Serunya Menjadi Pelajar dan Calon Ibu di Inggris

5
1533
Menjadi pelajar sekaligus calon ibu

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saat menjalani S2 full-time di Inggris dan di saat yang bersamaan, mengandung anak pertama. Sebuah pengalaman tak terduga tapi patut disyukuri karena dari pengalaman ini ternyata dua orang pasangan akan lebih menghargai waktunya, keluarganya, dan perjuangan satu sama lain di masa mendatang.

Saat pertama kali mengetahui bahwa saya sedang mengandung janin berusia 6 minggu, waktu keberangkatan saya ke Inggris tinggal menghitung hari. Antara shock dan haru campur baur menjadi satu. Di satu sisi, saya bahagia karena ini adalah anak pertama yang kami dambakan selama 9 bulan pernikahan, namun di sisi lain saya bingung, karena saya dan suami akan menempuh studi di negara yang sama namun beda universitas. Ya, karena satu dan lain hal, saya kuliah di University of Aberdeen dan suami di University of Glasgow. Dua kampus berbeda namun masih sama-sama di Skotlandia. Realita bahwa jarak 194,69 km akan menjadi pemisah kami selama kurang lebih satu tahun, dan yang paling penting, saat itu terjadi, saya sedang hamil.

Setelah berdiskusi dan memikirkan beberapa pertimbangan dengan keluarga besar, serta mempertimbangkan faktor lain seperti tiket pesawat, akomodasi yang sudah dibayar, dan beasiswa yang kami berdua terima, akhirnya kami memutuskan untuk tetap menempuh studi bersama di tahun 2014 dan setiap satu atau dua pekan sekali kami berjumpa untuk saling melepas rindu.

Fasilitas kesehatan untuk ibu dan anak 100% gratis.

Setelah yakin bahwa saya positif hamil, saya sempat bingung dengan biaya selama mengandung dan paska melahirkan di Inggris. Terlebih karena nilai tukar GBP (poundsterling) dengan rupiah yang sangat tinggi. Namun, setelah menghubungi beberapa mahasiswa Aberdeen yang saya kenal, alangkah bahagianya saya saat mengetahui bahwa pelayanan kesehatan untuk ibu dan anak di Inggris bebas biaya.

Salah satu kelebihan berada di Inggris adalah pelayanan dan fasilitas kesehatan diberikan cuma-cuma kepada semua penduduknya. Kebanyakan dari ibu hamil, baik warga negara atau bukan warga negara Inggris biasanya akan memilih untuk menggunakan jasa National Health Service (NHS) dimana semua perawatan diberikan secara gratis. Dibandingkan dengan memilih pelayanan rumah sakit swasta, untuk biaya melahirkan saja di Portland Hospital London misalnya, bisa memakan biaya hingga £10,000 (kurang lebih 200 juta rupiah). Untuk informasi lebih lanjut tentang biaya pelayanan di rumah sakit swasta (yang pasti bisa buat kantong kamu jebol) bisa dilihat di sini.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika mengetahui bahwa kita positif hamil namun di sisi lain kita harus melanjutkan studi? berikut ini adalah beberapa langkah yang sebaiknya kamu lakukan:

a.  Lapor ke medical practice terdekat secepatnya.

Setiap orang di Inggris, akan mendapatkan nomor NHS untuk menerima pelayanan secara cuma-cuma dalam hal kesehatan. Maka, setelah kamu tahu dirimu hamil, segera laporkan kepada medical practice atau maternity unit terdekat untuk selanjutnya mendapatkan appointment atau janji untuk bertemu dengan bidan yang akan bertanggung jawab dan memberikan layanan pra-kehamilan (prenatal care) khusus untuk kamu. Pada saat pertemuan pertama dengan bidan, kamu akan diminta mengisi data-data yang cukup penting termasuk informasi in your combined pregnancy and postnatal record. Buku (record) tersebut akan membantu bidan untuk merancang pelayanan terbaik untukmu dan anakmu.

Lebih lengkapnya, di pertemuan pertama tersebut kamu akan diberikan informasi mengenai:

1) beberapa nomor telepon yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu pada kamu dan kandunganmu;

2) timeline selama kurang lebih 9 bulan ke depan yang memuat jadwal pemeriksaan dan pertemuan rutin bulanan dengan bidan, tes darah, ultra sound (USG), dan beberapa agenda penting lainnya.

