AFS Foreign Exchange student. Her free time consists of many "The Office" episodes as well as Manchester United games.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn