Political Science, Siapa Takut?

0
138

Dari SD, sebenarnya saya ingin sekali menjadi dokter anak. Tetapi sewaktu saya masuk SMA di Singapura, saya menyadari bahwa nilai SMP saya tidak mencukupi untuk bisa masuk jurusan IPA[1]. Akhirnya dengan berat hati saya harus mengambil pelajaran-pelajaran lain yang pada awalnya sangat tidak tertarik untuk dipelajari. Seiring berjalannya waktu, saya mulai melihat dan menyadari betapa bedanya suasana kehidupan di Singapura dan Indonesia. Ditambah lagi pelajaran-pelajaran disekolah (Ekonomi dan Geografi) yang selalu ‘memojokkan’ Indonesia sebagai “Third world country”[2] dan “A country with poor economic development”[3], saya merasa sedih sekali karena Indonesia sebenarnya berpotensi besar. Lama kelamaan, saya mulai beraspirasi untuk merubah Indonesia menjadi negara bebas yang aman, dicintai oleh warga-warganya dan berkembang di bidang ekonomi dan hubungan internasional. Cita-cita saya pun berubah jadi “the future Indonesian Minister of Foreign Affairs”[4] (sekalian biar bisa jalan-jalan ke luar negeri hahaha). Saya pun menjadi lebih giat belajar supaya mandapat lebih banyak ilmu dan giat mencari tahu perkembangan negara-negara tetangga. Saya juga mulai membuat target supaya bisa mengejar mimpi saya. Saya pun belajar dengan giat dengan harapan bisa masuk SMU School of Social Science nantinya. Dari awal, saya memang ingin sekali masuk SMU, bukan hanya karena lokasinya yang strategis, tetapi karena berbagai peluang yang ada di SMU yang menurut saya di universitas lain tidak ada. Banyak teman-teman saya yang bertanya “Kenapa tidak masuk NUS saja? Lebih bagus!”. Dari segi reputasi, apalagi untuk jurusan Political Science[5], memang NUS yang paling bagus di Singapur. Menurut saya, sekolah bukan hanya sekedar tempat belajar saja. Saya percaya SMU bisa memberikan saya kesempatan-kesempatan langka dan juga berinteraksi langsung dengan orang-orang tertentu yang bisa membantu saya buat merealisasikan impian saya. Hal ini pun dikukuhkan lagi sewaktu pas saya datang ke acara ‘open house’[6], suasana dan juga cara para siswa di SMU berkomunikasi dan mengutarakan ide-ide mereka sungguh mengesankan saya.

Tanpa terasa sudah 3 tahun sekarang saya kuliah di SMU. Sesuai harapan, memang banyak peluang dan hal-hal yang membantu dan mendekatkan saya untuk jadi Menteri Luar Negeri Indonesia. Banyak pembicara-pembicara ternama yang khusus datang ke SMU dimana para siswa tidak hanya boleh mendengarkan pembicaraan mereka, tapi juga bisa berinteraksi dan bertanya kepada mereka. Face to face! Beberapa pembicara yang sudah saya temui adalah K. Shanmugam, Gita Wirjawan dan Herman Van Rompuy, nama-nama yang tidak asing di bidang politik. Saya merasa beruntung sekali dapat bertemu mereka dan melihat sendiri bagaimana para diplomat seperti mereka membawa diri mereka di hadapan umum.

Liburan musim panas tahun lalu, saya mengikuti sebuah wisata sekolah yang disebut “Political Science Study Mission” dimana saya bersama beberapa siswa lain diperbolehkan masuk ke kantor-kantor European Union (EU)! Bener-bener kesempatan yang langka untuk dapat melihat dengan mata kepala saya sendiri kantor EU Commission, EU Council, Court of Justice dan juga dapat berdiskusi sama pelajar-pelajar dari German dan Amerika mengenai hubungan EU dengan ASEAN. Tidak hanya itu saja, SMU juga selalu mendatangkan wakil duta atau duta besar dari negara-negara asing seperti Nigeria, Amerika, Spanyol, Belgium, Afrika Selatan dan banyak lagi.

Dalam segi pelajaran, modul-modul yang ditawarkan di SMU pun sangat menarik. Profesor di SMU mempunyai banyak koneksi dengan orang-orang dibidang mereka masing-masing dan juga dengan pekerja sipil yang bekerja dengan pemerintah Singapura yang sangat berguna untuk mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari di sekolah. Pelajarannya tidak hanya sekedar mendengarkan professor berbicara tapi malah cenderung para siswa yang lebih banyak menyuarakan pendapat mereka masing-masing. Apalagi untuk bidang sosial politik dimana setiap argumen itu penting, saya pun banyak belajar bagaimana saya boleh menghasilkan ide-ide menarik dan juga mengembangkan daya berpikir lewat peluang diskusi tersebut, seperti kata orang, “It’s really learning beyond teaching”[7]. Yang paling penting lagi, meskipun saya mengambil politik, saya juga terekspos dengan pelajaran lain seperti finance, marketing, computer and analysis, jadinya kemampuan saya pun berkembang, tidak hanya daya pikir dan menulis esai yang diajarkan oleh sosial politik, saya pun diperbolehkan belajar lebih dari yang saya harus pelajari.

 

Photos provided by the author.

 


[1] Sistem edukasi Singapura juga mengikuti penjurusan IPA dan IPS seperti di Indonesia

[2] Third world country: Negara yang masih berkembang

[3] Poor economic development: perkembangan negeri Indonesia diklasifikasikan dibawah standar

[4] Menteri Luar Negeri Indonesia

[5] Rani adalah siswa sarjana Sosial Politik di SMU

[6] Universitas di Singapura mengadakan acara pengenalan kampus kepada orang awam, terutama untuk siswa yang baru saja lulus ujian akhir SMA mereka.

[7] Belajar lebih dari yang diajarkan di kelas