Selanjutnya kamu akan ditanya beberapa hal penting terkait riwayat kesehatanmu, keluargamu, pasanganmu, dan juga mengisi family origin questionnaire yang akan membantu bidan mendeteksi potensi bahaya dari negara asalmu sejak dini. Untuk Indonesia biasanya potensi penyakit TBC termasuk penyakit yang diantisipasi sejak dini. Yang paling penting, mereka akan selalu menanyakan kesediaan kita disetiap penanganan medis yang akan dilakukan seperti cek darah, USG, dan down syndrome’s screening test. Bidan juga memberikan kebebasan pada kita untuk memilih sejumlah pelayanan-pelayanan tertentu seperti pada kasus saya, memilih opsi bantuan dokter perempuan daripada laki-laki dalam penanganan proses melahirkan nantinya, memilih opsi melahirkan normal, dan untuk opsi vaksin, saya hanya mengambil fasilitas tersebut jika kandungan vaksinnya halal atau suitable for vegetarian. Sebelum pulang, kamu akan diberikan banyak bekal (buku panduan, artikel, CD dan sebagainya) untuk persiapan menjadi calon ibu.

Berbagai buku panduan dan bahan bacaan untuk calon ibu

Poin penting lainnya, jangan pernah malu untuk diskusi dan bertanya banyak hal pada bidan atau obstetrician, apalagi jika ini adalah pengalaman pertama mengandung untuk kamu. Jika kamu kesulitan berbahasa inggris, mereka akan menyediakan penerjemah untukmu ditambah dengan terjemahan beberapa buku panduan. Tidak perlu khawatir, selama kehamilan kamu akan diberikan informasi mengenai diet dan nutrisi, dan juga mendatangi kursus menyusui (breastfeeding workshop) serta kelas untuk persiapan melahirkan (antenatal classes).

(Info selengkapnya bisa dilihat di sini).

b.    Jangan absen untuk menghadiri janji dengan bidan dan manfaatkan semua kesempatan.

Janji (appointment) dalam sistem NHS harus kamu hadiri jika kamu tidak ingin ditunda-tunda lebih lama lagi. Untuk membuat janji bisa memakan waktu 2-3 minggu. Demikian juga jika kamu re-schedule, jadwal berikutnya bisa 2-3 minggu berikutnya. Jadi, sebisa mungkin rancang jadwal terbaik supaya tidak bentrok dengan jadwal kuliah, praktikum atau agenda lainnya. Bidan akan sangat terbuka mendengar segala kemungkinan sibuknya jadwal kita dan berdiskusi lebih dahulu tanggal yang memungkinkan sebelum janji kita berikutnya dimasukkan kedalam sistem komputer NHS.

Untuk Inggris sendiri, pertemuan dengan bidan biasa dilakukan di klinik atau medical practice terdekat dengan rumah dan biasanya bersifat rutin bulanan. Namun, kita juga memiliki beberapa janji khusus di rumah sakit kota domisili, tujuannya untuk melakukan beberapa kegiatan penting yang tidak dilakukan oleh bidan tetapi oleh obstetrician, seperti check-up di antenatal clinic setiap 6 pekan sekali dan lebih sering lagi ketika mendekati jadwal persalinan atau expected due date (EDD) dan scanning (USG). Perlu digaris bawahi bahwa fungsi bidan di sini lebih ke konsultasi kandungan, pemeriksaan bayi dan ibu dalam skala sederhana seperti cek tekanan darah, urin, dan detak jantung bayi, bukan melakukan USG atau down syndrome test.

Salah satu kesempatan yang harus kamu manfaatkan adalah akses untuk mendapatkan layanan perawatan gigi yang gratis (free dental care and treatment) selama kamu hamil dan 1 tahun setelah bayimu dilahirkan (info selanjutnya di sini). Kamu juga diberikan akses untuk melakukan USG gratis sebanyak 2 kali selama proses kehamilan. Scan 1 pada usia 10-14 minggu sekaligus pengambilan sampel darah untuk down syndrome’s screening test, dan scan ke-2 pada usia 20-23 minggu. Scan tambahan hanya akan dilakukan jika kamu punya riwayat kehamilan yang bermasalah sebelumnya (seperti keguguran atau kasus lainnya) dan jika usia kehamilanmu sudah mendekati EDD, namun scan tambahan tersebut harus atas rujukan dokter atau bidan, jadi kamu tidak bisa memintanya langsung ke rumah sakit umum. Pada down syndrome’s screening test, jika hasilnya menunjukkan resiko rendah maka bayi dinyatakan aman, namun jika beresiko tinggi, pihak rumah sakit akan melakukan tindakan lanjutan dan mungkin juga akan ditambah dengan amniocentesis test pada usia 18 minggu. (Info selengkapnya ada di sini).

