Jatuh Cinta Pada Indonesia Dalam Perantauan

0
68

Kebanyakan orang, kuliah di luar negeri berarti mempelajari budaya bangsa lain dan sampai ke taraf tertentu seperti meninggalkan hidup dengan budaya Indonesia untuk sejenak. Itulah yang ada di benak saya pada saat dulu saya pertama kali meninggalkan kota asal saya, Surabaya dan masuk di sebuah sekolah internasional di Singapura, St Joseph’s Institution International saat saya kelas 2 SMP.

Benar saja, ketika saya tiba di Singapura, saya mulai mengenal berbagai kebudayaan dari berbagai bangsa. Sebagai salah satu pusat finansial dunia, Singapura adalah New York dan London-nya Asia Tenggara di mana kita dapat berjumpa dan berinteraksi dengan orang dari berbagai belahan dunia. Bisa dibilang bahwa Singapura, adalah jendela dunia bagi saya.

Adalah di Singapura saya melihat berbagai alat musik dan tari-tarian yang saya belum pernah lihat sebelumnya di Surabaya seperti perkusi Samba dari Brazil. Adalah di Singapura saya berteman dengan teman-teman dari berbagai bangsa; Singapura, Malaysia hingga Kanada dan Brazil.

Setiap kali saya bertemu dengan teman-teman dari luar Indonesia tersebut, saya berusaha belajar dan mengetahui berbagai hal mengenai kebudayaan, nilai-nilai dan tata cara hidup mereka. Saya menjumpai bahhwa seringkali, teman-teman saya sangat berapi-api setiap kali mereka bercerita mengenai negara asal mereka: keidahan kota-kotanya, makanannya, permainan masa kecil mereka, dsb. Saya dapat merasakan bahwa mereka bangga menjadi orang Singapura, Malaysia, Brazil, dst.

Di sisi lain, saya sangat mencintai kota asal saya. Saya paling bangga dengan yang namanya kota Surabaya. Hingga detik ini, setelah tinggal di Singapura selama 8 tahun, rawon masih menjadi makanan kesukaan saya. Namun, saya menyadari bahwa seringkali, percakapan saya dengan teman-teman saya adalah satu arah. Saya, seperti halnya banyak orang Indonesia, seringkali menyanjung cara hidup orang asing. Makanan mereka kita hargai jauh lebih mahal daripada rendang, sekalipun rendang telah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia. Film-film dan lagu-lagu asing lebih digandrungi anak-anak muda Indonesia. Bagi kebanyakan orang Indonesia, hidup di negeri asing, bergaya hidup bak orang asing itu kita anggap keren.

Suatu ketika, pada saat saya sedang mengikuti orientasi International Connections yaitu orientasi mahasiswa asing di Singapore Management University (SMU), saya harus membagikan kepada teman-teman dari mancanegara mengenai apa yang saya suka, dan apa yang saya banggakan tentang Indonesia. Saya bukanlah seorang yang sangat-sangat bangga menjadi orang Indonesia. Biasa aja lah. Maka dari itu saya hanya bercerita ala kadarnya mengenai bagaimana Indonesia sebenarnya adalah bukan negara muslim, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya dalam kebudayaan. Saya menceritakan mengenai keindahan Gunung Bromo dan Kaldera Tengger, ritual-ritual Hindu di Tengger. Saya menunjukkan foto-foto berbagai macam makanan yang ada di Indonesia.

Secara mengejutkan, seorang teman saya, seorang Jerman yang baru pertama kali menginjakan kaki di Asia, sangat tertarik mendengar cerita saya dan setelah orientasi kami usai, dia mendatangi saya untuk minta tolong dibantu merencanakan liburan ke Indonesia.

