Menempuh Studi di Luar Negeri Sebagai Penyitas Kanker

1
96

Kanker, cukup satu kata tapi menyiratkan banyak makna. Penyakit ini memang cukup ditakuti namun makin akrab di telinga. Tidak sedikit orang di sekitar kita, kenalan bahkan keluarga yang pernah mengidap penyakit ini. Namun, bagi saya, kata ini terasa lebih dekat. Tidak hanya karena saya bergelut dalam penelitian biomedik terkait penyakit ini tetapi juga karena saya kini adalah salah seorang penyitas (survivor) kanker.

Saya adalah seorang apoteker, staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pada tahun 2011, saya berhasil meraih gelar Master of Philosophy dari The John Curtin Schoool of Medical Research, The Australian National University. Proyek penelitian yang saya geluti kala itu adalah mengenai angiogenesis, suatu proses pembentukan pembuluh darah baru yang acapkali membantu proses penyebaran sel-sel kanker ke berbagai bagian tubuh (metastasis). Saat itu, berbagai literatur mengenai kanker telah saya baca, berbagai eksperimen di laboratorium pun telah saya lakukan, namun penyakit ini terasa hanya sebagai suatu teori rumit yang saya harapkan dapat dipecahkan melalui pendekatan matematis dan sistematis.

Namun, akhirnya kini saya melihat kanker melalui perspektif yang berbeda, setelah pada tahun 2014 yang lalu divonis mengidap kanker kolorektal, suatu jenis keganasan yang menyerang usus besar. Ternyata, setelah menjalani serangkaian proses diagnosa dan terapi yang panjang dan melelahkan, saya menyadari ternyata perjuangan melawan kanker tidaklah sama seperti konsep penjumlahan dan pengurangan yang sudah pasti hasilnya. Banyak hal yang ternyata tidak serupa dengan teori yang saya pelajari selama ini. Banyak hal yang masih harus diungkap oleh para ilmuwan sehingga suatu saat nanti kanker tidak lagi menjadi penyakit menakutkan yang tidak dapat disembuhkan. Bukankah penyakit seperti cacar (smallpox) yang dulu di awal abad ke 20 menyebabkan banyak kematian saat ini telah dapat dikendalikan berkat vaksinasi yang ditemukan oleh Edward Jenner?

Tidak mudah memang menjadi seorang pasien kanker. Perasaan kaget, takut dan sedih seringkali berkecamuk dalam pikiran. Terlebih lagi, sebagai seorang yang terlibat dalam penelitian terkait kanker, saya paham bahwa banyak jurnal yang menyebutkan bahwa angka ketahanan hidup 5 tahun (five-year survival rate) untuk penderita kolorektal kanker stadium 3 seperti saya hanya berkisar 50-70%. Namun, apakah statistik ini harus menghentikan mimpi saya untuk kembali belajar menempuh S3 di luar negeri? Apakah kanker memang adalah akhir dunia?

Bersyukur setelah menjalani 3 kali operasi dan serangkaian kemoterapi yang menyakitkan, kini saya telah dapat beraktivitas penuh seperti semula. Saya pun kembali menyusun langkah untuk melanjutkan rencana studi doktoral di luar negeri. Sebelum diagnosis kanker yang merubah hidup tersebut, saya telah berhasil mendapatkan 2 beasiswa untuk program PhD, yaitu Australia Prime Minister Endeavour Award dan Islamic Development Bank (IDB) Merit Scholarship. Pilihan pertama saya adalah Endeavour Award karena berdasarkan pengalaman menyelesaikan S2 di Australia, saya merasa negara ini sangat nyaman untuk belajar terlebih lagi faktor jarak yang tidak terlalu jauh dari Indonesia. Namun, ternyata langkah saya terbentur masalah visa. Meskipun berhasil mendapatkan salah satu jenis beasiswa yang paling bergensi yang ditawarkan oleh pemerintah Australia dan mendapat dukungan besar dari supervisor dan universitas ternama disana, visa pelajar yang saya ajukan akhirnya ditolak dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat akibat pengobatan kanker yang baru saya jalani.

Saat ini saya sedang mencoba mengurus visa pelajar ke Inggris karena telah diterima di program doktoral bidang onkologi di salah satu universitas besar di sana. Beasiswa IDB memang lebih mengutamakan agar penerimanya menempuh studi di beberapa universitas yang telah bekerjasama dengan IDB, yang kebanyakan berada di Inggris. Sama seperti dukungan yang saya dapatkan dari calon supervisor dan universitas di Australia, kali ini saya pun mendapatkan sambutan positif dari calon supervisor dan pihak universitas yang akan saya tuju di Inggris.

Ketika wawancara dengan calon supervisor, beliau sempat bertanya alasan kenapa saya masih termotivasi untuk melanjutkan studi S3, jauh dari keluarga besar, hanya sesaat setalah pemulihan paska terapi kanker yang cukup menyulitkan. Kala itu saya menjawab bahwa saya sungguh percaya kematian adalah kuasa Tuhan sehingga saya tidak bisa memastikan masa depan. Namun, saya menolak untuk hidup dalam keraguan dan ketakutan. Daripada saya hanya duduk merenungi ketidakpastian, apakah penyakit ini akan muncul kembali, saya memilih berusaha maksimal untuk hidup sehat dan memanfaatkan waktu yang ada melakukan hal yang saya sukai, yaitu mencari dan berbagi ilmu.