Yang menarik dari Inggris adalah di beberapa rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah, kita tidak bisa mengetahui jenis kelamin anak kita, di Royal Aberdeen Maternity Hospital (tempat saya biasa rutin check-up) contohnya. Di ruang scan, rumah sakit telah menempel pengumuman bahwa kita tidak diizinkan untuk bertanya pada dokter mengenai jenis kelamin anak kita pada saat proses USG, dan sekalipun kita memaksa sonographer (orang yang melakukan scanning), mereka tetap tidak akan memberi tahu apa-apa terkait jenis kelamin anak kita. Ketika saya bertanya alasannya, mereka ingin setiap orang tua bisa menerima jenis kelamin apapun pada janin yang dikandungnya, sehingga ekspektasi tersebut bisa diatur sedemikian rupa. Misalnya, jika orang tua sangat menginginkan anak laki-lai namun kenyatannya mendapatkan anak perempuan, dikhawatirkan kasih sayang dan perhatian yang diberikan pada bayi dikandungan akan berbeda. Faktor lain yang menjadi penyebab kebijakan tersebut adalah jenis kelamin tersebut tidak bisa dipastikan 100% dan proses pencarian kelamin akan memakan waktu bagi sonographer. Namun, jika kita benar-benar penasaran ingin mengetahui jenis kelamin anak kita, kita bisa pergi ke rumah sakit swasta dan membayar sejumlah biaya untuk melakukan USG. (Info lengkapnya ada di sini).

c.    Segera proses maternity certificate.

Bagi kamu yang sedang menempuh studi, mereka juga akan memberikan surat keterangan resmi yang disebut maternity certificate. Sertifikat ini bisa dikeluarkan oleh bidan kira-kira 20 pekan sebelum EDD. Sertifikat ini juga berlaku bagi para pekerja untuk mengklaim statutory maternity pay (SMP) dan maternity allowance (MA) pada perusahaan. (Info lengkap tentang SMP dan MA bisa dilihat di sini).

Dengan maternity certificate, kamu bisa konsultasi dengan tutor atau dosenmu untuk mengatur beberapa hal seperti absensi selama kamu melahirkan, pengumpulan tugas dan sebagainya. Kampus akan sangat terbuka jika kamu juga terbuka pada mereka. Bahkan mereka juga menyediakan akses khusus seperti jasa konsultasi dan akomodasi untuk keluarga jika diperlukan. Untuk cuti, biasanya pihak kampus memberikan kesempatan selama 3 bulan bagi mahasiswa yang baru saja melahirkan untuk mengambil cuti, namun kita bisa memutuskan untuk masuk lebih awal jika kondisi kita dan bayi sudah siap. Perlu diingat, untuk alasan kesehatan, biasanya kampus menyarankan kita untuk tidak masuk kuliah terlebih dahulu selama 2 pekan pasca melahirkan. Namun, kamu bisa mengambil waktu lebih lama sesuai kebutuhanmu, yang pasti jangka waktu tersebut harus sudah melalui proses negosiasi dan komunikasi efektif kamu dengan pihak kampus. 

Lalu, bagaimana jika kamu merupakan penerima beasiswa?

Kamu bisa mendiskusikan rencana melahirkanmu kepada pihak pemberi beasiswa, kalau bisa saat kamu menjelaskan pada mereka, kamu sudah mendapat kepastian tentang akses dan fasilitas yang akan kamu dapat paska melahirkan dari pihak kampus. Namun, jika pihak pemberi beasiswa keberatan, maka kamu bisa merancang ulang segala proses dan aktivitas paska melahirkan dengan bantuan dosen dan teman-temanmu. Jika kamu mau mencoba, mereka pasti akan membantu.

d.    Siapkan mental dan fisik terbaikmu.

Untuk proses melahirkan, kita bisa memilih cara apapun yang kita inginkan. Caesar, normal atau water birth semuanya gratis. Akte kelahiran pun akan disediakan oleh pihak rumah sakit dengan prosedur yang hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Namun di satu sisi, berbeda dengan negara-negara lain di Eropa dimana seorang ibu yang baru melahirkan bisa menginap rata-rata 5 hari di rumah sakit, atau bahkan di China yang bisa sampai 1 bulan, di Inggris, kita bisa meninggalkan rumah sakit 6 jam setelah melahirkan. Jikalau akan menginap, kita harus bersedia berbagi kamar dengan hampir 12 orang pasien yang lain. Jika ingin kamar pribadi, maka kita akan dikenakan biaya tambahan. Lain halnya jika terjadi sesuatu pada proses kelahiran, maka ibu dan anak diwajibkan untuk tinggal di rumah sakit sampai paling lama 4 hari, tanpa biaya tambahan.