Di situ saya menyadari bahwa, seperti halnya saya begitu tertarik kepada kebudayaan luar negeri, orang luar negeri sangat tertarik dengan kebudayaan Indonesia. Walaupun semenjak kecil saya sudah tahu bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan kebudayaan dan kekayaan alam, pembicaraan saya dengan orang Jerman tersebut menyadarkan saya bahwa Indonesia MEMANG sangat kaya akan kebudayaan dan sumber daya alam. Pembicaraan itu membuka mata saya bahwa, kebudayaan kita sama menariknya dengan kebudayaan luar. Sungguh ironis bahwa saya baru menyadari hal ini pada saat saya sudah tinggal di luar negeri, untuk dapat mengenal lebih mengenal dunia luar.

Alhasil, saya memutuskan untuk bergabung dalam SMU Komunitas Indonesia (SMUKI), sebuah klub di SMU yang berdiri dengan tujuan untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia kepada Komunitas di SMU dan juga di Singapura pada umumnya.

Awalnya saya bergabung dalam sebuah pentas seni yang diselenggarakan oleh SMUKI, Gelar Budaya 2014 sebagai salah satu crew, tepatnya sebagai asisten Stage Manager. Walaupun saya tidak tampil di atas panggung, saya adalah salah satu penjual tiket terbanyak, di mana saya mengundang hampir semua teman-teman saya yang dari Eropa, Amerika dan negara-negara lain di Asia. Saya mengundang mereka bukan untuk melihat saya tampil, tapi karena saya ingin mereka melihat bahwa Indonesia bukanlah negara yang penuh dengan teroris, tapi Indonesia adalah sebuah negara yang sangat indah dan kaya akan kebudayaan.

Dua bulan setelah pementasan Gelar Budaya 2014 berakhir, saya mendaftarkan diri sebagai Produser Gelar Budaya 2015. Saya bukanlah orang yang nyeni dan saya bukanlah seorang performer. Namun saya memberanikan diri untuk mengambil sebuah peran yang besar karena saya ingin menunjukan kepada dunia, keindahan bangsa saya. Di atas saya berbicara mengenai teman-teman saya yang begitu berapi-api bercerita mengenai negeri asal mereka, menjadi Produser Gelar Budaya 2015 adalah cara saya untuk menunjukan api saya dalam mengenalkan negeri saya kepada dunia.

Dalam perencanaan awal kami, saya mengatakan kepada tim saya bahwa pentas kami harus menjadi simbol kebanggaan kami sebagai orang-orang Indonesia yang merantau di Singapura. Walaupun kami jauh di mata dari Indonesia, tapi Indonesia tetap ada di hati kami.

Pada prosesnya, saya mengambil langkah yang lebih berani lagi dan mengajukan diri dan terpilih untuk menjadi Presiden dari SMU Komunitas Indonesia. Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa saya tidak menggunakan kesempatan saya hidup di luar negeri untuk mempelajari kebudayaan lain, melihat dunia? Saya selalu menjawab mereka bahwa, justru karena saya di luar negeri, saya harus bisa mengenalkan Indonesia kepada dunia.

Saya sama sekali tidak menyesal telah menggunakan waktu saya saat sedang belajar di negeri orang menjadi unofficial ambassador Indonesia. Sungguh ironis bahwa di saat saya berada di luar tanah air dan menikmati kekayaan dan kemajuan bangsa lain, barulah saya menyadari betapa cintanya saya pada Indonesia.

 

 Photos are credited to author.




===========================================
Kenny Koesoemo is an undergraduate of Business Management at the Singapore Management University. He is currently President of SMU Komunitas Indonesia and was the head of a cultural production, Gelar Budaya 2015: Malabero as Producer. A proud Surabaya-boy, he believes that Indonesians should be proud for being Indonesians. He is also an aviation lover and likes coming to the airport early to look at planes park, take-off and lands.
Posts
SHARE
Previous articleHow to Intern in Silicon Valley
Next articleUniversity Degree Transfer: Six Lessons Learned
Kenny Koesoemo
Kenny Koesoemo is an undergraduate of Business Management at the Singapore Management University. He is currently President of SMU Komunitas Indonesia and was the head of a cultural production, Gelar Budaya 2015: Malabero as Producer. A proud Surabaya-boy, he believes that Indonesians should be proud for being Indonesians. He is also an aviation lover and likes coming to the airport early to look at planes park, take-off and lands.