University of Cambridge

Aplikasi Program Doktoral: Beberapa FAQs

Perkenalkan, nama saya Arief Wibisono Lubis, dan saat ini saya adalah mahasiswa tahun pertama program doktoral bidang Development Studies di University of Cambridge, Inggris. Melalui artikel ini saya akan berusaha untuk berbagi pengalaman mengenai proses yang saya lalui sampai akhirnya mendapatkan Letter of Acceptance dari universitas tersebut, termasuk proses mendaftar total ke 8 universitas di Inggris, Amerika Serikat, dan Italia. Untuk beberapa orang mungkin hal-hal yang akan saya bagi di sini sudah tidak asing lagi, namun saya harap bisa berguna bagi mereka yang berniat untuk melanjutkan studi jenjang doktoral di luar negeri tanpa tahu persis aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan. Poin-poin yang akan saya bahas merupakan hal-hal yang seringkali menjadi topik pertanyaan mereka yang ingin studi lanjut di tingkat doktoral.

Saya mulai dari proses memilih program studi dan sekolah. Pemilihan program dan sekolah, terutama untuk menempuh jenjang doktoral, terkadang bisa menjadi hal yang membuat kita frustrasi. Tentunya kita tidak ingin menghabiskan tiga sampai delapan tahun (tergantung universitas dan negara yang kita tuju) di program atau sekolah yang tidak sesuai dengan minat kita. Apa yang sebaiknya menjadi pertimbangan utama dalam memilih sekolah? Jawaban atas pertanyaan ini akan lebih mudah kalau kita berniat untuk menempuh jenjang doktoral di universitas yang sama tempat kita menempuh studi tingkat magister atau sarjana (mengingat universitas di beberapa negara tidak mutlak mensyaratkan seseorang memiliki gelar magister untuk dapat diterima di program doktoral), karena kita relatif sudah mengenal dengan baik “isi” dari universitas tersebut.

Dalam memilih sekolah, beberapa orang mungkin akan langsung mengacu pada peringkat universitas yang tersedia di berbagai website (Times Higher Education, QS, ARWU, dan lain-lain). Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun bagi saya pribadi ada faktor-faktor lain: topik dan kecocokan dengan calon supervisor. Kedua hal ini terutama sangat penting apabila minat kita sangat spesifik, dan ahli di bidang tersebut hanya ada di beberapa universitas tertentu. Satu hal penting yang saya pelajari adalah dalam mencari calon supervisor, cobalah juga melihat profesor-profesor yang berasal dari program studi yang berbeda, namun tentunya masih berkaitan dengan topik yang akan ditulis.

Setelah mengidentifikasi topik dan calon supervisor yang cocok, biasanya muncul pertanyaan baru: apakah saya perlu menghubungi calon supervisor tersebut? Secara umum, jawaban saya adalah tergantung. Beberapa universitas menyarankan agar calon mahasiswa menghubungi calon supervisor dengan mengirimkan proposal penelitian yang telah kita susun. Kalau si calon supervisor tertarik, biasanya yang bersangkutan akan merespon positif, terkadang meminta agar kita memperbaiki proposal tersebut. Dua universitas tempat di mana saya mendaftar (keduanya di Inggris) termasuk yang menyarankan komunikasi dengan calon supervisor, namun saya tidak melakukannya. Di sisi lain, ada beberapa universitas yang tidak menyarankan kita untuk menghubungi calon supervisor tersebut.

Setelah yakin universitas mana saja yang akan kita tuju, mulailah mempersiapkan aplikasi. Tidak ada saran yang spesifik mengenai tahapan ini, dan kebanyakan sudah dibahas di artikel Indonesia Mengglobal lainnya, seperti: (i) perhatikan deadline, jangan sampai terlewat; (ii) persiapkan dokumen jauh-jauh hari sebelum deadline; (iii) pastikan agar dokumen aplikasi yang kita kumpulkan sesuai dengan persyaratan dari universitas yang kita tuju; dan (iv) ingatkan pihak yang memberikan rekomendasi agar mengirimkan surat rekomendasi tepat waktu.

Bagaimana dengan wawancara? Normalnya, setelah melalui tahapan administrasi dan menjadi shortlisted candidates, calon mahasiswa doktor akan diwawancara oleh beberapa orang dari pihak universitas, di mana salah satunya biasanya adalah si calon supervisor. Dari empat universitas yang pada akhirnya menerima saya, hanya dua universitas (satu di Inggris, sedangkan satu lagi di Amerika Serikat) yang mewawancarai saya. Dalam kasus universitas di Inggris, hanya calon supervisor yang mewawancara saya via telepon, tidak ada orang lain. Proses wawancara dengan universitas di Amerika Serikat dilakukan dengan dua orang profesor, di mana salah satunya adalah profesor yang menurut saya sangat potensial untuk menjadi supervisor. Inti dari kedua wawancara tersebut adalah masalah metodologi riset yang akan digunakan.

Yang menarik dari wawancara dengan universitas di Amerika Serikat adalah pada akhirnya mereka me-refer saya ke program lain yang berada di universitas tersebut, karena menurut mereka profesor-profesor di program tersebut memiliki kapasitas yang lebih baik untuk membimbing saya di bidang yang saya minati. Ini merupakan pelajaran bagi siapapun untuk melakukan penelusuran secara intensif untuk keperluan studi doktoral dan melihat kemungkinan bahwa profesor yang potensial menjadi supervisor bernaung di departemen lain. Beruntung mereka tidak mempersulit saya dengan menyuruh saya untuk mendaftar lagi di tahun ajaran berikutnya untuk program yang berbeda tersebut, karena sebenarnya deadline aplikasi sudah lewat. Hal lainnya yang tidak lazim adalah saya tidak diwawancara sama sekali oleh universitas tempat saya menempuh studi doktoral saat ini. Ketika saya konfirmasi kepada teman-teman sekelas saya yang tidak menempuh program magister di universitas yang sama (karena yang menempuh magister terlebih dahulu biasanya sudah dikenal oleh pihak universitas), pada umumnya mereka melalui tahap wawancara.

Setelah semua tahapan ini dilalui, saatnya menunggu pengumuman. Beberapa universitas membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan keputusan final. Waktu terlama yang pernah saya alami antara proses aplikasi hingga mendapatkan keputusan final adalah 6,5 bulan. Apabila penasaran, saya sarankan untuk melihat website www.thegradcafe.com. Biasanya calon-calon mahasiswa doktor (kebanyakan universitas di Amerika Serikat) akan mengumumkan apabila mereka sudah menerima surat keputusan dari universitas yang dituju, sehingga kita bisa memperkirakan dari posting-an tahun sebelumnya, kapan kita mendengar pengumuman final. Intinya adalah jangan khawatir apabila belum mendapat kabar hingga 2-3 bulan, karena mungkin memang waktu yang dibutuhkan untuk proses seleksi memang cukup lama.

Selamat mendaftar! Karena faktor keberuntungan juga memainkan peran yang penting dalam proses aplikasi, so, good luck!




===========================================
Arief Wibisono Lubis (Arief) is currently in his first year of pursuing his doctorate degree in Development Studies at the University of Cambridge, United Kingdom. He obtained his Masters Degree from the London School of Economics and Political Science and was granted the prestigious Chevening Award scholarship from the UK Government in 2013-2014.
Posts