Tidak perlu khawatir berlebihan mengenai paska melahirkan, bidan akan mengunjungi kita dan bayi kita di rumah sampai 5 kali di 10 hari pertama paska melahirkan untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi, bahkan sampai 28 hari jika memang kondisinya darurat. Selain itu petugas kesehatan (health visitor) juga akan rutin berkunjung sampai bayi berusia 6 bulan dan memberikan bantuan lainnya (constant support) sampai usia anak mencapai 5 tahun. Yang perlu digaris bawahi adalah, sebagai orang tua, sekalipun Inggris sudah memberikan akses dan fasilitas sedemikian rupa, kita harus tetap berkeyakinan untuk menjaga kewarganegaraan anak kita sebagai warga negara Indonesia, sekalipun setiap anak yang lahir di Inggris diberikan kebebasan untuk memilih warga negara (Inggris atau Indonesia) pada usia 17 tahun.

e.    Bangun relasi seluas-luasnya.

Sebagai penduduk di negeri orang, jauh dari rumah dan pelajar pula, tentunya proses mengandung dan melahirkan jadi momok dan tantangan tersendiri. Namun, akan berbeda ceritanya jika kita punya banyak orang yang mendukung kita di negara asing ini. Semakin banyak dan baik kamu mengenal orang, semakin banyak bantuan dan pertolongan yang akan kamu dapatkan. Dari pengalaman yang saya jalani, beberapa manfaat terjalinnya relasi baru membuat saya percaya konsep “banyak teman, banyak rezeki”, kemudahan itu antara lain;

  1. Di Aberdeen, jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal dan menetap di sini tidaklah sedikit. Di antara mereka beberapa pernah memiliki pengalaman melahirkan anak di Inggris, dari situ kita bisa mengambil banyak pelajaran, tips dan trik bagaimana menjalani proses mengandung, melahirkan sampai membesarkan anak kita nantinya. Dari situ juga kita bisa mendapatkan kemudahan untuk mendapat lungsuran atau “barang turunan” untuk anak kita, sehingga dengan usia studi kita yang tidak lama, kita tidak perlu membeli barang seperti tempat tidur bayi, stroller, atau peralatan bayi lainnya, karena WNI yang kita kenal akan dengan tangan terbuka berbagi beberapa peralatan yang kita butuhkan, bahkan tanpa kita meminta, mereka yang akan menawarkan. Walaupun barang bekas pakai, kita jauh lebih hemat dibanding membeli yang baru dan kemudian harus kita kirim ke Indonesia saat studi sudah selesai.
  2. Dengan banyaknya teman baik di kelas, kita akan lebih mudah untuk menyusun perjanjian dengan mereka untuk membantu kita, seperti dalam hal skype saat proses kuliah nanti (jika kita masih cuti dan tetap ingin melihat proses kuliah) atau meminta bantuan akses agar pihak kampus tidak lupa untuk merekam materi perkuliahan. Untuk tips dan trik lebih lanjut mengenai cara mengatur waktu perkuliahan sambil hamil, bisa dilihat di video ini.
  3. Jika jadwal kuliah kita padat, kita bisa lebih mudah meminta bantuan  kepada orang yang kita kenal untuk menjaga anak kita. Misalnya pada WNI atau teman sesama pelajar Indonesia. Karena harga untuk menitipkan anak di nursery atau baby care di kampus dan sekitarnya cukup mahal (bisa sekitar £18-20/hari), maka dengan bantuan kenalan dekat, kita bisa mendapatkan kesepakatan harga yang lebih murah dan hemat.

Kurang lebih, itu adalah beberapa poin penting yang menjadi catatan saya selama proses mengandung anak di negeri orang. Sampai artikel ini ditulis, usia kandungan saya sudah 32 weeks (7 bulan) dan akan melahirkan pada April 2015 mendatang. Yang pasti, Tuhan tidak memberi kita ujian di luar batas kemampuan kita. Jadi, jika kita meniatkan proses menuntut ilmu ini untuk cita-cita yang baik, dan di saat yang bersamaan juga ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita, maka sebagai ibu dan orang tua, kita harus berjuang semaksimal mungkin untuk bisa seimbang dalam menjalani peran. Yang terpenting, terus jaga komunikasi dan hubungan dengan suami sebagai partner kita dalam berjuang membesarkan anak dan mengurus rumah tangga. Sehingga, target untuk menjadi master atau doktor sekaligus membesarkan anak bisa tercapai dengan baik.

 

Foto-foto diambil dari koleksi pribadi dan website (http://pregnantoncampus.org/wp-content/uploads/2014/04/You-are-strong.jpg).