Tentunya ada pertimbangan batin yang mendalam yang mendasari semangat saya untuk meneruskan upaya menempuh studi lanjut di luar negeri. Jika dulu saya melihat hal ini hanya sebagai kesempatan untuk bisa meningkatkan kualitas intelektual sebagai seorang akademisi, namun sekarang saya melihatnya dari sudut pandang yang agak berbeda. Merasakan sulitnya berjuang melawan keganasan penyakit ini, saya ingin menggunakan sedikit kemampuan akademik yang saya punyai untuk mengenal lebih jauh penyakit ini sehingga bisa sedikit berkontribusi menemukan solusi pengobatannya. Saya pun berharap nantinya dapat berbagi ilmu yang saya dapat kepada kolega maupun mahasiswa saya di kampus. Selain itu, semangat yang saya miliki, berkat dukungan dari keluarga, teman dan kerabat, semoga bisa menginspirasi orang-orang di sekitar saya, terutama anak semata wayang saya, agar tidak mudah berputus asa dalam menggapai cita-cita, sesulit apa pun keadaannya. Karena harapan adalah doa dan sebagai orang yang beragama saya percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia apapun hasilnya.

Khusus untuk mereka yang pernah menghadapi kondisi kesakitan serius seperti saya, sebelum berencana menempuh studi lanjut di luar negeri mungkin dapat mempertimbangkan hal-hal berikut.

  1. Bersikap terbuka kepada pihak universitas terlebih lagi calon supervisor mengenai kondisi yang sesungguhnya karena mungkin diperlukan penyesuaian khusus terkait jam dan beban kerja bahkan jenis pekerjaan atau lingkungan yang harus dihindari mengingat kondisi kesehatan yang tak lagi serupa dulu. Sebagai contoh, saya mungkin tidak lagi nyaman mengerjakan eksperimen menggunakan senyawa radioaktif  seperti yang sering saya lakukan ketika menempuh studi S2 karena senyawa berbahaya seperti ini tentu saja menjadi faktor resiko munculnya kekambuhan kanker yang sempat saya derita. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, para akademisi di luar negeri berpikiran sangat terbuka sehingga akan sangat memaklumi kondisi khusus seperti ini.

  2. Mempertimbangkan persyaratan kesehatan saat memilih negara tujuan studi. Seperti cerita di atas, visa pelajar yang saya ajukan ke imigrasi Australia ditolak karena saya dianggap tidak memenuhi persyaratan kesehatan yang mereka tetapkan. Australia memang menerapkan skrining keseharan yang ketat dalam aplikasi visa pelajar. Namun jangan berkecil hati, masih ada beberapa negara maju lain yang dapat dijadikan pertimbangan, Belanda adalah salah satu diantaranya. saya mendengar cerita dari beberapa penyitas kanker yang berhasil mendapatkan visa untuk studi lanjut di negara tersebut. Konsultasi saya sejauh ini dengan pihak universitas di Inggris juga mengindikasikan bahwa negara ini cukup terbuka dalam memberikan visa bagi penyitas kanker. Pemeriksaan kesehatan yang perlu dilakukan dalam rangka aplikasi visa Inggris hanyalah skrining tuberkulosis.

  3. Mempersiapakan asuransi kesehatan yang memadai. Hal ini adalah salah satu saran yang disampaikan oleh calon supervisor saya di Inggris saat beliau mengetahui bahwa saya adalah seorang penyitas kanker. Memang penyakit ini prognosisnya sulit diprediksi sehingga sulit dipastikan apakah apakah akan timbul kekambuhan dan kapan waktunya. Selain itu, paska mengidap penyakit serius seperti kanker, kondisi tubuh tentunya tidak lagi dalam keadaan terbaiknya sehingga mungkin akan rentan terhadap berbagai penyakit lain seperti infeksi misalnya. Oleh karena itu, asuransi kesehatan yang mencakup akses terhadap pelayanan kesehatan lengkap seyogya dapat memberikan perlindungan jika suatu saat hal yang tidak diinginkan terjadi karena menjalani perawatan medis di luar negeri tentunya tidaklah murah.

Sebagai penutup, tulisan ini saya tujukan tidak hanya bagi para penyitas kanker yang masih bersemangat untuk menempuh studi di luar negeri, tetapi juga untuk para pencari ilmu dan pejuang beasiswa secara umum yang mungkin merasa kurang beruntung karena harus menghadapi situasi sulit dalam hidupnya. Banyak hal positif yang didapat dari menuntut ilmu di negeri orang sehingga layak untuk diperjuangkan. Semoga tulisan saya bisa dijadikan penyemangat untuk terus berupaya mewujudkan cita-cita.

===========================================

Photo Credits:  ”study” courtesy of David A Ellis; “study” courtesy of Moyan Brenn

SHARE
Previous articleJapan America Institute of Management Science: East West Knowledge Leaders Program
Next articleSerba Serbi Beasiswa S2 ke Eropa
Susanti
Susanti is a proud mother of one. She is currently working as an academic in Faculty of Pharmacy, The University of Muhammadiyah Purwokerto. She gained her B.Sc. in Pharmacy from Gadjah Mada University and M.Phil. in medical science from John Curtin School of Medical Science, The Australian National University. She received an Australian Development Scholarship to fund her master degree. She is now preparing to do a PhD and has been offered an Australia Prime Minister Endeavour Scholarship and an Islamic Development (IDB) Merit Scholarship. She is primarily working on cancer research and also a colorectal cancer survivor. In her spare time, she loves to read, cook and make handcrafts.
  • Nunu

    Ka’, (y) keren kisahnya.
    Saya mau nanya ka’, untuk kuliah S1 di ANU apakah harus menggunakan ijazah internasional atau tetap menggunakan ijazah UN di Indonesia ?
    Trus ka’, apakah pendaftarannya dilakukan setelah selesai SMA ketika ijazah sudah diterima ? atau pendaftarannya dilakukan di awal tahun pembelajaran saat naik ke kelas XII dengan menggunakan nilai rapor semester 1-4 SMA dan hasil IELTS ?

    Terima kasih ka’.