Menjadi Satu-Satunya Pemegang Paspor Garuda di Kampus

Menjadi Satu-Satunya Pemegang Paspor Garuda di Kampus

Selama tiga tahun terakhir ini, saya adalah satu-satunya murid asal Indonesia di kampus saya, The College of Wooster, Ohio, Amerika Serikat. Mereka memang pernah memiliki murid Indonesia, tapi itu kira-kira 10-15 tahun yang lalu. Di post ini, saya akan cerita sedikit tentang suka duka menjadi satu-satunya pemegang paspor garuda di kampus.

Awalnya sangat sulit

Saya akui, beberapa hari pertama di kampus, termasuk selama orientasi, saya merasa kesulitan untuk bergaul dengan sesama murid internasional. Pasalnya, hampir semua murid-murid internasional lain tidak sendirian. Pada umumnya, mereka ngobrol dengan teman yang berasal dari negara mereka sendiri. Lebih parahnya lagi, mereka  berbicara menggunakan bahasa lokal dan bukan Bahasa Inggris. Duh! Tapi jangan khawatir! Saya jamin ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, ada juga murid internasional lain yang hanya sendiri an. Kalaupun tidak, anda pasti akan menemukan orang lain yang punya latar belakang mirip dengan anda. Contohnya, salah satu teman pertama saya di kampus bernama Bli, berasal dari Madagaskar. Diapun satu-satunya murid dari Madagaskar dan itulah yang mengawali perbincangan kami. Seperti saya, Bli juga sudah pernah tinggal di Amerika sebelum kuliah. Maka kita menemukan kesamaan dan sampai sekarang, Bli tetap menjadi teman baik saya.

Hari pertama saya di The College of Wooster, Ohio, Amerika Serikat

Membantu Proses Aplikasi

Bila anda mendaftar ke universitas yang tidak memiliki murid Indonesia, ini akan menjadi salah satu nilai tambah untuk aplikasimu. Setidaknya, aplikasimu akan terlihat lebih menarik dan akan diberikan perhatian lebih oleh universitas. Mengapa? Alasan utamanya adalah universitas senang untuk punya murid dari berbagai berbagai negara untuk meningkatkan keragaman kultur di kampus dan meningkatkan daya jual dari universitas tersebut. Disamping itu, dengan adanya murid dari negara baru, suatu universitas akan lebih mudah menarik murid-murid dari negara yang sama untuk mendaftar. Misalnya, dengan saya masuk ke The College of Wooster, setidaknya orang-orang di SMA saya, juga teman-teman saya di Jakarta jadi tahu sedikit tentang The College of Wooster. Universitas pun jadi tambah terkenal. Intinya, dengan murid dari banyak negara, ini akan sangat menguntungkan bagi universitas, karena itulah bila kamu mendaftar ke universitas yang belum punya murid Indonesia, aplikasi kamu akan diperhatikan!

Beberapa universitas bahkan punya beasiswa khusus untuk murid Indonesia, contohnya adalah Wesleyan University dan University of Virginia.

Agak Sulit Menyebarkan Budaya

Selain menuntut ilmu di kelas, saya juga punya keinginan kuat untuk menampilkan budaya unik Indonesia di kampus. Meskipun banyak kesempatan untuk melakukan hal ini di kampus, saya merasa kesulitan untuk melakukannya karena saya hanya sendirian. Contoh, setiap tahun Wooster mengadakan pentas budaya internasional dimana kelompok murid dari negara manapun boleh mementaskan tarian, nyanyian, atau pertunjukan lain yang khas budaya mereka masing-masing. Agak sulit bagi saya yang kemampuan tari atau nyanyi daerahnya sangat pas-pasan untuk bias tampil di pertunjukan ini. Bila ada murid-murid lain yang berasal dari Indonesia, kami mungkin akan bis bekerja sama untuk membentuk pertunjukan, numu karena saya hanya sendirian, ditambah dengan banyak aktivitas lain di kampus, sulit bagi saya untuk memberi waktu untuk membuat pertujukan di pentas ini.

Untungnya, tahun depan saya terpilih untuk menjadi Duta Besar Indonesia di kampus. The College of Wooster mempunyai program dimana setiap tahunnya murid-murid internasional bisa mendaftar dan universitas akan memilih 4-5 murid internasional per tahun untuk menjadi duta besar negara mereka masing-masing di kampus. Tugas dari duta besar ini adalah memberikan presentasi tentang negara mereka di berbagai topik yang mereka pilih. Mereka akan melakukan presentasi di berbagai kelas di kampus, di sekolah dasar di sekitar kampus, juga di organisasi dan komunitas lokal di daerah sekitar kampus. Melalui program ini, saya akan bisa menyebarkan budaya Indonesia di Wooster, Ohio, Amerika Serikat.

Teman Dari berbagai Negara

Secara keseluruhan, saya bangga dan senang menjadi satu-satunya murid Indonesia di The College of Wooster. Bila ada murid Indonesia lain, saya mungkin tidak akan menjadi outgoing seperti sekarang ini. Saya mungkin hanya akan bergaul dengan teman-teman Indonesia saya. Ditambah lagi, tanpa ada teman Indonesia, saya tidak bisa memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, sehingga saya harus selalu menggunakan bahasa Inggris, meskipun di luar kelas. Saya melihat ini juga membantu kelancaran bahasa Inggris saya.

Sekarang, saya punya banyak teman dari seluruh dunia. Tentunya saya memiliki banyak teman dari Amerika Serikat. Teman-teman dekat saya berasal dari India, Nepal, Korea, dan Madagaskar. Saya juga punya teman-teman dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, Vietnam, Selandia Baru, Cina, dan Jepang. Teman-teman sayapun ada yang berasal dari Eropa, seperti Inggris, Irlandia, Lithuania, Jerman, Austria, Denmark, dan juga negara-negara lain di Afrika dan Amerika Tengah dan Selatan yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Teman-teman dari berbagai negara ini meningkatkan pengetahuan budaya dunia saya dan saya merasa keragaman budaya ini adalah bagian yang sangat penting di proses pembelajaran saya selama di kuliah ini.

Saya dan Stuti, teman dari Nepal, di acara makan jamuan makan malam internasional di kampus

Maka…..

Jangan ragu untuk melanjutkan studi di universitas di negara lain, meskipun kamu akan menjadi satu-satunya orang Indonesia. Saya jamin meskipun awalnya berat, anda akan mendapatkan pengalaman berharga.

 

Foto-foto adalah koleksi pribadi penulis.




===========================================
Khairunnisa (Nisa) Usman is an Economics and Mathematics student at The College of Wooster in Wooster, Ohio, USA. She is a former benchwarmer of the college's women's basketball team and the ultimate frisbee team. Before her senior year of high school, she took a gap year to live in Arlington, VA as an AFS Foreign Exchange student. Her free time consists of many "The Office" episodes as well as Manchester United games.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn